Bulan & Bintang (Revisi)

Bulan & Bintang (Revisi)
Bagian 7. Renata VS Surya


Bulan mendapati Renata yang duduk di bangku taman belakang sambil menangis tersedu-sedu. Dari jarak ini, Bulan bisa melihat jelas bahu cewek itu yang bergetar. Untuk yang pertama kali, Bulan melihat sosok kerapuhan Renata dalam dirinya.


Bulan berjalan menghampirinya dan duduk di bangku samping Renata. Bulan merubah posisinya menghadap cewek itu. Diusapnya surai hitam sedada milik cewek itu sambil berkata, “Udah dong, Ta, nangisnya.”


Renata dengan mata memerah dan sembabnya mengangkat wajah dan menatap Bulan nanar. “Gi-gimana gue gak se-sedih, Lan. Sur-ya...,” lirih cewek itu dengan sesenggukannya.


Bulan semakin menatap iba cewek itu. Jujur saja, ia tidak suka melihat Renata yang seperti ini. Lebih baik cewek itu menyerocos panjang lebar sampai mulutnya berbusa di depan Bulan dari pada menangis seperti ini.


“Yodah, jangan nangis lagi, oke?! Entar cantiknya lo ilang lagi.” Bulan terkekeh pelan, sengaja mengeluarkan lelucon untuk membuat sahabatnya itu tertawa.


Renata menatapnya dengan bibir mengerucut sebal. “Ihhh, Bulan!!!” rengek Renata, tak terima dikatai seperti itu.


Bulan kembali menyengir, lalu beralih mengusap bekas air mata Renata di pipi cewek itu. Renata sudaj berhenti menangis. Hanya sesenggukan kecil sisa-sisa tangisan cewek itu yang terdengar.


“Nih ya, Ta! Gue kasih tau sama lo.” Tiba-tiba Bulan berkata serius. Ia menatap Renata dengan begitu lamat. “Cowok kayak Surya ...,” Jeda sejenak. Lalu Bulan menggelengkan kepalanya.


“Gak pantes buat lo perjuangin lagi. Cowok itu gak baik buat lo, Ta. Jadi, gue saranin sama lo jangan terlalu berharap sama cowok itu. Kalo bisa, apus perasaan lo sepenuhnya buat dia, Ta.”


Hanya tatapan datar yang ditampilkan oleh Renata. Matanya mulai berkaca-kaca. Jujur saja, ucapan Bulan berhasil menggores luka baru di sana. Namun, ada benarnya juga.


“Iya, Lan. Gue paham kok,” lirih Renata dengan suara seraknya. Matanya terpejam membuat setetes cairan bening berhasil lolos dari sana.


Bulan yang tidak tahan melihat sahabatnya langsung menghambur ke pelukan Renata. Ia memeluk tubuh cewek itu dari samping, direngkuhnya tubuh lemah itu dengan erat.


Kring...


Suara bel masuk mengitrupsi kedua gadis yang tengah pelukan di taman belakang itu. Bulan dan Renata mengurai pelukan mereka.


Renata dengan sisa bulir air mata di pipinya bangkit dari duduknya. Kepalanya sedikit ia tolehkan pada Bulan yang masih duduk di bawahnya. Senyum tipis dilayangkannya untuk gadis itu, sahabat terbaik yang pernah Renata temui. Lalu, tangannya terulur ke hadapan Bulan berniat membantunya berdiri.


“Yuk!” ajak Renata.


Bulan menatap sekilas tangan Renata yang terulur ke arahnya sebelum menyambutnya. Ia bangkit dari duduknya dengan bantuan Renata. Kedua gadis itu pun berlalu dari taman dan berjalan di koridor yang mulai sepi sambil bergandengan tangan. Posisi kelas mereka ada di pojok koridor, jadi mereka harus berlari sejauh mungkin.


Tanpa mereka sadari, dari arah berlawanan seorang murid laki-laki dengan seragam basket andalannya, berjalan dengan agak tergesa-gesa. Bulan yang tidak melihat itu terus mengajak Renata berlari hingga ia dan Renata berakhir di lantai. Tubuh mereka menabrak sesuatu yang keras, lebih tepatnya tubuh seseorang.


