Buah Hati Untuk Sahabatku

Buah Hati Untuk Sahabatku
Kembali Ke Ibu Kota


Aulia tidak menyangka jika putra keduanya akan sakit, karena setahunya dokter berkata jika putra keduanya itu sangatlah sehat dan kuat.


Maka dari itu saat dia pergi untuk meninggalkan Andika, Aulia memutuskan untuk membawa anak pertamanya Alex. Karena kondisinya yang memang kurang baik.


Dokter berkata jika kondisi tubuh Alex sangat lemah, Alex membutuhkan ASI-nya. Berbeda dengan Axel, dokter berkata jika Axel bisa meminum susu formula. Maka dari itu Aulia berusaha untuk tega meninggalkan putra keduanya.


Namun, saat melihat wajah mungilnya terlihat begitu pucat, bahkan dia terlihat terus saja menangis, hati Aulia terasa teriris.


Rasanya dia ingin segera mendekap bayi mungilnya dan memberikan asinya secara langsung, dia ingin memberikan kasih sayangnya secara utuh kepada putra keduanya itu.


"Kakak kenapa?'' tanya Asep.


Asep benar-benar merasa khawatir karena tiba-tiba saja wajah Aulia terlihat begitu pucat, bahkan dia terlihat begitu sedih.


Aulia seperti merasakan kekecewaan dan rasa sakit yang luar biasa ketika dia membuka aku sosial media yang entah milik siapa.


"Aku mau pulang, aku mau bertemu dengan putraku." Aulia menangis dengan sangat sedih.


Asep langsung duduk tepat di samping kiri Aulia, lalu dia menepuk-nepuk punggung Aulia dengan perlahan. Dia berusaha untuk menenangkan hati wanita yang sedang terluka itu.


"Sabar dulu, Kak. Tenang dulu, jangan terlalu banyak pikiran. Kalau ada apa-apa, Kakak bisa cerita sama aku," kata Asep yang tidak paham apa pun.


Albert dan juga Adisha yang baru saja keluar dari dalam kamar, bisa langsung mendengar apa yang dikatakan oleh Aulia.


Mereka paham betul dengan apa yang diinginkan oleh Aulia, karena pada kenyataannya tidak ada seorang ibu pun yang mampu berjauhan dengan anaknya.


"Kasihan Kak Aulia," ucap Adisha seraya memandang kekasihnya.


"Hem, hibur gih!" titah Albert.


"Ya," jawab Adisha.


Adisha terlihat menghampiri kakaknya, lalu dia duduk tepat di samping kanan Aulia. Dia memeluk Aulia dan berkata.


"Kakak yakin mau pulang?" tanya Adisha.


Awalnya Aulia ingin meninggalkan Andika bersama dengan Axel, putra keduanya. Dengan seperti itu dia berharap jika Andika akan bahagia bersama dengan Andini setelah memiliki Axel di tengah-tengah mereka.


Namun, setelah melihat keadaan Axel yang begitu lemah, Aulia benar-benar merasa ingin memeluk putra keduanya saat ini juga.


"Ya, aku mau memberikan asiku pada Axel. Aku--"


Melihat kesedihan yang begitu mendalam di mata Aulia, Albert langsung memutuskan jika mereka memang harus pergi saat ini juga menuju ibu kota.


Lagi pula dia sudah tidaj tahan ingin segera manikahi Adisha, selama ini mereka sering pergi bersama.


Mereka sering saling mencumbu, bahkan dia sempat sampai bersikap seperti baby besar yang sedang menyusu pada ibunya.


Hal itu membuat Albert tidak tahan untuk segera menghalalkan hubungannya dengan Adisha, beruntung kini Adisha sudah sangat percaya jika di dalam hidupnya hanya dia satu-satunya wanita yang dia cintai.


"Bersiaplah, kita akan pulang sekarang juga. Tapi, kita langsung pulang ke apartemenku saja," ucap Albert.


Mendengar apa yang dikatakan Albert, Asep langsung tersenyum sinis ke arah kakaknya tersebut. Kemudian, pria muda itu berkata.


