Bulan & Bintang (Revisi)

Bulan & Bintang (Revisi)
Bagian 48 : Berubah?


“Akhirnya lo sadar juga, Lan,” tutur seseorang saat Bulan baru saja mengerjapkan mata setelah pingsan bermenit-menit lamanya.


“Gu-gue kenapa ...?” Kesadaran Bulan baru kembali ketika warna putih mendominasi ruangan tersebut. Kepalanya bergerak menatap sekeliling.


Lalu, beralih menatap sumber suara di hadapannya. “Apa yang terjadi?” tanyanya dengan nada suara parau.


Hela napas gusar berembus dari bibir gadis dengan rambut terurai sebahu itu sebagai respons atas pertanyaan Bulan.


“Tadi, lo pingsan di lapangan, Lan,” ujar Renata memberitahu.


Kening Bulan mengerut dalam, mencoba mengingat semuanya. Secara refleks mengurut pelipis ketika berdenyut sakit.


Bulan ingat sekarang. Kepalanya tiba-tiba berdegung saat hendak beranjak dari lapangan. Pandangannya memburam, hingga Bulan hilang kesadaran.


Renata memegang pundaknya. Tatapannya berubah prihatin. “Tapi sekarang lo udah baik-baik aja, kan? Gue tuh khawatir banget, Lan, pas tau lo pingsan. Dengar kabar lo kena hukum aja gegara terlambat terasa enggak masuk akal.”


Tangan Bulan terulur lemah. Mengusap lengan Renata. Senyum tipis terbit di bibir. “Gue baik-baik aja kok. Makasih udah khawatirin gue.”


Renata terenyuh dengan kata-kata itu, juga senyum pertama kali yang dia lihat di bibir Bulan. Senyum melebar di bibir ikut tersungging.


***


“Kenapa sampai berkelahi di sekolah? Ada masalah apa, hah?!”


Tatapan tajam yang mengintimidasi sedari tadi. Kini dua murid laki-laki itu terlonjak dari lamunan ketika mendengar sentakan dari Andre, guru termuda di SMA Mahardika.


Berselang menit, namun tidak seorang pun dari dua murid itu yang merespons ucapan Andre membuatnya naik pitam. Dia menggertakkan bibirnya geram. Sudah hampir setengah jam dia menyekap dua siswa nakal itu di ruangan ini, tetapi mereka masih enggan juga membuka suara.


“Bintang! Mana janji-janji kamu yang katanya tidak akan melanggar peraturan lagi?” tagih pria 24 tahun itu.


“A-anu, Om.” Satu kebiasaan unik yang akan keluar dari bibir Bintang ketika diajak berbicara serius.


“Langit duluan yang mulai. Dia yang pancing emosi saya!” Bintang melirik Langit di sebelahnya. Dia melimpahkan semua kesalahan itu sepenuhnya pada Langit.


Langit membelalakkan bola matanya mendengar itu apalagi ketika netra tajam milik Andre beralih padanya.


“Langittt!” geram Andre.


Langit meringis. Pemuda itu menundukkan kepala, lalu melirik tajam Bintang di sebelahnya lewat ekor mata.


“Kamu itu ketua osis. Harusnya bisa kasih contoh yang baik sama teman-teman kamu. Harus pandai-pandai jaga emosi,“ nasehat Andre pada Langit.


“Jangan seperti dia yang berandalan. Kerjanya cuma bisa bikin orang tua kesal!” lanjut Andre melirik sinis Bintang.


Bintang membelalak tak terima. Jelas-jelas Andre menyindirnya barusan. “Om, kok gitu sih, sama Bintang,” protesnya sebal.


“I-iya om. Tapi jangan laporin Langit sama bokap nyokap, ya, Om,” cicit Langit penuh harap.


Hal yang membuat Bintang memutar bola mata malas. Drama sekali! Cibirnya dalam hati.


Dan hal yang tak terduga ketika senyum terbit di bibir Andre, lalu menganggukkan kepala. Yang mana artinya, dia mengiyakan permintaan Langit.


Langit semringah, berbanding terbalik dengan Bintang yang menahan kekesalan dalam hati.


Andre terkikik geli melihat reaksi dua keponakannya yang sangat kontras. Bintang dan Langit adalah dua saudara yang tak pernah akur sedari dulu. Ah, lebih tepatnya sepupu.


***


Bulan dan Renata baru saja keluar dari ruang UKS. Keduanya sedang berjalan bersisian di koridor sekolah yang perlahan sepi karena mata pelajaran pertama setelah jam istirahat sudah dimulai.


Renata sudah melarangnya dan menasehati gadis itu agar istirahat saja, tetapi Bulan tetap kekeh untuk kembali ke kelas. Gadis pendiam itu ternyata adalah seorang yang keras kepala. Renata hanya bisa mengembuskan napas lelah dan mengikuti apa kata Bulan.


“Hati-hati.” Renata menegur ketika Bulan hampir saja terhuyung ke depan. Dengan sigap menahan bahu sang sahabat.


Bulan yang masih dalam keadaan linglung---belum sepenuhnya tersadar---hanya bisa mengangguk lemah. Sambil memijit pelan keningnya yang lagi-lagi berdenyut sakit. Akh, kalau seperti ini harusnya dia mendengarkan ucapan Renata tadi! Keluhnya dalam hati.


“Atau mau putar balik?” lanjut Renata menawari dan langsung mendapat gelengan lemah dari Bulan.


Lagi embusan napas berat terdengar dari Renata. Kedua gadis itu melanjutkan perjalanan ke kelas.


