
Melihat wajah Hans yang begitu menggemaskan, akhirnya Asep memutuskan untuk mengajak Hans ke ruang meeting.
Karena rasanya tidak mungkin jika dirinya akan meninggalkan Hans sendirian di dalam ruangannya, dia takut jika Hans akan kenapa-kenapa.
"Ingat ya, Hans. Kamu harus duduk anteng liatin Om meeting," ucap Asep seraya mendudukan tubuh mungil Hans di sampingnya.
Hans terlihat tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Asep, lalu dia terlihat mengedarkan pandangannya di mana di sana sudah ada dua orang klien penting yang akan melaksanakan meeting bersama dengan Asep dan juga sangat asisten kepercayaan dari Thomas, Jeremy.
Bocah tampan itu terlihat tersenyum ke arah ke tiga orang lainnya yang ada di dalam ruangan meeting tersebut, sungguh dia terlihat sangat menggemaskan.
"Yes, Ayah." Hans tersenyum seraya menganggukan kepalanya.
"Good Boy!" ucap Asep.
Setelah memastikan Hans duduk dengan anteng, Asep memulai meetingnya. Dia dan juga kliennya terlihat begitu serius membicarakan rencana pembangunan penginapan di tempat wisata.
Karena biasanya para pelancong akan lebih memilih bermalam di penginapan dari pada di hotel, lebih gampang dan lebih mudah dalam bertransaksi.
"Ayah!" panggil Hans.
Asep yang sedang serius berbicara terlihat menolehkan wajahnya kepada Hans, lalu dia tersenyum dan berkata.
"Eh? Iya, Sayang." Asep mengusap puncak kepala Hans.
Hans terlihat turun dari tempat duduknya, kemudian dia menghampiri Asep dan duduk di atas pangkuan pria muda tersebut.
Jeremy sempat akan memindahkan Hans untuk duduk kembali di kursi miliknya, tapi dengan cepat Asep melayangkan tangannya ke udara. Sehingga hal itu membuat Jeremy terdiam.
"Apa, Sayang?" tanya Asep lagi.
Hans terlihat memeluk Asep, dia juga terlihat begitu manja dengan menyandarkan kepalanya pada dada bidang Asep.
Asep terlihat tersenyum mendapatkan perlakuan seperti itu dari Hans, dia bahkan terlihat menunduk lalu mengusap puncak kepala Hans dengan begitu lembut.
Hans terlihat begitu bahagia, dia terlihat melerai pelukannya. Lalu dia mendongakkan wajahnya dan menatap wajah Asep dengan lekat.
"Jangan lupa untuk membangun Muhola, agar umat muslim lebih gampang dalam melaksanakan ibadahnya." Hans terlihat nyengir kuda.
Asep, Jeremy dan kedua klien yang akan bekerja sama dengan Asep terlihat saling pandang. Mereka benar-benar tidak menyangka jika anak tampan seusia Hans bisa mengatakan hal itu.
"Ayah harus ingat, mempermudah urusan orang lain itu akan mendatangkan pahala yang sangat banyak. Kalau Ayah ngga percaya, tanya aja sama pak ustadz."
Asep langsung tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh Hans, karena Hans terlihat begitu lucu saat mengutarakan apa yang ada di dalam hatinya.
"Hem, nanti akan Om pikirkan," jawab Asep.
Di lain tempat.
Andika terlihat sedang uring-uringan, tadi malam dia tertidur dengan begitu nyaman seraya memeluk istrinya.
Sialnya, Andika mengalami mimpi yang tidak seharusnya. Dia mimpi bercinta dengan Aulia, percintaan yang mereka lalukan sangatlah panas dan penuh gairah.
Andika bahkan sampai mengerang nikmat seraya memeluk Aulia dengan kuat, hal itu membuat Aulia terbangun dan sempat merasa aneh ketika melihat raut wajah Andika yang terkesan seperti sedang menahan sesuatu yang akan meledak sebentar lagi.
"Akh! Aulia, Sayang. Kamu jago banget sih goyangnya, aku jadi ngga tahan!" racau Andika.
Aulia langsung merasa kasihan, lucu, kesal dan juga malu mendengar Andika meracau dalam tidurnya. Apalagi ketika Aulia melihat tangan Andika yang mulai terulur dan mengusap-usap miliknya yang masih terbungkus rapi dengan piyama tidur yang dia pakai.
"Andika bangun!" ucap Aulia seraya menepuk-nepuk wajah suaminya tersebut.
Alhasil Andika pun langsung terbangun, tapi sampai saat ini wajahnya terlihat ditekuk ketika dia menatap Aulia.
Padahal di dalam mimpinya sebentar lagi dia akan mendapatkan pelepasannya, seharusnya Aulia tidak membangunkannya, pikirnya.
"Kamu buruan kerja gih, jangan cemberut terus." Aulia terlihat duduk tepat di samping suaminya yang baru saja selesai sarapan.
