Buah Hati Untuk Sahabatku

Buah Hati Untuk Sahabatku
Merasa Tidak Percaya


Andini tidak menyangka jika Andika dan juga Alika akan membawa bayi yang masih berwarna merah ke dalam rumahnya, bayi yang sepertinya belum lama terlahir.


Bayi itu terlihat tampan dan juga terlihat sehat, hanya saja satu hal yang Andini anehkan. Wajah bayi itu terlihat begitu mirip dengan suaminya, Andika.


Andini ingin sekali percaya saat Andika mengatakan jika bayi yang dia bawa adalah pemberian dari sahabatnya, tapi rasanya itu sangat tidak mungkin.


Karena wajah bayi itu begitu mirip dengan Andika, Andini mulai berpikir. Mungkinkah Andika berselingkuh di belakangnya, sehingga wanita selingkuhannya itu melahirkan seorang bayi tampan yang kini dibawa oleh Andika?


Andini memang tidak bisa memiliki keturunan, Andini sadar betul dia tidak bisa mengandung. Karena rahimnya memang sudah diangkat.


Namun, satu hal yang sangat dia sadari. Andini tidak menyukai perselingkuhan, maka dari itu saat dia menikah dengan Andika dia benar-benar memutuskan hubungannya dengan Aiden.


Karena dia akan menikah dengan Andika dan dia harus setia kepada suaminya, walaupun kala itu mereka menikah tanpa cinta.


Jika sekarang Andini dekat dengan Anastasya, tentu saja itu murni karna dia begitu menyayangi putri dari Aiden tersebut.


Sama sekali bukan menyayangi ayahnya, karena rasa cinta Andini terhadap Aiden sudah hilang sejak beberapa bulan setelah dia menikah dengan Andika.


Sikap Andika yang begitu manis, lembut juga begitu perhatian dan pengertian membuat dirinya begitu mencintai sosok suaminya itu.


"Sayang, kenapa malah melamun?" tanya Andika seraya mengusap lembut kedua pundak istrinya.


Andini yang terlihat sedang melamun seakan tertarik ke alam nyata, dia terlihat menolehkan wajahnya ke arah Andika dan juga Alika.


Dia terlihat tersenyum canggung ke arah suami dan juga mertuanya itu, kemudian Andini berkata.


"Eh? Tidak apa-apa, hanya saja aku merasa jika wajah babynya mirip banget sama kamu. Aku kira kamu bawa anak selingkuhan kamu," celetuk Andini.


Andini sengaja mengatakan hal itu karena ingin mengetahui reaksi dari Andika, dia juga ingin melihat reaksi dari wajah Alika, mertuanya.


Dia benar-benar merasa tidak percaya jika bayi yang dibawa oleh Alika bukan anak dari Andika hatinya merasa gamang.


Andika dan Alika terlihat salinng pandang, begitu kaget kala Andini mengatakan hal tersebut. Kemudian, Andika terlihat berdehem beberapa kali dan berkata.


"Mana ada aku berselingkuh, aku tidak mungkin membawa anak yang terlahir tanpa pernikahan ke dalam rumah kita," kilah Andika.


Dengan berkata seperti itu Andini jadi berpikir, jika Andika benar-benar sudah menikah lagi. Lalu, dia membawa keturunannya ke dalam rumahnya.


Dia jadi bertanya-tanya dalam hatinya, wanita mana yang mau menikah dengan Andika lalu memberikan keturunannya, pikirnya.


Jika memang ada wanita yang seperti itu, berarti wanita itu benar-benar mempunyai cinta yang begitu besar terhadap Andika.


"Oh, gitu ya? Kamu mengatakan hal itu bukan berarti kamu menikah lagi dan membawa anak dari istri kedua kamu, kan?" tanya Andini yang masih merasa penasaran.


Andika begitu kaget dengan apa yang dikatakan oleh Andini, karena takut ketahuan, Andika segera mengalihkan pembicaraan.


Dia bahkan segera memeluk Andini dan menyandarkan wajahnya di pundak istrinya, dia kecup leher jenjang istrinya dan dia kusakkan wajahnya di cerukan leher istrinya.


"Sayang, sebentar lagi barang-barang untuk keperluan Axel akan datang. Apakah Axel akan tinggal bersama dengan kita atau harus punya kamar sendiri?" tanya Andika.


Andini bukan anak kecil lagi, dia bukan wanita yang bisa dibohongi oleh kelakuan manis dari Andika. Dia terlihat mengurai pelukannya, kemudian dia bertanya kepada Andika.


"Axel? Maksud kamu bayi yang digendong oleh Mom Alika itu, namanya Axel?" tanya Andini.


