
Bulan yang tengah asyik memainkan ponselnya itu sambil baring-baring di atas ranjangnya menolehkan pandangannya pada seseorang yang baru saja memasuki kamarnya dan langsung menghempaskan tubuhnya di samping Bulan.
"Ada apa lho? Tumbenan amat main ke sini?" tanya Bulan masih sedikit acuh tak acuh pada Tata.
"Emang gak boleh? Ya udah gue pulang nih." ucap Tata yang kemudian bangkit dari tidurnya berniat untuk pulang.
"Ehh, mau kemana?" tanya Bulan saat melihat Tata hendak melangkahkan kakinya keluar.
"Pulang," jawab Tata singkat, padat, dan jelas.
"Yaelah ngambekan amat sih lho? Lho kenapa sih, aneh banget dah?" ucap Bulan lagi yang baru mulai mengetahui bahwa Tata sedang tak baik-baik saja..
Tata tak menjawab. Gadis itu hanya menunduk lesu dengan posisinya yang masih berdiri.
"Tuh kan, pasti ada apa-apa nih. Yuk, sini cerita sama gue, ada apa?" ucap Bulan terlihat serius. Tata pun kembali duduk di samping Bulan.
Tata menghela napasnya kasar, kemudian menatap manik Bulan yang sudah tampak terlihat penasaran. "Surya tadi minta maaf sama gue," ucapnya mulai bercerita.
"Terus?" tanya Bulan penasaran.
"Dia juga bilang kalau dia cinta sama gue." jawab Tata dengan wajah yang masih ditekuk.
"Lho terima?" tanya Bulan yang mendapat gelengen pelan dari Tata.
Bulan mengerti bagaimana perasaan sahabatnya itu sekarang. Dia tahu kalau Tata juga masih mencintai Surya. Namun Tata masih belum bisa memaafkan kesalahan Surya yang sudah sangat fatal baginya. Dengan refleks Bulan memeluknya, mengelus lembut punggung gadis itu agar merasa nyaman.
"Kalau kita maafin Surya, menurut lho itu wajar gak Lan?" tanya Tata masih dalam dekapan Bulan, ingin tahu pendapat Bulan.
"Kalau menurut gue sih itu hal yang wajar Ta. Di dunia ini kan, manusia tidak pernah luput dari yang namanya berbuat kesalahan. Jadi gak ada salahnya kan kalau kita saling memaafkan." ucap Bulan yang diangguki Tata tanda ia setuju.
***
"Tang!" panggil Surya pada Bintang yang tengah tergesa-gesa memasuki kelas. Bintang pun membalikkan badannya, menoleh ke sumber suara yang memanggilnya barusan.
"Apa?" tanyanya ketus.
"Lho masih marah sama gue?" ucapnya bertanya balik yang terdengar sedih.
"Buat apa gue marah sama lho," jawabnya yang terdengar seperti sebuah pertanyaan.
Seketika wajah Surya menatap Bintang berbinar. "Ja-jadi lho u-dah maafin gue Tang?" tanyanya lagi.
"Kata siapa?"
"Lah, barusan lho bilang-"
"Gue udah gak marah lagi sama lho, bukan berarti gue udah maafin lho," jelas Bintang sambil menunjuk dada Surya. Kemudian pergi begitu saja meninggalkan Surya yang masih mematung di tempatnya.
"Gue kan udah bilang sama lho Surya percuma, gak ada lagi yang bakalan percaya sama lho lagi."
Seketika lamunan Surya buyar mendengar suara itu. Suara itu, suara yang paling Surya benci dengar. Gara-gara pemilik suara itu, ia jadi dijauhin sama teman-temannya.
Surya menoleh ke sampingnya. Benar, dugaannya benar. Suara itu, suara mak lampir Mentari.
"Ngapain lho ke sini?" tanya Surya malas.
"Lho yakin gak mau kerja sama lagi sama gue?" ucap Mentari menyakinkan.
Surya tersenyum miring kepadanya. "Sampai kapan pun gue gak bakalan mau lagi sama lho. Lebih baik gue dibenci sama mereka daripada mau sama lho lagi." tutur Surya.
"Padahal gue udah punya rencana bagus lagi lho," ucap Mentari terdengar sedikit menggoda.
"Emang gue pikirin," cibir Surya kemudian pergi begitu saja meninggalkan Mentari yang berdecak kesal karenanya.
"Awas aja ya lho Sur, gue bakal bikin perhitungan sama lho!" ancam Mentari yang tentu tak digubris oleh Surya.
