Buah Hati Untuk Sahabatku

Buah Hati Untuk Sahabatku
Pemuda Aneh


Andini merasakan tidurnya tidak tenang karena memikirkan tentang Andika, apalagi Andika lebih memilih untuk tidur di kamar Axel.


Bukan tanpa alasan Andika tidur di kamar Axel, karena setiap kali Andika pergi dari kamar tersebut Axel akan kembali menangis. Entah karena apa, Andika sendiri tidak tahu.


Hal itu membuat Andika serba salah, dia merasa tidak tega untuk meninggalkan putra keduanya tersebut.


Menghadapi kenyataan seperti itu, perasaan Andika benar-benar campur aduk. Apalagi jika mengingat Aulia yang meninggalkan dirinya bersama dengan putra pertamanya, hal itu benar-benar membuat Andika gamang dan terasa sulit untuk melangkahkan kakinya.


Bahkan, untuk bernapas saja Andika terasa begitu sesak. Semuanya terasa sulit baginya kini, Andika hanya bisa menangis seraya menatap wajah tampan putranya.


Selama semalam suntuk Andini memikirkan nasib rumah tangganya, Andini pun berpikir jika dirinya akan menerima Andika kalau Andika mau berkata jujur kepada dirinya.


Lagi pula Andika melakukan hal itu pasti karena dirinya yang mandul, Andika melakukan hal itu pasti karena Andini yang tidak bisa mempunyai keturunan.


Pasti bukan karena Andika berniat untuk berselingkuh dan bersenang-senang dengan wanita lain, karena buktinya Andika membawa putra dari wanita lain. Bukan membawa wanita lain ke dalam rumahnya.


Namun, jika Andika tetap berbohong dan tidak mau mengaku, maka Andini memutuskan untuk meminta cerai dengan Andika.


Untuk apa menikah dan berumah tangga dengan Andika, jika hanya akan ada kebohongan yang Andika ciptakan.


Andini yakin setelah ada satu kebohongan, maka akan muncul kebohongan-kebohongan yang lainnya. Dia tidak mau selama hidupnya terus dibohongi oleh Andika.


Walaupun wajahnya terlihat kuyu, tapi pagi ini Andini segera melaksanakan ritual mandinya. Lalu, dia melaksanakan shalat subuh.


Dia bersimpuh dan meminta petunjuk yang terbaik kepada Sang Khalik, dia ingin hidupnya tenang walau apa pun nanti kenyataannya yang akan dia hadapi.


"Sepertinya aku harus benar-benar menanyakan hal ini, agar semuanya lebih jelas," kata Andini dengan yakin.


Setelah mengatakan hal itu Andini terlihat melangkahkan kakinya untuk keluar dari dalam kamarnya, dia sempat masuk ke dalam kamar Axel.


Andini tersenyum kecut karena melihat Andika yang masih tertidur pulas di atas ranjang yang sama bersama dengan Axel, mereka benar-benar tertidur dalam posisi yang sama.


"Kalian terlihat begitu mirip, aku yakin jika kalian memiliki hubungan darah." Andini berkata dengan lirih.


Setelah mengatakan hal itu Andini memutuskan untuk keluar dari dalam kamar Axel, lalu dia melangkahkan kakinya menuju dapur.


Andini tersenyum kala melihat Alika yang sedang berkutat di dapur bersama dengan bibi, dia menghampiri Alika dan menyapa mertuanya tersebut.


"Selamat pagi, Mom. Mom nggak usah repot menyiapkan sarapan pagi, tadi malam pasti Mom tidak bisa tidur karena mengurus Axel. Biar aku saja dengan Bibi," tawar Andini dengan sopan.


Alika tersenyum mendapatkan perhatian seperti itu dari menantunya, selama ini mereka kurang dekat karena mungkin memang kurang komunikasi di antara keduanya, itulah pikir Alika.


"Tidak apa-apa, Sayang. Mom sudah terbiasa memasak sarapan pagi sendiri, Kita masak sama-sama saja, ya?" tawar Alika.


Alika memang terlahir dari keluarga kaya, tapi dia tidak pernah mengabaikan diri untuk urusan memasak.


"Baiklah, Mom. Tapi Mom harus ingat, Mom harus menjaga kesehatan," kata Andini dengan perhatian.


Tentu saja Andini tidak mau jika mertuanya itu sampai sakit, apalagi sekarang mertuanya sedang berada di rumahnya.


Bukan karena dia tidak mau merawat mertuanya, tapi dia merasa tidak enak hati jika saja Alika sakit saat berada di rumahnya tersebut.


"Pasti, Sayang. Pasti," kata Alika.


