Bulan & Bintang (Revisi)

Bulan & Bintang (Revisi)
Bagian 51. Tidak Masuk Akal!


“Lan, Bulan! Bangun.”


Sebuah suara lembut menyapu telinga seorang gadis dengan kepala telengkup di atas meja. Tangan yang dijadikan bantal dadakan sebagai penyangga kepala agar tidak bergesekan langsung dengan meja kayu.


Samar-samar kerutan hadir di kening saat dengan sengaja sebuah tangan nakal menggoyang-goyang punggungnya tanpa jeda. Hal yang berhasil mengusik tidur nyenyaknya.


Dan pada akhirnya, hanya dibalas dengan gumaman malas oleh gadis itu.


Bulan menggeliat, meliukkan badannya guna lepas dari usapan tangan yang menempel di punggung. Dalam keadaan setengah sadarnya dia menggumam tidak jelas.


“Apa, sih?” begitu gumamnya dengan suara serak.


“Bangun, Bulan. Sekarang udah sore. Ayo pulang!” Kembali suara lembut menyapa lembut telinga Bulan. Saking lembutnya, Bulan sampai meremang mendengarnya.


Mendengar kata 'sore' dalam ucapan sosok yang sungguh mengusik tidurnya, Bulan membelalakkan matanya lebar-lebar. Kalang kabut.


Terlihat mata merah itu melayangkan pandangan ke sekeliling. Lagi, sedikit kerut bingung menghias kening begitu hal pertama yang masuk di netra hitamnya adalah sebuah ruangan lengkap dengan rak-rak buku penuh di sisi kanan dan kirinya.


“Lah, perpustakaan ...?” gumam gadis itu pada diri sendiri.


Perasaan tadi ... bukannya dia---


“L-Langit?”


Tersentak kaget untuk yang kedua kalinya kala mendapati sosok seorang pemuda jangkung lengkap dengan seragam putih abu dalam balutan tubuhnya, berdiri tak jauh dari meja yang dia pakai untuk tidur beberapa saat sebelumnya.


Senyum manis yang Bulan dapat dari laki-laki itu seketika mengubah raut wajahnya kembali datar.


“Udah bangun?” Langit bertanya, nada lembut masih bersamanya. Tatapan laki-laki itu pada Bulan tampak berbeda dari sebelum-sebelumnya.


Bulan menyadari hal itu, makanya dengan sengaja mengalihkan pandangan ke arah lain.


“Kok, gue jadi terdampar di sini? Bukannya tadi dalam perjalanan ke rumah sakit bareng Papa?”


Menghiraukan pertanyaan basa-basi dari Langit, gadis itu bergumam pada diri sendiri dengan nada pelan. Namun, masih tetap terdengar jelas oleh Langit.


“Dan, kepala gue? Kok, enggak sakit?” Bulan beralih memegangi kepalanya dan meraba-raba bagian belakang kepalanya yang tadi sedikit memar akibat benturan yang diberikan oleh Renata.


Mengapa semuanya jadi terasa aneh? Bahkan kepala Bulan tiba-tiba sembuh secara ajaib.


Ini sangat tidak masuk akal!


Lantas, sebenarnya apa yang terjadi?


Bulan bertanya-tanya dalam hati. Tersadar dari lamunan ketika Langit melayangkan sebuah pertanyaan.


“Terdampar di sini?” Langit membeo ucapan Bulan. Kening lelaki mengerut kian dalam. Sungguh tak mengerti dengan ucapan Bulan. Apa mungkin gadis itu sedang mengigau efek bangun tidur?


“Maksud lo?” lanjut bertanya.


Seketika Bulan gelagapan. Mulut gadis itu tampak berkomat-kamit hendak berbicara namun bingung hendak mengatakan apa. Langit berhasil mengintimidasinya. Yang bisa gadis itu lakukan adalah menghindar dari tatapan Langit.


“Oh, eng-enggak! Gue cuma ngigau,” elaknya mencoba berbicara kalem seperti biasanya.


“Eh, sejak kapan lo di sini?” Bulan mengalihkan perhatian dengan mengubah topik pembicaraan.


Langit tahu hal itu. Namun, tak ingin bertanya lebih jauh.


“Oh, ini. Sebenarnya, gue mau kunci ruang perpustakaan. Tapi enggak sengaja liat lo, makanya gue samperin.” Sambil berujar, Langit menggoyangkan sebuah gantungan kunci dalam genggaman tangannya.


Bulan menaikkan satu alis beberapa saat seolah ragu dengan jawaban cowok itu. Namun ketika menyadari posisi Langit di sekolah ini sebagai ketua osis, dia mengangguk acuh.


“Oh, oke. Kalo gitu, gue duluan.” Bulan bangkit dari tempat duduknya dan meraih tasnya---menyampirkan ke pundak. Dia melesat melewati badan Langit.


Sebuah cekalan dari belakang menghentikan langkah Bulan. Gadis itu berbalik setengah badan ke belakang, dan mengangkat satu alis ke atas.


Tanpa menunggu pertanyaan yang hendak dilontarkan Bulan, Langit sudah menjawab lebih dulu.


“Pulang bareng gue.”


***


Sebenarnya Bulan hendak menolak. Namun, melihat kondisi sekolah yang sudah sepi  ditambah langit yang kian gelap membuat bulu kuduknya merinding jika harus menunggu lebih lama jemputan yang belum pasti datang.


Sepanjang perjalanan hanya suara bising kendaraan berlalu lalang yang menemani mereka. Tak seorang pun yang tampak ingin membuka suara lebih dulu. Terakhir topik pembicaraan mereka saat di parkiran sekolah tadi. Di saat Langit menanyakan alamat rumah Bulan.


