Buah Hati Untuk Sahabatku

Buah Hati Untuk Sahabatku
Pertengkaran


"Akh! Jangan kaya gitu!" seru Andini ketika tangan Andika mulai menyusup di balik dress yang dia pakai.


Tangan Andika bahkan terasa menyentuh pangkal pahanya, hal itu membuat Andini merinding dan menginginkan lebih.


Namun, saat ini Andini bukan ingin bercinta dengan suaminya. Justru saat ini Andini ingin menanyakan hal yang penting kepada suaminya tersebut.


Jika Andika berkata jujur kepada dirinya, maka Andini akan bertahan dalam rumah tangganya. Namun, jika Andika tetap bersikukuh dalam kebohongannya. Maka Andini akan memutuskan untuk berpisah dari Andika.


Ini bukan masalah Andini bisa punya anak atau tidak, hanya satu yang ingin Andini junjung tinggi dalam sebuah pernikahan. Yaitu kejujuran.


Jika dalam rumah tangga yang Andini dan juga Andika bangun tidak ada kejujuran, maka rumah tangga mereka dirasa tidak akan nyaman.


"Iya nggak, sekarang katakan apa yang ingin kamu tanyakan?" pinta Andika.


Andini terlihat menatap wajah adiknya dengan lekat, dia usap pipi pria yang sudah berumah tangga dengan dia selama empat tahun itu.


"Aku mau kamu jujur sama aku, apakah Axel putra kandung kamu dari wanita lain?" tanya Andini.


Deg!


Jantung Andika berpacu dengan cepat ketika Andini menanyakan hal tersebut, Andika merasa serba salah dibuatnya.


Pertanyaan yang Andini lontarkan terasa menjebak bagi dirinya, jika dia berkata jujur dia takut jika Andini akan marah dan meminta cerai darinya.


Jika dia berbohong, dia takut dosa karena memang kenyataannya Axel adalah putra kandungnya bersama dengan Aulia.


"Kenapa kamu diam saja, Mas. Jawablah dengan jujur," pinta Andini.


Andini sudah menarik napas dengan panjang, dia sudah bersiap untuk mendengarkan jawaban dari Andika.


"Dia putra dari sahabatku, dia menitipkannya untuk kita rawat dengan baik." Andika menjawab dengan mencari jalan aman.


Andini terlihat begitu kecewa dengan apa yang dikatakan oleh Andika, karena ternyata suaminya itu tidak mau jujur kepada dirinya.


Andini terlihat bangun dan turun dari tempat tidur, kemudian dia berdiri tepat di depan jendela. Andika melakukan hal yang sama, dia ikut turun dan menghampiri istrinya Andini.


Andika memeluk Andini dari belakang, lalu dia menyandarkan kepalanya di pundak istrinya tersebut.


"Kamu kenapa sih, Yang?" tanya Andika.


"Aku kecewa sama kamu, Mas. Karena kamu masih saja berbohong, padahal sudah jelas-jelas kamu menikah dengan wanita lain selama satu tahun ini."


Pada akhirnya Andini pun mengeluarkan semua unek-unek yang berada di dalam hatinya, dia sudah tidak sanggup lagi untuk menahannya.


Andika terdiam mematung karena bingung harus menjawab ucapan istrinya seperti apa, dia hanya terdiam seraya menunggu ucapan apalagi yang akan istrinya sampaikan.


"Padahal, kalau kamu berkata dengan jujur pun aku akan memaafkan kamu. Sayangnya kamu malah berbohong, aku tidak bisa menerimanya."


Tubuh Andika terasa sangat lemas mendengar apa yang dikatakan oleh istrinya tersebut, jika saja dia tidak memeluk Andini, sudah dapat dipastikan jika tubuhnya akan luruh ke atas lantai.


"Sekarang ceraikanlah aku, pergilah bersama dengan putramu. Bukannya aku tidak mau mengurus anak dari wanita lain, karena memang aku mandul dan tidak bisa memiliki anak. Namun, satu hal yang tidak bisa aku terima. Sebuah kebohongan yang terus kamu ucapkan dari bibir kamu itu, Mas."


Akhirnya air mata Andini luruh juga, kini Andini menangis sesenggukan. Dia benar-benar merasa kecewa karena ternyata Andika lebih memilih berbohong dari pada berkata jujur kepada dirinya.


