Buah Hati Untuk Sahabatku

Buah Hati Untuk Sahabatku
Pertanyaan


Awalnya Aiden tidak ingin mendekati Andini lagi, dia merasa takut tidak bisa membahagiakan wanita yang sampai saat ini masih menguasai hatinya itu.


Lagi pula mencintai wanita itu bukan berarti harus memiliki, pikirnya. Cukup ikuta bahagia ketika wanita itu merasakan kebahagiaannya.


Namun, setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Andika jika Andini adalah wanita yang tidak sempurna dan tidak bisa memiliki anak, Aiden bertekad untuk kembali mengambil hati Andini.


Setidaknya jika dia menikah dengan Andini, Andini tidak perlu takut untuk tidak bisa melahirkan anak. Karena Aiden sudah memiliki seorang putri yang begitu cantik, Anastasya.


Andini juga tidak perlu takut jika menikah dengan dirinya, karena sudah pasti Aiden akan berusaha untuk membahagiakan Andini. Karena perasaan Aiden masih sama, dia sangat mencintai wanita itu.


Bahkan, setelah sekian lama berpisah saja setiap kali mereka bertemu, jantung Aiden selalu saja berdebar dengan kencang ketika mereka berdekatan.


Apalagi setelah mengetahui jika Andika kini sudah kembali dengan istri keduanya, hal itu memperkuat Aiden untuk benar-benar bisa mengambil hati Andini.


Hal itu benar-benar membuat Aiden bersemangat untuk membuat Andini jatuh cinta kembali kepada dirinya, dia ingin membuat Andini memiliki cinta kasih seperti dahulu lagi.


Karena setelah dia bertemu dengan Andini, dia bisa melihat jika hati Andini sudah berpaling dari dirinya.


Dia bisa melihat cinta yang begitu besar dari mata Andini, tapi bukan untuk dirinya lagi, Melainkan untuk Andika, lelaki yang kini sudah bersepakat untuk bercerai dengan dirinya.


Melihat Aiden yang sedang berdiri tepat di samping mobilnya, Andini terlihat menghampiri Aiden.


Dia menatap Aiden yang terlihat sudah rapi dengan setelan kerjanya, tanpa membuang waktu lagi Andini langsung bertanya kepada Aiden.


"Hey! Ini masih sangat pagi, kenapa kamu ke sini? Mau ngapain coba?" tanya Andini.


Mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Andini, rasanya dia begitu malu sekali. Namun, tekad di dalam hatinya sudah sangat kuat, jika dia ingin mengambil hati Andini kembali.


"Aku hanya ingin menjemputmu dan mengantarkan kamu ke tempat kerja, apa itu salah?" jawab Aiden.


Andini terlihat tersenyum dengan sangat tipis sekali, sampai Aiden saja mungkin tidak akan menyadarinya.


Entah kenapa melihat wajah Aiden saat ini, malah mengingatkan akan pertama kali dia melihat wajah Aiden.


Aiden terlihat gugup dan salah tingkah, dia merasa jika Aiden seperti sedang mendekatinya dan ingin mendapatkan cintanya.


Persis sepeti saat Aiden dulu ingin mendekatinya dan ingin menjadikan dirinya kekasih hatinya, wanita pujaan hatinya.


"Aku bisa berangkat sendiri, tidak usah kamu jemput." Andini terlihat menghela napas berat.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Andini, Aiden sungguh takut jika dia tidak akan mendpatkan kesempatan untuk mendekati wanita itu.


"Oh ya ampun, ayolah Andini. Aku mohon, kamu ikutlah bersama denganku, biarkan aku yang mengantarkan kamu ke tempat kerja." Aiden terlihat menggenggam tangan Andini.


Andini terlihat menghela napas berat, kemudian dia menarik lembut tangannya dari genggaman tangan Aiden. Hal itu membuat tangan Andini terlepas.


"Maaf, Aiden. Tapi pulangnya pasti akan repot kalau aku tidak membawa mobil sendiri," keluh Andini.


Aiden yang tidak mau kehilangan kesempatan berusaha untuk mencoba meyakinkan Andini, bahwa Andini tidak perlu memikirkan kerepotannya kalau tidak membawa mobil.


"Kalau begitu, nanti sore aku juga akan jemput kamu. Kalau memang kamu sudah waktunya pulang kerja," ucap Aiden memberi solusi.


Andini kembali menghela napas berat, rasanya Aiden itu tidak pernah berubah. Jika ada kesempatan, dia pasti akan mempergunakan kesempatan itu dengan sangat baik.


"Tapi, Aiden. Jika seperti itu aku akan sangat merepotkan kamu," ucap Andini tidak enak hati dan juga jengkel.


