
Menangis adalah satu kata untuk mendeskripsikan keadaan Bulan sekarang. Cewek itu sedang duduk di salah satu bangku taman sekolah. Ya, sejak Bulan dan Bintang selesai berdebat, Bulan memutuskan untuk pergi ke taman sekolah guna menenangkan perasaannya. Namun bukannya merasa tenang, gadis itu malah menangis tersedu-sedu.
"Bintang jahat...Bintang jahat..." teriaknya di sela-sela tangisnya.
Di saat yang bersamaan Tata datang menghampirinya.
"Bulan, gue bawa-" ucapnya terhenti ketika melihat Bulan sedang menangis.
"Lho kok nangis?" tanyanya sembari mendudukkan bokongnya di samping Bulan.
Tak ada jawaban dari Bulan. Cewek itu masih sesenggukan. Tata pun empati melihatnya. Dipelukanya tubuh sahabatnya itu dari samping sembari sesekali mengelus pundak Bulan dengan lembut.
"Ada apa Lan? Ayo, cerita sama gue ada apa? Kenapa lho bisa sampai nangis kayak gini?" tanya Tata.
"Bin-tang... ja-hat... Tata." ujar Bulan masih sesenggukan dalam dekapan Tata.
"Lho diapain sama Bintang?" tanya Tata lagi.
"Bin-tang ben-tak ben-tak gu-e, Ta." jawab Bulan.
"Kalian berantem?" tanya Tata yang mulai paham mengapa sahabatnya ini menangis.
Bulan hanya menganggukkan kepalanya pelan untuk mengiyakan pertanyaan yang dilontarkan Tata. Tata pun memutar bola matanya malas.
"Ada apa lagi? Gara-gara Mentari?"
"Bukan itu." jawab Bulan sembari menggeleng pelan.
"Ya udah jangan nangis lagi, oke?" ucap Tata sembari mengelus pundak Bulan lembut.
Bulan pun hanya membalasnya dengan menyunggingkan senyuman manisnya kemudian langsung menghambur ke pelukan Tata. Tanpa mereka sadari ada seseorang yang sejak tadi mendengarkan percakapan mereka. Orang itu tengah berdiri tegap di belakang mereka tanpa sepengetahuan mereka. Hingga lelaki itu berdehem. Bulan dan Tata pun melepaskan perlukannya dan melirik ke arah belakang mereka untuk melihat siapa yang berdehem.
"Bintang?" ucap Bulan dengan menautkan kedua alisnya seolah-olah bertanya pada cowok itu 'kenapa bisa ada di situ'.
Bukannya menjawab, cowok itu memalingkan pandangannya pada Tata. Cowok itu mengedip-ngedipkan mata kirinya pada Tata, memberi kode kepadanya agar pergi dari situ. Tata yang cukup peka pun langsung mengerti maksud Bintang.
"Lan, gue tinggal dulu ya!" ucapnya sembari bangkit berdiri dari tempat duduknya.
"Mau kemana?" tanya Bulan yang mencekal pergelangan tangan Tata.
"Gue mau ketemu sama Kak Langit." jawabnya berbohong sambil menunjuk ke belakang asal.
"Sebentar aja kok." ucapnya lagi ketika tak mendapat sahutan dari Bulan.
"Ya udah, gue cabut ya." ucap Tata yang kemudian pergi begitu saja tanpa menghiraukan lagi Bulan yang terus memanggil-manggil namanya.
"Tapi Ta-" belum sempat Bulan selesai bicara, Tata sudah lebih dulu beranjak dari tempat itu dengan sedikit berlari.
"Ya belum selesai juga ngomongnya, main nyerocos aja. Gue juga kan mau ikut." ucap Bulan pada dirinya sendiri.
Tanpa ia sadari, Bintang sudah duduk manis di sampingnya dengan kedua tangan yang melipat di dada. Ia terus memperhatikan gadis itu sejak tadi. Berbicara pada dirinya sendiri. Itu sangat lucu, pikir Bintang. Tanpa disadarinya Bintang telah menyunggingkan senyumnya.
Di saat yang bersamaan, Bulan melirik ke sampingnya. Ia melihat Bintang tengah memandanginya sambil senyum-senyum sendiri.
