Buah Hati Untuk Sahabatku

Buah Hati Untuk Sahabatku
Tidak Terduga


Alika benar-benar tidak paham kenapa Aisyah terkesan menyembunyikan identitas dari suami putrinya tersebut, dia menjadi kesal.


Bahkan, ketika Alika ingin berkeliling di apartemen mewah yang ditempati oleh Aulia, Aulia dan Aisyah seakan menghalangi.


Alika bahkan sempat berpura-pura menumpahkan air agar terkena bajunya, dia berharap bisa mengganti bajunya di dalam kamar Aulia.


Sayangnya, Aulia malah berkata jika dirinya mau menginap di rumah mertuanya tersebut. Aulia dengan cepat mengajak Alika untuk pulang ke kediaman Wijaya.


Tentu saja hal itu dia lakukan karena dia tidak mau Alika akan mengetahui jika dirinya sudah menikah dengan Andika, karena memang di ruang tengah ada foto pernikahan dirinya bersama dengan Andika.


"Tadi katanya kamu lelah banget pengen istirahat, bilangnya nggak mau ikutan ke rumah. Sekarang kok kamu malah bilang mau nginep di rumah Tante?" kesal Alika.


Alika benar-benar merasa kesal, karena dia tidak bisa mengetahui siapa suami dari Aulia. Padahal, dia benar-benar ingin tahu siapa sosok lelaki yang sudah menikahi sahabat dari putranya tersebut.


"Ini kepengennya baby twins, tapi kalau Tante nggak suka aku nginep di rumah Tante, aku nggak bakal nginep kok," kata Aulia kecewa.


Melihat raut kecewa di wajah Aulia, dengan cepat Alika membujuk Aulia. Dia takut jika wanita muda di hadapannya itu akan marah terhadap dirinya.


Tentu saja dia tidak ikhlas jika Aulia marah kepada dirinya, karena dia benar-benar ingin selalu berdekatan dengannya.


Apalagi saat tahu dia sudah mengandung, entah kenapa dia ingin sekali mengelus lembut perut Aulia dalam setiap waktunya.


"Jangan marah seperti itu, maaf. Tante nggak bermaksud kayak gitu, kok. Sekarang kita pulang ke rumah Tante, ya? Kita masak, ini udah sore juga. Kita makan malam bersama," kata Alika membujuk.


"Ya, Tante," jawab Aulia.


Aulia terlahir dari keluarga sederhana, tentu saja sejak kecil Aulia sering memasak bersama dengan ibunya.


Bahkan, ketika dia berkunjung ke rumah Andika dulu, Alika sengaja selalu mengajak Aulia untuk memasak bersama. Karena menurut Alika masakan Aulia memang sangat enak.


Setelah melakukan perjalanan selama setengah jam, akhirnya mobil yang Aulia kendarai tiba di kediaman Wijaya.


Alika tersenyum, lalu dia mengajak Aulia untuk masuk ke dalam kediaman Wijaya. Dia begitu senang karena hari ini ada yang menemaninya.


Biasanya hanya akan ada asisten rumah tangga yang menemani dirinya, karena setelah menikahi Andini, Andika tidak pernah mau tinggal di kediaman Wijaya.


Andika malah memilih tinggal di kediaman istrinya, karena Andini berkata jika dirinya tidak bisa meninggalkan kediaman kedua orang tuanya.


Sesekali Andika dan juga Andini akan datang untuk berkunjung, Alika memang merasa dekat dengan Andini. Namun, mereka tidak bisa akrab. Entah karena apa dia pun tidak tahu.


Jika dulu dia datang ke kediaman Wijaya rasanya biasa saja, tapi kini setelah dirinya menjadi istri Andika, hatinya terasa berdebar dengan kencang.


Entah karena apa Aulia tidak tahu, bahkan untuk melangkahkan kakinya saja dia merasa ragu.


"Hey! Kok malah diam saja? Ayo kita masuk, sebentar lagi mau maghrib loh, tidak baik untuk wanita hamil lama-lama di luar. Pamali," kata Alika.


"Iya, Tante," jawab Aulia.


Setelah menang mengatakan hal itu, Alika terlihat menarik lembut Aulia untuk masuk ke dalam rumahnya.


