
Andika benar-benar ketakutan ketika mengetahui jika Aulia tidak ada di Rumah Sakit, Andika juga benar-benar ketakutan saat menelpon ibunya jika ibunya tersebut ternyata tidak tahu keberadaan Aulia di mana.
Dia benar-benar ketakutan jika Aulia akan pergi dari dirinya membawa buah hatinya, dia benar-benar takut akan terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan terhadap keduanya.
Di saat dia sedang kebingungan, ponselnya berdering. Dengan cepat Andika mengangkat panggilan telepon tersebut.
"Hallo, dengan Bapak Andika?" terdengar suara menyapa dari sebrang sana.
Andika sempat merasa heran karena ada suara seorang perempuan menanyakan dirinya, padahal dia tidak pernah memberikan nomor ponselnya kepada orang yang tidak dikenal.
"Ya, ini saya sendiri," jawab Andika.
"Ah, syukurlah. Istri anda sudah melahirkan, di--"
Belum sempat suster tersebut melanjutkan ucapannya, Andika sudah memangkas ucapannya. Karena dia sudah tidak sabar ingin mengetahui di mana keberadaan istrinya.
"Di mana istri saya?" tanya Andika.
"Di Klinik dokter Alma," jawab suster.
Andika terdiam, pantas saja saat dirinya pergi ke Rumah Sakit Aulia tidak ada di sana. Karena ternyata Aulia memilih untuk melahirkan di klinik, pikirnya.
Untuk sesaat dia bisa bernapas dengan lega, kemudian dia pun berkata kembali kepada suster tersebut.
"Bisa kirimkan alamatnya?" tanya Andika.
"Tentu saja, Pak. Akan saya kirimkan alamatnya lewat pesan singkat," jawab suster tersebut.
"Terima kasih," ucap Andika.
Dia merasa sangat senang karena akhirnya dia mengetahui keberadaan istrinya, tentunya sebelum dia pergi ke Klinik, Andika menghubungi Alika terlebih dahulu.
Dia ingin memberitahukan keberadaan Aulia kepada Alika, Alika tersenyum karena memang Aulia selalu memeriksakan kondisi kehamilannya di sana.
"Kamu pergilah terlebih dahulu, Mom tahu di mana alamatnya. Karena memang Mom selalu mengantar Aulia saat memeriksakan kandungan," ucap Alika.
Andika terlihat kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Alika, karena dirinya saja tidak pernah diizinkan untuk ikut memeriksakan kandungan dari Aulia.
"Benarkah, Mom? Kenapa setiap aku ingin ikut memeriksakan kandungan dia tidak pernah mau aku antar?" ucap Andika tanpa sadar.
"Memang kamu siapanya? Kenapa kamu ingin mengantar Aulia untuk memeriksakan kandungan?" tanya Alika sengaja memancing.
Andika terdiam, dia bingung harus berkata apa kepada ibunya tersebut. Karena memang dia merahasiakan pernikahannya dengan Aulia.
"Lagi pula Mom itu heran sama kamu, kamu itu bukan suaminya loh. Kenapa malah ribut mau mencari Aulia dan juga begitu mengkhawatirkannya?" kembali Alika memancing.
"Sudahlah, Mom. Lebih baik sekarang kita ke Klinik saja, aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Aulia dan juga buah hatinya," ucap Andika.
"Ya, pergilah terlebih dahulu. Mom akan menyusul," jawab Alika seraya menggelengkan kepalanya karena dia merasa tidak habis pikir jika putranya masih saja belum mau jujur terhadap dirinya.
Setelah mendapatkan alamat klinik dokter Alma, akhirnya Andika langsung melajukan mobilnya dengan cepat.
Tentu saja hal itu dia lakukan karena dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Aulia dan juga buah hatinya, buah hati yang sangat dia harapkan keberadaannya.
Saat tiba di klinik dokter Alma, Andika langsung turun dari mobilnya dan masuk dengan tergesa. Dia benar-benar sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Aulia dan keturunannya.
"Permisi, saya mau bertemu dengan istri saya, Aulia," ucap Andika ketika berpapasan dengan seorang suster.
"Oh, Bapak suaminya Ibu Aulia, ya? Saya tadi yang menelpon, mari ikut saya, Pak," ajak suster tersebut.
Andika langsung mengembangkan senyumnya karena sebentar lagi dia akan bertemu dengan Aulia dan buah hatinya, dia benar-benar bahagia.
"Ya, sus," jawab Andika.
Suster tersebut tersenyum, lalu mengarahkan Andika untuk masuk ke dalam ruangan NICU, di mana di sana ada beberapa bayi yang sedang tertidur dengan pulas.
Dahi Andika mengernyit dalam ketika suster membawanya menuju ruang NICU, karena dia sempat berpikir jika dirinya akan di bawa ke dalam ruang perawatan Aulia.
"Loh, kok saya tidak dibawa ke ruang perawatan istri saya, sus?" tanya Andika heran.
"Sengaja, Pak. Saya sengaja mengajak anda ke sini, karena Bapak pasti ingin segera bertemu dengan putra Bapak," kata suster seraya memberikan bayi laki-laki itu kepada Andika.