"Pergilah, Mas! Cari kebahagiaan kamu sendiri, kalau perlu carilah Aulia. Berumah tanggalah dengannya, aku ikhlas," ucap Andini dengan derai air mata di kedua pipinya.


Andika seakan lupa jika Andini juga berasal dari mana, tentu saja akan sangat mudah bagi Andini untuk mencari tahu kebenaran tentang dirinya.


"Maaf, Mas minta maaf. Mas ngga mau cerai sama kamu," kata Andika mengiba.


Andini terlihat menghela napas sepenuh dada, kemudian dia mengeluarkannya dengan perlahan. Dia juga menyusut air matanya yang terus mengalir di kedua pipinya.


Dia berusaha untuk mengumpulkan kekuatannya, dia berusaha untuk tegar di hadapan Andika. Dia sudah bertekad jika dirinya hidup bisa hidup sendiri tanpa Andika.


"Aku juga minta maaf, Mas. Karena aku tidak bisa mempertahankan rumah tangga kita, maaf karena aku lebih baik menjanda dari pada harus dibohongi terus-menerus selama berumah tangga dengan kamu."


Andini terlihat membalikkan tubuhnya, lalu dia menatap Andika dengan lekat, Andika langsung menundukkan pandangannya karena tidak berani menatap wanita yang sudah empat tahun ini menjadi istrinya itu.


"Mari kita berpisah dengan baik-baik, mari kita mencari kebahagiaan kita masing-masing." Andini berkata dengan bibir yang bergetar karena menahan tangis.


Sebenarnya Andini begitu mencintai Andika, sayangnya Andini tidak suka dengan orang yang berkata bohong.


Bagi Andini kejujuran sangatlah penting walaupun akan menyakitkan, karena kejujuran tetap nomor satu di atas segalanya.


"Aku---"


Andini sekolah tidak ingin mendengar apa pun lagi dari mulut Andika, dia hanya takut hanya akan ada kebohongan yang keluar dari mulutnya.


"Sudahlah, Mas. Mari kita berpisah dengan baik-baik, jangan ada dendam di antara kita. Aku sudah tidak bisa lagi berumah tangga dengan kamu," kata Andini.


Setelah mengatakan hal itu, Andini terlihat mengambil tasnya lalu pergi dari dalam kamarnya tersebut.


Andini membutuhkan waktu untuk sendiri, Andini membutuhkan waktu untuk menenangkan diri. Dia ingin pergi tanpa melihat wajah Andika lagi.


Andika yang sudah dari tadi dia mematung kini meluruhkan tubuhnya ke atas lantai, dia tidak pernah menyangka jika kebohongan yang akan terungkap.


Dia benar-benar merasa sedih karena sudah menyakiti Andini, wanita yang selama ini sudah rela berkorban untuk dirinya.


"Maafkan aku, Andini, Sayang." Andika berkata dengan lirih.


Sebenarnya Andini merasa kesal, karena Andika tidak mengejar dirinya. Setidaknya Andika mengejar dirinya dan meminta maaf, itulah yang Andini diharapkan.


Namun, semua yang diharapkan seakan tidak berjalan dengan mulus. Hal itu semakin menguatkan Andini untuk bercerai dari Andika.


Andini terlihat melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi ke arah barat, dia ingin menenangkan pikirannya.


Andini begitu menyukai pantai, dia ingin berkeluh kesah di sana. Dia ingin berteriak sekencang-kencangnya, dia berharap dengan seperti itu kepedihannya akan berlalu bersama dengan deburan ombak.


"Semuanya sudah berakhir, Mas. Tidak ada lagi pernikahan impian, lagi pula aku hanya wanita yang tidak sempurna. Tapi, bukan berarti kamu bisa membohongiku begitu saja."


Andini terlihat memukul-mukul setir kemudi dengan begitu kuat, hal itu membuat tangannya sakit. Namun, dia tidak memedulikan hal itu.


Tentu saja hal itu terjadi karena hatinya kini lebih sakit, dia benar-benar tidak menyangka jika Andika masih tetap saja berbohong kepada dirinya


Dia tidak menyangka jika Andika tidak mengejar dirinya dan berusaha untuk memperbaiki hubungan mereka, ternyata Andini kini menyadari jika dirinya tidaklah penting di dalam hidup suaminya itu.


"Aku baru sadar, Mas. Jika Aulia adalah cinta sejati kamu, bukan aku!"