Setelah mengatakan hal itu, akhirnya Alika dan juga Andini terlihat memasak untuk sarapan pagi ditemani oleh bibi.


Selama mereka berdua memasak, Andini terus saja memancing-mancing ucapan agar Alika bisa berkata dengan jujur.


Apalagi Alika sudah sangat berpengalaman ketika dulu suaminya yang selalu berselingkuh dan bisa berkelit, maka dari itu Alika begitu rapat menyembunyikan pernikahan kedua putranya dengan Aulia.


Di tempat yang berbeda.


Pagi ini di rumah yang ditempati oleh Aulia terasa sangat ramai, karena tiba-tiba saja ada seorang pemuda yang datang dan berkata jika dirinya akan tinggal di sana untuk sementara waktu.


Dia berkata ditugaskan oleh kakaknya untuk menemani Aulia selama di sana, karena memang Adisha harus bekerja di luar kota.


Hal itu membuat Albert khawatir untuk meninggalkan Aulia dan juga Aisyah di tempat terpencil itu, maka dari itu dia mengirimkan adik kandungnya yang nakal itu.


Menurutnya, selain disuruh untuk menjaga Aulia dan juga Aisyah, adiknya juga bisa belajar tentang arti kehidupan dari Aulia dan juga Aisyah.


Hanya ada Aulia, Aisyah, Alex dan beberapa asisten rumah tangga di sana. Sebenarnya yang menjadi alasan utama Albert mengirimkan adiknya bukan karena untuk menjaga Aulia.


Karena menurut Albert, Aulia adalah seorang wanita yang begitu tegar dan kuat yang bisa melakukan hal apa pun walaupun sendiri.


Lebih tepatnya Albert mengirimkan adiknya yang dirasa bandel itu agar mau menjaga calon mertuanya yang kini keadaannya mulai melemah.


Ternyata benar, kanker otak yang diderita oleh Aisyah semakin menggerogoti tubuhnya. Bahkan, kini Aisyah terlihat begitu kurus.


Umur memang tidak ada yang tahu, tapi setidaknya Albert berusaha untuk memberikan teman sebelum Aisyah tutup usia.


"Jadi kamu adiknya Albert?" tanya Aulia seraya memandang pria muda di hadapannya.


Pria itu terlihat memakai kaos pendek berwarna abu-abu dipadupadankan dengan celana jeans dengan warna yang sama, dia terlihat tetap tampan.


Namun, celana jeans yang dia pakai terlihat begitu banyak robekan di setiap sisinya. Aulia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihat sosok pemuda di hadapannya itu.


"Iya, namaku Asep. Adik dari Albert," ucap Asep memperkenalkan diri.


Mendengar pria muda yang ada di hadapan yang memperkenalkan diri dengan nama Asep, tapi wajahnya terlihat kebarat-baratan, Aulia langsung tertawa dengan terbahak-bahak.


Hal itu bahkan membuat Aisyah heran sekaligus senang, karena baru kali ini Aulia kembali tertawa seperti itu. Berbeda dengan Asep, pria muda itu terlihat mendengkus kesal dengan respon dari Aulia.


"Ya ampun, apakah orang tuamu tidak salah memberikan nama kepadamu? Wajah kamu ganteng kayak orang bule, tapi kok namanya Asep?" ucap Aulia setengah mencibir.


Jika saja Aulia bukan salah satu orang penting di dalam hidup Albert, Ingin rasanya dia memaki calon kakak ipar dari kakaknya tersebut.


"Nama lengkapku Ansley Septian Carll, karena mommy orang Sunda dan katanya belibet kalau manggil nama aku, jadinya nama aku dia singkat jadi Asep,'' jawab jujur Asep.


Sebenarnya Aulia ingin tertawa mendengar apa yang dijelaskan oleh Asep, tapi dia berusaha untuk menahannya.


"Oh, ya sudah. Kalau begitu terima kasih sudah mau datang ke sini, sekarang ayo kita sarapan bersama," ajak Aulia.


Mendengar kata sarapan yang ditawarkan oleh Aulia, Asep terlihat begitu senang karena memang perutnya sudah terasa keroncongan.


"Baiklah, terima kasih calon kakak ipar kakakku yang baik," ucap Asep seraya melangkahkan kakinya menuju ruang makan.


Aulia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Asep yang dirasa terlalu kekanak-kanakan, Asep seperti bocah nakal yang susah diatur.


Namun, saat melihat wajah Asep rasanya dia pernah bertemu dengan bocah nakal itu. Namun, di mana tepatnya dia seakan lupa.


"Aku seakan pernah bertemu dengannya," ucap Aulia lirih.