“Aduh!” Bulan mengaduh kesakitan. Ia bingkas bangun dari posisinya dan membantu Renata yang tampak kesusahan berdiri. “Lo gak papa, kan, Ta?” tanyanya penuh raut khawatir.


Renata mengembangkan senyumnya saat sudah berdiri di samping Bulan. “Gue baik-baik aja kok, Lan,” ujarnya santai.


Lalu pandangan keduanya teralih pada sosok yang berdiri tegap di depan mereka. Kedua bola mata Bulan seketika melotot kala mendapati ternyata cowok yang berdiri di hadapannya ini adalah cowok yang sama menabraknya tadi pagi. Tanpa ekspresi cowok itu menatap ke arah mereka. Mulutnya terkunci rapat, tak ada niat minta maaf gitu?


“Astaga... Lo lagi, lo lagi...” Bulan memutar bola matanya malas dengan gigi saling bergemelatuk. Geram. “Ya Tuhan, hidup gue selalu apes tau tiap ketemu sama lo,” keluhnya dengan terang-terangan di depan cowok yang barusan menabraknya itu, lebih tepatnya dua kali. 


“Ya maap, kan gak disengaja,” ujar cowok itu setelah sekian lama membisu.


“Maaf lo bilang? Basi tau nggak,” cerca Bulan kesal dan muak dengan kata maaf yang keluar dari bibir cowok itu.


Sementara Renata yang berdiri di sampingnya, langsung mendelikkan mata tajam ke arahnya. Ya Allah, Bulan! Ganteng-ganteng gini kok dianggurin..


“Minta maaf, Lan. Lo gak boleh kayak gitu,” tegur Renata sok dewasa, padahal aslinya buat cari-cari perhatian ke cowok tampan itu.


Bulan membelalak. “Lo kok malah belain dia sih, Ta? Harusnya kan dukung gueeee!!!” timpal Bulan tak terima Renata lebih memilih untuk membela cowok itu dari pada dirinya.


“Ya, karena dia itu yang... ” jelas Renata yang langsung dipotong oleh Bulan.


“Udah nabrak gue, kan?” sela Bulan cepat membuat Renata bungkam di tempat. Kemudian, Bulan melangkahkan kakinya pergi dengan menyentak pada lantai meninggalkan Renata dan cowok itu di koridor sekolah.


Renata hanya bisa meringis melihat kelakuan Bulan. Di sini, ia yang menanggung malu kelakuan sahabatnya itu. Lalu, ia beralih menatap sosok dewa yunani yang ada di hadapannya itu. Senyumnya seketika berganti ceria. “Kak, maafin teman gue yang tadi, ya!” kata Renata penuh rasa sesal.


Lelaki itu mengulum senyum lebar yang malah membuat Renata nge-fly. “Iya, gak papa, kok.” Lepas berkata demikian, ia berlalu meninggalkan Renata sendirian yang kini malah kesem-sem sama cowok itu.


“Ahh, so cute...” ujar Renata salah tingkah.


“BULANNN, TUNGGUIN GUEEE!!!” teriaknya kemudian ketika baru sadar tinggal dirinya yang di sini.


...***...


“Bintang...” Merasa terpanggil, Bintang yang tengah berbaring lemah di atas ranjang terbangun.


Tampak seorang gadis dengan seragam sekolah yang masih membalut tubuh mungilnya, berdiri di ambang pintu dengan dua orang yang masing-masing berdiri di sampingnya. Dari wajahnya, gadis itu terlihat sangat khawatir. Matanya berkaca-kaca.


Tanpa aba-aba, gadis itu langsung menghampiri Bintang dan memeluknya. Awalnya, Bintang sedikit merasa risih mendapat perlakuan seperti itu. Namun dalam sekejap, rasa risih itu berubah menjadi rasa nyaman dan senang.  Lagi-lagi, ia merasakan kenyamanan dan kehangatan di dekat gadis aneh ini. Jantungnya tiba-tiba berdebar cepat, tak bisa diajak berkompromi.


