
"Sa--sayang, kamu... Kamu apa kabar?" tanya Andika.
Andika begitu senang bisa bertemu kembali dengan wanita yang begitu dia cintai itu, dia begitu senang karena bisa bertemu dengan ibu dari kedua anaknya.
Namun, hatinya terasa sakit ketika melihat tubuh Aulia yang kini semakin kurus. Sepertinya Aulia terlalu lelah menghadapi beban kehidupan yang datang menerpa.
Sepertinya Aulia terlalu lelah mengurusi putra mereka, terlalu berat beban yanh dia hadapi saat ini, itulah pikir Andika.
"Sayang, aku datang. Aku mau minta maaf sama kamu, aku--"
Andika terdiam dan tidak melanjutkan ucapannya, dia bingung harus mengatakan apa kepada istri keduanya tersebut.
Kini, dia hanya bisa menatap wanitanya yang masih berdiri di hadapannya itu tanpa mengeluarkan suara dan tanpa berkedip.
Walaupun tubuhnya terlihat lebih kurus dari sebelumnya, tapi wajah Aulia tetap saja terlihat begitu cantik.
Bahkan, dada Aulia terlihat lebih besar dari sebelum mereka berpisah. Andika sempat berpikir, mungkin itu karena adanya asi yang kini memenuhi kelenjar susunya.
Aulia masih terdiam melihat Andika yang kini berada di hadapannya, dia benar-benar merasa tidak percaya jika Andika bisa menemkan dirinya secepat ini.
Dia memang sempat mendengarkan obrolan antara Albert dan juga Adisha, mereka tidak akan lagi menghalangi Aulia dan Andika untuk bertemu.
Karena menurut mereka, masih ada masalah yang harus diselesaikan antara Andika dan juga Aulia. Jika Aulia terus saja menghindar, maka masalah tersebut tidak akan pernah selesai.
Namun, Aulia benar-benar tidak menyangka jika Andika bisa dapat dengan cepat menemukan dirinya jika tanpa penghalang dari Albert.
"Sayang, aku rindu. Kamu, kamu kenapa diam saja? Aku boleh, kan, bertemu dengan kamu dan juga Alex?" tanya Andika penuh harap.
Bertemu dengan Andika adalah hal yang sangat ingin dia hindari, karena Aulia terasa lemah jika di hadapan Andika.
Perasaan cintanya yang sedang berusaha untuk dia kubur, selalu saja muncul ketika berhadapan dengan pria yang masih berstatus sebagai suaminya itu.
"Sayang, please. Aku ingin mene--"
Belum juga selesai Andika mengutarakan isi hatinya, Aulia yang takut akan tergoda kembali dengan Andika langsung menutup pintu apartemennya.
Andika terlihat begitu kecewa, dia langsung berusaha untuk bertemu kembali dengan Aulia. Dia mengetuk-ngetuk pintu apartemen tersebut, bahkan dia berusaha untuk menekan bel berkali-kali.
Dengan seperti itu, dia berharap Aulia mau membukakan pintu untuknya. Sayangnya, setelah sekian lama menunggu, Aulia tidak juga membukakan pintu untuknya.
Andika benar-benar sangat takut jika Aulia benar-benar tidak ingin bertemu dengan dirinya lagi, ari matanya bahkan terlihat turun dari kedua matanya.
"Aku tidak akan pulang sebelum bisa membawa kamu pulang, Pimoy."
Setelah mengatakan hal itu, Andika terlihat meluruhkan tubuhnya ke atas lantai. Lalu, dia duduk di atas lantai seraya menyandarkan punggungnya pada pintu.
Dia sudah bertekad akan menunggu Aulia membukakan pintunya, dia ingin bertemu dengan Aulia dan juga putra pertamanya.
Tentu saja yang paling utama adalah, dia ingin meminta maaf kepada wanita yang masih berstatus sebagai istrinya itu.
Dia juga ingin menjelaskan kepadanya, jika dirinya sudah memutuskan untuk bercerai dengan Andini. Mereka bisa kembali tanpa menyakiti perasaan wanita lain.
"Semoga kamu mau kembali padaku, Pimoy."
Di dalam apartemen.
