
Saat ini Aulia terlihat begitu gamang, haruskah dia menemui Andika? Atau haruskah dia mengabaikan lelaki yang masih menjadi suaminya itu?
Namun, setelah dia berpikir dengan keras. Dia merasa kasihan kepada Andika, karena walau bagaimanapun juga Andika adalah ayah dari anak-anaknya.
Apalagi kini Andika terlihat begitu lesu, dia terlihat membuka jas yang dia pakai dan menyimpannya di atas lantai. Lalu, dia terlihat duduk seraya menyadarkan punggungnya pintu pintu.
Dasinya terlihat tersampir di pundaknya, dua kancing kemejanya pun sudah terlihat terbuka. Sungguh Andika terlihat begitu menyedihkan.
Semakin lama Aulia memperhatikan, wajahnya terlihat semakin kusut. Rambutnya terlihat acak-acakan, karena berkali-kali dia terlihat menyugar rambutnya dan menjambaknya secara kasar.
Sungguh Aulia merasa jika Itu bukan Andika yang seperti biasanya, Andika yang sekarang benar-benar terlihat kacau.
Berkali-kali dia melihat layar monitor hanya untuk memperhatikan wajah Andika, hatinya semakin sakit.
Kini pikirannya sedang bergelut dengan perasaannya, tidak lama kemudian dia nampak menghela napas berat dan berkata.
"Sepertinya memang aku harus bicara dengan Andika, karena walau bagaimanapun juga kami harus menyelesaikan masalah ini secara dewasa," ucap Aulia lirih.
Setelah mengatakan hal itu Aulia terlihat membuka pintu apartemennya, Andika yang melihat pintu apartemen yang terbuka langsung bangun.
Senyum di bibirnya bahkan langsung mengembang ketika melihat Aulia yang kini berada di hadapannya, dia merasa sangat senang.
Karena merasakan begitu rindu, Andika bahkan tanpa ragu langsung memeluk istrinya tersebut. Walaupun Aulia sempat menolak, tapi Andika malah mengeratkan pelukannya.
"Aku rindu, Pimoy. Sangat, aku sangat merindukan kamu dan Alex." Andika mengeratkan pelukannya.
Dia seolah enggan untuk berpisah dengan Aulia kembali, Aulia yang merasa percuma memberontak pun akhirnya terdiam. Namun, dia tidak membalas pelukan dari suaminya tersebut.
"Aku kangen banget sama kamu," ucap Andika kembali.
Setelah mengatakan hal itu Andika terlihat menunduk lalu mengecupi puncak kepala istrinya, jika saja bukan dalam keadaan seperti ini, Andika pasti sudah mengecup bibir Aulia.
Sayangnya, mereka baru saja bertemu setelah beberapa hari berpisah. Andika yang tidak ingin Aulia marah terhadap dirinya, berusaha untuk menahan diri dengan sekuat tenaga.
'Aku juga begitu merindukanmu, daddynya anak-anak.'
Namun, Aulia tidak berani mengungkapkan hal tersebut secara langsung. Dia hanya mengucapkan kalimat tersebut di dalam hatinya, dia tidak berani berbicara apa pun kepada Andika.
"Kenapa kamu diam saja? Bicara dong, Yang!" pinta Andika.
Aulia masih bergeming, dia masih bingung harus mengatakan hal seperti apa kepada Andika, pria yang masih sah sebagai suaminya.
"Aku mau ngomong sama kamu, ini penting. Please kasih aku kesempatan buat ngobrol sama kamu," ucap Andika seraya melerai pelukannya.
Andika bahkan terlihat menatap Aulia dengan tatapan sendunya, dia seolah sedang mengemis agar diberikan izin untuk bisa berbicara dengan dirinya dan juga putra pertamanya.
Melihat tatapan Andika yang begitu dalam, Aulia terlihat memalingkan wajahnya. Masih ada perasaan takut di dalam hatinya, takut dirinya akan melemah.
"Memangnya ada yang masih harus kita bicarakan?" tanya Aulia tanpa berani menatap wajah Andika.
"Tentu saja ada, Sayang. Banyak hal yang harus kita bicarakan tentang Axel, tentang Alex dan juga tentang hubungan kita. Kumohon," pinta Andika memelas.
Aulia terlihat menghela napas berat mendengar apa yang dikatakan oleh Andika, walau bagaimanapun juga dia begitu mencintai Andika.
Walau bagaimanapun juga Andika adalah ayah dari kedua putranya, akhirnya Aulia terlihat memundurkan langkahnya.
Melihat akan hal itu Andika sempat berpikir jika Aulia tidak mau berbicara dengan dirinya, tapi dia salah. Karena kini dia melihat Aulia melebarkan pintunya.