Sesampainya di kelas, Surya langsung mendudukkan bokongnya di bangkunya dia samping Tata tanpa mengatakan sepatah kata pun kepada Tata. Tata pun mengernyit heran dengan sikap Surya yang tampak cuek. Tidak biasanya seperti ini, biasanya juga sudah dari tadi mohon-mohon sama Tata supaya Tata memaafkannya. Tapi kali ini tidak.
Ada apa dengan Surya? Pikir Tata.
Kegusaran terlihat jelas di tampang wajah tampan cowok itu. Ada sedikit rasa iba yang muncul di hati Tata. Entah refleks atau tidak, Tata langsung mengusap punggung Surya dengan lembut dan penuh sayang. Surya pun langsung terlonjak kaget dan menoleh pada gadis di sampingnya itu. Tanpa ia sadari ia telah membuat lengkungan kecil di pipi cowok itu. Entah Surya salah liat atau apa, Tata membalas senyumannya.
Sepanjang jam istirahat Mentari tak henti-henti juga berhenti menggombal Surya agar cowol itu kembali kepadanya. Namun rupanya Surya sudah tak mau lagi. Setelah ia mengetahui alasan Mentari mau menjadi pacarnya dengan benar, ia memutuskan untuk tak akan pernah berhubungan lagi dengan cewek itu.
"Lho yakin Sur? Gue janji deh kalau lho mau kerja sama lagi sama gue, gue bakal kasih apapun yang lho mau, termasuk jadi pacar lho." ucap Mentari sambil terus menggoyang-goyangkan lengan Surya yang tengah asik memakan bakso yang dipesannya.
Seketika Surya menjadi tidak nafsu melihat cewek itu. Ia pun bangkit dari duduknya dan hendak pergi, namun tangannya dicegat oleh Mentari.
"Lepasin!" bentak Surya.
Mentari menggeleng, "Gak, gue gak akan lepasin lho sebelum lho mau balikan sama gue," ucap Mentari bulat.
"Terserah lho," Surya menghempaskan tangan Mentari dengan kasar. Kemudian berlalu begitu saja dari tempat.
Diluar dugaannya, ternyata Mentari terus mengejarnya. Hingga kini mereka jadi bahan tontonan sepanjang koridor sekolah. Surya yang ditatap seperti itu merasa sangat risih dan tidak nyaman.
"Lho apa-apaan sih?" ucap Surya pada Mentari yang tengah bergelayut manja di lengannya.
"Gue kan udah bilang tadi kalau gue bakal gini terus sampai lho mau balikan sama gue," ucap Mentari bersikukuh.
Hingga dua orang datang menghadang mereka dan tak memberi jalan untuk mereka lewat. Keduanya pun terhenti.
"Kenapa? Lho cemburu?" balas Mentari tak mau kalah dari Tata.
"Cemburu? Sama lho?" Tawa Tata tiba-tiba pecah saat itu juga membuat orang-orang menatapnya aneh.
Udah gila kali ya, pikir mereka.
"Ck. Ngapain juga gue cemburu sama cewek murahan kayak lho. Lagipula Surya belum tentu juga suka sama lho. Iya kan?"
Skakmat. Mentari terdiam beberapa saat. Dalam hatinya, Surya kagum pada Tata. Hanya cewek itu yang bisa membuat Mentari bungkam.
"Jadi lho kira Surya suka sama lho, gitu?" balas Mentari.
"Gak, gue ga-".
"Kalau gue bilang iya kenapa?" potong Surya cepat, membuat semua orang yang ada di situ mebelalakan matanya tak percaya, apalagi Mentari.
"Jadi lho suka sama dia Sur?" tanya Mentari pada Surya untuk memastikan sambil menunjuk Tata dengan dagunya.
Surya hanya mengedikkan bahunya acuh.
"Heh Mentari, gue peringatin ya sama lho, LHO JANGAN PERNAH GANGGUIN DAN URUSAN KITA LAGI." tegas Tata.
"Lho kira kita gak tau apa niat busuk lho selama ini. Lho pengen kan hancurin hubungan Bulan sama Bintang. Dan yang lebih parahnya lagi, lho manfaatin Surya dan memperalatnya." lanjutnya.
Mentari yang mendengar itu melongo tak percaya.
"Kenapa? Gak nyangka kenapa kita bisa tau?" tanya Tata saat melihat ekspresi Mentari. Sementara Mentari hanya diam menunduk karena malu.
