Buah Hati Untuk Sahabatku

Buah Hati Untuk Sahabatku
Merenung


Asep benar-benar tidak menyangka jika dirinya akan bertemu dengan bocah tampan yang sedang bermain sendirian, yang lebih dia tidak sangka lagi bocah tampan itu memanggil dirinya dengan sebutan ayah.


Bocah tampan itu terlihat menatap dirinya dengan binar bahagia di wajahnya, Asep menjadi serba salah dibuatnya.


Jika dia mengatakan jika dirinya bukan ayahnya, dia takut anak tampan itu akan kecewa. Namun, jika dia mengatakan dirinya adalah ayahnya, itu artinya dia berbohong.


Karena kenal saja dia tidak, lalu apa coba yang harus dia katakan, pikirnya. Jujur atau berbohong, keduanya merupakan hal yang sulit.


Satu hal lagi yang Asep takutkan, jika dia berkata jika dirinya adalah ayah dari bocah tampan tersebut, dia takut jika dirinya hanya akan dipermainkan oleh khayalan anak kecil tersebut.


"Ayah, kenapa Ayah diam saja? Tolong bicara padaku, kenapa Ayah baru pulang sekarang? Jawab dong pertanyaanku?" ucap bocah tampan itu.


Asep terlihat menghela napas berat, kemudian dia mengusap puncak kepala bocah tampan itu dengan penuh rasa iba.


"Aku, aku bukan--"


Baru saja Asep hendak menjawab pertanyaan dari bocah tampan tersebut, dia merasa jika dirinya lebih baik mengatakan kejujuran walaupun akan terasa menyakitkan.


Asep sudah memutuskan, jika dirinya akan mengatakan bahwa Asep tidak mengenal sama sekali bocah tampan itu.


Namun, mulutnya kembali terkatup rapat ketika dia melihat seorang wanita cantik sepantaran Aulia keluar dari dalam toko kue tersebut dengan tergesa.


Wanita cantik itu terlihat keluar dengan raut wajah khawatir dari dalam toko kue tersebut, Asep hanya bisa memandang wanita itu tanpa berkedip dan tanpa berkomentar.


Wanita itu terlihat memakai gamis yang menutupi seluruh auratnya, perempuan itu juga memakai kerudung instan yang membuat penampilannya menjadi semakin sempurna.


Wanita cantik itu sempat menolehkan wajahnya ke arah Asep, tapi tidak lama kemudian dia terlihat menolehkan wajahnya kembali ke arah putranya.


"Ya ampun, Hans. Buna sudah bilang, kalau kamu mainnya jangan di luar. Buna hanya sedang merapikan dapur, sebentar lagi juga selesai. Di dalam saja ya, Sayang tungguin Buna-nya," ucap wanita cantik tersebut.


Asep terlihat memandang wanita yang berada di hadapannya dengan tatapan penuh kekaguman, wanita itu benar-benar terlihat sempurna di mata Asep.


"Ya, Buna. Aku mau main di dalam, tapi Ayahnya juga diajak masuk ya?" ucap Hans mengiba.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Hans, sontak perempuan cantik itu terlihat menolehkan wajahnya ke arah pria yang berada tidak jauh dari putranya tersebut.


"Kamu siapa? Kenapa kamu ada di sini? Terus kenapa putra saya memanggil kamu dengan sebutan Ayah?" tanya perempuan tersebut beruntun.


Suara wanita itu saat bertanya terdengar begitu lembut, tapi tetap saja Asep merasa tersinggung dengan pertanyaan dari wanita cantik itu.


"Eh? Mana saya tahu, Nona. Saya pun bingung, dari tadi dia menanyakan kepada saya kenapa saya baru pulang? Padahal saya tidak mengenal putra anda, saya juga tidak paham kenapa dia memanggil saya dengan sebutan Ayah. Tolong jangan salah paham, terus melihat sayanya jangan kayak gitu juga, karena saya bukan orang jahat."


Asep terlihat tidak terima saat mendapatkan tatapan tidak mengenakkan dari wanita yang berada di hadapannya itu, Asep seolah menjadi seorang tersangka.


Malihat Asep yang seolah sedang membela diri, Hans terlihat menarik-narik tangan bunda-nya. Lalu dia pun berkata.


"Buna jangan marah, Ayah baru pulang loh. Ayah baru datang, jadi Buna nggak boleh marah-marah," ucap Hans.


