Bulan & Bintang (Revisi)

Bulan & Bintang (Revisi)
Bagian 39. First Day of School


Seperti hari-hari biasanya. Sarapan pagi di kediaman Irawan Purnama tampak begitu hening pagi ini. Semua diam menikmati setiap suapan nasi yang masuk ke dalam mulut. Tak ada percakapan yang terjadi di antara mereka bertiga. Sedari tadi, yang terdengar hanyalah dentingan sendok dan piring yang saling beradu.


Pantang bagi keluarga Irawan untuk berbicara saat makan. Dalam keluarganya, Irawan benar-benar menerapkan sebuah ungkapan yang mengatakan bahwa, 'jangan bicara kalau sedang makan'. Irawan sendiri tidak menyukai jika sedang makan ada yang berbicara.


"Kalau makan, ya makan! Jangan makan sambil bicara!" Begitu katanya, prinsip seorang Irawan Purnama.


Pernah sekali dia memarahi Bulan waktu masih SD. Waktu itu, Bulan kecil sering bercerita walau sedang makan. Irawan yang sedang menikmati makannya merasa risih mendengar ocehan Bulan. Alhasil, menegur anak kecil itu dengan sedikit membentak.


Bulan yang masih SD tentu saja takut. Dia mengira Irawan akan marah lalu memukulnya, padahal Irawan hanya menegur saja supaya bisa meninggalkan kebiasaan buruknya. Dan sejak saat itu pun, Bulan tidak berani lagi bicara kalau sedang makan. Dia benar-benar meninggalkan kebiasaan buruknya.


Bulan yang sedang asyik-asyiknya makan mengangkat kepala, menatap sang ayah dengan kening mengerut. Mila pun demikian, melakukan hal yang sama dilakukan Bulan. Nasi yang baru saja disendokkan ke dalam mulut dikunyah cepat-cepat hingga habis.


"Iya, Pa? Ada apa?!" sahut Bulan bertanya balik, lalu kembali menyendokkan nasi ke dalam mulut.


Irawan mengambil sebuah tissue, lalu dipakainya untuk mengelap mulut dan kedua tangan yang berminyak. Setelah membuang tissue bekas ke tempat sampah, barulah dia berucap. Semua itu tak luput dari penglihatan Bulan dan Mila. Dua perempuan itu saling beradu pandang dan melempar tatapan satu sama lain. Kening keduanya sama-sama mengerut.


"Papa minta maaf. Papa cuma bisa anter kamu ke sekolah hari ini. Menghadapnya ke kepala sekolah nanti kalo Papa gak sibuk, ya! Lagian kepsek barumu itu teman lama Papa, jadi gak usah khawatir." Tampak Irawan yang mencoba memaksakan senyum.


Sontak, kedua bola mata Bulan membulat kaget. "Loh, emangnya kenapa, Pa?!" tanya Bulan heran.


"Sekretaris papa barusan nelpon. Katanya ada client yang minta meeting-nya dimajukan lebih awal. Sekali lagi, Papa minta maaf ya, sayang!" jelas Irawan dengan wajah masam penuh salah.


Raut wajah Bulan kembali berubah datar. Dia mengendikkan bahu acuh dengan kepala yang manggut-manggut.


"Oh. Iya, gak papa kok, Pa." Bulan memaksakan senyumn.


Mila melirik putrinya. Walaupun hanya menampilkan wajah datar, tetapi Mila dapat menangkap raut kecewa di sana.


***


Sebuah mobil avansa berhenti tepat di parkiran SMA Mahardika. Tak lama, pintu mobil jok belakang terbuka dan keluar seorang gadis cantik berseragam putih abu-abu dari sana. Senyum gadis berambut sedada yang selalu dikuncir menjadi satu itu mengembang melihat gedung besar yang ada di hadapannya. Lesung pipinya yang otomatis terbentuk saat tersenyum, terpampang dengan jelas. Dia terlihat begitu cantik dan imut.


Gadis itu menengokkan kepala ke belakang. Karena pergerakannya, membuat rambut yang diikat jadi satu bergoyang-goyang. Tangannya ia lambai-lambaikan pada sang ayah yang berada dalam mobil, juga sedang menatap ke arahnya.


"Bulan masuk ya, Pa!"


Pria itu mengangguk merespon seruan putrinya. "Belajar yang benar. Jangan kecewain Papa!" pesan pria itu, menegaskan setiap kata yang keluar dari bibirnya.


Senyum di bibir gadis itu pudar. Seketika raut wajahnya kembali datar. Namun, tidak ada yang bisa gadis itu lakukan selain mengangguk patuh. "Iya, Pa. Bulan janji akan belajar dengan lebih giat lagi!" ujarnya lesuh. Lebih tepatnya, lelah.