“Eh, ada Bintang,” cicit Renata berbisik di telinga Bulan.


Saat mereka hendak sampai di depan pintu kelas, dari arah berlawanan Bintang datang bersama sebogem penuh luka di wajah. Menodai wajah tampan itu.


Bulan yang semula lemas sedikit ada perubahan di raut wajahnya. Seketika menoleh saat mendengar nama Bintang disebut. Entah kenapa Bulan hanya sekadar refleks.


Kerut bingung turut terukir di wajah Bulan. Ada apa dengan wajah babak belur Bintang? Apa yang terjadi? Bulan bertanya-tanya dalam hati. Terakhir kali bertemu lelaki itu di lapangan, wajahnya masih biasa-biasa saja.


Bulan hendak melayangkan pertanyaan ketika berdiri tepat di hadapan lelaki itu. Namun, dengan cepat dia urungkan saat tersadar bahwa dia terkesan penasaran ingin tahu. Dan itu hanya akan membuat Bintang semakin besar kepala.


Di luar dugaan, Bintang pun hanya menampilkan raut datar dan berlalu masuk ke dalam kelas begitu saja. Tanpa sepatah kata pun.


Tidak ada gombalan yang dilontarkan untuk Bulan, atau pun hanya sekadar kedipan mata genit. Entah apa penyebab cowok itu berubah menjadi cuek. Bulan tidak tahu. Yang jelas, Bulan seakan tidak suka dengan sikap Bintang yang mengabaikannya seperti sekarang. Seakan ada kekosongan yang tersisa, sesak yang menyiksa.


Sambil berjalan bersama Renata ke dalam kelas, Bulan melirik ke arah gadis itu. Dengan nada suara pelan nyaris terdengar dia bertanya, “Bintang kenapa?”


Saat menyadari pertanyaannya yang terkesan penasaran, Bulan langsung mengubah cara bertanyanya. Apalagi saat Renata menoleh dengan tatapan mengintimidasinya.


“Eh, maksud gue. Mukanya kenapa bonyok kayak gitu?” ralat Bulan.


Renata mendekatkan bibirnya ke telinga Bulan dan berbisik, “Dia habis berantem sama Langit gara-gara rebutin lo yang pingsan untuk dibawa ke UKS.”


Diam-diam Bulan membulatkan bola matanya. Terkejut akan hal tersebut. Namun dengan cekatan dia menyembunyikan ekspresi wajah kaget itu dengan raut datar.


Kini, mereka sudah duduk di bangkunya. Bulan melirik sejenak ke bangku seberang. Sesosok lelaki yang duduk dengan tenang menjadi pemandangan pertama. Berbeda sekali dengan hari-hari biasanya. Cowok itu dengan segala tingkahnya akan merecoki hidup Bulan. Tetapi kali ini tidak.


Dia berubah. Bulan tidak tahu apa penyebabnya. Namun, Bulan merasa asing dengan perubahan sikap cowok itu.


Di saat Bulan seharusnya senang karena tidak ada lagi yang akan mengganggu ketenangan hidupnya. Gadis itu malah merenung tak jelas. Hatinya gundah. Seakan ada kesepian yang perlahan melingkupinya. Perlahan kehilangan sesuatu yang dia sendiri pun tak sadari apa.


***


“Pulang sama siapa, Lan?” Renata menatap ke samping. Gadis itu melayangkan pertanyaan pada gadis di sebelahnya. Saat ini, mereka sedang berdiri di depan gerbang sekolah menunggu jemputan.


Bel pulang sekolah baru saja berdering di seantero sekolah beberapa menit lalu. Sekolah mulai sepi. Hanya terlihat beberapa murid yang tersisa karena beberapa urusan. Misalnya mengikuti kegiatan ekstrakurikuler.


“Bokap,” jawab Bulan singkat. Pandangan gadis itu lurus ke depan.


Renata hanya manggut-manggut. Keheningan menyapa keduanya untuk wakti yang cukup lama, hingga jemputan Renata tiba lebih dulu.


Sebuah mobil berhenti di depan mereka berdua. Renata melirik Bulan sekilas dan menampilkan senyum tak enak.


“Lan.” Seolah paham dengan panggilan itu, Bulan mengangguk mengiyakan seolah berkata, “Iya, duluan aja.”


Usai berpamitan, Renata masuk ke dalam mobil yang menjemputnya. Gadis itu menurunkan kaca mobil dan menyempatkan melambaikan tangan pada Bulan sebelum benar-benar menghilang dari hadapan Bulan.


Bulan membalas lambaian tangan Renata. Tangannya perlahan turun seiring dengan kepergian mobil itu. Lagi, kesunyian menjadi teman Bulan. Hingga tak lama mobil yang datang menjemputnya pun tiba.


Mobil berhenti tepat di hadapan Bulan. Bulan naik ke jok belakang. Tanpa menyadari sebuah tatapan yang terus mengintimidasinya sedari tadi dari sebuah halte yang tak jauh dari sekolah.


Orang bertudung jaket hitam, juga masker dengan warna senada yang menutupi muka itu beranjak dari tempat duduk dan mengendarai motor sport yang terparkir tak jauh dari halte. Motornya melaju sedang mengikuti arah tujuan mobil di depannya---mobil yang ditumpangi oleh Bulan.


“Target selanjutnya, Bulan Purnamasari. Seorang murid pindahan di SMA Mahardika,” gumam sosok misterius itu pada diri sendiri.


Tatapan matanya lurus ke depan. Perlahan bibir di balik masker menyungging seringai.


***