Perempuan cantik itu terlihat duduk di teras, dia duduk tepat di samping putranya. Dia elus puncak kepala putranya, lalu dia kecup kening putranya dengan begitu penuh kasih sayang.


"Dengarkan Buna, Sayang. Abi kamu sudah meninggal, bukankah setiap hari Jumat kita selalu pergi ke makamnya? Lalu, kenapa kamu malah memanggil pria lain dengan sebutan Ayah?" tanya wanita itu.


Bocah tampan itu terlihat bersedih dengan apa yang ditanyakan oleh ibunya, dia langsung menundukkan kepalanya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Melihat perubahan raut wajah putranya, perempuan itu terlihat mengangkat tubuh mungil putranya dan mendudukkannya di atas pangkuannya. Lalu, dia peluk putranya dengan penuh kasih.


"Dengarkan Buna, Sayang. Abi sudah tiada, sekarang kamu masuk ya. Sudah sangat malam juga, Hans harus tidur," ucap wanita itu.


Bocah tampan itu terlihat mengurai pelukannya, kemudian dia mendongakkan kepalanya dan menatap wajah wanita itu dengan begitu lekat.


"Hans tahu kalau Abi sudah meninggal, kata pak ustadz orang yang sudah meninggal itu tidak akan bisa menemani kita lagi. Apakah Hans salah jika Hans ingin mempunyai ayah seperti teman-teman Hans yang lainnya?" tanya bocah tampan itu dengan begitu menggemaskan.


Ibu dari Hans terlihat begitu sedih mendengar ucapan dari putranya, matanya sudah berkaca-kaca.


Dia terlihat menengadahkan wajahnya, dia berharap jika air mata itu tidak turun. Asep yang melihat akan hal itu begitu terenyuh hatinya.


Ternyata wanita yang berada di hadapannya adalah seorang janda, wanita yang ditinggalkan oleh suaminya karena suaminya dipanggil oleh Sang Khalik.


"Hans tidak salah jika ingin memiliki Ayah seperti anak-anak yang lainnya, hanya saja tidak semudah itu untuk memiliki Ayah kembali," jawab wanita itu.


menden jawaban dari ibunya, Hans menundukkan kepalanya lebih dalam lagi. Selama ini dia selalu iri saat melihat sahabat-sahabatnya bermain bersama dengan ayah dan juga ibunya, sedangkan dia hanya memiliki Ibu saja.


Ayah Hans meninggal setelah 1 minggu dia dilahirkan, ayah Hans meninggal saat mengalami kecelakaan pesawat.


Beruntung Hans dan juga Buna-nya selamat dari kecelakaan maut itu, walaupun wanita itu sempat mengalami amnesia dan sempat melupakan Hans dan juga suaminya.


"Hem, kita masuk."


Wanita itu terlihat menggendong Hans untuk masuk ke dalam toko kue yang juga menjadi tempat tinggal dari wanita tersebut, Asep hanya bisa terdiam tanpa berkomentar apa pun.


Setelah wanita itu masuk bersama dengan putranya, Asep terlihat menatap toko kue yang berlantai 2 tersebut.


"Oh ya ampun, Asep. Sepertinya kamu harus banyak bersyukur, karena hidup kamu begitu sempurna. Ada ayah, ada ibu dan ada juga kakak tampanku yang begitu mesumm itu. Oke Asep?" monolognya pada dirinya sendiri.


Setelah mengatakan hal itu, Asep terlihat kembali menaiki motor matic yang dia pinjam dari pak Uyo. Kemudian, dia memutuskan untuk segera pergi.


Karena dia merasa jika sepertinya saat ini dia harus merenungkan hidupnya kembali, kehidupan yang begitu sempurna tapi tidak dia manfaatkan dengan sebaik-baiknya.


Tiba di apartemen, dia langsung menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur. Dia menatap kosong ke arah langit-langit kamar tidurnya dengan berbagai macam pikiran yang terlintas di pikirannya.


Dia masih mengingat akan kesedihan di mata Hans yang merengek meminta ayah kepada ibunya, sepertinya mulai saat ini Asep harus mempergunakan kehidupannya dengan sangat baik. Karena Tuhan begitu baik kepada dirinya.


Di usianya yang sudah beranjak dewasa dia masih diberikan kesempatan untuk mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya, sedangkan bocah tampan tersebut terlihat begitu merindukan kasih sayang sang ayah.


"Sepertinya mulai besok aku tidak boleh menyia-nyiakan kembali kehidupanku," ucap Asep bertekad dalam hatinya.


Di lain tempat.