"Cih! Maunya, bilang aja biar Kakak bisa anu sa--"


Karena takut adiknya akan mengatakan hal yang tidak-tidak, Albert langsung memotong ucapan dari Asep.


"Ngga usah sok tahu kamu," kata Albert seraya menoyor kepala Asep.


"Tau aku apa yang Kakak mau, anak orang belum dikawinin udah disosor bae ka--"


Belum selesai Asep mengucapkan apa yang ada di benaknya, Albert sudah kembali menutup mulut adiknya tersebut.


Dia merasa tidak enak hati kepada Aulia, jika sampai Asep mengatakan kalau dirinya baru saja bermesraan di dalam kamar dengan Adisha.


Bahkan, kalau saja tidak ingat jika mereka sedang di mana, Albert pasti tidak menghentikan keinginannya untuk terus mencumbui kekasihnya.


"Ck! Jangan banyak bicara, sekarang bersiaplah. Nanti malam kita akan langsung berangkat," ucap Albert pada akhirnya.


Beruntung Aulia terlihat begitu fokus memikirkan putranya yang sedang sakit, sehingga dia tidak memperhatikan dengan jelas perdebatan antara Asep dan juga Albert.


Asep yang tidak pernah menang jika berdebat dengan kakaknya itu hanya bisa mendengkus sebal, kakaknya itu terlalu pandai dalam berkilah, pikirnya.


"Ck!"


Hanya suara decakan saja yang keluar dari bibir Asep, karena dia tidak mau berdebat lagi dengan kakaknya itu.


**


Pukul tujuh malam Albert benar-benar mengajak Aulia, Adisha dan juga adiknya Asep untuk pulang ke ibu kota.


"Sudah siap untuk pulang?" tanya Albert.


"Sudah dong," jawab Adisha bersemangat.


Berbeda dengan Aulia yang hanya diam saja seraya menatap wajah putra tampannya, dia terlihat seperti orang linglung.


"Masuklah, Kak. Jangan terlalu berpikiran," ucap Asep seraya menuntun Aulia untuk masuk ke dalam mobil.


Selama perjalanan menuju ibu kota, Asep dan juga Albert terlihat bergantian dalam menyetir. Karena memang Albert tidak membawa sopir, saat dia datang hanya berduaan saja dengan Adisha.


Berbeda dengan Adisha yang terlihat tertidur dengan lelap, karena dia memang baru saja pulang untuk menghadiri acara pemakaman ibunya. Namun, kini dia harus kembali ke ibu kota. Hal itu membuat dia begitu kelelahan.


Sesekali Albert dan juga Asep akan menolehkan wajahnya ke arah Aulia, karena dia terlihat menatap ke arah jalanan dengan tatapan kosong seraya memangku putra pertamanya.


Sesekali dia akan menyusui putranya jika Alex menangis, tapi dia lebih sering melamun dengan tatapan yang begitu kosong.


Hal itu membuat Asep dan juga Albert benar-benar iba kepada wanita yang mau menjadi istri kedua dari Andika itu, sangat miris menurut mereka.


"Kak, minumlah yang banyak. Atau mungkin ngemil, biar perutnya ngga kosong. Biar asi'nya juga tetep banyak," ucap Asep menyarankan.


Aulia terlihat menolehkan wajahnya ke arah Asep sebentar, lalu dia kembali menatap ke arah jalanan dengan tatapan kosongnya.


"Hem," hanya itu jawaban yang terlontar dari bibir Aulia.


**


Setelah melakukan sembilan jam perjalanan, akhirnya pukul 04.01 pagi mereka pun tiba di ibukota. Sesuai dengan ucapan Albert, mereka langsung datang ke apartemen miliknya.


Aulia nampak menidurkan Alex di kamar yang sudah disediakan oleh Albert, setelah itu dia langsung meminta Asep untuk mengantarkan dirinya ke Rumah Sakit.


Mumpung masih sangat pagi, pikirnya. Dia berharap jika dia bisa menyusui secara langsung putra keduanya itu, dia berharap bisa memeluk secara langsung Axel karena dia begitu rindu.


"Apa tidak sebaiknya nanti siang saja, kak? tanya Asep yang merasa sangat lelah.