Kenyataannya, mereka tetaplah dua orang asing yang baru saja berkenalan minggu lalu.


Berbeda dengan Langit yang fokus menyetir motor, Bulan malah melamun. Sekilas masih dengan keanehan yang dirasakannya saat terbangun di perpustakaan tadi. Berbagai pertanyaan kembali menggerayangi pikiran. Baru seminggu lebih di kota Jakarta, tetapi mengapa semua keanehan sudah Bulan rasakan? Ternyata bukan tindakan kriminalitas yang Bulan takuti di ibukota ini, tetapi semua kejanggalan tak masuk akal yang dia rasakan.


Tak terasa perjalanan mereka yang cukup memakan waktu sampai pada tujuan. Motor Langit berhenti tepat di depan pagar sebuah rumah dengan pekarangan luas dan bangunan megah bertingkat dua.


Merasa tidak ada tanda-tanda sosok makhluk di belakangnya hendak turun, Langit sengaja melenggak-lenggokkan motor. Hal yang berhasil menyadarkan Bulan dari lamunan.


“Turun atau gue bawa pulang?” kata Langit jahil.


“Eh?!” Bulan terlonjak, langsung turun dari motor. Gadis itu membuka helm pinjaman dan menyerahkan kembali pada sang pemilik.


“Makasih,” ujar Bulan malas, raut wajahnya kembali berubah datar.


Hanya dibalas dengan anggukan kepala oleh Langit.


Kemudian gadis itu berlalu masuk ke dalam pekarangan rumah. Sebelumnya gerbang sudah dibuka oleh satpam begitu melihat kedatangan sang anak majikan.


“Gue enggak ditawari masuk, nih?” Langit berteriak. Tahu-tahu lelaki itu belum balik.


Langkah Bulan terhenti. Gadis itu berbalik, menatap lelah Langit. Terlihat jelas embusan napas lelah darinya.


“Enggak! Balik sana,” ketusnya.


Langit terkekeh geli dengan respons yang diberikan oleh Bulan. Mengabaikan usiran dari gadis tersebut. Laki-laki itu malah melambaikan tangan beberapa kali sebelum putar balik arah dan beranjak dari depan rumah Bulan.


***


Bulan melemparkan badannya ke ranjang kamar begitu saja. Seragam sekolah masih melekat di tubuhnya. Gadis itu enggan berganti baju. Jiwa magernya meronta-ronta minta untuk dituruti.


Saat ini, Bulan bisa mengembuskan napas lega ketika tidak mendapati sosok yang paling dia takuti. Ayahnya ternyata belum pulang. Artinya, dia terbebas dari satu ancaman.


Tidak hentinya merapalkan doa syukur dalam hati akan hal itu.


Gadis itu menatap kosong ke langit-langit kamar. Sebelum perlahan matanya terpejam tetapi tidak sampai tidur. Deru napas teratur seakan tidak ada beban pikiran. Padahal aslinya, kepala gadis itu meronta-ronta ingin pecah karena banyak hal.


Lagi, pikiran Bulan melayang pada kejadian di perpustakaan. Gadis itu benar-benar penasaran bagaimana dirinya bisa sampai terdampar di sana. Untuk memastikan hal tersebut, ada satu cara.


Bulan menjentikkan jari. Benar, dia harus menghubungi seseorang.


Secepat kilat bangkit dari posisinya dan meraih ponsel yang menganggur sedari tadi di samping badan. Tangannya tampak sibuk men-scroll layar ponsel dan mendial sebuah kontak yang sudah diincar.


Tak lama terdengar suara khas pertanda panggilan terhubung, tetapi belum diangkat oleh si penerima panggilan di seberang sana.


“Halo? Ada apa, Lan?” Suara lembut menyapa telinga Bulan ketika ponsel itu didekatkan ke telinga.


“Ren, lo sibuk enggak? Gue mau tanya sesuatu,” ujar Bulan terang-terangan, langsung pada intinya.


Terdengar jeda sejenak dari seberang sana.


“Enggak. Kenapa?” Renata balik bertanya.


Bulan berjalan mondar-mandir di depan ranjang. Refleks menggigit bibir bawah sebelum berkata, “Lo tau gue ke perpustakaan tadi?”


“Hah?!” Begitu respons dari Renata begitu Bulan sudah melayangkan pertanyaan. Bulan tebak kernyit berlapis-lapis menghias dahi gadis itu.


“Kenapa kaget gitu?” tanya Bulan.


“Maksud lo gimana, sih, Lan? Bukannya hari ini lo enggak masuk karena sakit. Eh, btw gimana keadaan lo sekarang? Udah baikan?” tutur Renata menjawab keheranan Bulan.


Bulan mematung di tempat. Jawaban Renata sungguh di luar nalar. Tidak! Lagi-lagi hal aneh yang tak masuk akal dialami oleh Bulan. Untuk ke sekian kali.


“Siapa yang laporin gue sakit?” tanyanya lagi, mengabaikan ucapan Renata yang menanyakan keadaannya. Jelas-jelas dia sedang dalam kondisi sehat walafiat!


“Nyokap lo sendiri elah. Lo gimana, sih, aneh banget telpon tanya-tanya enggak jelas. Pasti efek dari sakitnya, nih.” Terdengar decakan dari seberang, diikuti suara cempreng milik Renata.


Rasanya Bulan ingin menghilang dari dunia. Sumpah, lebih baik dia berhadapan dengan sang ayah yang menuntutnya belajar dengan giat dan harus mendapat nilai sempurna, daripada  mengalami hal-hal tidak masuk akal seperti ini.


***