Aulia terlihat berjalan mondar-mandir dengan sangat gelisah, dia merasa sedih, kesal dan marah. Semua rasa kini seakan bercampur aduk menjadi satu.
Bahkan, Aulia bisa melihat sorot mata Andika yang penuh cinta saat menatap dirinya. Sorot mata yang penuh kerinduan dan penuh damba.
"Apa yang harus aku lakukan, Tuhan?" tanya Aulia.
Aulia yang kebingungan terlihat menghampiri Alex yang terlelap dalam tidurnya, dia ikut merebahkan tubuhnya dan berbaring miring agar bisa menatap wajah tampan putranya.
"Di luar ada daddy kamu, Sayang. Mom harus bagaimana, hem?" tanya Aulia.
Aulia tersenyum menatap wajah tampan Alex yang begitu sama rupanya dengan Andika, dia usap pipi Alex dengan lembut lalu berkata.
"Kamu tahu, Sayang. Mom terlalu mencintainya, tapi Mom tidak mau merusak rumah tangga daddy kamu sama istrinya." Aulia berkata dengan sangat sedih.
Alex terlihat terganggu dengan suara mommynya, dia bahkan terlihat terganggu dengan usapan lembut pada pipinya.
Tidak lama kemudian Alex nampak terbangun, dia menolehkan wajahnya ke arah kanan dan juga kiri dengan bibir yang mengerucut karena kesal tidak menemukan asinya.
"Cup, cup, cup. Abang haus, ya. Sebentar," ucap Aulia.
Aulia terlihat membuka kancing kemeja yang dia pakai, lalu mulai menyusui putranya yang terlihat begitu kehausan.
Di luar apartemen.
Asep, Adisha dan juga Albert yang baru saja pulang terlihat menatap heran ke arah pria yang sedang menyandarkan punggungnya pada pintu apartemen.
Pria itu terlihat menengadahkan wajahnya, tapi kedua telapak tangannya nampak menutupi wajahnya. Hal itu membuat mereka tidak bisa melihat wajah pria itu.
Ingin rasanya Albert mengusir pria itu, tapi dia tidak bisa bertindak sembarangan. Karena saat melihat pakaian yang pria itu kenakan terlihat mahal dan biasa digunakan oleh orang berada.
"Ehm! Maaf, bro. Anda menghalangi jalan saya, saya mau masuk." Albert berucap dengan tegas.
Andika yang mendengar suara teguran langsung menurunkan kedua telapak tangannya, dia langsung tersenyum ketika melihat wajah Adisha.
Dia langsung bangun dan menarik lembut tangan Adisha, Albert sang kekasih langsung berdehem dengan keras.
"Ehm! Tolong tangannya dikondisikan!" tegas Albert.
Albert menatap tidak suka ke arah Andika, apalagi dengan beraninya dia menyentuh tangan kekasih hatinya.
"Maaf," ucap Andika. "Ehm! Dek, aku mau ketemu sama Aulia. Bisa?" pinta Andika memelas.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Andika, Adisha terlihat menatap Albert dan juga Asep secara bergantian.
Albert terlihat mengusap punggung wanitanya seraya tersenyum manis, dia seolah memercayai apa pun yang akan dikatakan oleh Adisha. Adisha membalas senyuman Albert, lalu dia mulai mebuka suaranya.
"Aku tidak bisa mengizinkan Kakak untuk bertemu dengan kak Aulia begitu saja, karena kak Aulia juga butuh waktu untuk memantapkan hatinya jika harus bertemu dengan Kak Andika."
Menurut Adisha, Aulia juga mempunyai ruang privasi sendiri, dia tidak bisa ikut campur. Apalagi tanpa seizin Aulia dia mengizinkan Andika untuk masuk dan menemui Aulia yang berada di dalam apartemen.
''Tapi, Dek. Aku mau bicara sebentar saja dengannya, aku juga mau bertemu dengan Alex."
Andika sengaja memasang wajah semenyedihkan mungkin agar Adisha merasa iba kepada dirinya, sayangnya Adisha malah terlihat menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Kakak harus berusaha sendiri agar kak Aulia mau bicara dengan Kakak, jangan memanfaatkan aku. Kak Aulia pasti ngga bakal suka," jelas Adisha.
"Hem," jawab Andika tertunduk lesu.