Bulan & Bintang (Revisi)

Bulan & Bintang (Revisi)
Bagian 45. Perihal Roftoop Sekolah


“Beb, kamu kenapa?”


Suara centil itu mengisi ruang kelas yang tadinya hening. Kelas hendak dimulai, tetapi guru yang jadwal mengajar di jam itu belum masuk.


Lantas semua pasang mata menoleh ke tempat duduk Bintang. Mereka bertanya-tanya apa yang sedang menimpa bintang kelas yang terkenal bad boy itu. Semenjak menginjakkan kaki ke dalam kelas, lelaki itu sudah bersemayam bersama wajah masam tak sedap dipandang. Pada kenyataannya, lelaki itu sudah menjadi pusat perhatian sedari tadi.


Bintang, lelaki itu sedang menyandarkan kepala di punggung bangku dengan kedua tangan melipat di wajah menutup mata. Ari mukanya masih sama.


Di bangku sebelahnya duduk seorang gadis cantik dengan pakaian seragam yang tampak ketat di tubuh. Jangan lupakan penampilan menor gadis tersebut. Sedari tadi tak henti mengoceh, bertanya tentang apa yang terjadi pada Bintang, meski hanya kesunyian yang merespons ucapan gadis itu.


“Mukanya, kok, ditekuk gitu? Ada apa, sih?” Mentari menjulurkan tangan hendak meraba muka Bintang. Namun sedetik, tercegat di udara oleh cengkeraman dari si pemilik wajah.


“Jangan berani nyentuh gue pakai tangan kotor lo itu!” desis Bintang dengan nada suara berat.


Beberapa saat Mentari mematung di tempat. Dia tampak mencerna keadaan yang baru saja terjadi. Hingga mengerjap pelan seolah terbangun dari lamunan yang menyeret akal sehatnya.


Kembali Bintang menolaknya. Tidak bisa dipungkiri kalau hal tersebut sungguh menyakiti hati Mentari. Dia yang hanya terang-terangan menunjukkan kasih sayangnya terhadap seseorang, apa hal tersebut adalah sebuah kesalahan? Apa Mentari tidak pantas untuk mencintai seseorang?


Memikirkan itu membuat bola mata Mentari berkaca-kaca. Lantas, dia bergumam pelan dengan nada suara parau. “Bi, apa mencintai kamu harus sesakit ini?”


Bintang yang sensitif mendengar itu menoleh dengan sewot. “Apa maksud lo? Dari awal gue udah peringatan lo, kan?! Buang jauh-jauh perasaan itu! Enggak usah suka sama gue!”


“Tapi lo-nya aja yang ngeyel enggak mau dengerin. Sekarang baru rasakan akibatnya, Lo mau limpahin rasa sakit lo ke gue?” Bintang memakai-maki gadis itu. Tanpa sadar kata-katanya berhasil meluruhkan air mata Mentari. Gadis itu terdiam menunduk dengan tangan mengepal kuat di bawah kolong meja.


Melihat itu, Bintang berdecak sebal. Dia menegakkan badan dan bangun dari tempat duduknya. Setelahnya, berlalu keluar kelas membuat teman-temannya menyorot kepergian lelaki itu penuh tanda tanya. Namun, ketika mereka menoleh ke arah seorang gadis yang sedang mengumpat kesal di sebelah tempat duduk Bintang. Seketika langsung paham.


“Brengsek! Kamu jahat Bintang,” makinya melirih di akhir kalimat.


Renata melirik sinis ke arah Mentari. Lantas berdecih. “Ck, menyedihkan banget, sih, lo jadi cewek! Kasihan deh,” ledeknya dengan nada sedih dibuat-buat.


Bulan yang tadinya tidak peduli, ikut menoleh karena celetukan Renata. Bukan raut iba yang ditujukan pada Mentari yang kini sedang menatap penuh amarah pada Renata dengan mata merah habis menangis, tetapi raut tanpa ekspresi yang entah apa artinya.


“Awas lo!” peringat Mentari sembari menunjuk Renata, namun dibalas dengan dengusan kasar oleh gadis itu.


“Emang gue peduli? Sejak kapan gue takut sama lo?!” Renata menantang dengan seringai tipis. Gadis itu langsung bangun dari bangkunya. Melipat kedua tangan di depan wajah dengan dagu diangkat tinggi-tinggi seolah tak ada rasa takut untuk Mentari.


Mentari yang terpancing menggertakkan bibirnya, menggerak tertahan. Lantas dia turut bangun dari duduknya. Tatapannya kian tajam. Sambil mengarahkan telunjuk pada Renata, dia mendesis.


“Lo---!”


“Apa?!” Kembali Renata mengangkat dagu dengan raut songong.


Hampir saja Mentari maju menyerang sebelum seseorang datang menghadang dan melerai pertengkaran, tepatnya adu jambak-jambakan, yang hampir saja terjadi.


Dia merangkul bahu Mentari, mencoba menenangkan gadis itu dan agar emosinya surut. Lalu, dia mempelototi gadis lainnya di depannya.


“Cewek sial! Dari dulu kerjanya cuman bikin masalah terus,” desis cowok itu pada Renata sebelum membawa pergi Mentari dari kelas.