Tiba di dalam rumah, Alika mengajak Aulia untuk berwudhu. Lalu, merek segera masuk ke dalam mushola untuk melaksanakan shalat maghrib.


"Pimoy, memangnya kamu tidak mau mengadakan acara empat bulanan gitu? Walaupun sudah terlewat, tidak apa-apa. Belum genap lima bulan juga," usul Alika.


"Tidak usah, kemarin saat usia kandunganku enam belas minggu aku pergi ke panti asuhan untuk berbagi dengan mereka. Aku sudah menganggap hal itu sebagai acara empat bulanan untuk buah hatiku," jawab Aulia.


"Baiklah, terserah kamu saja. Tante mendukung, kata Alika seraya mengeluarkan bahan masakan dari kulkas.


Aulia sempat tertegun saat melihat Alika mengeluarkan udang dan juga jamur, karena Aulia sangat ingat makanan kesukaan dari suaminya itu.


Andika sangat suka dengan udang pedas manis, Andika juga sangat suka jika dibuatkan jamur crispy. Dia akan makan dengan sangat lahap.


"Tuh, kan. Kamu bengong lagi aja, padahal Tante sudah siapin bahan masakannya loh. Apa kamu merasa lelah? Apa mereka ingin segera beristirahat?" kata Alika seraya mengelus lembut perut buncit Aulia.


Aulia tersenyum, hatinya selalu saja menghangat ketika Alika melakukan hal tersebut. Bahkan, setiap Alika mengelus lembut perutnya. Kedua janin yang berkembang di dalam perutnya itu, langsung bergerak.


"Oh ya ampun, Pimoy, Sayang. Mereka lincah sekali," ucap Alika dengan mata yang berkaca-kaca.


Alika berharap suatu saat nanti dia bisa mengelus lembut perut Andini, dia juga ingin merasakan tendangan dari cucu kandungnya.


"Ya, mereka sangat aktif. Padahal belum genap lima bulan," kata Aulia seraya terkekeh.


Dia benar-benar merasa bahagia, karena kedua calon buah hatinya berkembang dengan sangat baik.


"Tante jadi ingat saat hamil Andika dulu, dia benar-benar sangat lincah," kata Alika.


Dalam hati, Alika merasa sedih karena sampai saat ini dirinya belum memiliki cucu. Bahkan, di saat Alika mengetahui Andini sedang hamil pun entah kenapa hatinya tidak merasa bahagia.


Setiap kali dia ingin mengelus perut Andini, Andini selalu saja menghindar. Selalu saja ada alasan yang disampaikan oleh Andini kepada dirinya, dia sangat sedih.


"Loh, sekarang kok malah Tante yang ngelamun? Masakannya kapan jadinya kalau begini?" tanya Aulia seraya terkekeh.


"Ah iya maaf, kalau begitu ayo kita masak," ajak Alika.


Akhirnya kedua wanita cantik berbeda usia itu terlihat memasak, sesekali Aulia dan juga Alika akan bercanda. Mereka lebih terlihat seperti sahabat dari pada menantu dan mertua.


Tidak ada kecanggungan sama sekali di antara mereka, baik Aulia ataupun Alika keduanya terlihat begitu bahagia.


"Sudah selesai, sekarang kita bisa makan malam," kata Alika dengan binar bahagia di wajahnya.


Alika menatap semua makanan yang sudah matang dengan air liur yang seakan hendak menetes, dia sudah mencicipi masakan yang dibumbui oleh Aulia itu dan rasanya tetap sama seperti dahulu. Masih sangat enak.


"Iya, Tante," jawab Aulia.


Setelah mengatakan hal itu, Aulia dan juga Alika terlihat menata makanan yang sudah mereka masak ke atas meja makan.


"Wah, pas banget aku dateng masakannya udah mateng," ucap Andika yang baru saja datang.


Saat mendengar suara Andika, Alika terlihat menghampiri putranya. Lalu, dia memeluk putranya dengan penuh kerinduan.


Berbeda dengan Aulia, dia terlihat menatap tidak percaya ke arah suaminya itu. Karena kini suaminya berada dekat dengan dirinya.