
"Kok bisa Pa, bagaimana ceritanya?". Bulan mengernyit heran bagaimana ayahnya itu bisa bertemu kedua sosok tersebut.
"Ya, kemarin mereka datang ke rumah. Pas kamu lagi keluar." jelas Papanya.
Flashback on...
"Ma, Bulan ijin keluar sebentar ya?" teriaknya pada Mamanya yang masih berada di dapur. Padahal jelas jelas, ayahnya berada di ruang tamu tersebut. Hanya dia malas aja bicara sama lelaki tersebut. Lelaki tua itu pun tampak cuek juga. Jadi, untuk apa dia minta ijin padanya. Bisa bisa dia malah dilarang.
"Iya, kamu boleh keluar tapi cuma sebentar. Jangan lama lama!" ucap Pak Irwan dengan sebuah peringatan.
"Iya, makasih Pa" jawabnya kemudian berlalu dari tempat itu.
Baru saja ia keluar, tiba tiba sudah ada suara ketukan pintu segala. "Masuk Bulan!" teriaknya, namun tak ada jawaban dari sang pengetuk pintu. Yang terdengar hanyalah suara ketukan pintu itu berkali kali. Karena kesal Pak Irwan pun bernajak dari duduknya dan membuka pintunya.
Ternyata bukan ulah Bulan. Kini di depannya , sudah berduri dua orang anak yang kira kira seumuran Bulan yang tak dikenalnya. Rupanya ia teman sekelas Bulan.
"Kalian siapa?" tanya Pak Irwan heran mencoba mencari tau siapa mereka, apa tujuan mereka ke sini dan mencari siapa.
"Kenalin Om, gue Tata teman sekelasnya Bulan. Dan ini Kak Langit, kakak kelas kita om." jelas cewek tersebut sambil memperkenalkan dirinya dan Langit yang berada di sampingnya kepada Pak Irwan.
"Ohh, jadi kalian teman sekelasnya Bulan?" tanyanya lagi.
Tata pun mengangguk pelan. "Iya Om".
"Saya Pak Irwan, Ayahnya Bulan." balasnya memperkenalkan diri. "Jadi kedatangan kalian ke sini mau cari Bulan ya?" tanyanya.
"Iya om. Bulannya ada ya?" ucapnya bertanya balik.
"Bulan baru saja keluar" jelas Pak Irwan.
"Ohh begitu om." jawab Tata singkat. Ia tidak terlalu ambil pusing karena tujuan sebenarnya mereka ke sini memang papanya Bulan.
"Ya sudah, kaklian masuk dulu nunggu Bulannya balik." ucap Pak Irwan yang dibalas anggukan oleh kedua orang tersebut.
"Makasih om" ucap Tata ramah.
Sesampainya mereka di dalam mereka pun dipersilahkan duduk. Tampak suasana sangat sunyi, sepertinya mereka masih agak canggung satu sama lain. Tata pun mulai berani angkat bicara untuk memecah keheningan yang mencekam itu.
"Om, kita boleh ngomong sebentar, gak?" tanyanya.
"Boleh, soal apa?" jawabnya bertanya balik.
"Ini soal Bulan om" ucap Tata menunduk karena agak takut.
"Ada apa dengan Bulan? Apa dia nakal di sekolah? Kalau dia nakal, bilang aja sama om. Gak usah takut." Pak Irwan berusaha lembut pada kedua remaja tersebut.
"Bukan itu om. Bulan anak baik kok om, Bulan gak pernah nakal. Malah aku bersyukur banget om, punya sahabat seperti Bulan" jawab Tata.
"Baguslah kalau begitu." ujar Pak Irwan. "Lantas, apa yang ingin kalian bicarakan?"
"Sebelumnya kita minta maaf om, kalau kita terlalu lancang." ucapnya sebelum memulai ceritanya.
"Maksudnya ini, bagaimana ya? Jangan bikin Om jadi bingung." ucap Pak Irwan bingung dengan arah pembicaraan gadis ini yang tak menentu.
Tata mengumpulkan semua keberaniannya sebelum memulai berbicara. "Jadi begini om, Bulan itu merasa tertekan kalau om terlalu tegas padanya. Bulan sering curhat Om sama saya. Dia bilang kalau ia dilarang bergaul sama Om, makanya dia tidak memiliki teman satupun selain saya. Menurut saya, Om tolong beri sedikit saja keleluasaan untuk Bulan. Jangan terlalu mengekang Bulan om, kita tidak sanggup melihat dia sedih." ucap Tata yang mulai menjelaskan.
"Apa maksud kalian?" Terlihat ada perubahan wajah pada Pak Irwan. Wajahnya mulai memerah pertanda bahwa ia marah. Tata pun mulai terlihat takut. Tapi ia harus melawan rasa takutnya itu demi Bulan.
"Maksud kamu, saya harus beri kebebasan buat Bulan?" tanyanyanya sedikit membentak yang langsung dibalas anggukan oleh Tata.
"Lancang sekali kamu bicara. Saya ini ayahnya, jadi saya lebih berhak mengatur dia sesuka hati saya. Dan itu bukan urusan kalian. Mengerti!" bentaknya.
