Bulan & Bintang (Revisi)

Bulan & Bintang (Revisi)
Bagian 35. Tentang Bintang


Tak terasa, cowok itu telah sampai di depan rumah setelah perjalanan yang cukup panjang. Bintang memarkirkan motornya di garasi—tepatnya di samping mobil sang ayah—lalu turun dari sana.


Bintang menyugar rambutnya yang sedikit acak-acakan ke belakang akibat terpaan angin saat di jalan tadi. Kebetulan, Bintang sengaja tak memakai helm saat perjalanan pulang. Lalu, cowok dengan seragam biru yang sudah tampak lusuh itu berjalan menghampiri pintu utama. Tanpa basa-basi, Bintang membuka pintu rumah.


Gelap.


Satu kata yang menggambarkan suasana ruangan besar itu saat ini. Bintang menyapukan pandangannya ke penjuru ruangan yang tampak buram di mata karena pencahayaan minim. Dahinya mengerut. Kemana penghuni rumah?


Merasa tidak penting untuk dipikirkan, cowok itu mengendikkan bahu acuh lalu melanjutkan langkah kaki masuk ke dalam rumah.


Sakelar lampu. Satu kata yang terlintas di pikiran Bintang.


Ya, dia hendak menyalakan lampu. Tampak cowok itu yang celingak-celinguk mencari benda kecil yang biasanya tertempel di dinding tembok itu.


Kedua bola mata Bintang berbinar melihat benda kecil itu di sudut kamar ruangan tamu. Saat hendak beranjak menghampirinya, semua lampu sudah lebih dulu menyala.


“Loh, kok ...” Siapa yang nyalain lampunya?


Bintang bingung melihat sekeliling yang tadi gelap gulita kini terang benderang. Plus tersentak kaget melihat pemandangan yang ada di depannya.


“L-loh, Mama... ?”


“Papa... ?”


“O-om Andre... ?”


Bintang menyebut satu-persatu ketiga orang yang sedang duduk membelakanginya di sofa ruang tamu.


“Kalian ... ngapain di sini?” tanya Bintang terlampau bego. Cowok itu menggerutu kesal dalam hati. Pertanyaan paling bodoh. Ya, jelas-jelas duduk lah!


Duh, lo kok bodoh banget sih!


Bintang mendengus kesal karena tak seorang pun yang menjawab bahkan merespon pertanyaannya. Sedikit rasa penyesalan terbesit di benak cowok itu karena telah bertanya pada mereka. Harusnya tadi dia pura-pura cuek saja.


Bintang memilih untuk melangkahkan kakinya menaiki tangga agar cepat-cepat sampai ke kamar. Baru saja menapakkan kaki di anak tangga pertama, suara sang ayah sudah lebih dulu mengintrupsi dan menghentikan langkahnya.


“Darimana saja kamu? Masih ingat rumah juga, hah?!” Adi bertanya sarkastis. Lelaki paruh baya berkacamata itu bangkit dari duduk dan berjalan di belakang putra semata wayangnya.


Bintang memutar bola mata jengah. Sudah dia duga pasti akan berujung seperti ini, mendapat ceramahan seperti hari-hari biasanya karena pulang malam. Kalau boleh jujur, sebenarnya Bintang sangat risih dan muak dengan semua tingkah sang ayah yang selalu bersikap seenaknya. Semua keinginannya harus Bintang penuhi. Tidak boleh tidak.


Dan, Bintang—dia sudah melakukan semua yang ayahnya inginkan. Ikut bimbingan les private, belajar mati-matian supaya jadi juara kelas, dan bahkan rela tidak keluar bermain dan bergaul bersama teman-temannya. Lantas, Bintang salah jika ingin meminta sedikit kebebasan ketika sudah besar?


Ingat, Bintang bukan anak kecil lagi yang akan patuh pada apapun yang diperintahkan padanya. Dia sudah SMA, sudah cukup dewasa. Dia sudah benar-benar muak dengan sikap sang ayah yang selalu mengekang hidupnya. Cukup hal itu terjadi ketika dia masih kecil karena belum tahu apa-apa.


Bintang hanya ingin keluar dari zona itu. Sungguh membuatnya tak nyaman. Dia juga ingin bebas seperti teman-teman yang lain. Hidupnya bukan hanya untuk belajar, belajar, dan belajar saja. Dia juga manusia. Sifat sosialisasi tentu masih melekat dalam dirinya. Dia butuh lingkungan sosial untuk berkembang lebih baik lagi.


Di sini, keinginan Bintang tidak muluk-muluk. Lelaki itu hanya ingin hidup seperti kebanyakan remaja pada umumnya. Menata dan menentukan masa depannya sendiri, bukan ditata dan ditentukan seperti ini.


Bintang membalikkan badan, menatap pria itu dengan satu alis terangkat ke atas. "Urusannya dengan Anda apa?" Bintang bertanya balik.


"Kurang ajar!" umpat Adi.


Wajah pria berkacamata dengan sedikit kumis menghias atas bibir itu tampak memerah padam, layaknya bom yang sebentar lagi meledak. Rahang kokoh nan tegasnya tampak mengeras. Kedua tangannya di bawah sana pun sudah mengepal kuat. Sungguh, dirinya paling benci jika ada orang yang berani menantangnya. Apalagi Bintang, putra semata wayangnya yang sudah mulai berani kurang ajar padanya. Makin hari, anak itu makin keras kepala.