"GUYS, GUYS, GUE PENGEN KASIH TAU SESUATU NIH SAMA KALIAN SEMUA, PENTING BANGET!" teriak Tata dengan suara toanya pada semua orang yang kebetulan ada di situ.
"Apa kak?" tanya seorang siswi penasaran yang tak jauh dari tempat Tata berdiri.
"GUE SARANIN YA GUYS TERUTAMA NIH YANG PUNYA COWOK, KALIAN HARUS JAGA PACAR KALAIN BAIK-BAIK JANGAN SAMPAI DIREBUT SAMA ORANG LAIN. SOALNYA NIH GUYS DI SEKOLAH KITA INI TERNYATA ADA PELAKORNYA, KALIAN TAU GAK?" lanjutnya sambil sesekali melirik Mentari seolah memyindirnya.
Sementara Mentari, wajahnya sudah merah padam menahan amarah yang sedari tadi bergejolak.
"Pelakor? Jadi, di sekolah kita ini ada pelakor? Siapa Kak?"
"Wah, parah nih. Siapa sih tuh cewek? Cantik gak?"
"Kayaknya gue mesti jaga-jaga nih. Pacar gue kan ganteng, bisa-bisa direbut lagi."
Tiba-tiba koridor seketika menjadi ramai mengoceh tidak jelas dengan berita yang disampaikan Tata bahwa do SMA MAHARDIKA ada pelakornya.
"UDAH, UDAH, UDAH. KALAU KALIAN DIAM SAYA AKAN KASIH TAU SIAPA ORANGNYA!" ucap Tata meredakan kebisingan. Seketika keadaan kembali menjadi hening. Sepertinya para siswi sudah sangat ingin tau siapa pelakor itu makanya bisa sampai jadi penurut seperti ini.
"Siapa kak?" tanya seoarang siswi yang sudah tidak sabaran untuk cepat mengetahuinya.
"DIA ADA DI SINI KOK ORANGNYA," ucap Tata basa-basi, keadaan kembali menjadi ramai saling lempar-melempar tatapan bingung.
"Namanya siapa sih kak? Udah deh ngomong aja kak gak usah basa-basi kayak gitu deh," omel siswi yang tadi saking tidak sabarnya.
Tata melirik Mentari sekilas. Tanpa diketahuinya Mentari juga sedang menatapnya dengan tatapan benci dan balas dendam.
"NAMANYA MEN-"
"GUE ORANGNYA," potong Mentari cepat membuat semua bola mata menatapnya dengan tatapan tidak percaya.
"KENAPA? SALAH?" tanyanya dengan sombong tanpa ada malunya.
"Oh jadi dia toh. Kalau dia mah sudah tidak diragukan lagi. Dari dulu kan, dia suka rebut cowok orang."
"Iss, jadi cewek kok gak ada malu-malunya,"
"Pergi lho sana, kita gak mau ya satu sekolah sama cewek kayak lho,"
Begitu banyak makian yang didapat Mentari hari. Bahkan dia yang dulunya selalu bisa mempertahankan harga dirinya, kini harus mengalah saking banyaknya yang membencinya.
Mentari menatap Bulan dan Tata dengan garang. "Jangan senang dulu, ini belum berakhir. Oke, hari ini kalian yang menang, tapi gue pastikan besok-besok gue yang bakalan menang." tegasnya kemudian pergi dari situ dengan penuh rasa malu.
"Wush pergi sana, kita gak butuh teman pelakor kayak lho," ucap Tata sambil mengibas-ibaskan tangannya pada Mentari yang sudah jauh dari hadapan mereka.
Selepas kepergian Mentari, Surya mendekati Bulan dan Tata. "Makasih," ucapnya dengan kepala yang menunduk.
Bulan dan Tata hanya saling melempar pandangan, tidak tau maksud Surya yang tiba-tiba datang berterima kasih.
"Maksudnya gue minta maaf soal-"
Belum sempat Surya selesai berbicara, Tata sudah lebih dulu memotong ucapannya.
"Santai aja, kita udah maafin lho kok," ucapnya sambil mengusap lembut punggung Surya.
Surya yang mendapat perlakuan seperti itu langsung salah tingkah. Ia pun menggaruk tengkuk kepalanya yang tidak gatal.
"Serius?" tanya Surya tak percaya. Ia serasa sedang bermimpi.
"Iya Sur, kita udah maafin lho," jawab Bulan yang dari tadi hanya diam. Sedangakan Tata membelasnya dengan anggukan kepala.
"Thanks,"