Renata terperanjat mendengar itu. Hatinya seketika dipenuhi rasa bersalah yang tak berujung. Tak hanya ucapan cowok itu yang membuatnya sakit hati. Sesaknya bertambah dua kali lipat melihat bagaimana Surya, cowok itu memperlakukan Mentari dengan begitu lembutnya. Renata cemburu akan hal itu.


Tanpa sadar kedua telapak tangannya mengepal erat di bawah sana. Dia mencengkeram sisi roknya untuk melampiaskan rasa itu. Lalu menghempaskan tubuhnya dengan kasar di tempat duduknya kembali. Lanjut menenggelamkan wajah di kedua lipatan tangan di atas meja.


Diam-diam, Bulan memperhatikan. Dari sorot mata teman sebangkunya itu saat memandang cowok yang pergi membawa Mentari, Bulan dapat simpulkan satu hal. Renata menyukai cowok itu.


***


Saat sang guru bertanya pada mereka, “Dari mana saja?”


Lantas Surya menjawab dengan beralasan. “Tadi ke UKS bentar, Bu. Temani Mentari yang rada pusing.”


Tidak sepenuhnya salah jawaban cowok itu. Karena pada kenyataannya, Surya memang mengajak gadis itu ke ruang UKS untuk beris sejenak.


Sang guru memicingkan mata menatap penuh selidik dua muridnya itu. Dan saat tak mendapati raut mencurigakan dari keduanya, ditambah raut wajah Mentari yang menunduk membuat sang guru pada akhirnya percaya.


Dia mengangguk-angguk dan berkata, “Ya sudah, masuk!” dengan begitu tegas.


Tak ingin membuang-buang kesempatan, lantas dua orang itu bergegas masuk ke dalam kelas dan duduk di bangku masing-masing.


“Alasan aja,” cibir seorang gadis, melengoskan pandangan.


Bulan menikeh ke samping mendengar gerutuan pelan. Kembali dia mendapati raut sinis Renata. Jelas-jelas menunjukkan ketidaksukaannya melihat kedekatan Mentari dan Surya.


Lalu, suasana kembali hening. Atensi para murid kembali beralih sepenuhnya pada guru saat sang guru membuka suara pertanda hendak memulai pembicaraan.


***


Sementara itu, di tempat lain tetapi masih dalam lingkungan yang sama. Di sebuah roftoop sekolah. Bintang baru saja tiba di sana. Namun, dibuat kaget dengan pemandangan tak biasa di depannya. Cukup lama terdiam mematung bak orang bodoh baru bisa mencerna dengan baik apa yang dilihatnya.


“Ck, gue enggak nyangka. Seorang ketos SMA Mahardika juga berani melanggar peraturan dengan merokok diam-diam di roftoop sekolah.” Bintang berdecih sebelum melangkah maju ke pinggir roftoop dan ikut menselojorkan kakinya di sana, duduk di samping seorang lelaki yang entah sejak kapan berada di sana.


Dengan cepat, lelaki yang kepergok oleh Bintang menoleh dengan raut terkejut bukan main. Tampak raut wajahnya yang sudah pucat pasi.


“L-lo ....” Ucapannya menggantung di udara.


Kala mendapati wajah di sampingnya, lantas raut wajahnya kembali menjadi datar dan menatap kosong ke depan. Mengabaikan sosok yang baru datang di sampingnya.


“Lo nge-bolos juga?” selidik Bintang penuh tanya, mengamati lamat penampilan sosok ketos yang tak seperti biasanya itu.


Langit, ketua osis yang terkenal sopan dan lembut akan perangainya. Itu semua tidak tampak di mata Bintang saat ini. Seolah dia melihat sosok lain dalam diri lelaki itu.


Langit dan penampilan berantakannya. Rambut acak-acakan dan seragam yang sengaja dikeluarkan, juga sebatang rokok yang terselip di antara jari telunjuk dan jari manis. Asapnya mengepul ke udara. Sesekali Langit menyesapnya.


Bintang yang sadar sudah selama itu memperhatikan Langit memalingkan wajah dan tertawa renyah. “Gue kira seorang Bragatama Langit Arkana cupu. Tahu-tahunya suhu,” cercanya dengan sengaja menekankan kata ‘suhu’.


Lalu, Bintang ikut menyalakan rokoknya dan mulai menikmati setiap esapan barang haram itu. Dia sengaja membolos ke roftoop untuk menenangkan pikirannya sejenak. Namun siapa sangka, dia malah bertemu dengan ketua osis, rival Bintang di sekolah ini.


Langit abaikan semua kata-kata Bintang. Hanya satu kalimat singkat yang keluar dari bibirnya untuk menanggapi satu dari sekian banyaknya bacotan Bintang..


“Enggak usah ikut campur lo. Bokap gue jangan sampai tahu hal ini,” peringat Langit mewanti-wanti.


Bintang terkekeh sinis mendengar itu. “Santai. Gue bukan lo yang tukang ngadu.”


Lanjut Bintang mengendikkan bahu tak peduli saat Langit kian melotot tak terima mendengar sindiran keras itu. Baguslah kalau anak itu merasa tersindir!


***