Bulan & Bintang (Revisi)

Bulan & Bintang (Revisi)
Bagian 22. Rencana (Berhasil)


Di pojok kantin, tempat kedua sahabat itu berada sekarang. Memakan makanan yang dipesannya tadi sambil berbincang-bincang dan sesekali bergurau, itulah yang dilakukan kedua sahabat tersebut. Awalnya mereka tampak menikmati moment itu. Namun semenjak kedatangan sang pangeran Bulan dan sahabatnya, keadaan pun menjadi agak canggung. Apalagi Tata, cewek itu hanya bisa diam menunduk seperti patung. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Dalam hatinya, ia merasa agak risih dengan kedatangan Surya.


"Hey, darling." sapa Bintang yang kemudian langsung duduk di samping Bulan.


"Hey," balas Bulan.


"Gue boleh gabung kan, Lan?" tanya Surya yang masih berdiri tegap.


"Boleh banget." jawab Bulan singkat.


"Lagian kan, Tata-nya juga sendirian. Entar jadi obat nyamuk lagi. Ya gak bebz?" goda Bintang.


"I-ya." jawab Bulan terbata-bata ketika melihat perubahan wajah cewek yang ada di sampingnya itu. Ia sedikit merasa bersalah.


Surya tertawa kecil. "Kalian berdua apa-apaan sih?"


Surya pun segera duduk di samping Tata. Namun dengan segera, Tata menggeserkan badannya sedikit, agar tak terlalu dengan dengan cowok itu. Namun lagi-lagi, cowok itu ikut menggeserkan badannya. Hingga kini jarak mereka hanya terpatut beberapa senti. Tata pun mengeram kesal dalam hatinya. Entah kenapa Ia sangat membenci cowok itu, padahal dulu dia yang selalu mengejar-ngejarnya. Tapi mengapa sekarang malah sebaliknya. Tata pun tak memgerti dengan perasaannya itu.


Tata pun kembali menggeserkan badannya ke samping.


Ketika Surya juga hendak menggeserkan tubuhnya, Tata dengan cepat menghalangnya.


"Stop, jangan dekat-dekat." ucap Tata dingin, tak seperti biasanya.


Bahkan, Bulan ikut penasaran dengan kelakuan Tata. "Lho, kok sekarang Tata yang menghindar sih. Bukannya dulu, ia cinta banget sama Surya. Aneh!"


Surya pun menuruti ucapan cewek itu, sebelum cewek itu semakin kesal dengannya.


Keadaan pun kembali menjadi canggung. Tiba-tiba handphone Tata berbunyi. Tata pun segera mengambil handphonenya di saku bajunya.


Ada sebuah pesan dari Bulan. Ia pun melirik sekilas Bulan sebelum membacanya. Bulan pun memberinya kode seperti menyuruhnya untuk membaca pesan darinya.


Bulan Purnamasari.


Kenapa lho menjauh gitu dari Surya? Bukannya lho suka banget sama dia?


Atau jangan-jangan lho sekarang suka lagi sama Kak Langit. Iya kan? Ngaku deh lho!


Tata pun segera membalas pesan dari Bulan.


Renata Anstasyah.


Gue juga gak tau kenapa gue bisa kayak gitu, Lan. Entar gue ceritain deh semuanya sama lho.


Di tempat biasanya.


Tak berapa lama, sebuah notif kembali masuk ke handphonenya Tata.


Bulan Purnamasari.


Oke😊


"Oh ya yank, lho mau gue pesanin apa?" Ucap Bulan pada Bintang yang kemudian bangkit dari tempat duduknya.


"Emm, jus lemon aja deh." ucapnya setelah cukup lama berpikir.


"Kalau lho, Sur?" tanyanya pada Surya.


"Gak usah deh, Lan. Gua lagi gak mood hari ini." jawab Surya.


Bulan pun manggut manggut kemudian beranjak dari tempat itu.


                                          ~~~


"Jadi gimana?" tanya Bulan pada seorang gadis yang ada di sampingnya yang tampak murung.


"Ya, gitu deh." jawab Tata ketus.


"Gitu gimana?" tanya Bulan tak mengerti maksud ucapan Tata.


"Jangan bilang lho suka sama Kak Langit?" tebak Bulan.