Andhika tersenyum lalu menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan, lalu dia berkata.


"Iya, Sayang," jawab Andika.


Untuk sesaat Andini terdiam, tidak lama kemudian dia berkata.


Sengaja Andini mengatakan hal tersebut, bukan karena dia membenci bayi yang dibawa oleh Andika.


Justru, dia ingin melihat reaksi dari Andika. Jika Andini memisahkan putra tampan yang dibawa oleh mom Alika bersama dengan Andika, apakah Andika akan bersedih atau tidak?


Karena Andini merasa, jika ikatan Andika dan juga bayi tersebut begitu kuat. Andini benar-benar tidak percaya jika bayi itu adalah anak dari sahabat Andika sendiri.


Andini akan lebih percaya, jika Andika berkata bahwa bayi itu benar-benar keturunannya dengan wanita yang sudah dinikahinya atau yang sudah menjadi selingkuhannya.


"Tapi, Sayang. Dia masih sangat kecil, dia baru saja berusia satu hari. Masa tidurnya harus terpisah dengan kita?" tanya Andika dengan penuh protes.


Andika merasa tidak terima jika dia harus berjauhan dengan putra tampannya tersebut, setidaknya jika dia tidak bisa bertemu dengan Aulia, dia bisa terus bersama dengan putra keduanya tersebut.


Menghadapi kenyataan jika Aulia sudah meninggalkan dirinya saja begitu menyakitkan untuk Andika, bagaimana bisa dia harus tidur terpisah dengan putra keduanya itu, pikirnya.


Melihat raut wajah Andika yang kini begitu gelisah dan kesal, Andini tersenyum miring. Dia menjadi semakin kuat dengan dugaannya, dia semakin yakin jika bayi yang dibawa oleh Andika adalah putra kandungnya sendiri.


Sepertinya setelah ini Andini akan mencari tahu tentang siapa dari ibu yang sudah melahirkan bayi yang Andika panggil Axel itu.


Andini juga akan mencari tahu, bagaimana sikap Andika dan perlakuan Andika di luar sana tanpa dirinya.


"Baiklah, Axel akan tidur bersama dengan kita. Tapi tetap harus ada baby sitter karena aku tidak berpengalaman dalam mengurus bayi," kata Andini lagi.


Andika terlihat begitu bahagia dengan apa yang dikatakan oleh Andini, karena dengan seperti itu Andika bisa terus bersama dengan putranya itu.


"Terima kasih, Sayang." Andika yang terlalu bahagia langsung mencium bibir istrinya dengan mesra.


Melihat kebahagiaan di wajah putranya, Alika langsung menggelengkan kepalanya. Apalagi melihat Andika yang mencium bibir istrinya di hadapannya sendiri, hal itu membuat Alika tidak pernah habis pikir dengan putranya itu.


"Ehm, Mila sudah datang. Dia ada di depan, apa mau disuruh masuk atau harus menunggu sampai kalian selesai--"


Belum selesai Alika meneruskan ucapannya, Andika dan Andini terlihat melepaskan tautan bibir mereka. Kemudian mereka menolehkan wajahnya ke arah Alika.


"Ehm, maaf, Mom. Aku terlalu senang," kata Andika. "Biar bibi yang akan membukakan pintu," kata Andika seraya memanggil bibi.


"Hem, Axel biar tidur sama Mom saja dulu. Kalian ngga usah khawatir, selama satu minggu Mom akan mengurusi Axel," kata Alika.


Andini merasa kaget karena ternyata Alika akan menginap di rumahnya, padahal mertuanya itu tidak akan pernah mau menginap di sana jika benar-benar tidak perlu.


Melihat gelagat dari Andika dan juga Alika, Andini benar-benar merasa curiga.


"Eh? Tidak usah, Mom. Biar aku saja," ucap Andini tidak enak hati.


"Tidak apa-apa, dia cucuku. Aku pantas untuk mengurusnya," kata Alika.


Andini benar-benar merasa tidak nyaman dengan apa yang dikatakan oleh Alika, Alika seolah menunjukkan kebenarannya jika bayi yang dia bawa adalah benar-benar keturunan dari Andika.


"Iya, terserah Mom saja," jawab Andini.


Setelah mengatakan hal itu, Alika nampak membawa Axel pergi ke kamar yang biasa dia tiduri ketika dirinya menginap di sana.


Andini hanya bisa tersenyum kecut melihat kepergian Alika yang diikuti oleh Andika dengan raut senang di wajahnya.


"Aku harus mencari tahu semuanya," kata Andini lirih.


Ya, Andini sudah memutuskan akan mencari tahu semua kebenarannya. Andini tidak mau dibohongi oleh Andika.