
Seminggu sebelum pelaksanaan ujian semester gasal, para guru dan pegawai SMA Mahardika sibuk-sibuknya mengurus keperluan ujian nanti. Contoh kecilnya, membuat soal. Jadi, kegiatan pembelajaran pun sedikit terganggu.
Banyak jam kosong dalam minggu itu Membuat siswa-siswi bebas berkeliaran di area lingkungan sekolah. Kebisingan tercipta dan terdengar di tiap-tiap kelas saat jam pelajaran sedang berlangsung. Meski beberapa guru menitipkan tugas pada anak muridnya mencatat materi, tetapi percayalah hanya segelintir murid yang benar-benar melaksanakan tugas. Sebagiannya mencatat setengah-setengah, dan lainnya lagi tidak sama sekali. Biasanya mereka adalah kumpulan anak-anak nakal yang tidak peduli akan konsekuensi yang diterimanya nanti, misalnya kena omel guru.
Tak kalah ramai lapangan yang mendadak menjadi ajang turnamen kecil-kecilan bidang olahraga, seperti permainan sepak takraw, bola basket, voli, dan bulu tangkis. Juga koridor sekolah yang menjadi tempat nongkrong murid-murid sok gaul dan sejenisnya, tempat ajang gosip dan pamer kekayaan untuk murid perempuan, juga tempat berteduh dari teriknya sinar matahari.
“Lan, lo enggak ada niatan gitu buat keluar kelas cari makan atau apalah?!” Tak henti-henti Renata melakukan hal yang sama. Mencerca Bulan yang mengisi jam kosongnya hanya dengan duduk, diam, dan membaca seperti yang dilakukannya sekarang.
Renata menatap heran sahabat sekaligus teman sebangkunya itu. “Enggak bosen apa baca buku terus? Enggak habis fikri gue sama lo!” katanya lagi, geleng-geleng kepala.
“Nama gue, Bulan. Bukan Fikri!” sahut Bulan ketus, tanpa mengalihkan sedikit pun tatapannya dari novel dalam genggamannya itu.
Renata memutar bola mata disusul cebik bibir. “Heran gue sama lo, Lan. Kenapa lo enggak kayak Mentari aja, sih, yang suka caper dan tebar pesona sana-sini?!” dengus Renata.
Karena ucapannya tersebut, Bulan langsung menatap Renata seolah berkata maksud lo apa.
Embusan napas panjang terdengar darinya. Renata mengalihkan pandangan keluar kelas. Tidak sengaja bola matanya menangkap Mentari dan kedua temannya berdiri di teras pinggir lapangan menyoraki murid-murid cowok yang sedang bermain di lapangan.
Meskipun nilai minus lebih banyak dari gadis itu, tetapi keceriaan dan sifat percaya diri yang selalu ditebarnya menjadi nilai plus. Pada dasarnya setiap insan tidak ada yang sempurna. Tidak ada yang posisinya lebih atas atau di bawah. Kelebihan dan kekurangan masing-masing insan sudah ditakar seimbang oleh sang pencipta membuat kita terlihat sama rata di hadapannya.
“Lama-lama malas gue temanan sama lo. Hidupnya monoton banget kayak enggak ada gairah hidup aja,” keluh Renata menyeletuk tanpa sadar.
“Ya udah, sana temenan aja sama Mentari! Jangan banding-bandingin gue sama dia. Gue sama dia jelas berbeda,” ujar Bulan ketus.
Renata menatap Bulan ngeri. “Dih, baperan amat, sih!” cibirnya.
Bulan memutar bola mata. “Manusiawi.”
“Oh, gue kira lo bidadari!” balas Renata sarkas.
“Biawak kali!” sahut Bulan.
Renata berdecak. “Ayolah, Lan. Kenapa sih enggak gunakan kesempatan emas ini dengan baik? Kapan lagi coba bisa free class seperti ini?!”
Bulan membanting novelnya ke atas meja dan menatap Renata pasrah. “Iya-iya. Ya udah, ayo!” ajaknya beranjak dari tempat duduk.
Renata berbinar. Dia ikut beranjak dari tempat duduknya. Sudah semangat empat lima. “Serius?”
Bulan menghela napas. “Tapi boong!” ketusnya terlanjur malas dengan Renata.
Renata cemberut. Dia menatap Bulan dengan wajah memelas. “Enggak asik lo, Lan.”
“Emang enggak asik!” Kembali Bulan memutar bola mata. Nah, kan mulai drama lagi!
“Udah, ayo! Banyak cincong lo keburu malas lagi gue!” Bulan menarik paksa Renata agar drama menyebalkan itu segera usai. Bulan sudah muak.
Dengan senang hati Renata rela diseret ke mana saja oleh Bulan. Yang penting mereka sudah kelas. Waktunya mengajari Bulan nakal. Berseri-seri sisi jahat Renata dalam hati.