Bulan semakin memeluknya erat. Tanpa sadar, air mata gadis itu sudah membasahi baju bahkan dada Bintang. “Maafin gue, ya! Gara-gara gue, lo jadi kayak begini,” ujar Bulan penuh salah di sela-sela tangisannya.


Mendengar sesenggukan gadis itu, Bintang langsung mengurai pelukan mereka. Ia menatap bingung gadis itu yang kini lengkap dengan mata dan hidung merah habis menangis.


“Hey, kok nangis? Gue baik baik aja loh,” kata Bintang dengan sedikit tawa kecil berniat menghibur sembari menghapus jejak air mata di pipi Bulan. Kemudian, ia membawanya kembali masuk ke dalam pelukannya.


Bukannya berhenti, Bulan malah mengencangkan tangisannya. Renata dan Surya yang masih berdiri di ambang pintu meringis melihat itu. Bulan seperti anak kecil yang tengah memeluk bapaknya.


Bulan menggeleng. “Enggak, Tang! Ini salah gue. Gara-gara gue, lo jadi sakit kayak gini. Gue minta maaf ya!” elaknya keras kepala.


Bintang menggelatukkan giginya, geram mendengar ucapan Bulan yang keras kepala. Tak ingin membuat drama ini terus berlanjut, akhirnya Bintang pun mengalah. “Iya-iya, gue udah maafin, kok. Sekarang diam, ya!”


Bagai anak kecil yang barusan ditawari permen, Bulan langsung mengurai pelukan mereka. Dengan mata berbinar, ia menatap Bintang. “Beneran?” tanyanya memastikan.


Bintang menghela napas kemudian menganggukkan kepalanya. Ia geli sendiri dengan dirinya sendiri yang lebih seperti bapak-bapak yang tengah mengurus bayi kecilnya. “Jangan nangis terus. Ayo, senyum. Entar cantiknya hilang lo, mau?” kata Bintang dengan sedikit gombalan recehnya.


Bulan tersenyum malu-malu ke arhah Bintang. Cowok itu berhasil membuatnya salah tingkah.


“Nah, gini kan cantik,” seru Bintang, membuat kedua pipi Bulan memerah seperti kepiting rebus.


Bulan yang makin salting memukul lengan Bintang. “Ishh, apaan sih!” ujarnya sok merajuk.


“Ehem...” Surya dan Renata berdehem menyadarkan dua orang itu dari dunianya. Keduanya secara refleks menoleh ke ambang pintu dan mendapati dua curut tersebut tengah menatap tanpa ekspresi ke arah mereka. Jadi, mereka jadi penonton setia sedari tadi?


“Eh, ada Tata sama Surya juga,” ucap Bintang berpura-pura baru menyadari kehadiran kedua sosok itu.


Surya dan Renata secara bersamaan memutar bola matanya jengah. “Baru nyadar, hm?” ejek Surya dengan tampang sebalnya.


Dibalas dengan cengiran lebar dari Bintang. Sementara Bulan menggaruk tengkuk belakangnya yang tak gatal. Dua muda-mudi itu sama-sama salah tingkah.


Kemudian tanpa aba-aba, Surya dan Renata melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar Bintang. Keduanya langsung duduk di sebuah sofa mini yang terletak di sisi ranjang tempat Bintang berbaring.


“Enak, ya, pacaran ... sampai lupa sama sahabat sendiri,” ledek Surya dengan dengusan sebalnya.


Tatapannya masih sama. Sinis pada Bintang. Renata yang duduk di sampingnya dengan bibir mengerucut sebal, menganggukkan kepala menanggapi ucapan Surya.


Bulan dan Bintang beradu pandang dan saling melempar pandangan satu sama lain. Sudut bibir keduanya berkedut seperti seseorang yang tengah menahan tawa. Hingga Bintang yang sudah tak bisa menahannya langsung menyemburkan tawanya, lalu diikuti oleh Bulan. Wajah gemas yang ditampilkan oleh Surya dan Renata tampak lucu di penglihatan mereka. Melihat itu, Surya dan Renata semakin kesal.


Beberapa menit kemudian, suasana tampak hening. Bulan dan Bintang sudah berhenti tertawa melihat wajah Surya dan Renata memerah. Kedua sosok itu sudah berdiri dari duduknya dengan bibir mengerucut dan tangan bersimpuh dada.