"Iya om kita mengerti. Kita itu memang gak berhak setitikpun atas Bulan. Tapi kita sebagai temannya ikut peduli, Om. Bulan itu manusia. Dia juga punya perasaan, sama kayak kita. Jangan sampai nanti, Om baru menyesalinya kalau Bulan sudah telanjur kecewa sama Om." ucap Tata.
"Jadi apa mau kalian?" tanya Pak Irwan serius.
"Sebagai teman Bulan, keinginan kita cuma dua om." jawabnya mantap.
"Apa itu?" tanya Pak Irwan ingin tau keinginan kedua remaja ini.
"Pertama, beri sedikit Bulan keleluasaan. Sedikit saja." jawabnya yang sengaja menekankan pengucapan kedua kalimat terakhir tersebut.
"Yang kedua, kita pengen..., Om merestui hubungan Bulan sama Bintang." Jawaban kedua Tata ini langsung membuat Pak Irwan tertawa terbahak bahak.
"Permintaan pertama mungkin bisa Om penuhi. Tapi untuk permintaan yang kedua, sepertinya om tak bisa. Itu sama saja buat om untuk menyiksa anak om sendiri. Mana rela om restui anak om sama anak brengsek itu yang sukanya berantem." jelas Pak Irwan setelah puas tertawa.
"Om sepertinya salah paham." Kali ini Langit yang angkat bicara.
"Maksud kamu?" tanya Pak Irwan.
"Om tentu masih ingat kan, waktu Bulan pulang bersama Bintang. Terus Bintang-nya terluka parah." ucap Bintang mulai bercerita.
"Iya, karena dia habis berantem kan? Dan om tidak sudi punya menantu seperti dia." ujar Pak Irwan menebak.
"Benar, dia habis berantem om untuk menolong Bulan, anak om yang hampir diculik preman."
Pak Irvan pun tersenyum miring."Hm, mana buktinya? Saya enggak percaya kalau buktinya gad ada."
Langit pun langsung memperlihatkannya sebuah video. Pak Irvan pun baru percaya setelah menonton video tersebut.
"Sekarang, Om percaya kan?" tanya Langit memastikan dan langsung diangguki oleh Pak Irwan.
"Dan tidak sampai di sini om perjuangan Bintang. Semenjak kejadian itu, mereka benar benar saling musuhan om."
Pak Irwan sekarang terlihat merasa bersalah atas keegoisannya itu, sehingga harus mengorbankan perasaan putri semata mayangnya tersebut.
"Om juga masih ingat kan perkara yang baru saja dialami oleh Bulan di sekolah. Itu benar benar salahnya Mentari om. Dia duluan yang mulai. Karena Bulan yang sudah tidak bisa menahan emosinya lagi pun membalas dendam. Mereka pun masuk kantor dam diadili. Dan yang lebih parahnya Om, Mentari yang sudah jelas jelas salah itu, ehh malah nge-fitnah Bulan. Tapi untungnya, Bintang sempat mem-video-nya tanpa diketahui Bulan. Ia pun memberikan video itu pada saya om, untuk diserahkan kepada Pak Kepsek sebagai bukti kalau Bulan itu tidak salah." ucap Langit menarik nafasnya dalam dalam, kemudian menghembuskannya dengan keras. "Gitu om ceritanya."
"Setelah Om dengar cerita tadi, apa Om masih nganggap Bintang itu anak nakal?" tanya Langit setelah mengakhiri ceritanya.
"Enggak, nak. Kalian benar, Om yang salah. Om yang terlalu posesif terhadap Bulan. Om memang gak pantas buat jadi ayah yang baik buat Bulan." jawabnya dengan penuh rasa kesal.
Tata dan Langit pun tersenyum bahagia. Akhirnya mereka bisa menyadarkan Pak Irwan kembali dari kesalahannya.
Flashback off...
"Jadi mereka yang buat Papa berubah seperti ini." ucap Bulan sambil manggut manggut. Seketika wajahnya berubah jadi senang.
"Iya, sekali lagi maafin Papa ya, sayang. Papa memang sudah terlalu posesif." ucap Pak Irwan memgakui kesalahannya.
"Iya, Pa" jawab Bulan singkat.
Mereka pun berpelukan, saling melepaskan kerinduan selama ini yang sempat terjeda.
Sementara itu, Bintang dan Bu Mila bernafas lega. Akhirnya Bulan dan ayahnya kembali baikan. Bulan pun melepaskan pelukannya pada ayahnya. Lalu duduk di samping Bintang.
"Ohh ya Bintang, Om minta maaf ya karena dulu sempat salah sangka sama kamu." ucapnya pada Bintang, meminta maaf karena ia sempat salah sangka terhadapnya.
"Om juga titip Bulan untuk kamu. Tolong jaga dia baik baik, bahagiakan dia, dan jangan biarkan dia menangis sekalipun. Aku tak ingin melihatnya sedih." lanjutnya kembali pada Bintang dengan penuh harap.
"Iya Om. Bintang janji, Bintang bakal jagain Bulan dengan baik dan gak bakalan pernah buat dia nangis seklaipun." ujar Bintang berjanji. Tampak ia mengucapkan janjinya itu dengan sungguh sungguh, benar benar tulus dari lubuk hatinya yang paling dalam.
"Saya pegang janji kamu, Bintang." ucap Pak Irwan.