
Sesuai dengan apa yang diinginkan oleh istrinya, Aulia. Kini Andika sedang berkeliling di komplek perumahannya, dia sedang mencari pohon buah Delima.
Hal itu dia lakukan untuk memenuhi keinginan dari istrinya tersebut, dia tidak ingin jika buah hatinya terlahir dengan iler yang terus saja menetes di sudut bibirnya.
"Kenapa permintaannya susah sekali?" tanya Andika.
Cukup lama dia berkeliling kompleks, tapi tetap saja dia tidak menemukan pohon buah Delima. Akhirnya Andika memutuskan untuk pulang terlebih dahulu ke kediaman Andini.
Andini yang terlihat sedang duduk di sofa yang ada di ruang tengah terlihat mengernyitkan dahinya, pasalnya Andika pulang dengan raut wajah tidak bersemangat.
"Kenapa pulang terlihat lesu begitu?" tanya Andini.
Andika terlihat menghampiri Andini dan menghempaskan bokongnya di atas sofa, dia menyandarkan kepalanya di pundak istrinya itu.
"Aku sedang pusing, istri sahabatku lagi ngidam. Katanya pengen buah Delima yang dipetik dari pohonnya," jawab Andika.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Andika, Andini terlihat mengernyitkan dahinya dengan dalam. Dia tidak mengerti kenapa Andika yang pusing, kenapa tidak sahabatnya saja, pikirnya.
Andika berkata jika istri dari temannya itu sedang mengidam, kenapa harus dia yang pusing-pusing untuk mencari buah Delima tersebut?
"Loh, kok bisa gitu sih, Mas? Kata kamu istri teman kamu itu hamil, dia ngidam pengen buah Delima, kok kamu yang capek?" tanya Andini.
Mendengar apa yang ditanyakan oleh Andini, Andika terlihat kelabakan. Dia bahkan seolah sedang mencari-cari alasan, agar Andini tidak curiga.
Walaupun hatinya bergemuruh, tapi dia berusaha untuk tersenyum dengan sangat manis. Kemudian, Andika berkata.
"Istrinya temen aku itu maunya aku yang nyariin, Sayang. Namanya juga orang ngidam, konyol banget kan, Sayang?" tanya Andika.
"Aneh sih, tapi nggak konyol juga. Ya sudah, kalau begitu kamu petik saja buah Delimanya," kata Andini.
"Justru itu, aku sudah muter-muter kompleks tapi tidak menemukan buah delima yang diinginkan oleh istri dari sahabatku itu," jawab Andika seraya meringis.
Andini langsung tertawa melihat wajah Andika yang menurutnya sangat lucu, Andika terlalu sibuk dengan urusannya sehingga dia tidak pernah mengajak Andini untuk sekedar meminum kopi di belakang rumah.
Padahal, Andini hobi sekali menanam tanaman organik. Bahkan Andini juga sempat menanam beberapa buah yang sudah disetek dari pohon milik temannya.
Dia juga mempunyai taman mini di belakang rumah, tempat itu merupakan tempat favoritnya saat dia merasa terpuruk dengan kondisi kesehatannya.
"Di belakang rumah aku punya pohon Delima, ambilah kalau kamu mau. Sudah ada yang matang kayaknya," kata Andini.
"Benarkah?" tanya Andika tidak percaya.
Dia sudah muter-muter komplek mencari buah yang namanya buah Delima itu, tapi pada kenyataannya dia tidak menemukan pohon Delima itu.
Saat dia pulang, justru Andini menyuruh dirinya untuk memetik buah Delima yang berada di belakang rumah.
Menurutnya, ini semua sangatlah konyol. Karena ternyata apa yang dia cari ada di dalam rumahnya sendiri.
"Oh ya ampun, aku tidak berbohong Mas. Aku berani bersumpah kalau di belakang rumah kita ada pohon Delima dan kamu boleh memetiknya," kata Andini.
Dia sengaja mengatakan hal itu, karena Andika seakan tidak percaya jika dirinya mempunyai pohon Delima di belakang rumah mereka.
"Syukurlah, kalau begitu. Istri temanku itu akan cepat memakan buah Delima yang sangat dia inginkan, terima kasih ya, Sayang," kata Andika seraya memeluk Andini.
Andika benar-benar bisa bernapas dengan lega, karena pada akhirnya apa yang diinginkan oleh istri keduanya itu bisa terpenuhi.
Padahal, dia sudah sempat berputus asa tidak akan bisa memetik buah Delima langsung dari pohonnya. Dia benar-benar takut Aulia akan kecewa terhadap dirinya.
"Sama-sama," jawab Andini.