“Pulang yuk, Ta! Udah muak gue di sini lama-lama,” ajak Surya dengan nada merajuknya.


Renata mengangguki. “Yuk! Lagian, percuma juga kita di sini. Diabaikan,” tambah Renata ikutan merajuk.


Kemudian Renata mendekati Surya dan merangkul lengan lelaki itu. Keduanya melangkahkan kaki hendak keluar dari kamar sebelum suara Bulan mengintrupsi langkahnya.


Bulan berdehem lalu berkata dengan penuh nada ledekan. “Udah baikan, nihhhh. Perasaan tadi di sekolah ngambekannn...”


Langkah keduanya terhenti di ambang pintu. Sedikit aneh dengan posisinya, mereka beradu pandang. Renata berteriak histeris seraya menghindar beberapa langkah menjauh dari radiasi Surya saat menyadari tangannya menggenggam pergelangan lelaki itu.


Sementara Surya bergidik ngeri. Ia mengusap-usap lengannya seolah membersihkan bekas tangan Renata yang bertengger di sana tadi. Lalu, ia mendongakkan wajah dan menatap gadis itu tajam.


“Ngapain lo pegang pegang tangan gue!” sentak lelaki itu dengan delikan tajamnya.


Renata memutar bola mata malas. Surya terlalu lebay menurutnya. Maksudnya reaksi lelaki itu. “Santai aja kali!” cibir Renata seraya mengusap wajah lalu melipatkan kedua tangan di depan dada.


Lagi, Surya bergidik. Mungkin jika orang yang memegang lengannya barusan adalah Mentari, maka dengan sukarela Surya mengijinkannya. Lah, ini Renata! Cewek gila yang paling Surya benci. Jika saja dia bukan sahabat Bulan, Surya juga ogah mengajaknya ke sini.


“Emang lo gak senang apa dipegang cewek cantik kayak gue? Jarang loh, ada cewek yang mau sentuh-sentuh cowok ngeselin kayak lu,” ujar Renata dengan percaya dirinya.


Tak bisa Surya sangkal apa yang barusan Renata katakan sepenuhnya benar. Namun, ia tak akan pernah mengakui kecantikan gadis itu apalagi secara terang-terangan di hadapannya. Bisa makin melunjak dia! Dan Surya tidak ingin hal itu terjadi!


Surya memasang wajah seperti orang yang hendak muntah.


“Idih, pede amat sihhh! Siapa juga yang senang dipegang sama lo! Yang ada, gue tuh jijik dipegang mak lampir macam lo!” balas Surya berakhir mencibir.


Renata mendelikkan matanya. Ia menggelatukkan gigi geramnya menatap cowok itu emosi. “Enteng banget, ya, kalo ngomong! Masa cantik gini dibilang mak lampir, sih! Katarok lo!” sentak Renata tak terima.


“Emang mak lampir!” cibir Surya dalam gumamannya.


Diam-diam, Bulan dan Bintang menahan senyum menyaksikan perdebatan dua sejoli itu. Keduanya saling pandang lalu menggeleng-gelengkan kepalanya kecil. Perdebatan itu tidak akan selesai jika salah satu dari mereka tidak mengalah. Dan sepertinya, tidak akan ada. Sama-sama kerasa kepala!


“Udah, udah!” lerai Bulan masih dengan tawa kecilnya. “Kalian ke sini buat jenguk Bintang apa bertengkar sih!” tegurnya pura-pura murka.


Keduanya menoleh ke arah ranjang. Beradu pandang sekilas lalu menjawab dengan kompak, “Jengukin Bintang.”


“Terus, kenapa malah bertengkar?” Bulan memasang ekspresi seperti ibu-ibu yang tengah memarahi anak-anaknya yang nakal.


Bintang yang diam-diam memperhatikan gadis itu dari samping terkekeh geli. “Lucu. Gemesin,” gumamnya pelan.


Renata melangkahkan kakinya mendekati ranjang dengan kepala merunduk merasa bersalah. Surya mengikutinya dari belakang.


“Ya, maap...!”


...***...