"Ngapain lho senyum-senyum sendiri? Udah gak waras?" tanyanya dengan ketus, kemudian memutar bola matanya malas.
"Cantik," satu kata yang keluar dari mulut Bintang itu mampu membuat Bulan kembali berbunga-bunga. Namun dengan cepat ia menepis jauh-jauh perasaan itu. Bukankah mereka sedang berantam sekarang?
"Jangan luluh Bulan, please."
"Mau ngapian lho ke sini? Belum puas marah-marah sama gue?" tanya Bulan ketus tanpa menatap Bintang sedikit pun.
"Kok cuek gitu sih. Belum puas ya, kesalnya?" ucap Bintang bertanya balik.
"Udah tau masih aja nanya?" timpal Bulan.
"Udah kali ngambeknya," ucap Bintang sambil menyentil hidung Bulan. Bulan pun langsung salah tingkah dibuatnya. Seketika wajahnya memerah, jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. Sungguh, ia tak bisa berlama-lama marah sama Bintang kalau perlakukannya seperti ini terus. Ia pun menunduk malu, menyembunyikan wajahnya yang memerah.
"Ngapain menunduk? Gak tahan liat muka gue yang kegantengan, Hm?" ucap Bintang sambil mengangkat dagu Bulan dengan jari telunjuknya.
"Apaan sih?" Bulan pun langsung menepis kasar jari telunjuk cowok itu yang tadinya menempel di dagunya.
"Cie, ada yang blushing nih? Siapa ya?" goda Bintang yang melihat wajah Bulan memerah.
"Ihh, ngeselin banget sih lho jadi cowok," Bulan pun langsung menabok lengan cowok itu berkali-kali hingga ia meringis kesakitan.
"Aw...sakit Lan. Udah stop." Bulan pun menghentikan aksinya, lalu duduk membelakangi Bintang sambil bersedekap dada.
"Kok membelakangi gue sih? Ayo menghadap sini?" ucap Bintang sambil berusaha membalikkan tubuh Bulan agar kembali ke posisi duduknya yang tadi.
Namun Bulan selalu menepisnya, hingga cowok iti pun pasrah.
"Yakin nih, gak mau baikan sama aku? Aku kan udah minta maaf?" ucap Bintang yang tentunya tak mendapat respon dari Bulan.
Bintang pun mengerucutkan bibirnya kesal. "Ya udah gue tinggal nih."
Terdengar samar-samar Bintang bangkit dari duduknya dan hendak melangkahkan kakinya. Namun dengan tiba-tiba langkahnya terhenti karena adanya sepasang tangan yang melingkar di tubuhnya. Bintang pun tersenyum senang. Bintang pun kemudian membalikkan badannya ke belakang.
"Jangan tinggalin gue." ucap Bulan terdengar serak sambil menunduk. Sepertinya gadis itu sedang menangis.
Bintang pun mengangkat wajah Bulan. "Kok nangis? Kenapa?" tanyanya ketika melihat wajah Bulan bercucuran air mata.
"Jangan tinggalin gue." ucap Bulan lagi, mengulang kata-katanya tadi.
Bintang pun lantas memeluk tubuh gadis itu sambil mengelus-elus rambutnya dengan lembut.
"Iya gue janji, gue gak bakal ninggalin lho. SAMPAI KAPANPUN ITU." ujar Bintang yang sengaja menekankan tiga kata terakhirnya itu.
***
"Argghh, bodoh, bodoh, bodoh," maki Surya pada dirinya sendiri sambil menghantam tembok tanpa ampun dengan kedua tangannya.
"Surya bodoh, ****. Kenapa sih lho bisa sebodoh ini? Argghh." ucapnya lagi sembari menendang kursi di depannya yang sudah setengah rusak. Kemudian ia memghempaskan tubuhnya yang sudah lemah tak berdaya itu ke lantai rooftop.
"Lho gak usah pura-pura baik dan peduli sama gue. Gue gak butuh dikasihanin apalagi sama teman pengkhianat kayak lho."
"Ngaku aja deh lho. Lho senang kan gue sama Bulan berantem. Gak udah sok-sok baik juga deh lho sama gue."
"Lho kerja sama kan sama Mentari buat hancurin hubungan gue sama Bulan."