Tak ada sahutan dari Tata. Gadis itu terus memerus memandang lurus ke depan dengan tatapan kosongnya.


"Itu enggak benar kan, Ta. Ta, ngomong jangan diam aja." ucap Bulan memastikan sambil terus menguncang-guncang tubuh gadis itu.


"Kalau gue bilang iya Lan, gimana?" ucap gadis tersebut sambil mengalihkan pandangannya kepada Bulan.


Lima kata yang keluar dari mulut gadis tersebut mampu membuat Bulan melongoh tak percaya.


"What? Serius lho, Ta?" teriak Bulan tak percaya.


"Lho gak lagi sakit kan, Ta?" ucapnya lagi sambil memegang kening gadis itu, memastikan kalau gadis tersebut dalam keadaan sehat. Tapi kening Tata tak terasa panas.


Tata segera menerus tangan sahabatnya itu agak kasar dan berdecak kesal. "Ihh, Bulan. Apaan sih."


"Gue baik-baik aja, ****." cibirnya dengan ketus.


Bulan hanya terkekeh kecil sambil memperlihatkan deretan gigi putihnya.


"Tapi, lho benaran suka Ta, sama Kak Langit?" tanya Bulan penasaran.


"Gue juga gak ngerti Lan, sama perasaan gue sendiri. Terkadang gue merasa nyaman sama Kak Langit. Tapi di sisi lain, gue juga masih suka sama Surya. Terus menurut lho gue itu sukanya sama siapa? Lho kan tau kedua-duanya nembak gue bersamaan. Itu yang buat gue bingung sekarang. Gue gak tau mesti pilih siapa." curhatnya.


Bulan pun hanya bisa manggut-manggut tanda mengerti.


"Kalau menurut gue sih, lho turutin saja apa kata hati lho. Dan, siapa pun pilihan lho, gue pasti dukung kok." saran Bulan.


Tata pun merasa sedikit lega setelah mendengar saran dari Bulan. Mereka pun berpelukan.


"Makasih ya! Lho itu emang sahabat gue yang paling baik." ucap Tata.


"Santai aja kali." balas Bulan kemudian mereka pun melepaskan pelukannya.


Cewek itu hanya terkekeh mendengar penuturan Bulan.


"Jadi gimana nih, supaya gue bisa baikan lagi sama Kak Langit? Dia kan pasti marah dan kecewa banget sama gue dengan kejadian itu." ucapnya pada Bulan, mencoba mencari solusi dari sahabatnya itu.


Bulan pun tampak berpikir, memikirkan cara agar Langit dan Tata bisa baikan kembali. Satu menit Tata menunggu, namun rupanya gadis yang berada di sampingnya itu belum menemukan solusi juga. Karena kelamaan, Tata pun mulai kesal.


"Lama amat sih mikirnya." kesal Tata.


Merasa terganggu, Bulan pun mendengus kesal pada gadis tersebut. "Lho bisa diam gak sih, gue lagi fokus ini?"


"Fokus sih fokus, tapi jangan sampai kelamaan juga kali. Gue udah capek tau dari tadi nungguin terus." sindir Tata.


"Ini juga buat lho kali. Mau gue bantuin gak?" timpal Bulan tak terima.


"Iya iya, sorry." jawab Tata mengalah, memutar bola matanya malas.


"Ya makanya, sabar dikit napa sih?" ucap gadis tersebut dengan ketus.


Lagi-lagi, Tata memutar bola matanya malas. "Iya bawel."


"Dih, dibilangin juga." kesal Bulan.


Bulan pun kembali berpikir. Tak lama kemudian, sebuah ide cemerlang terlintas dipikirannya.


"Ahha!" terikanya membuat Tata terlonjak kaget.


"Gue punya ide." jawab Tata sambil menaikturunkan alisnya. A


Bulan pun langsung membisikkan sesuatu di telinga Tata. Wajah Tata tiba-tiba berubah jadi ceria seketika.


Tanpa mereka ketahui, ada sepasang bola mata yang sedang mendengarkan percakapan kedua gadis tersebut.


"Jadi, Tata mau baikan sama Langit. Itu gak boleh terjadi. Gue harus gagalin rencana mereka."