"Bagus!" puji Papanya. Dia senang jika putri semata wayangnya itu mau menuruti semua yang diucapkannya. "Ya sudah, masuk!" titahnya.


"Baik, Pa!" Gadis itu berbalik dan melangkahkan kakinya masuk ke koridor sekolah. Kedua tangannya bertengger memegang tali tas birunya. Bertepatan dengan itu, Papanya pun menancap gas mobil berbalik arah dan melaju keluar dari lingkungan sekolah.


Dia, Bulan Purnamasari. Gadis cantik dan berprestasi pindahan dari Bandung. Kemarin, dia baru saja menginjakkan kakinya di kota Jakarta. Mereka sekeluarga terpaksa pindah kemari karena salah satu perusahaan Irawan yang ada di ibu kota mengalami sedikit masalah dan harus ditangani langsung oleh papanya sendiri. Jadi, mau tak mau, Bulan pun harus ikut. Dan untuk sementara waktu, dia akan melanjutkan pendidikannya di sini.


Papa sudah mendaftarkan dirinya di SMA Mahardika, yakni salah satu sekolah elite di ibu kota Jakarta. Kemarin, Irawan menghubungi kepala sekolah dan mendaftarkannya di sekolah ini. Mereka bercakap-cakap lewat telepon. Berhubung kepala sekolahnya adalah teman lama Papa ... jadi soal kepindahanya ke sini itu adalah hal gampang, begitu kata kepala sekolah di telepon kemarin.


BRUK!


Di perbelokan koridor, tak sengaja dirinya menabrak seorang murid yang baru saja keluar dari perpustakaan dengan beberapa buku yang menumpuk di tangannya.


Buku-buku itu berceceran ke lantai. Murid lelaki itu dengan cepat berjongkok dan memungutinya.


Bulan yang melihatnya ikut berjongkok, berniat untuk membantu cowok itu. Secuek-cueknya Bulan dengan sekitar, tetapi dia tidak mau juga di-cap sebagai orang yang tidak bertanggung jawab. Ya, setelah menabrak seseorang terus pergi begitu saja. Itu yang Bulan maksud tanggung jawab.


"Sorry, sorry! Gue gak sengaja." Bulan mengambil buku terakhir di lantai dan memberikannya ke cowok itu. "Nih! Sekali lagi gue minta maaf, ya! Gue gak sengaja nabrak lo!" ucap Bulan menjelaskan dengan wajah penuh salahnya.


Cowok itu mengambil buku itu dari tangan Bulan, lalu bangkit dari jongkoknya. Menghiraukan permintaan maaf gadis itu. Dia merapikan tumpukan buku paket tersebut yang sudah tersusun kembali dalam genggaman tangannya. Lalu, dia beralih menatap Bulan dengan intens yang kini sudah berdiri tegap di depannya.


Bulan yang ditatap seperti itu tentu saja salting dan juga was-was. Apalagi, ketika baru menyadari paras cowok itu yang ternyata tampan. Selain itu, dia juga takut kalau cowok itu akan mengomelinya karena ceroboh.


Kening cowok itu sedikit mengerut. "Lo ... murid baru?" tanya cowok itu memastikan. Pasalnya, dia tidak pernah melihat wajah siswi yang satu ini sebelumnya.


Bulan mengangguk dan menjawab, "Iya, kenapa?"


"Oh, enggak."


Mendapat jawaban singkat dari cowok itu membuat Bulan merubah ekspresi wajahnya kembali menjadi datar. Tiba-tiba keadaan menjadi canggung. Tidak tahu harus bagaimana, gadis itu memilih menundukkan kepala sembari memandangi kedua sepatunya. Bulan meremas kedua tangannya di bawah sana yang saling bertautan di bawah rok abu-abunya. Tanpa Bulan sadari, cowok itu mengulum senyum melihat ekspresi lucunya.


Tiba-tiba sebuah tangan terjulur ke arah Bulan. Bulan mendongak dan menatap heran tangan yang ternyata milik cowok itu. Kedua alisnya saling menekuk.


"Gue Langit. Murid 12 IPS A." Seolah mengerti arti tatapan bingung dari murid baru itu, cowok itu bersuara.


Dalam detik itu juga, barulah Bulan sadar bahwa ternyata cowok itu sedang mengajaknya kenalan.


Bulan tersenyum canggung membalas senyuman manis cowok itu. Lalu perlahan, tangannya terangkat dan membalas uluran tangan cowok itu. Sekarang, posisi mereka berjabat tangan.


