Bulan & Bintang (Revisi)

Bulan & Bintang (Revisi)
Bagian 53. Bulan & Renata


Bulan mendudukkan dirinya di bangku kelas. Tas dilemparnya asal ke atas meja sebelum dipindahtempatkan ke dalam laci. Gadis itu menyandarkan punggungnya ke sandaran bangku seraya napas gusar berangsur-angsur dari hidungnya. Baru pagi hari, tetapi Bulan sudah mendapat sial saja! Fakta yang berhasil menghancurkan mood Bulan.


Kedatangan Renata mengalihkan atensi Bulan. Gadis itu duduk di sebelahnya sembari menatap Bulan dengan senyum.


“Kenapa?” tanya Bulan risih.


“Gue salut sama lo, Lan,” sahut Renata.


Bulan mengerutkan alis. “Dalam hal?”


“Ya, karena lo keren. Selain gue, ternyata ada lagi yang berani sama Mentari.” Renata terkikik geli di akhir kalimat.


Mendengar nama Mentari, entah kenapa membuat darah Bulan kembali mendidih. Seolah nama itu adalah hama perusak yang suka membuat darah tinggi dan harus dimusnahkan agar tidak berbuat ulah lagi.


“Gue enggak ngerti. Tuh anak maunya apa, sih! Kagak jelas banget,” gerutu Bulan mencibir.


“Mentari emang dari sononya kali. Suka cari sensasi,” timpal Renata.


“Apa lo berdua! Ngomongin gue?” Seseorang yang sedang mereka bicarakan, tiba-tiba muncul di balik pintu kelas. Dia berjalan menghampiri tempat duduknya---tepat di belakang Bulan dan Renata---dengan begitu pongah. Tiada henti mengalihkan tatapan sinisnya dari dua gadis itu hingga ketika sudah duduk di bangku. Bahkan dengan sengaja sedikit merundukkan tubuhnya dan mengibaskan rambut di depan Bulan tepat saat berdiri di hadapan gadis itu.


Renata memutar bola mata jengah disusul hela napas kasar. “Panjang umur,” ujarnya dengan nada meledek, berhasil mendapat pelototan mata dari Mentari.


“Udah, enggak usah diladeni. Capek juga berhadapan terus sama orang yang enggak jelas kayak dia,” bisik Bulan pada Renata.


Renata menahan tawanya yang hampir saja tersembur. Lewat ekor mata melirik Mentari untuk melihat bagaimana respons gadis itu. Seperti dugaanya, tatapan gadis itu kian tajam pada mereka berdua. Renata yakin Mentari mendengar bisikan Bulan.


***


Seperti sebelum-sebelumnya, kedatangan Bintang di sekolah pasti selalu menjadi pusat perhatian murid-murid, terlebih cewek-cewek. Dari Bintang memarkirkan motor di depan sekolah, hingga masuk ke dalam kelas---bahkan duduk di tempatnya---pusat pandang masih tertuju padanya. Meski terkenal nakal dan arogan, tetapi tidak ada yang dapat menolak pesona lelaki itu.


Pagi ini, Bintang kembali berbuat ulah. Di jam pertama, koridor sudah penuh oleh gerembolan murid-murid bagi yang kelasnya sedang jam kosong. Hanya untuk menyaksikan cowok itu yang dihukum karena datang terlambat. Seperti biasa. Tentu bukan karena hal itu yang membuatnya heboh. Bukan hal yang mengherankan lagi bagi murid-murid SMA Mahardika jika seorang Bintang Prawijaya datang terlambat.


Berdiri sambil hormat di tengah lapangan, tepat di depan tiang bendera. Kucuran deras keringat mengalir mulai dari pelipis merembes turun ke wajah, ditambah kerongkongan yang semakin kering. Lengkap sudah penderitaan Bintang di pagi itu. Hari sial untuk yang ke sekian kali. Lagipula, kenapa juga dia harus ketahuan terlambat oleh Pak Andre, pamannya.


Kini, pria yang berpredikat sebagai guru muda itu sedang mengawasinya dari pinggir lapangan sambil bersedekap dada. Badannya menyandar pada salah satu tiang bangunan. Tatapan penuh intimidasi tak sekalipun beralih dari Bintang.


“Njir, Bintang tambah macho dengan buliran keringat kayak gitu anj*r!”


“Fiks, setelah ini Mentari makin tergila-gila sama dia!”


“Pantes aja, ya, Mentari sampai rendahin harga dirinya buat dapetin Bintang. Damage tuh cowok emang enggak main-main ternyata!”


“Woiii, abis bertapa dari gua mana aja lu! Kenapa baru nyadar?!”


Seruan hiperbola beberapa murid berhasil merengsek masuk ke gendang telinga Andre. Menarik alih perhatiannya.


Bola mata melotot begitu baru sadar koridor lantai dua sudah penuh dikelilingi oleh murid-murid anak kelas 10 dan beberapa kelas 11.