                                        ~~~


Jam istirahat kedua ini tak disia-siakan oleh Tata untuk mencari keberadaan cowok itu. Kakak kelasnya yang sudah berhasil menggantikan posisi Surya di hati Tata. Ya, cowok itu Langit.


Ia menelusuri semua tempat di sekolah itu. Namun Tata tak menemuinya juga. Dalam hatinya ia berdecak kesal, tapi ia tak boleh berputus asa.


Langkahnya tiba-tiba terhenti di depan taman sekolah. Matanya tak sengaja melihat seorang cowok yang sedang duduk di bangku taman sendirian sambil melamun. Tata yakin kalau cowok itu adalah Langit. Ia pun mendekatinya perlahan-lahan.


Dan benar saja, ternyata cowok itu benaran Langit. Sebuah senyuman pun terpampang di wajah cantik Tata.


Tata pun menupuk pundak cowok itu, membuat si empunya terlonjak kaget dari bangkunya. Langit pun membalikkan badannya ke belakang, berniat melihat orang yang membuatnya kaget.


"Hai." sapa Tata ramah sambil memperlihatkan senyumannya pada cowok itu yang sedang menatapnya tidak suka.


Cowok itu hanya memutar bola matanya malas. Kemudian kembali duduk di bangkunya. Tanpa disuruh, Tata pun ikut duduk di samping Langit.


"Mau ngapain lagi ke sini? Belum puas, buat gue sakit hati? Hm?" tanya cowok itu dengan ketus.


"Ihh, Kak Langit kok ngomongnya gitu sih?" sebal Tata kemudian memegang lengan cowok itu lalu menyenderkan kepalanya di sana.


Langit pun dengan sigap, melepaskan tangan cewek itu dengan kasar. "Gak usah megang-megang."


"Emangnya kenapa?" tanya Tata agak sedih.


Cowok itu pun mengela nafasnya, mendengar pertanyaan konyol dari gadis itu. Bisa-bisanya ia masih bertanya alasannya apa.


"Lho masih tanya alasannya kenapa?" tanya cowok itu dengan ketus yang dibalas anggukan oleh Tata.


Cowok itu pun memutar bola matanya malas. "Setelah lho saktin gue dan lebih milih Surya dari gue, lho masih bertanya alasannya kenapa gue ngejuhin lho?"


"Kata siapa gue milih Surya?" Kali ini Tata yang melontarkan pertanyaan.


Langit yang dari tadi terus memandang ke depan, kini beralih pandang pada cewek yang sedang berada di sampingnya. "Lah, bukannya lho udah jadian kemarin. Tadi juga pas di kantin, kalian bareng kan?" jawab cowok tersebut memastikan.


"Enggak. Gue gak milih siapa-siapa kemarin." sanggah Tata.


"Masa' ?" Ucap Langit tak percaya.


"Iya, gue serius Langit." jawab Tata.


"Kenapa gak milih Surya aja?" tanya Langit lagi dengan ketus.


"Karena gue maunya pilih lho." jawab Tata.


Langit pun langsung bungkam mendengar pernyataan cewek itu yang akhirnya memilih dirinya. Begitu pun dengan Tata, cewek itu pun langsung terdiam seribu bahasa.


Keheningan pun tercipta. Tak ada yang berani mengeluarkan sepatah kata pun saat itu. Hingga seseorang datang menghampiri mereka dari arah belakang.


"Bohong!"


Dua orang yang tengah duduk santai di bangku taman itu menoleh ke belakang bersamaan.


Tak jauh dari tempat mereka duduk, tampak seorang lelaki yang tengah berdiri tegap dengan tangan dimasukkan ke dalam saku celana abu-abu, sambil menyunggingkan senyuman liciknya.


"Ganteng sih, iya. Tapi sayang, ****." ejek lelaki itu yang sengaja menekankan kata '****', seolah-olah ia sedang menyindir Langit.


Langit yang cukup peka dapat mengerti maksud ejekan lelaki tersebut. Emosinya seketika memuncak. Tiba-tiba saja rahangnya mengeras, tatapannya tajam tersirat sebuah kebencian, dan kedua tangannya terkepal.