"Bulan," balas Bulan singkat.


Setelah itu, mereka mengurai jabat tangan mereka. Keadaan kembali berubah menjadi canggung membuat Bulan tak nyaman dan bergerak gelisah.


Menyadari ketidaknyamanan gadis itu, Langit tersenyum penuh arti. "Mau gue anterin ke ruang kepsek?" tanya Langit menawari.


"Hah?" Bulan menatapnya bingung.


"Lo kan murid baru ..." jeda cowok itu sejenak, "pasti belum tau dimana letak kantor, kan?" Penuturannya berubah menjadi sebuah pertanyaan.


Bulan tidak langsung merespon, gadis itu memilih bungkam. Hingga tak lama, gadis itu meangguk-anggukan kepalanya ragu.


Langit mengulum senyum lebar. Setumpukan buku yang berada dalam genggaman kedua tangan cowok itu dipindahkan ke tangan kirinya. Alhasil, posisinya sekarang buku itu hanya disanggah dari bawah oleh tangan kiri saja sedangkan tangan kanannya free.


"Ya udah, sini gue anterin." Tanpa aba-aba, Langit langsung meraih tangan kiri murid baru itu lalu menggenggamnya dan menautkan jari-jari mereka.


Hal itu membuat Bulan tersentak. Matanya melotot dengan tubuh mematung di tempat. Tidak sampai di situ saja, Bulan juga merasa ada kelainan yang menimpa jantungnya sekarang. Kenapa ia deg-degan seperti ini?


Tak ada respon dari Bulan. Pandangan gadis itu hanya terpusat pada satu titik. Langit mengikuti kemana arah pandang gadis itu. Saat itu, dia baru tersadar apa yang membuat gadis itu mematung di tempat.


"Ah, sorry! Gue refleks tadi."


Langit langsung melepaskan tangannya dari tautan jari mereka. Dia menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal sambil menatap malu-malu gadis yang berdiri di hadapannya ini. Langit salting.


Keadaan ini benar-benar tambah canggung. Bulan menyunggingkan senyum kikuknya. Wajahnya memerah. Bisa dipastikan pipinya sekarang sudah semerah tomat. "Iya, gak papa kok, Kak."


Kedua murid beda jenis kelamin itu lalu berjalan beriringan di koridor sekolah.


Cekrek!


Cekrek!


Tanpa mereka sadari, ada seorang murid perempuan di pinggir koridor sana yang mengintip dan merekam serta memotret interaksi kedua murid itu. Murid yang barusan memotret foto mereka pas gandengan tangan itu mengulum senyum lebar.


"Nah, selesaiii!" serunya heboh.


Gadis itu semakin mengulum senyum dengan pandangan lurus ke depan. "SMA Mahardika pasti bakalan heboh hari ini dengan gosip baru yang gue bawakan. Murid baru cantik and Ketos tampan. Avv... pasangan yang serasi."


***


Seorang gadis keluar dari kantor bersama seorang guru. Dia adalah Bulan Purnamasari. Gadis itu baru saja menghadap ke bapak kepala sekolah mengingat statusnya sebagai murid baru di sekolah ini. Dan akhirnya, dia diterima di sekolah ini. Sekarang, dia resmi menjadi salah satu murid dan bagian dari SMA Mahardika.


"Mari, Nak! Ibu anterkan ke kelas barunya!" ajak guru perempuan itu dengan lembut.


Bulan tersenyum, lalu mengangguk patuh. Guru gendut yang Bulan ketahui namanya Bu Dona itu berjalan duluan memimpin jalan. Bulan mengikutinya dari belakang. Dua perempuan berbeda usia itu berjalan di koridor. Hingga langkah Bu Dona berhenti di depan sebuah kelas.


KELAS 11 IPA B


Begitu kata-kata yang tertulis besar di papan nama kelas yang digantung di atas depan pintu tersebut.


Bulan pastikan dirinya akan ditempatkan di kelas ini. Bulan berdoa semoga teman kelasnya baik-baik semua dan tidak resek agar dia bisa beradaptasi dengan cepat.


Tok... Tok... Tok...


Ketukan Bu Dona pada pintu kelas membuat Bulan tersadar dari lamunannya. Berkali-kali guru gendut itu mengetuk pintu, barulah ada respon. Karena tangan Bu Dona yang besar itu maka suara gedoran pada pintu tersebut terdengar keras.


Pintu terbuka menampilkan seorang lelaki muda bersetelan seragam dinas. Umurnya mungkin kisaran 24 tahunan. Melihat Bu Dona dan seorang siswi yang diduganya murid baru, lelaki itu mengembangkan senyumnya.


