
Bulan pun menghentikan tawanya. "Gak kok" jawabnya singkat.
"Cewek ini aneh banget ya? Tapi lucu juga sih, hehe" batin Langit sambil terkekeh.
Tiba tiba seseorang menghampiri mereka.
"Ehem" dehem seseorang yang membuat Bulan dan Langit terkejut.
Bulan menoleh ke sampingnya. "Tata" ucapnya bingung melihat Tata yang sudah berada di sampingnya.
"Sejak kapan lho di sini?" tanya Bulan.
"Dari tadi." jawab Tata singkat namun jelas.
"Serius lho? Tapi kok gue kak nyadar ya?"
"Gimana lho bisa ngeliat gue datang, orang lho lagi serius sama kak Langit." jawab Tata agak meledek.
"Ihh apaan sih" jawab Bulan malu.
"Hmm" dehem Langit yang merasa dicuekin dari tadi semenjak kedatangan Tata.
"Sorry, kak. Gak inget kalau di sini ada kakak". Bulan meminta maaf karena merasa bersalah telah mengacuhkan Langit.
"No problem." balas Langit lancar.
Mereka pun bertatapan.
"Ehem, ehem." Lagi lagi Tata berdehem. Namun kali ini, ia sengaja memperdengarkannya dengan jelas, seolah olah meledek mereka berdua sambil sesekali menyenggol lengan Bulan.
Terlihat Bulan jengkel dan kesal melihat Tata.
"Ya udah, kita duluan ya kak!" ucap Bulan berpamitan dan langsung menarik paksa Tata dari tempat itu dengan keras.
"Lho suka sama kak Langit ya Lan?" tanya Tata tiba tiba yang membuat Bulan tercengang.
"Hah? Suka?" ucap Bulan mengulangi point point penting pertanyaan Tata yang selalu dibalas anggukan oleh Tata.
"Gak kok. Gue sama kak Langit itu cuman temanan kok. GAK LEBIH... " jawab Bulan yang sengaja menekankan dua kata terakhir itu.
"Ohh iya gue lupa" jawab Tata yang tak masuk di otak Bulan maksudnya.
"Lupa apa?" tanya Bulan.
"Lho kan miliknya Bintang Prawijaya" jawabnya lancar.
Muka Bulan langsung memerah. Entah kenapa setiap nama Bintang Prawijaya itu masuk dalam indra pendengarannya, mukanya selalu memerah. "Jangan ngaco deh." balasnya berpura pura tak suka.
"Alah gak usah boong deh. Tuh mukanya aja udah kayak udang rebus". Bulan pun tersipu malu.
Sampai di situlah percakapan mereka, hingga akhirnya mereka membisu karena mereka sampai juga di dalam kelas. Tanpa sengaja, Langit membuntuti mereka dari arah belakang.
"Selamat bersenang senang princess bersama pangerannya. Liat deh pangerannya udah nungguin tuh." bisik Tata di telinga Bulan, kemudian dengan cepat berlari ke arah tempat duduknya sebelum kena akibat yang dilakukannya.
Bulan hanya senyum senyum tak jelas. Kemudian perlahan lahan berjalan mendekati bangkunya, di samping Bintang.
"Ngapain lho ke sini?" tanya Bintang ketus.
Bulan mengernyit heran. "Maksud nih cowok apa? Ini kan tempat gue."
"Ini kan tempat gue juga?" jawab Bulan yang terdengar seperti pertanyaan.
"Kata siapa?" tanya Bintang lagi seolah olah mengejek.
"Nih cowok kenapa nyebelin banget sih? Ihh, gue gak suka deh."
"Maksud lho?" Bulan bertanya balik.
"Guys, kalian tau gak? Ternyata, cewek sok kalem, sok baik pokoknya sok-sokanlah, itu benaran ada lho. Gak tau terima kasih lagi. Dan lebih parahnya lagi, ia serakah guys, maunya miliki dua pacar."
"Masa'?" tanya seorang siswi heran dengan pernyataan Bintang.
"Iya, gue benaran. Dan yang lebih parah lagi, cewek itu..."
"Stop". Bulan memotong ucapan Bintang. Ia merasa kalau yang dimaksud Bintang itu ialah dirinya. Siapa lagi coba? Cuma dirinya yang sedang punya masalah dengan Bintang.
"Kenapa? Lho ngerasa? Hm" tanya Bintang semakin memperkeruh suasana.
"Gue bilang stop, stop". Teriakannya menggema di ruangan tersebut, membuat semua teman temannya merasa kaget. Ternyata cewek dingin bisa jadi seram juga ya, tatkala kaget Tata.
Hening. Yang terdengar hanya suara tangisan Bulan yang memecah keheningan teesebut. Ia sudah tak kuasa menahan air mata tersebut. Hatinya terasa perih, dipermalukan oleh Bintang di depan teman temannya. Meskipun tak sebut nama, tapi tentu itu sudah membuatnya malu.
"Gue tau lho nyindir gue. Kalau gak suka sama gue, gak papa. Tapi jangan pernah buat harga diri gue jatuh. Gue gak suka. Dan jangan harap gue bakal jatuh cinta lagi sama cowok kayak lho. Cowok brengsek yang cuma bisa nyakitin. Gue mungkin emang salah sudah berharap lebih sama.lho." bentak Bulan agak serak.