"Dan asal lho tau, bukan hanya gue yang kecewa sama lho. Tapi Tata juga, lho udah hancurin hancurin hubungannya dengan Langit. Dan yang lebih parahnya lagi, lho udah permainin perasaannya dia. Emang lho sama Mentari itu gak lebih dari sampah." .
Kata-kata Bintang tadi itu terus terngiang-ngiang dalam pikiran Surya. Surya tak habis pikir kenapa ia bisa sebodoh ini. Kenapa Surya harus menerima tawaran Mentari waktu itu, yang sudah jelas bahwa Mentari sebenarnya tak mencintanya. Hanya saja Mentari ingin memanfaatkannya untuk menghancurkan hubungan Bulan dan Bintang.
Dan yang lebih bodohnya lagi, bukan Bulan dan Bintang yang menjadi korban utama mereka, tapi Tata. Tata hampir saja kehilangan sahabatnya. Hubungannya dengan Langit yang tinggal selangkah lagi, harus berakhir gara-gara Surya. Dan yang lebih menyakitkan hatinya lagi, Surya telah mempermainkan perasaannya. Sungguh, hati Surya serasa tercabik-cabik kala mengingat semua itu.
Kenapa Surya bisa sebodoh itu?
"Gak...Pokoknya gue harus minta maaf sama mereka. Dan lho Mentari, gue bakal bongkar kebusukan lho. Tunggu aja." ucapnya pada diri sendiri.
Entah mengapa setiap mendengar ataupun mengucapkan nama Mentari selalu mengundang emosi Surya. Sungguh, Surya sudah benar-benar membenci gadis sekarang. Cinta yang pernah tumbuh dalam hatinya, kini lenyap seketika digantikan oleh rasa benci.
***
Bel pulang sekolah berbunyi sejak lima menit yang lalu. Siswa siswi sudah berpulangam ke rumahnya masing-masing. Kini, sekolah sudah tampak sepi seperti kuburan. Hanya ada beberapa murid yang masih di sini dengan berbagai alasan tertentu. Seperti Bulan dan Tata, kedua gadis itu tampak sibuk membersihkan ruangan kelas.
Yap, besok adalah giliran mereka untuk piket, namun mereka memutuskan untuk melakasakan piketnya sekarang supaya besok tinggal santai-santai saja. Alhasil, disinilah mereka sekarang. Masih bergelut dengan alat-alat kebersihan.
Tampak suasana sangat hening. Bulan maupun Tata sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Yang terdengar memenuhi ruangan itu hanyalah suara bangku dan meja yang saling bergesekan dengan lantai ketika tergeser.
Lima belas menit kemudian, akhirnya mereka selesai juga membersihkan ruangan kelas yang terbilang cukup luas ini. Keduanya pun tampak sibuk memperbaiki penampilan mereka yang cukup berantakan.
"Lan, lho pulang sama siapa? Bintang kan udah pergi." ucap Tata sambil mengelap keringat yang bercucuran di pelipisnya dengan sebuah tissue.
Bulan yang sedang meminum air mineralnya pun menghentikan aktivitasnya.
"Bintang belum pergi kok. Katanya dia nunggu di depan." ucapnya yang kemudian kembali meneguk air mineralnya hingga tandas.
Tata menganggukkan kepalanya sambil ber-o ria tanpa menghentikan aktivitasnya mengelap keringatnya.
Bulan pun langsung mengambil tasnya dan berpamitan untuk duluan pada Tata yang masih sibuk mengelap keringatnya.
"Gue duluan ya," ucapnya yang mendapat anggukan dari Tata.
Bulan pun melangkahkan kakinya dengan sedikit berlari keluar kelas. Ia agak terburu-buru, takut Bintang menunggunya terlalu lama.
"Hati-hati," pesan Tata pada Bulan yang tentu tak direspon lagi oleh Bulan karena ia sudah duluan keluar kelas.
Berselang satu menit selepas kepergian Bulan, Tata juga beranjak keluar dari kelas. Ketika Tata hendak keluar dari pintu kelas, langkahnya tiba-tiba terhenti akibat ada seseorang yang menutupi jalannya.
Tata hanya memutar bola matanya malas sambil bersedekap dada melihat muka cowok itu, cowok yang selama ini hanya mempermainkan perasaannya.