Bulan terperangah di tempat untuk beberapa saat. Diam-diam dia menelisik penampilan lelaki yang berdiri di depannya itu. Apakah dia gurunya? Muda banget!


"Eh, Bu Dona! Ada apa, Bu?"


Hingga ketika lelaki itu angkat bicara, barulah Bulan tersadar dari lamunannya. Gadis itu membuang wajah ke samping dengan mata yang berlarian kesana kemari ketika lelaki itu tak sengaja memergokinya sedang menatapnya. Manik mata mereka tak sengaja bertemu. Dari ekor matanya, Bulan melihat lelaki itu menyunggingkan senyum miring.


"Eh, Pak Andre! Saya ganggu ya, Pak, ngajarnya?" sahut guru gendut itu cengengesan. Lalu, dia menggaruk tengkuk belakangnya yang tak gatal dengan raut wajah penuh salah. "Duh, maaf Pak! Jadi ganggu, gini."


Jadi bener dia gurunya?


Ah, sulit dipercaya!


Diam-diam, Bulan kembali mencuri-curi pandang ke arah lelaki itu. Setiap kali manik mata mereka tak sengaja bertemu, Bulan akan pura-pura memalingkan pandangannya ke samping.


"Ah, enggak kok, Bu! Hahaha..." Lelaki muda itu yang ternyata adalah seorang guru tertawa hambar.


Bulan semakin terpesona dengan tawa berat serak-serak basah milik guru muda itu. Tanpa sadar, kedua sudut bibirnya melengkung ke atas membentuk senyuman yang manis.


Nyatanya, bukan hanya Bulan yang terpesona. Bu Dona tak kalah bapernya dengan Bulan. Namun bedanya, Bulan baper dalam diam. Berbanding terbalik dengan Bu Dona yang kini memperlihatkannya dengan terang-terangan.


"Ahh, Pak Andreeee! Tawanya itu loh ... bikin candu tauuu!" Lihat, Bu Dona bergerak gelisah seperti cacing kepanasan sekarang. Sesekali terkikik geli bak orang gila.


"Bu Dona bisa aja ..." sambar Pak Andre, guru muda itu. Lalu dalam sepersekian detik, wajah lelaki berubah menjadi serius. "Ohya, Bu! Ini ... ada apa ya?" tanyanya.


Seketika, Bu Dona tersadar dengan tujuan awalnya kemari. Gara-gara baper sama Pak Andre, sih! Ah, sial!


"Oh, ini Pak ..." ujar Bu Dona menggantung ucapannya. Dia menunjuk Bulan yang berdiri di belakang samping kirinya. "Ada murid baru di kelas Bapak," lanjut Bu Dona menjelaskan.


Pak Andre manggut-manggut dengan bibir membentuk huruf O. "Oke, baik Bu!"


"Kalau begitu ... saya permisi dulu Pak!" pamit Bu Dona ramah. Lalu, tatapan guru gendut berumur 28 tahun itu beralih pada Bulan. Senyum manisnya mengembang. Dia menyentuh pundak murid barunya itu sambil menatapnya intens. "Bulan, masuk ke kelasnya, ya!" ujarnya pada Bulan dan dibalas dengan anggukan oleh gadis itu.


"Iya, Bu!"


Setelah berucap demikian, Bu Dona berbalik dan melenggang pergi dari tempat itu. Meninggalkan Andre dan Bulan berduaan.


Bulan masih setia memandangi punggung gurunya yang satu itu. Hingga ketika badan gendut Bu Dona menghilang di perbelokan koridor, barulah Bulan mengalihkan pandangan.


Gadis itu menundukkan kepalanya kala baru sadar kalau guru yang sedang berdiri di depannya ternyata sedang menatapnya. Bulan tidak tahu apa yang harus dilakukannya selain bergerak gelisah.


Andre yang merasakan kecanggungan langsung angkat bicara. "Ayo, silakan masuk!"


Bulan mengangkat wajah. Dia menggaruk belakang kepalanya dengan mulut terbata-bata tak tahu harus berkata apa. Apalagi ketika guru itu menyunggingkan senyum padanya. Mungkin gugup, pikir Andre.


"A-ah, i-iya Pak!"


Satu hal yang tidak tertebak dari tadi. Ekspresi Bulan yang tak diketahui oleh orang-orang. Diam-diam, Bulan terus mengerutkan kening di sepanjang perjalanan melewati koridor sekolah barunya tersebut. Sesuatu terasa mengganjal hatinya. Entah kenapa dia merasa aneh dengan semua ini. Sekolah barunya tampak seperti sekolah baru yang ada dalam mimpi aneh itu.


Dan sekarang...


***