"Satu lagi, jangan pernah dekatin gue lagi. Lho cuman bikin gue sakit hati." ucapan terakhir yang keluar dari mulut Bulan sebelum keluar dari kelas.
Teman temannya tercengang tak percaya. Apa? Bulan jatuh cinta sama Bintang? Gue gak salah dengar kan?
"Jadi, Bulan suka sama Bintang? Ternyata perjuanganku selama ini hanya sia-sia. Aku hanyalah seperti angin lalu di hati Bulan.". Tampak seorang pria yang tengah berdiri di ambang pintu dan menyaksikan pertengkaran itu.
Setelah mengucapkan kata katanya tersebut, ia pun berlari menjauh dari tempat yang membuat hatinya itu remuk. Tak sengaja ia menabrak Langit yang berada di puntu kelas, yang hanya menjadi penonton saja sejak tadi.
"Bulan" ucapnya. Namun Bulan tak menggubrisnya. Ia tetap berlari menjauh dari tempat itu. Ia terus berjalan tak tau arah dan tujuannya, tak mendengar teguran teguran guru yang melihatnya berkeliaran di jam pelajaran seperti itu.
Sementara itu, Bintang merasa sangat bersalah. Ia benar benar menyesal telah melakukan hal tersebut, mempermalukan Bulan di depan umum. Ia ingin mengejar Bulan, namun itu tak akan mungkin. Andai waktu bisa diputar kembali, Bintang tak akan melakukan hal itu. Namun apalah daya, nasi telah menjadi bubur.
"Jadi, Bulan benaran suka sama Bintang. Terus sama Kak Langit, bagaimana dong? Batin Tata.
Tata pun bangkit dari duduknya dan mengejar Bulan. "Lho apain teman gue?" teriak Tata di depan muka Bintang. Bintang tak menggubrisnya.
"Gue benci tau nggak sama lho. Lho udah bikin dia sakit hati. Dia itu cinta sama lho Bintang." ucapnya sambil mendorong tubuh kekar Bintang sehingga terjatuh lemas. Kemudian berlari mengejar Bulan.
"Lan, tungguin gue" teriak Langit di belakang Bulan yang tengah mengejarnya.
Namun Bulan tak menggubrisnya, ia terus berlari dan berlari. Hingga Langit mencekal tangannya. Namun Bulan dengan keras melepaskannya.
Tiba tiba Langit memeluknya. "Sabar ya, Lan!" ucapnya sambil mengelu ngelus punggung bulan dengan lembut dalam pelukannya.
Lagi lagi, Bulan melepaskan pelukannya dengan keras. "Gue mohon kakak jangan pernah dekatin gue lagi." ucapnya.
"Kenapa? Lho takut gue nyakitin lho, kayak Bintang. Tenang Lan, gue gak gitu orangnya." tanya Langit yang langsung dijawabnya sendiri.
"Gue udah gak percaya lagi sama janji janji manis. Semua laki laki itu sama saja. CUMAN BISA NYAKITIN." Balas Bulan marah.
"Lan?"
"Pergi" bentak Bulan menyuruh Langit untuk menjauh darinya.
"Gue sayang lho Bulan" kalimat terakhir Langit sebelum pergi.
Dengan terpaksa dan langkah berat, Langit meninggalkan Bulan sendirian. Sebenarnya ia tak ingin meninggalkan gadis itu. Gadis tersebut tengah rapuh.
Bulan pun duduk tersungkur ke lantai. Ia tak punya energy lagi untuk bangkit, tubuhnya sudah melemas, tak berguna. Oh Tuhan, berilah Bulan ketabahan?
"Maafin gue Kak, gue gak bermaksud buat bentak Kakak. Tapi maaf Kak, gue gak bisa balas perasaan Kakak." ucapnya pelan.
Tanpa ia sadari ternyata Langit belum peegi dari tempat itu. Ia masih mbuntutinya dari belakang. Takut gadis itu melakukan apa apa. Namun ketika mendengar pernyataan gadis tersebut. Hatinya terasa remuk. Ternyata benar hadia itu hanyalah menganggapnya angin yang lalu.
"Oke Lan, kalau itulah pilihanmu. Aku gak memaksa buat jatuh cinta sama aku. Aku memang gak pantas buat kamu. Aku pergi ya!" batinnya, kemudian pergi dari tempat itu dengan hati yang terluka dan mata yang berkaca kaca. Namun ia cukup tegar. Cinta memang tidak bisa dipaksa ataupun memaksa. Ia tidak boleh egois.
Tiba tiba seseorang dari arah belakang memeluk Bulan. Bulan hendak memberontak. Namun setelah diketahuinya bahwa itu ialah Bulan, ia mulai merasa tenang. Tata memang sahabat yang baik untuk Bulan, meskipun mereka baru saja menjalin hubungan persahabatan itu. Tata yang selalu ada untuk Bulan dan pengertian terhadapnya. Berusaha menenangkan Bulan ialah kegiatan yang tengah dilakukan Tata. Ia membawa dan mengajaknya ke Ruangan UKS. Siapa tau Bulan bisa menenangkan pikirannya di sana?