***
Saat sedang melintas di koridor sekolah, mereka tidak sengaja menyaksikan permainan basket Bintang dan Surya di tengah lapangan. Renata terpekik histeris melihat itu dan langsung menyuruh Bulan untuk berhenti sejenak. Bulan hanya memutar bola mata malas dan membiarkan Renata kali ini yang mengambil alih.
“Ah, gerakan dribelnya keren banget!”
“Gue enggak kuat tolong! Surya kalau lagi serius gantengnya bertambah seratus kali lipat!”
Bulan menutup kedua telinganya setiap pekikan keras terlontar dari bibir Renata. Bulan hanya bisa meringis saat beberapa pasang mata menatap risi ke arah mereka berdua. Renata benar-benar pengganggu. Renata yang berbuat, tetapi Bulan yang malah menanggung malu.
“Udah, ayo cabut. Gorengannya keburu abis!” Bulan kembali menyeret Renata pergi atau Renata semakin tak bisa dikendalikan.
Meski awalnya merenggut tak suka, pada akhirnya Renata juga yang menghabiskan dua piring gorengan melebihi porsi makan Bulan. Renata bersendawa usai menghabiskan segelas es teh manis milik Bulan juga.
Bulan geleng-geleng kepala. Dia tidak habis pikir dengan sejuta tingkah aneh sahabatnya itu. Dari sekian banyaknya siswa di sekolah ini, Bulan heran kenapa dia harus berakhir bersama Renata dan kebobrokannya.
Namun anehnya, setiap kali ada Surya di dekat mereka Renata selalu bersikap sok cool dan berwibawa layaknya wanita karier. Seperti sekarang ini.
Bintang dan Surya dengan bulir-bulir keringat membanjiri wajah memasuki area kantin dan mengambil tempat tak jauh dari hadapan mereka. Hanya dua meja yang mengantarai mereka.
Bulan mengerutkan kening. Dia menelisik setiap gerak-gerik Renata yang menurutnya tampak lucu. “Kenapa lo?”
Renata langsung melayangkan tatapan tidak sukanya pada Bulan. “Kepo lo. Kayak enggak tahu aja,” dengusnya mencibir.
“Ya, gue tau lo suka sama dia. Tapi jangan norak juga kali, Ta!” kesal Bulan.
Sontak mendapat pelototan dari Renata. Gadis itu menempelkan jari telunjuknya di bibir. “Jangan keras-keras kalau bicara. Lo mau permaluin gue, hah?!”
“Cepat atau lambat bakal ketahuan juga, kecuali lo pendam perasaan itu selamanya!” kelakar Bulan meluruskan.
“Iya, gue tahu. Tapi gue belum siap aja kalo Surya tahu gimana perasaan gue yang sebenarnya ke dia,” kilah Renata tak mau kalah.
“Kamu di sini, Bi? Aku kirain masih main basket di lapangan.” Suara cempreng dari meja seberang itu menarik atensi Bulan dan Renata.
“Jangan dekat-dekat sama gue. Gue alergi sama cewek modelan kayak lo!” kata Bintang dengan mulut pedas seperti biasa. Menurutnya, semua yang berkaitan dengan Mentari itu adalah hal yang tidak benar jadi wajar jika mendapat perlakuan kasar.
Surya di bangku depan mereka menatap jutek dua orang itu. “Sensi amat sih setiap ada Mentari,” cibir Surya. Lanjut menatap Mentari, “Lo juga, Tar. Masa cuma Bintang sih yang disapa?” protesnya.
Mentari menatap Surya dengan pandangan geli. “Dih, lo siapa sampai harus gue sapa? Kepala sekolah, bukan! Presiden, apalagi!” cebik Mentari membungkam Surya.
Surya memasang tampang pura-pura terdzolimi. Dia memegangi dadanya dramatis. “Sumpah, kata-kata lo benar-benar jahat, Tar. Menusuk banget sampe ke ulu hati gue, nj*r!”
Baik Bintang maupun Mentari sama-sama melengoskan pandangan. Dasar tukang drama!
“Dih, mak lampir kenapa pake nongol segala, sih? Ngerusak suasana, nj*r!” cibir Renata.
Renata memasang muka ingin muntah melihat Mentari yang kini sedang bergelayut manja di lengan Bintang seperti wanita malam kurang belain.
Berbanding terbalik dengan Bulan hanya menatap gamang dua orang itu dengan pandangan tak terbaca. Bulan tidak mengerti perasaannya. Meski Bintang tampak jelas sangat tak suka dengan kedatangan Mentari, tetapi tetap saja perasaan aneh itu terasa menyesakkan untuk Bulan. Perasaan abu-abu yang entah sejak kapan bersarang di dada.
...****************...