"Males, Yang. Ini semua gara-gara kamu," keluh Andika.
Andika terlihat seperti orang yang sedang menahan kekesalan, lalu sekarang putranya berkata jika itu adalah ulah Aulia. Bagaimana bisa, pikirnya.
"Kalian itu kenapa sih? Terutama kamu, Andika. Kenapa kamu terlihat seperti orang yang sedang merajuk?" tanya Alika.
Andika langsung menggaruk tengkuk lehernya yang tiba-tiba saja terasa gatal, dia bingung harus menjawab seperti apa pertanyaan dari ibunya tersebut.
Karena, rasanya hal ini tidak bisa dibicarakan dengan Alika. Walaupun Alika adalah ibu kandungnya sendiri.
"Loh, kok? Ditanya sama Mom malah diem aja, kenapa?" tanya Alika lagi.
Andika benar-benar terlihat kebingungan ketika mendapatkan pertanyaan seperti itu dari sang ibu, dia benar-benar tidak tahu harus menjawab apa.
"Ehm! Anu, Mom. Itu, emm. Aku mau masuk ke dalam kamar dulu, lupa ngga pakai dasi."
Setelah mengatakan hal itu, Andika terlihat bangun dari tempat duduknya dan langsung berlari menuju kamar baby twins.
Hal itu membuat Alika menggelengkan kepalanya dengan heran, karena Andika sudah memakai dasi. Dia sudah terlihat rapi dan juga tampan, tapi putranya itu malah berkata jika dirinya lupa memakai dasi.
Alika terlihat menolehkan wajahnya ke arah Aulia, kemudian dia pun bertanya kepada menantunya tersebut.
"Sebenarnya apa yang terjadi terhadap Andika?" tanya Alika.
Aulia hanya terlihat memamerkan deretan gigi putihnya kepada mertuanya tersebut, karena tidak mungkin bukan jika Aulia harus menceritakan yang sebenarnya kepada mertuanya tersebut.
"Aku ke kamar baby twins dulu, mau menyusui kedua putraku," ucap Aulia.
Sengaja dia menghindar agar tidak terlalu banyak berbicara dengan mertuanya tersebut, karena dia benar-benar tidak tahu harus mengatakan hal apa untuk menjawab pertanyaan dari mertuanya tersebut.
"Oh, oke!" jawab Alika walaupun merasa tidak paham.
Setelah berpamitan kepada Alika, Aulia terlihat masuk ke dalam kamar baby twins. Dia tersenyum kecut ketika melihat Andika sedang duduk di atas lantai seraya menyandarkan kepalanya di atas tempat tidur.
Hal itu benar- benar terlihat lucu di mata Aulia, tapi dia juga merasa sangat kasihan kepada Andika, suaminya.
"Sayang, jangan cemberut terus. Kerja gih!" kata Aulia.
Setelah mengatakan hal itu, Aulia terlihat ikut duduk tepat di samping suaminya. Dia tersenyum lalu mengelus lembut punggung suaminya tersebut.
Andika terlihat menegakkan tubuhnya, kemudian dia memeluk istrinya tersebut seraya menyandarkan kepalanya di dada istrinya.
"Ini semua gara-gara kamu, akunya jadi pengen terus. Harusnya kamu bangunin akunya pas aku udah keluar aja, akunya nggak bisa pergi dengan santai kalau seperti ini."
Andika terlihat merajuk kepada istrinya, andai saja di dalam mimpinya dia sudah mengalami pelepasan. Pasti dia tidak akan sekesal ini, pikirnya.
"Kenapa seperti itu?" tanya Aulia karena tidak paham.
"Ya ampun, Sayang. Apakah kamu tidak bisa memahamiku? Dia bangun terus," ucap Andika seraya menarik tangan istrinya dengan lembut.
Lalu, dia mengarahkan tangan istrinya itu untuk mengusap miliknya yang benar-benar berdiri dengan tegak.
"Ya ampun, Sayang!" seru Aulia.
Aulia benar-benar tidak menyangka jika Andika akan melakukan hal tersebut, padahal seharusnya Andika paham jika dirinya belum lama melahirkan.
"Pengen!" ucap Andika seraya memelas.
Aulia terlihat menghela napas berat, karena suaminya itu kini terlihat seperti anak kecil yang sedang merajuk meminta untuk dibelikan mainan baru.
"Haish! Mana bisa, aku baru sepuluh hari abis lahiran." Aulia terlihat bangun dan duduk di atas sofa.
Aulia terlihat menggelengkan kepalanya karena suaminya itu masih saja merajuk dan merengek, Aulia lalu terlihat menolehkan wajahnya ke arah jendela.
Andika terlihat ikut bangun, lalu dia duduk tepat di samping istrinya. Dia peluk istrinya, lalu dia usap bibir Aulia dengan lembut.
"Pake cara lain, Yang. Pengen banget ini," ucap Andika memelas.