Dalam hati Andini bertanya-tanya, sebenarnya siapa yang mengidam. Kenapa Andika terkesan begitu perhatian, Andini jadi merasa ada sesuatu hal yang aneh yang sedang terjadi di belakangnya.
Namun, Andini seolah tidak mau ambil pusing. Karena lebih baik saat ini dia menghadapi kehidupannya sendiri saja tanpa memedulikan orang lain.
Lalu, dia mulai melangkahkan kakinya untuk pergi ke belakang rumah. Namun, pertanyaan dari Andini mampu menhentikan langkahnya.
"Mas, mom Alika mengajak aku untuk memeriksakan kandungan besok. Aku harus bagaimana?" tanya Andini.
Sedari tadi Andini memang sedang kebingungan, bagaimana cara membujuk Alika agar tidak mengajak dirinya untuk melakukan pemeriksaan kandungan.
Andika yang mendengar akan hal itu juga terlihat bingung harus menjawab apa, tapi tidak lama kemudian dia pun berkata.
"Ehm, kalau besok mom datang. Bilang saja kalau kamu sudah memriksakan kandungan malam ini bersama dengan aku," jawab Andika.
Sebenarnya Andika tidak mau meminta cara ini kepada Andini, tapi hanya inilah satu-satunya cara agar ibunya tidak meminta dirinya menceraikan Andini.
Karena walau bagaimanapun juga, usaha milik keluarga Wijaya bisa kembali meraih puncak popularitasnya dengan bantuan dari perusahaan Andini.
Dia tidak mungkin menceraikan Andini setelah apa yang sudah Andini korbankan, Andika bahkan sangat tahu dengan pasti saat Andini menikah dengan dirinya, dia sudah mempunyai kekasih.
Bahkan, dia rela memutuskan kekasihnya hanya untuk menyelamatkan perusahaan Wijaya. Ayah Andini berkata jika ini adalah sebagai balas budi, karena ayahnya dulu pernah kecelakaan.
Dia membutuhkan banyak darah dan waktu itu ayah Andika yang mendonorkan darahnya untuk ayah dari Andini. Ayah Andini merasa berhutang budi kepada ayah dari Andika.
Sebagai bentuk balas budinya, ayah Andini memberikan bantuan kepada Alika. Tentunya dia menikahkan Andini dengan tujuan menitipkan putrinya pada keluarga Wijaya, karena saat itu kondisi ayah Andini sedang kritis.
Andini langsung menundukkan wajahnya ketika mendengar jawaban dari Andika, sudah pasti dia akan disuruh untuk berbohong lagi.
"Iya," jawab Andini dengan sedih.
Dia memang tidak bisa memberikan mertuanya keturunan, tapi dia benar-benar merasa berdosa karena selalu saja berbohong.
Andini selalu merasa sakit di dalam hatinya ketika melihat binar bahagia di mata Alika, Alika begitu antusias saat dia berkata jika dirinya sedang mengandung.
Setiap hari dia selalu mengirimkan makanan-makanan khusus untuk ibu hamil, dia selalu mengirimkan susu dengan rasa yang berpariasi.
Hatinya benar-benar sakit, walau bagaimanapun juga di adalah seorang perempuan. Rasanya sangat tidak tega harus membohongi seorang ibu.
Andika tidak memedulikan raut wajah Andini, dia langsung pergi ke belakang rumah karena memikirkan keinginan dari Aulia.
Tiba di belakang rumah, wajah Andika langsung sumringah. Karena dia melihat pohon Delima dengan buahnya yang begitu lebat.
"Woow, buahnya sangat banyak. Pimoy pasti sangat senang," kata Andika.
Ternyata Andini memang benar-benar pandai dalam merawat tanaman, karna di sana juga banyak buah-buahan selain buah Delima.
Andika juga melihat banyaknya sayuran organik, dia tersenyum karena itu artinya Andini mempunyai kegiatan selama berdiam diri di rumah.
Setelah mendapatkan buah Delima yang diinginkan oleh Aulia, Andika langsung berniat untuk pergi lagi.
"Mau ke mana?" tanya Andini saat melihat Andika hendak membuka pintu utama.
Andika terlihat menghentikan aktivitasnya, kemudian dia menolehkan wajahnya ke arah istri pertamanya itu.
"Ehm, mau memberikan buah Delima ini untuk istriku," jawab Andika tanpa sadar.
Mata Andini langsung membulat dengan sempurna ketika Andika mengatakan hal itu, hatinya terasa sangat sakit.
"Istri?" tanya Andini.
****
Hayo, akankah andini tahu jika andika memang sudah menikah lagi?