Andre langsung berdiri tegak dan menatap nyalang gerombolan murid-murid itu dari ujung kiri ke kanan. “Heh, kenapa malah berkeliaran di situ? Masuk ke kelas dan tunggu gurunya datang!” titah Andre dengan wibawa tegas.


“Lagi jamkos juga, Pak!” seru seorang murid mengelak, lalu diikuti oleh sorakan tanda setuju dari murid-murid lain.


“Tidak ada jamkos. SMA Mahardika tidak mengenal istilah seperti itu!” Andre menggeleng keras. Membantah ucapan murid itu.


“Cepat masuk kelas atau ... skors selama tiga hari plus surat panggilan untuk orang tua?!” ancam Andre tak main-main.


Andre hanya bisa menghela napas sambil geleng-geleng kepala melihat kelabilan murid-murid remaja itu. Lihat saja mereka. Di beberapa waktu, mereka sangat mendamba-dambakannya sebagai sosok yang sempurna karena di usia muda sudah menjadi guru ditambah tampang dan fisik yang mendukung. Lalu, sekarang mereka mencibirnya habis-habisan hanya karena sebuah teguran.


Seringai jahil tiba-tiba mencuat di antara senyum pria itu.


“Bagi murid yang tidak mencibir saya. Selamat, kalian berhak mendapat nomor WA, bapak!” seru Andre begitu lantang.


Tiap-tiap kelas seketika riuh oleh pekikan heboh murid-murid cewek. Histeris hanya dengan iming-iming nomor WA Bapak Andre Wijaya. Di sisi lain, murid-murid cewek yang tadi mencibir Pak Andre tampak menyesal dan merutuki perbuatan mereka. Sepertinya mereka sudah hilang satu kesempatan emas untuk mendapatkan pujaan hati mereka.


Sementara beberapa murid cowok memutar bola mata malas. Cewek-cewek ini terlalu banyak drama. Bahkan baru saja mereka mencibir guru muda itu.


Diam-diam Andre terkikik geli melihat hasil perbuatannya. Bukannya membuat sekolah sedikit lebih tenang karena ancamannya, justru tambah ramai hanya karena ucapannya beberapa saat lalu. Padahal semua orang juga tahu bahwa semua itu hanyalah candaan Andre semata.


“Huh, buayanya udah mulai keliatan nih!” sindir Bintang dari tengah lapangan. Suara sengaja dibesar-besarkan agar Andre mendengarnya.


Spontan Andre mempelototinya dengan tajam. “Heh, diam kamu! Enggak usah banyak bicara atau hukumannya saya tambah. Mau?!” ujarnya mengancam.


“Huh, dasar guru muda. Tahunya mengancam, ck!” keluh Bintang penuh gerutuan.


“Bintang!”


***


“Buruan, Lan! Entar kehabisan tempat lagi. Mana perut gue udah enggak bisa diajak kompromi,” gerutu Renata saat melihat Bulan begitu lelet hanya mengemas buku dan alat tulis lainnya ke dalam tas.


Jam istirahat sudah tiba beberapa menit yang lalu. Guru yang mengajar di kelas pun sudah keluar. Suasana sudah lumayan sepi. Terhitung hanya beberapa murid saja yang masih betah di kelas.


Bulan diam, mengabaikan gerutuan Renata. Hanya hela napas yang terdengar sepintas. Meski mulutnya sudah gatal ingin sekali membalas recokan gadis itu dengan berkata, “Sabar dikit, napa!”


Bulan sudah siap. Dia berbalik badan dan menatap Renata seolah berkata ayo. Merapikan seragamnya yang agak kusut, kemudian dua gadis itu berlalu keluar dari kelas.


Tiba-tiba saja Mentari muncul dari belakang dan menyambar pundak Bulan kasar. Seolah tanpa bersalah gadis itu melenggang pergi mendahului Bulan dan Renata dengan gaya sok anggunnya. Bahkan sengaja menebar pesona dengan mengibaskan rambut.


Langkah Bulan dan Renata seketika terhenti. Bulan meringis sembari memegang pundaknya yang ditabrak Mentari.


“Lan, lo enggak papa, kan?” tanya Renata cemas.


“Aman,” jawab Bulan di sela-sela ringisannya.


Renata beralih menatap nyalang Mentari yang sudah berada di jarak jauh dari mereka.


“Woiii, santai dong lo. Kalo enggak suka ngomong. Enggak usah pake cara basi kayak gitu juga kali!” Renata meneriakinya murka. Namun, tak sedikitpun diindahkan oleh Mentari. Hanya membuat Renata tambah kesal saja.


“Bener-bener sialan tuh, cewek!” lanjut Renata mengumpati.


“Udahlah, Ta. Mending ke kantin aja.” Bulan mengusap punggung Renata, menenangkannya.


Meski dengan raut dongkol, Renata mengiyakan ucapan Bulan.


Kedua gadis itu kemudian melanjutkan langkah kakinya ke kantin. Semoga setelah sampai di sana mereka masih mendapat tempat, meski peluangnya kecil.


***