
Asep sudah berniat untuk serius dalam bekerja, dia ingin memperbaiki dirinya. Dia tidak ingin lagi menjadi orang yang malas, dia ingin berusaha untuk membuat daddynya bangga.
Selama ini Asep hanya bermain saja, dia sering menghabiskan waktu untuk bermain game dan nongkrong bersama teman-temannya di Cafe.
Dia merasa jika saat ini adalah saat yang tepat untuk dirinya menjadi manusia yang berguna, dia juga ingin dibanggakan sama seperti Albert, kakak sulungnya.
Maka dari itu, pagi-pagi sekali dia sudah bersiap untuk pergi bekerja. Bahkan Asep hanya memakan selembar roti isi, karena dia takut akan kekenyangan dan malah tertidur di kantor.
Ketika daddynya menelpon dan menyuruh dirinya untuk pergi ke Resto, dia merasa keberatan karena Asep paling tidak bisa makan banyak.
Jika dia memakan banyak makanan, maka dia akan merasa mengantuk dan lebih cepat tertidur. Dia tidak mau hal itu terjadi.
"Haish! Kenapa harus ketemuan di Resto coba? Temennya yang mau buka Resto baru kenapa aku harus ikut-ikutan?" keluh Asep.
Sepanjang perjalanan menuju Resto, Asep terlihat menggerutu. Namun, di dalam hati dia berjanji jika dia tidak akan memakan makanan yang banyak, agar tidak mengantuk dan bisa fokus dalam bekerja.
"Sepertinya ini adalah alamat Resto-nya," ucap Asep seraya memarkirkan mobilnya tepat di depan Resto.
Untuk sesaat dia terdiam, dia. menghela napas berat. Lalu, dia terlihat tersenyum dengan sangat manis.
"Ingat Asep, kamu harus menjadi anak yang berbakti. Dengan datang untuk menemui daddy saja, itu artinya kamu sudah jadi anak baik."
Setelah mengatakan hal itu, Asep terlihat turun dari dalam mobilnya. Lalu, dia melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam Resto tersebut.
Saat tiba di dalam Resto, Asep terlihat mengedarkan pandangannya. Dia sedang mencari sosok pria yang meminta dirinya untuk datang ke Resto tersebut.
Tidak lama kemudian, Asep terlihat tersenyum. Karena dia menemukan sosok daddynya yang sedang menatap dirinya seraya tersenyum hangat.
"Sini, Nak. Gabung sama Daddy, sama teman Daddy juga."
Thomas Montana Carll terlihat mengayunkan tangannya saat melihat Asep yang sedang mencari dirinya, mau tidak mau Asep terlihat tersenyum kemudian menghampiri daddynya tersebut.
"Pagi, Dad. ada apa memintaku ke sini?" tanya Asep sopan.
Thomas terlihat menepuk-nepuk pundak putranya dengan penuh kasih, kemudian dia berkata.
"Mau ngenalin kamu sama temen Daddy, sudah lama banget kita ngga ketemu. Soalnya dia malah tinggal di negara S nemenin putranya di sana, lebih tepatnya menghabiskan waktu bersama cucu-cucunya."
Setelah mengatakan hal itu, Thomas terlihat terkekeh. Kemudian dia menepuk lengan sahabatnya tanda ingin mengenalkan putranya kepada sahabatnya itu.
"Lihatlah Aksa, putraku juga sudah mulai dewasa. Dia sudah mau masuk perusahaan Carll,'' kata Thomas dengan bangga.
Selama ini Asep seolah tidak pernah peduli dengan perusahaan Carll, Thomas sempat berpikir jika Asep tidak akan bisa dewasa seperti layaknya Albert.
Namun, ternyata dia salah. Kini putra keduanya itu terlihat serius dalam bekerja, walaupun Asep masih baru di dunia bisnis, tapi dia begitu gampang mencerna apa pun yang dia jelaskan.
Hal itu membuat dia merasa bangga terhadap putranya, dia merasa jika Asep benar-benar sama seperti istrinya.
"Hai, Boy. Kamu sudah besar ternyata, apa kabar?" tanya Aksa.
Ini adalah kali pertamanya Aksa bertemu dengan Asep, karena dulu yang sering dia temui adalah Albert, putra pertama dari sahabatnya.
Bahkan, Aksa dulu pernah berdebat dengan Thomas hanya karena masalah nama putra sulung dari temannya tersebut.
Pasalnya nama menantu dari Aksa juga sama persis namanya dengan Albert putra dari sahabatnya, tapi nama tengah dan marganya tetap berbeda.
"Baik, Om." Asep terlihat mengulurkan tangannya ke arah Aksa, dengan senang hati Aksa menerima uluran tangan dari Asep.
Asep sempat memperhatikan wajah Aksa, pria itu masih terlihat sangat tampan di usianya yang sudah setengah baya.
Bahkan, Asep sempat mengernyitkan dahinya. Karena dia merasa jika wajah Aksa terasa familiar di matanya.
"Hari ini adalah hari pembukaan Resto, jadi Om meminta teman Om yang tampan ini untuk datang. Padahal acaranya jam sembilan pagi, tapi lihatlah dia. Dia datang dengan alasan mau meminta sarapan gratis," ucap Aksa seraya terkekeh.
Mendengar apa dikatakan oleh Aksa, Asep langsung menolehkan wajahnya ke arah Thomas. Lalu, dia terlihat melayangkan tatapan penuh protes kepada sang ayah.
Thomas seolah tidak memedulikan tatapan dari Asep, dia malah tersenyum seraya menata putranya tersebut.
"Ya ampun, Daddy!" keluh Asep.
Mendapatkan tatapan penuh protes dari Asep, sontak Thomas langsung tertawa. Tentunya dia mengatakan hal itu karena untuk alasan saja, karena sebenarnya Thomas begitu merindukan sahabatnya itu.
"Haish! Lebih tepatnya aku rindu padamu, itu hanya alasan saja. Aku sudah sarapan, Euis sudah menyiapkan sarapan untukku. Kalau aku tidak sarapan di rumah, kamu sangat tahu dia akan menangis."
Thomas langsung menonjok pelan lengan sahabatnya yang masih terlihat kekar walaupun usianya sudah setengah baya, Aksa terkekeh kemudian membalas perbuatan dari sahabatnya tersebut.
Asep tersenyum melihat kedekatan di antara Aksa dan juga ayahnya, dalam hati dia tersenyum miris karena dia tidak mempunyai teman seperti ayahnya tersebut.
Dulu Asep memiliki teman yang banyak, sayangnya mereka hanya memanfaatkan Asep saja. Karena dia mempunyai ayah yang memiliki banyak uang.
Mereka berteman dengan tidak tulus, itulah yang Asep tidak suka. Maka dari itu Asep lebih menutup diri, karena dia tidak mau bersahabat dengan orang-orang munafik.
"Hem, aku tahu. Aku pun rindu," ucap Aksa.
Thomas dan juga Aksa terlihat mengobrol dengan begitu serius, hingga tidak lama kemudian mereka berdua dikejutkan dengan kedatangan seorang anak kecil yang tiba-tiba saja menghampiri Asep dan langsung memeluknya.
Anak itu terlihat memeluk kaki Asep seraya memanggil Asep dengan sebutan yang sungguh mengagetkan semua orang yang ada di sana.
"Ayah!" panggilnya dengan keras.
Sontak semua orang yang ada di sana langsung memandang Asep dengan tatapan penuh tanda tanya, terlebih lagi dengan Thomas.