Bulan & Bintang (Revisi)

Bulan & Bintang (Revisi)
Bagian 13. Ulah Mentari & Sebuah Kesalahpahaman


Tak terasa waktu terus berlalu. Seminggu kemudian semenjak kejadian itu pun terjadi. Namun Bulan dan Bintang masih tampak cuek juga. Rupanya belum bisa saling memaafkan, terutama Bulan. Ia cukup membutuhkan banyak waktu untuk bisa memaafkan cowok itu. Saat mereka berpapasan, bertatapan saja tidak apalagi mau saling sapa. Memang, keduanya memiliki tingkat keegoisan yang tinggi. Sok cuek, tapi giliran dicuekin malah marah. Aneh, kan?


Pagi ini Bulan berangkat bareng Langit. Bulan sengaja meminta Langit untuk menjemputnya tadi pagi. Semenjak mereka masuk ke dalam lingkungan sekolah, banyak mata yang melirik kedatangan kedua orang tersebut dengan tatapan tak suka. Tentu ini membuat Bulan merasa tak nyaman. Ditambah lagi beberapa dari mereka mencaci makinya. Ohh Tuhan, salah apalagi kah Bulan?


"Tuh, cewek gatel banget ya. Bisa bisanya deketin dua cowok bersamaan." umpatan seorang siswi yang langsung diikuti oleh teman temannya yang lain. Bulan dan Langit pun menghentikan langkahnya dan mendengarkan umpatan itu satu satu dengam baik.


"Dasar cewek rakus".


"Gak tau malu".


"Iya, emang cewek gak tau malu. Baru juga sebulan sekolah di sini, kelakuannya udah selangit".


"Udah gitu, sakitin hati Kak Bintang lagi".


"Emang dasar cewek gak benar".


"Sok kalem lagi".


"DIAM". Mungkin masih akan banyak lagi umpatan umapatan yang keluar dari mulut teman temannya, jika saja Langit menyuruh mereka diam. Mereka pun langsung diam mematung, tak berkutik sedikitpun. Tiba tiba saja nyali mereka semua menciut. Tak ada yang berani melawan.


Sementara itu, Langit sudah tampak seram dengan wajah garangnya yang seolah olah sudah siap memakan mangsanya. Ini kali pertama teman temannya melihat Langit semarah ini dan seseram itu. Ia tak pernah bayangkan, cowok sedingin Langit, bisa membentak. Untungnya ada Bulan, cewek itu berhasil menenangkannya. Jika tak, mungkin mangsanya sudah habis satu persatu di tangannya. Tapi karena ada Bulan, maka selamatlah mereka dari marah bahaya.


"Kak, Kak Langit yang sabar ya, gak usah dengerin omongan mereka." ucap Bulan pada Langit. Ia menyuruh agar cowok itu bisa mengontrol emosinya. "Kakak jangan sampai kejebak emosi kayak tadi."


Mereka sedang berada di taman sekarang. Bulan sengaja membawanya ke taman agar ia bisa merileskan pikiran Langit.


Langit pun hanya mendengarkan nasehat Bulan dan mencernanya baik baik. Tatapannya penuh pada gadis tersebut. Tak ada satupun tatapannya melesat pada wajah gadia tersebut. "Cantik" gumamnya yang masih bisa didengar Bulan.


Sementara itu, Ada dua sosok yang sedang mengamati mereka yang tak jauh dari tempat mereka.


"Rencana kota gimana Ta?" tanya Surya pada Tata.


"Bulan sih udah baikan, tapi masalahnya sekarang ia malah dekat sama kak Langit." jawab Tata menjelaskan. "Gimana dong?" tanya Tata pada cowok tersebut penuh harap agar cowok tersebut memberinya saran yang tepat.


"Ya gak ada salahnya kan kita coba" jawab Surya yang membuat Tata terkeplek klepek sama cowok ini. "Udah ganteng, pinter lagi. Duh, makin sayang aja deh" batinnya sambil memperhatikan wajah cowok tersebut dengam senyum senyum.


"Ehh, ngapain lho ngeliatin gue kayak gitu?" ucap Surya yang mengetahui hal itu. "Gue ganteng ya?" tanyanya dengan PD.


"PD amat sih lho" jawab Tata berpura pura tak suka.


"Hah? Kakak bilang apa barusan?" tanya Bulan heran mendeengar penuturan Langit barusan.


"Enggak kok" elak Langit agak malu karena kecoblosan.


"Ohh" hanya itu yang keluar dari mulut Bulan. Keheningan pun kembali tercipta. Hingga seseorang menghampiri mereka.


"Emang dasar cewek sialan lho". Suara itu sangat familiar di telinganya Bulan. Ya, siapa lagi kalau bukan musuh bebuyutannya, Mentari. Ia pun langsung tersentak bangkit satu tempat duduknya.


Bulan pun menghampirinya. "Maksud lho apa?".


"Masih gak ngerti juga?". Bulan mengernyit kebingungan. "Ya elah gak usah pura pura **** deh. Satu sekolah udah tau kalau lho itu cewek murahan kan. Diluar sih keliatan kalem, tapi dalamnya... Aduh amit amit deh" sambungnya yang menjawab semua kebingungan Bulan.


Bulan pun langsung menamparnya. "Jaga ya omongan lho".


"Ehh, maksud lho apa nampar gue?". Mentari yang tak terima hal itu pun membalas Bulan.