Aulia terlihat menggeliatkan tubuhnya, rasanya dia begitu enggan untuk membuka matanya. Karena dia merasa jika tidurnya malam ini terasa begitu nyaman.


Namun, suara rengekan putranya yang sepertinya ingin menyusu membuat dirinya mau tidak mau segera membuka matanya.


Aulia langsung tersenyum ketika melihat wajah tampan Andika, Andika terlihat sedang memeluk dirinya dengan begitu posesif.


Dengan perlahan dia melepaskan pelukan suaminya, lalu dia turun dari tempat tidur dengan sangat hati-hati.


"Oh ya ampun, putra Mom bangun ya? Kamu haus ya, Sayang?" tanya Aulia ketika melihat Alex yang sedang menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.


Aulia terlihat menggendong putra pertamanya tersebut dengan sangat hati-hati, lalu dia mengajak putranya itu untuk duduk di atas sofa dan menyusuinya di sana.


"Mimi cucu yang banyak ya, Sayang. Kalau udah kenyang, nanti bobo lagi kayak dede Axel. Dia pules banget bobonya," kata Aulia seraya terkekeh.


Saat sedang asyik menyusui Alex, tiba-tiba saja Aulia melihat Andika yang menggerakkan tangannya ke kanan dan ke kiri. Dia seolah-olah sedang mencari sesuatu.


Aulia tersenyum, karena pasti Andika sedang mencari dirinya. Kehangatan yang dia dapatkan kini menghilang begitu saja, pikir Aulia.


Tidak lama kemudian, Andika terlihat membuka matanya. Dia langsung mengedarkan pandangannya, saat pandangannya bertemu dengan Aulia, dia langsung tersenyum lalu dia turun dari tempat tidur dan menghampiri Aulia.


"Kenapa tidak membangunkanku?" tanya Andika seraya ke mmerangkul lengan istrinya dan menyadarkan kepalanya di pundak istrinya tersebut.


"Untuk apa aku bangunin kamu? Orang aku mau nyusuin, ngapain juga mesti bangun-bangunin kamu. Emang kamu punya ASI?" tanya Aulia.


Andika terkekeh mendengar jawaban dari istrinya tersebut, dia mengecup pipi Aulia berkali-kali. Lalu, dia pun berkata.


"Setidaknya aku bisa menemani kamu menyusui putra kita," jawab Andika. Setelah itu dia kembali mengecup pipi istrinya.


"Tidak perlu, kamu tidur lagi aja sana. Besok kamu harus bekerja, aku tidak mau mengganggu waktu istirahat kamu."


"Tidak mau, aku mau menemani kamu. Walaupun aku tidak bisa menyusui, setidaknya aku bisa menemani kamu." Andika bersikukuh untuk menemani istrinya, dia tidak mau membiarkan Aulia hanya terbangun sendirian saja.


"Oh ya ampun, Andika, Sayang. Aku mohon kamu berbaringlah di tempat tidur, aku merasa terganggu kalau kamu seperti ini. Takutnya Alex tidak akan tidur dengan pulas," protes Aulia.


"Baiklah, tapi nanti kalau sudah menyusui kamu langsung tidur lagi ya? Peluk aku lagi pokoknya," ucap Andika manja.


"Iya, iya," jawab Aulia.


Andika terlihat tersenyum dengan sangat manis sekali, kemudian dia mengecup bibir Aulia beberapa kali dan segera menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur.


Aulia tersenyum melihat kelakuan dari suaminya tersebut, kemudian dia kembali menyusui Alex sampai putranya itu tertidur dengan begitu pulas.


Baru saja Aulia menidurkan Alex di box bayi miliknya, Axel terlihat terbangun dan mencari sumber air susunya. Aulia kemudian menggendong Axel dan segera menyusuinya.


"Kamu haus juga ya, sama kayak Abang? Minum asinya yang banyak ya, Sayang. Habis itu bobo lagi," ucap Aulia seraya mengusap pipi Axel dengan begitu lembut.


Sebenarnya Aulia ingin sekali tertawa, karena ternyata memiliki bayi kembar itu memanglah sangat merepotkan. Namun, terasa begitu menyenangkan.


Satu hal yang dia syukuri, Alex dan juga Axel tidak meminta air susunya secara bersamaan. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana repotnya ketika harus menyusui kedua bayinya sekaligus.


"Sepertinya besok aku harus memompa asi-ku, jadi kalau keduanya terbangun dan meminta air susuku, aku tidak akan kerepotan." Aulia terkekeh.