"Minggir lho," ucapnya kesal tanpa menatap sekalipun cowok yang kini berada di depannya.
Namun tak ada pergerakan sedikit pun dari cowok itu. Ia masih tetap berdiri kokoh di tempatnya, membuat gadis itu semakin geram sendiri melihatnya.
"Lho tuli apa budeg sih?" kesal Tata.
Lagi-lagi tak ada sahutan dari cowok itu. Cowok itu hanya menatap Tata dengan tatapan bersalahnya. Namun yang ditatap hanya memutar bola matanya malas.
"Oke, kalau lho gak mau pindah biar gue yang pergi." putus Tata.
Tata pun melangkahkan kakinya ke depan dengan terpaksa mendorong tubuh cowok itu agar bisa dilewatinya. Tata pun bernapas lega karena berhasil keluar dari pintu kelas tersebut. Kemudian ia pun kembali melangkahkan kakinya, namun dengan cepat cowok itu mencekal pergelangan tangannya sehingga langkah Tata pun terhenti.
Tata membalikkan badannya sedikit ke arah cowok itu. "Apa lagi?" tanya Tata malas kemudian menghempaskan tangan Surya dari pergelangan tangannya dengan kasar.
Kemudian Tata kembali melanjutkan jalannya, namun lagi-lagi pergelangan tangannya dicekal oleh cowok itu.
"Mau lho apa sih?" tanya Tata tanpa melirik cowok itu sekalipun.
"Belum puas mainin perasaan gue?" ucapnya lagi dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Ia menahan dirinya mati-matian agar tak menangis di depan cowok itu. Namun nyatanya malah berbanding terbalik. Gadis itu telah meneteskan air matanya tanpa disadarinya. Sementara Surya, cowok itu hanya bisa menunduk bersalah. Ia mengakui bahwa dirinya sudah keterlaluan.
Tata pun menyeka air matanya kasar. "Sorry Sur, gue bukan boneka yang bisa lho mainin sesuka hati lho."
"Maaf," ucap Surya lirih masih dalam posisinya menunduk.
Tata tersenyum miring. "Setelah lho merusak hubungan gue sama Kak Langit lalu mempermainkan perasaan gue, apa itu masih bisa dimaafkan? Sorry Sur, gue juga punya perasaan, gue juga bisa merasakan sakit. Bahkan sakit ini terlalu sulit untuk diobati. Gue benar-benar kecewa sama lho."
"Oke, gue akui gue salah Ta, tapi please maafin gue dan..." ucap Surya yang sengaja menjeda ucapannya.
"Dan, beri gue sekali lagi kesempatan." lanjutnya dengan memohon.
Tata melepaskan tangan Surya dari pergelangan tangannya dengan lembut kemudian menggenggam tangan Surya.
"Maaf Surya, gue udah gak bisa. Biar cerita kita berakhir sampai di sini aja. Makasih ya udah pernah mengisi hati aku, ya walaupun kamu sendiri yang buat aku sakit." ucapnya dengan sekuat tenaga menahan tangisannya yang sebentar lagi pecah.
"Gue gak bisa Tata," ucap Surya pelan.
"Kenapa?" tanya Tata sedikit meninggi.
"Karena gue udah cinta sama lho Tata," jawab Surya dengan menekankan setiap kata yang di ma ucapkan agar Tata mengerti.
Tata menatap Surya mencoba mencari kebohongan dari cowok itu. Namun Tata tak menemukannya, benar cowok itu mengatakannya tulus dari lubuk hatinya.
Tata pun tersenyum senang dan hangat kepada cowok itu. "Gue juga cinta sama lho Surya. Tapi maaf, kayaknya kita gak akan bisa sama-sama lagi Sur. Maaf," ucap Tata lirih kemudian berlari dari tempat itu dengan bercucuran air mata. Meninggalkan Surya dengan penuh kerapuhan. Sekarang semua orang sudah menjauhinya. Tak ada lagi harapan untuknya.
Bugh
Seseorang datang menghampirinya dan langsung menonjok muka Surya. Tampak Orang itu sangat marah.
"Dasar, cowok brengsek lho." maki cowok itu, kemudian pergi begitu saja meninggalkan Surya.