Pertengkaran pun terjadi. Kalau tadi tampar tamparan, maka sekarang lebih hot lagi. Saling menjambak. Langit yang masih duduk, setelah melihat bahwa mereka sudah main fisik pun langsung melerai mereka. Semenatra itu, teman teman mereka yang sudah dari tadi mengelilingi dan menonton mereka terus bersorak sorai. Sesekali mereka menyebutkan nama mereka berdua, seolah olah menjadi pendukungnya. Ada yang menyebutkan nama Bulan, ada juga yang menyebutkan Mentari. Tentu suara yang bersahut sahuta itu menimbulkan kebisingan. Hingga para guru yang berada di kantor merasa terganggu.


"Ada apa ini ribut ribut" tanya Pak kepala sekolah, entah keoada siapa.


"Bentar pak saya cek dulu" ucap seorang guru.


"Silakan Pak Andre" ucap kepala sekolah.


"Bubar!" pintahnya yang langsung diikuti murid murid.


"Bulan, Mentari ikut bapak" ucapnya pada kedua gadis tersebut.


Di saat yang bersamaan, tampak dua wajah yang tampak murung di tempat itu. "Duh, kalau kayak gini mah rencana kita bisa gagal" ucap Tata agak murung.


"Iya, padahal kan kita udah siapin rencananya matang matang" balas Surya.


Sesampainya di ruangan kepsek, mereka pun diadili. "Bulan, bukankah kamu siswi yang berprestasi? Mengapa kamu bisa melakukan hal itu?" tanya Pak kepsek pada Bulan.


"Maaf pak sebelumnya, tapi Memtari pak yang mulai duluan. Ia mancing emosi saya pak. Ia sudah ngehina saya pak." jawab Bulan menjelaskan.


"Bohong". Mentari mengelak tak mau mengakui kesalahannya. "Pak itu gak benar pak. Udah jelas jelas Bulan yang mulai." lanjutnya mencoba membuat skenario baru.


"Iya kan Lan? Ngaku aja deh lho" tambahnya lagi oada Bulan untuk mempermanis omongannya.


"Benar itu Bulan?" tanya Pak Kepsek penuh selidik.


"Nggak Pak, Mentari bohong" balas Bulan tak mau terjebak dalam drama kelicikan Mentari.


"Ehh, Bulan ngaku aja deh lho. Susah apanya  sih tinggal ngomong iya aja" sarkas Mentari.


"Ehh, lho gak usah ngebalik fakta deh." ucapnya pada Mentari sambil menunjuk nunjuknya dengan jari telunjuk. "Percaya pak sama aku" lanjutnya pada pak kepsek untuk memastikannya.


"Udah udah, jangan berantem" ucap Pak Kepsek melerai. "Bulan jawab dengan jujur. Apa benar kamu yang duluan mulai?" tanya pak kepsek sekali lagi pada Bulan dan Bulan langsung membalasnya dengan gelengan kepala.


"Saya punya buktinya pak" ucap seseorang yang tiba tiba masuk ke ruangan pak kepsek.


"Langit" ucap Bulan yang heran dengan kedatangan Langit yang tiba tiba.


Tanpa menjawab pertanyaan Bulan, Langit langsung menghampiri meja pak kepsek dan menunjukkan sebuah video yang tak lain ialah video pertengkaran Mentari dan Bulan tadi.


Pak kepsek pun manggut manggut tanda mengerti. Ia sudah mengetahui siapa pembuat masalah yang sebenarnya.


"Mentari, kamu benar benar keterlaluan" bentak Pak Kepsek murka. Apalagi Mentari sandiwara, mencoba untuk berbohong. Pak kepsek tak menyukai perbuatan seperti itu. "Sudah salah masih aja mau menyalahkan temannya".


Bulan yang mendapat perlindungan pun merasa lega.


"Maaf pak" ucap Mentari menunduk.


"Kamu, bapak skors selama seminggu." ucap Pak kepsek tegas.


"Pak, pak jangan gitu dong pak. Jangan skors saya. Entar gue ketinggalan pelajaran gimana lagi" uap Mentari agak merengek.


"Itu urusan kamu" jawab Pak kepsek. "Dan kamu Bulan, lebih hati hati lagi, kontrol emosinya dengan baik" ucap Pak kepsek memberi masehat pada Bulan.


"Iya pak" jawab Bulan singkat.


"Ihh jadi Bulan gak diskors, ihh nggak adil banget deh. Awas aja lbo Lan, siap siap aja lho dapat pemabalasan dari gue" batin Mentari.


"Makasih ya kak udah bantu gue. Coba aja tadi kakak gak datang pasti gue udah kena hukuman lagi." ucap Bulan senang. Langit hanya memandangnya dengan senyuman.


"Tapi kakak dapat darimana sih video itu?" tanya Bulan yang langsung membuat Langit tak berkutik.


"Ohh atau jangan jangan tadi kakak videon kita tadi" tebak Bulan asal.


Belum sempat Langit menjawab pertanyaan Bulan, Bulan sudah lebih dulu memeluknya. "Makasih kak".


Sementara itu, ada hati yang hancur melihatnya. Rasa sesak di dada, kecewa, dan cemburu bercampur aduk dalam diri Bintang. Ya, Bintang tengah membuntuti apa yang tengah dilakukan kedua insan itu.