Hal itu membuat Andika tersenyum dengan sangat lebar, dia bahkan dengan cepat masuk ke dalam apartemen yang kini Aulia tempati, karena dia takut Aulia akan berubah pikiran.
"Duduklah dulu," ucap Aulia seraya menyimpan jas milik Andika di atas sofa.
"Ya, Sayang," jawab Andika seraya duduk di salah satu kursi yang ada di ruang tamu tersebut.
Aulia juga melakukan hal yang sama, dia terlihat duduk tidak jauh dari tempat Andika berada.
"Kamu apa kabar Pimoy? Kenapa kamu terlihat lebih kurus?" tanya Andika seraya memandang tubuh Aulia yang semakin kurus saja, hanya dadanya yang terlihat begitu besar.
"Aku baik, kabar Alek juga baik."
"Syukurlah, di mana Alex? Bolehkah aku bertemu dengannya?" pinta Andika yang merindukan putra pertamanya.
Awalnya Aulia ragu untuk mengizinkan Andika bertemu dengan putra pertamanya, karena putra pertamanya kini sedang tidur dengan sangat terlelap di dalam kamarnya.
Namun, dia juga merasa tidak tega jika tidak mengizinkan Andika untuk bertemu dengan putra mereka. Karena walau bagaimanapun juga Andika adalah ayah dari kedua putranya.
"Boleh, masuklah. Dia ada di dalam kamar, dia sedang tertidur," jawab Aulia.
Wajah Andika kini terlihat lebih berseri lagi, karena Aulia memperbolehkan dirinya untuk bertemu dengan putra pertamanya.
"Tolong anterin," pinta Andika yang memang tidak tahu di mana letak kamar Aulia.
"Ya," jawab Aulia.
Aulia terlihat melangkahkan kakinya terlebih dahulu, sedangkan Andika terlihat mengikuti langkah Aulia dari belakang.
Saat tiba di dalam kamar, Andika terlihat tersenyum dengan sangat lebar karena dia kini melihat putra pertamanya sedang tertidur dengan sangat lelah.
Namun, tidak lama kemudian matanya terlihat berkaca-kaca. Bahkan, air mata terlihat mengalir deras di kedua pipinya. Dia terharu, dia senang, dia bahagia karena bisa bertemu dengan putra pertamanya.
Andika terlihat meluruhkan tubuhnya ke atas lantai, dia berdiri di atas kedua lututnya. Lalu, dia menyandarkan dadanya pada kasur tempat di mana Alex sedang tertidur dengan pulas.
Dia usap pipi bayi yang terlihat begitu mirip dengan dirinya itu, lalu dia menunduk dan dia kecup kening Alex dengan penuh cinta.
"Ini Daddy, Sayang. Daddy sangat rindu sama kamu, kamu mau ketemu sama dedek Axel ngga? Dia adik kamu yang juga tampan seperti kamu," kata Andika seraya terisak.
Alex seakan tahu jika dirinya sedang diajak berbicara oleh ayahnya, dia terlihat menggeliatkan tubuhnya.
Tidak lama kemudian dia terlihat membuka matanya, lalu dia terlihat menggerak-gerakkan kedua tangannya.
Andika terlihat begitu bahagia sekali, bahkan dia terlihat mengusap lengan Alex dengan jari telunjuknya. Alex kembali mangggeliat dengan matanya yang kini terbuka lebar.
"Oh, Sayang. Kamu sangat tampan, kamu sangat lucu," ucap Andika.
Setelah mengatakan hal itu Andika terlihat menolehkan wajahnya ke arah Aulia, dia seolah meminta izin kepada istrinya tersebut untuk menggendong putranya.
Aulia tersenyum lalu menganggukkan kepalanya, dia sangat tahu dengan apa yang diinginkan oleh Andika. Andika pasti ingin menggendong dan memeluk putra pertama mereka.
"Gendong saja, aku tidak keberatan," ucap Aulia.
Andika terlihat begitu senang sekali, dia langsung bangun dah duduk di tepian tempat tidur. Lalu, dia menggendong tubuh kecil Alex dan mengecupi kening bayi tampan itu.
"Kamu tampan sekali, Sayang. Mirip sekali dengan adik kamu dan juga Daddy." Andika terkekeh di sela isak tangisnya.
"Kamu tuh kepedean, dari tadi bilang Alex tampan tapi mirip kamu. Padahal kamu ngga tampan, kamu tuh nyebelin dan jelek," celetuk Aulia.
Mendengar apa ya dikatakan oleh Aulia, Andika terlihat menolehkan wajahnya ke arah istrinya tersebut. Dia terlihat menatap Aulia dengan tatapan yang bagitu sulit untuk diartikan.