Ketika hendak beranjak dari duduknya untuk menghampiri lelaki songong itu, sebuah tangan mungil mencekal pergelangan tangannya dan membuat langkahnya terhenti. Langit menoleh ke sampingnya dan melihat Tata. Gadis itu menggelengkan kepalanya, seolah menyuruhnya agar tidak mudah terpancing emosi.


"Jangan mudah kepancing emosi!" peringat Tata membuat Langit luluh. Cowok itu kembali duduk di tempatnya. Seandainya Tata tidak ada di sini, sudah dipastikan lelaki songong itu pasti sudah dihajar habis habis olehnya.


"Kenapa gak jadi? Takut? Ck, banci!" umpat Surya yang melihat Langit mengurungkan niatnya untuk menghampirinya.


Kali ini, Langit tidak bisa lagi menahan emosinya. Meskipun Tata yang berada di sampingnya sudah beberapa kali memperingatinya, namun tak dihiraukannya. Keputusannya sudah bulat. Lelaki songong itu sudah saatnya mendapatkan ganjarannya.


Langit pun bangkit dari duduknya. Lagi-lagi, Tata mencekal pergelangan tangannya, namun cowok itu menghempaskannya dengan kasar. Kemudian, mendekati tubuh lelaki songong itu yang tengah berdiri tegap kira-kira 3 meter darinya.


Langit langsung menarik kerah baju cowok itu. Namun lelaki itu hanya terlihat biasa-biasa saja.


"Maksud lho apa ngatain gue ****?" tanyanya.


"Gak usah ngegas gitu dong bro. Santai!" jawab Surya santai yang sengaja menekankan kata 'santai'.


Seketika emosi Langit memuncak. Tangannya sudah gatal ingin menonjok muka songong lelaki ini.


"Cepat jawab ****! Gak usah basa-basi."


Surya memalingkan wajahnya ke samping sebentar, kemudian kembali menatap Langit dengan senyuman jahatnya.


"Anjing!" umpat Langit.


Kemudian dengan refleks memukuli wajah tampan Surya dengan brutal, sampai cowok itu tersungkur ke tanah. Ketika Langit hendak memukuli lagi wajah Surya yang kini sudah terbaring lemas di tanah, tiba-tiba Tata datang menghampiri mereka dan berada di tengah-tengah mereka untuk melerai. Jadi yang kena tonjokan itu otomatis adalah Tata.


Seketika Tata pun menjatuhkan tubuhnya tak berdaya ke tanah. Langit yang menyadari itu pun menutup mulutnya dengan kedua tangannya, tak percaya. Tak percaya atas apa yang telah dilakukannya. Ia telah melukai gadisnya.


"Tata, bangun Tata. Gue minta maaf, gue gak sengaja." ucapnya lirih sambil menggoyang-goyangkan tubuh gadis itu.


Tak mendapat respon darinya, Langit berniat untuk menggendongnya dan membawanya ke ruangan UKS.


Namun dengan cepat, Surya menepis tangan cowok itu dengan kasar.  Langit pun tersungkur ke tanah.


"Lho gak pantes sentuh dia!"


Kemudian, Surya mengambil alih menggendong Tata. Sebelum pergi, Surya sempat mengatakan sesuatu pada Langit yang membuat hati Langit hancur berkeping-keping.


"GUE BENCI RENATA ANASTASYAH!" teriak Langit setelah kepergian Tata dan Surya.


Sementara itu, seseorang di balik pohon yang sejak dari tadi mendengarkan percakapan dan perdebatan mereka tersenyum senang. Siapa lagi kalau bukan Mentari.


"Good job, Surya. Dasar bodoh, kalian semua sudah masuk perangkapku. Kita tinggal tunggu tanggal mainnya. Selamat menikmati permainanku Bulan dkk." gumamnya.


Tanpa ia sadari ada sepasang mata yang mendengar semua penuturannya dari belakang. Tak lupa juga ia merekam semuanya.


Apa-apaan ini?


Apa yang sedang direncanakannya?


Selamat menikmati permainanku Bulan dkk?


Maksudnya apa?


Begitu banyak pertanyaan yang muncul dipikiran orang itu yang tak bisa dipecahkannya satu persatu.


"Aku harus menyelidikinya sendiri!" gumamnya.


                                      Â