Dengan senang hati Andika mengambil alih putra tampannya dari suster tersebut, kemudian dia mengusap dengan lembut pipi bayi lelaki itu dengan ibu jarinya.
"Dia, dia sangat tampan," ucap Andika dengan bangga sekaligus terharu.
Saat sedang asyik mengagumi wajah tampan dari putranya tersebut, Andika mendengar ada yang memanggil namanya.
"Andika!" panggil Alika yang ternyata sudah datang.
Andika langsung menolehkan wajahnya ke arah Alika yang kini sedang berjalan untuk menghampiri dirinya..
"Mom, lihatlah putraku. Dia sangat tampan," ucap Andika dengan air mata yang berurai di kedua pipinya.
Alika tersenyum kecut mendengar apa yang dikatakan oleh Andika, Karena tanpa sadar Andika sudah mengakui jika bayi yang dilahirkan oleh Aulia adalah putranya.
"Hem dia sangat tampan," jawab Alika tidak kalah bangga.
Andika terus saja menata putranya dengan penuh haru dan rasa bangga, dia terlampau bahagia.
"Hem, dia sangat mirip denganku. Aku tidak sia-sia bekerja keras selama ini," ucap Andika seraya terkekeh.
Alika benar-benar tidak menyangka jika putranya akan mengatakan hal itu dengan tidak tahu diri, pikirnya.
"Maksud kamu apa?" tanya Alika pura-pura bodoh.
Andika terdiam mendapatkan pertanyaan itu dari Alika, dia menjadi berpikir mungkin saat inilah dia harus jujur kepada ibunya tersebut.
Setelah mengumpulkan keberanian, akhirnya Andika pun mulai bersuara. Karena dia tidak mau berbohong lagi kepada ibunya.
"Aku, aku sudah menikah lagi dengan Aulia setahun yang lalu," jawab Andika dengan jujur.
Akhirnya kata-kata yang ingin dia dengar keluar juga dari mulut putranya tersebut, kini Alika ingin tahu apa yang akan dilakukan oleh putranya tersebut ke depannya.
"Hem, Mom sudah tahu," jawab Alika.
Andika terlihat begitu kaget kala Alika mengatakan hal tersebut, bagaimana mungkin Alika bisa tahu tentang dirinya yang berpoligami.
Seharusnya jika memang ibunya itu sudah tahu, Alika akan marah terhadap dirinya. Karena setahunya Alika begitu membenci yang namanya poligami dan perselingkuhan.
"Mom, tahu?" tanya Andika takut.
"Ya, kamu menikahi Aulia untuk mendapatkan keturunan kandung. Begitu bukan, alasan kamu?" tanya Alika.
"I--iya, Mom." Andika tertunduk takut.
Setelah mengatakan hal itu, Alika terlihat menolehkan wajahnya ke arah suster. "Di mana Aulia dan bayi yang satunya?"
Alika sengaja bertanya seperti itu, karena setelah dia mengedarkan pandangannya hanya ada satu bayi yang berada di dekat Andika.
Andika yang sedang tertunduk terlihat memberanikan diri untuk mengangkat wajahnya dan menatap ibunya dengan lekat.
"Maksud, Mom, bayi siapa?" tanya Andika.
"Bayi kalian, Aulia mengandung bayi kembar. Lalu, di mana bayi kalian yang satunya?" tanya Alika.
Mendengar pertanyaan dari Alika, Andika masih terlihat kebingungan. Berbeda dengan suster yang memang bertugas untuk menjaga bayi dari Aulia tersebut, suster tersenyum kemudian dia pun berkata.
"Ibu Aulia sudah pergi membawa bayi pertamanya, saya ditugaskan oleh ibu Aulia untuk memberikan putra keduanya kepada Pak Andika," jawab suster tersebut.
Mendengar apa yang dikatakan oleh suster tersebut, baik Alika ataupun Andika terlihat begitu lemas.
Andika tidak menyangka jika yang dikatakan oleh Alika benar adanya, Andika tidak menyangka jika apa yang dikatakan oleh suster tentang kepergian Aulia benar adanya.
Andika benar-benar tidak menyangka jika Aulia akan melakukan hal itu, tega sekali Aulia memisahkan dirinya dengan putra pertamanya, pikirnya
Alika memang sempat berpikir jika Aulia pasti akan melakukan hal ini, maka dari itu dia meminta dirinya untuk menyembunyikan tentang kehamilan kembarnya.
"Oiya, Pak. Bu Aulia meninggalkan surat ini untuk Bapak," kata suster tersebut seraya memberikan sepucuk surat yang ditinggalkan oleh Aulia untuk Andika.
Andika terlihat menerima sepucuk surat tersebut dengan tangan bergetar, dia benar-benar takut untuk membaca isi dari surat tersebut.
"Bacalah suratnya, Mom mau dengar," ucap Alika seraya mengambil alih cucunya dari Andika.
Walau seperti apa pun isi surat tersebut, baik Alika ataupun Andika harus siap untuk menerima keputusan dari Aulia.
Andika terlihat menganggukan kepalanya, lalu dia membuka surat tersebut dengan tangan yang bergetar. Hatinya belum siap menerima apa pun keputusan dari Aulia.