“Siapa yang mengajarimu bersikap tidak sopan seperti itu, Bintang?! Kami orang tuamu tidak pernah mengajarmu untuk membangkang!” tanya Adi penuh tuntutan.


Bintang mendengus sinis sambil membuang muka. Lalu menatap kembali sang ayah. “Bukankah Anda yang selalu mengajariku selama ini, Tuan Supriadi Wijaya?” Seringai mematikan terukir indah di bibir Bintang. Mengendikkan bahu lalu lelaki itu melanjutkan ucapannya. “So, saya pun tidak tahu,” ujar Bintang dengan wajah menantangnya.


“Kurang ajar!”


PLAK!


BUGH!


BUGH!


BUGH!


“Saya tidak pernah mengajarimu seperti itu, anak sialan. Saya tidak pernah mengajarimu bersikap tidak sopan pada orang tua. Saya juga tidak pernah mengajarimu untuk menjadi anak pembangkang seperti ini!!!” kata Adi meledak-ledak di hadapan Bintang.


Pria itu tidak terima Bintang meng-klaim dirinya sebagai orang yang telah mengajarinya hal yang tidak sopan selama ini.


"Dasar anak tidak tahu diuntung!!!"


BUGH!


Adi mengakhiri unek-uneknya dengan sebuah bogeman di wajah cowok itu, lalu bangkit dari posisinya setelah meludah di samping Bintang.


Kini, Bintang sudah babak belur. Wajah tampannya sudah tak terbentuk lagi. Tidak melawan bukan berarti Bintang takut dengan pria sialan itu. Sengaja Bintang tidak melawan. Jika dia mau, pria tua bangka itu pasti sudah keparat di tangannya. Namun sayangnya, Bintang masih ingat diri.


Bintang bangkit berdiri dan menatap remeh sang ayah. Terkekeh sinis sambil menyeka darah di ujung bibirnya yang robek akibat pukulan Adi yang tidak main-main.


“Udah, ngomongnya?!”


Adi menggertakkan giginya geram. Emosinya kembali memuncak mendengar perkataan Bintang. Bintang benar-benar kurang ajar. Anak itu qharus diberi pelajaran lebih supaya lain kali lebih sopan terhadap orang tua.


“Anak sialan!!!”


Ketika hendak melayangkan bogeman lagi pada Bintang, Hanna sudah lebih dulu mencegahnya dengan memeluk tubuhnya dari belakang. Begitu pun Andre yang ikut menahan kedua lengan kekarnya.


“Lepaskan saya!!! Biarkan saya memberi pelajaran pada anak kurang ajar ini!!!” berontak Adi ingin dilepaskan, namun dihiraukan oleh keduanya.


“Udah, Pa, udah!" lerai Hanna sambil beruraian air mata. Hati ibu mana yang tidak sakit melihat wajah anaknya babak belur. “Liat wajah Bintang sudah babak belur kayak gitu. Udah ...,” lanjut Hanna.


“Udah, Di! Anak kamu sudah hampir mati.” Andre ikut menimpali. Kasihan juga melihat keponakannya seperti itu. Meskipun Bintang nakal dan hampir setiap hari membuatnya naik darah, tetapi bukan berarti Andre akan membenci keponakannya sendiri. Tidak, prinsip hidupnya tidak seperti itu!


Mendengar perkataan sang istri dan sang adik membuat emosi Adi perlahan menyusut. “Ya sudah, lepaskan saya!” titah Adi pada akhirnya, pria itu menggusah napas kasar.


Hanna dan Andre melepaskannya, sedikit menjauh dari tubuh Adi. Setelah terlepas dari Hanna dan Andre, Adi langsung masuk ke dalam kamarnya. Melewati Bintang begitu saja yang masih dengan seringaian di bibir.


Selepas kepergian suaminya, Hanna segera menghampiri Bintang dan memeluk erat anak semata wayangnya itu dengan berlinang air mata. Andre pun langsung pamit pulang. Dia cukup tahu diri, anak dan Ibu ini perlu diberi waktu berdua.


Hanna menangkup pipi Bintang yang terdapat luka lebam dengan kedua tangan sehingga semua pandangan cowok itu hanya terfokus padanya. Hanna masih dengan linangan air mata. Hatinya teriris melihat luka di wajah putranya.


“Kamu gak papa kan, Nak? Gak ada yang luka, kan?” tanya Hanna khawatir.


Bintang menanggapi kecemasan sang ibu dengan senyuman, lalu menganggukkan kepalanya. “Iya, Ma. Bintang baik-baik aja, kok. Mama gak usah khawatir sama Bintang,” ujar Bintang lembut seraya menyeka air mata di pipi Hanna.


Terpaksa Bintang berbohong karena hanya dengan cara itu ibunya tidak akan bersedih lagi. Dia akan melakukan apa saja selama itu bisa membuat ibunya bahagia dan tersenyum.


“Udah, Ma! Berhenti menangis.” Bintang menghapus kembali jejak air mata di pipi Hanna. Tatapan teduhnya membuat Hanna mengembangkan senyuman tipis di sela-sela tangisnya.


“Tuh, tambah keliatan tua, kan?” canda Bintang berusaha membuat Hanna tertawa.


Dan, berhasil. Wanita tua yang sudah melahirkannya itu menyemburkan tawanya. “Kamu ada-ada saja.”


Bintang tersenyum lebar sembari memandangi wajah cantik sang ibu di usianya yang sudah tua. Dia ikut senang melihat ibunya tersenyum.


...***...