Aiden terlihat melebarkan senyumannya di hadapan Andini, dia berusaha untuk menarik simpati dari wanita tersebut.


"Tidak apa-apa, Andini. Aku malah sangat senang jika direpotkan sama kamu, serius?" ucap Aiden.


Setelah mengatakan hal itu, Aiden nampak membukakan pintu mobilnya. Lalu dia mendorong pundak Andini dengan lembut, agar Andini masuk ke dalam mobilnya.


Dia tidak ingin lagi berdebat dengan Andini, karena dia takut jika Andini akan berubah pikiran dan tidak mau diantarkan.


"Aku belum mengatakan setuju, Aiden. Kenapa kamu asal mendorong aku saja?" tanya Andini.


"Aku memaksa," ucap Aiden seraya mengangkat tubuh Andini dan mendudukkannya di kursi yang ada di balik kemudi.


"Oh ya ampun, Aiden. Kamu sangat kekanak-kanakan," ucap Andini saraya tertawa renyah.


Aidan ikut tertawa, kemudian dia memasangkan sabuk pengaman untuk Andini dan berkata.


"Duduklah dengan anteng, karena aku akan segera mengantarkanmu. Kalau kamu tidak duduk anteng, aku jamin kamu pasti terlambat."


Setelah mengatakan hal itu Aidan terlihat menutup pintu mobilnya, lalu dia memutari mobilnya dan dengan segera masuk untuk duduk di balik kemudi.


"Sudah siap untuk berangkat?" tanya Aiden.


Andini terlihat menolehkan wajahnya ke arah Aiden, dia tersenyum tipis kemudian dia berkata.


"Sebenarnya aku tidak siap, karena aku tidak ingin diantarkan. Tapi karena kamu memaksa, baiklah. Tolong antarkan aku dengan cepat," ucap Andini.


Aiden terlihat bersemangat sekali setelah mendengar ucapan dari Andini, dia langsung menganggukan kepalanya dan segera menyalakan mesin mobilnya.


Tidak lama kemudian, Aiden terlihat melajukan mobilnya meninggalkan kediaman Adini dengan kecepatan sedang.


Selama perjalanan menuju perusahaan baru milik Andini, baik Aiden ataupun Andini saling diam. Tidak ada yang berbicara di antara mereka.


Satu hal yang Andini pertanyakan di dalam hatinya, apakah Aiden mendekati dirinya karena memang masih memiliki rasa kepada dirinya atau hanya memanfaatkan dirinya.


Karena kini putrinya begitu dekat dengannya, Anastasya bahkan selalu memanggil dirinya dengan sebutan mama.


Namun, jika melihat sorot mata Aiden, dia juga bisa melihat rasa cinta Aiden begitu tulus kepada dirinya.


Berbeda dengan Aiden, dia terlihat memikirkan bagaimana caranya agar dia bisa dekat kembali dengan Andini.


Dia sedang memikirkan cara, bagaimana bisa Andini menjadi istrinya dan menjadi Ibu sambung untuk Anastasya.


"Aiden--"


"Andini--"


Setelah sekian lama mereka terdiam, baik Andini ataupun Aiden terlihat saling memanggil nama dan tertawa bersama. Karena mereka memanggil nama secara bersamaan.


"Sepertinya kita memang ditakdirkan untuk bersama, kita seakan sehati ya?" ucap Aiden seakan. meminta dukungan.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Aiden, Andini semakin merasa yakin jika Aiden memang mendekati dirinya karena ingin mereka bersatu kembali.


"Ehm! Aiden, aku mau bicara. Lebih tepatnya mau bertanya, boleh?" tanya Andini.


Andini terlihat menatap wajah Aiden dengan serius, hal itu membuat jantung Aiden berdebar dengan sangat kencang.


Dia sungguh takut jika Andini akan menolak dirinya sebelum mengatakan apa-apa, tapi dia berusaha untuk menstabilkan debaran jantungnya.


"Tentu, tentu saja boleh. Tanyakan saja jika memang ada yang mengganja di dalam hati kamu, kalau bisa pasti aku akan menjawabnya," ucap Aiden.


Aiden terlihat menepikan mobilnya, dia takut jika apa yang akan dikatakan oleh Andini akan membuat tubuhnya lemas.


Dia memilih untuk mencari jalan aman saja, takutnya malah akan terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan.


Pasalnya saat melihat wajah Andini, Aiden merasa jika Andini akan mengatakan sesuatu hal yang tidak sesuai dengan keinginan hatinya.


"Aiden, apakah kamu sengaja mendekatiku agar bisa kembali bersama denganku?" tanya Andini.