
Awalnya Aulia merasa jika Andika terlalu mengatur urusan Adisha, adiknya. Menurutnya, Andika terlalu ikut campur untuk urusan dari adiknya tersebut.
Padahal, menurutnya Adisha sudah besar. Pasti dia sudah bisa mengatur hidupnya sendiri, dia pasti bisa menjalani kehidupannya dengan baik tanpa bimbingannya.
Namun, setelah dia melihat apa yang sedang Adisha lakukan bersama dengan Albert, dia langsung setuju jika Adisha memang harus tinggal bersama dengan dirinya dan juga Andika di kediaman Wijaya.
Dia takut jika adiknya akan kebablasan, dia takut jika Adisha akan melakukan hubungan terlarang dengan Albert sebelum waktunya.
Aulia bisa melihat sendiri bagaimana cara Adisha dan Albert saat berciuman, mereka terlihat begitu berhasrat.
Bahkan, Aulia bisa melihat bagaimana tangan Albert yang begitu posesif saat menekan tubuh Adisha. Hal itu membuat tubuh mereka saling menempel tanpa jarak sedikit pun.
"Apa yang sedang kalian lakukan?" tanya Aulia dengan sikap yang dibuat setenang mungkin.
Adisha bukan anak kecil yang harus dimarahi ketika melakukan kesalahan, dia sudah besar. Dia sudah pasti bisa merenungi kesalahannya sendiri, pikirnya.
"Ehm! Tidak ada, Kak. Kami tidak melakukan apa pun," ucap Adisha dengan gugup.
Setelah mengatakan hal itu Adisha langsung menggeret koper miliknya dan segera keluar dari dalam kamar yang dia tempati selama di apartemen itu, dia terlihat menunduk.
Albert terlihat menghela napas berat, kemudian dia mengikuti langkah dari kekasihnya tersebut. Antara rasa malu dan juga tidak ingin berpisah karena takut rindu, itulah yang Albert rasakan saat ini.
Setelah semuanya siap, akhirnya Aulia terlihat menggendong putranya. Sedangkan Andika terlihat membawa barang-barang milik Aulia dan juga putranya, Alex.
Adisha yang masih merasa malu terlihat menggeret kopernya sendiri, sedangkan Asep dan juga Albert terlihat mengikuti langkah mereka dari belakang.
"Hati-hati di jalan, kalau sudah sampai jangan lupa kabari aku," ucap Albert ketika Andika akan melajukan mobilnya.
Albert terlihat menekuk wajahnya ketika melihat Adisha yang kini sudah duduk manis di dalam mobil Andika, dia terlihat tidak rela ketika harus dipisahkan dari kekasihnya itu.
"Ya," jawab Adisha seraya menaikkan kaca mobilnya.
Dia tidak mau berlama-lama melihat wajah kekasihnya itu, karena takut tidak rela untuk berpisah. Selain itu dia juga merasa tidak enak hati kepada Andika dan Aulia.
Akhirnya Andika pun melajukan mobilnya menuju kediaman Wijaya, sedangkan Albert dan juga Asep terlihat kembali ke dalam apartemen.
Albert terlihat menghela napas kasar, kemudian dia menghempaskan tubuhnya ke atas sofa. Asep terlihat menggelengkan kepalanya, kemudian dia ikut duduk di samping kakaknya tersebut.
"Sabar ya, Kakakku, Sayang. Tinggal satu minggu lagi nanti Kakak sudah bebas mau melakukan apa pun dengan Adisha," ucap Asep seraya menepuk-nepuk pundak kakaknya.
Mendengar apa yang dikatakan oleh adiknya, Albert terlihat menatap wajah Asep dengan tatapan tajamnya.
Dia merasa tidak suka karena Asep berkata seperti itu seraya menatap dirinya dengan tatapan meledek, dia memyipitkan matanya lalu berkata.
"Anak kecil diam saja, tidak usah banyak bicara! Kamu tuh belum tahu apa-apa,
jangankan merasakan bermesraan dengan seoarang wanita. Kamu dilirik cewek saja belum pernah, kamu itu sebenarnya normal atau enggak sih?" tanya Albert.
Bukan tanpa sebab Albert bertanya seperti itu, karena selama ini dia belum pernah dia melihat adiknya itu berdekatan dengan seorang wanita. Bahkan, asep terkesan menghindari wanita. Hal itu membuat Albert curiga.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Albert, Asep terlihat memundurkan tubuhnya. Kemudian dia menatap wajah Albert dengan kesal.
"Hastaga! Kakak meragukan kejantananku? Aku adalah pria sejati, hanya saja aku belum menemukan wanita yang cocok. Kalau aku sudah menemukan wanita yang cocok, aku pasti akan langsung menikahinya. Tidak perlu yang namanya pacaran, apalagi sosor-sosoran sebelum waktunya halal."
Asep mengatakan hal tersebut dengan bersungut-sungut, karena dia merasa kesal terhadap kakaknya tersebut. Setelah mengatakan hal itu, Asep berlangsung pergi seraya menggerutu menuju kamarnya.
"Dasar lelaki aneh, bisa-bisanya menanyakan hal seperti itu. Aku ini pria sejati, hanya saja aku tidak pernah main sosor sama seperti dirinya," ucap Asep seraya membanting pintu.
Albert sampai terlonjak kaget seraya mengelusi dadanya, dia tidak menyangka jika Asep akan semarah itu ketika dirinya bertanya seperti itu.
Di lain tempat
Andika terlihat turun dengan cepat, lalu dia membukakan pintu mobil untuk Aulia. Dia begitu senang karena akhirnya bisa pulang dengan istri dan juga putranya.
Berbeda dengan Adisha, dia terlihat turun dari mobil dengan wajah ditekuk. Dia masih kesal tapi juga tidak bisa berbuat apa-apa.
"Ayo masuk, di luar sangat dingin. Nanti kamu bisa sakit," ucap Andika dengan penuh perhatian.
Setelah mengatakan hal itu, Andika terlihat menuntun Aulia untuk segera masuk ke dalam kediaman Wijaya. Sedangkan Adisha terlihat mengikuti langkah kakak dan juga kakak iparnya itu dengan sesekali menghentakkan kakinya.
Dia sangat tahu dengan apa yang sudah dilakukan adalah hal yang salah, tapi ketika mendapatkan teguran dari Aulia, dia merasa tidak suka. Walaupun Aulia tidak menegurnya secara langsung.
"Assalamualaikum!"
Andika dan juga Aulia terlihat mengucapkan salam ketika memasuki pintu utama, mendengar suara Aulia, Alika terlihat berlari untuk menemui menantunya.
Matanya langsung berkaca-kaca ketika melihat siapa yang datang, apalagi melihat Alex yang kini berada di dalam gendongan Aulia. Dia merasa senang dan juga terharu.
"Oh ya ampun Pimoy, Sayang. Ini beneran kamu, Sayang? Kamu datang dengan cucuku?" tanya Alika dengan penuh haru.
Aulia terlihat menganggukkan kepalanya dengan air mata yang sudah berurai di kedua pipinya, antara bahagia dan juga terharu, itu yang Aulia rasakan.
Namun, ada rasa bersalah karena dia pergi tanpa berpamitan kepada Alika. Bahkan, dia sempat menjauhkan cucunya dari neneknya tersebut.
"Mom sangat rindu," ucap Alika seraya memeluk tubuh Aulia. Lalu dia menunduk dan mengecup kening Alex.
Aulia merasa terharu dengan perlakuan dari mertuanya tersebut, rasa bersalah benar-benar menyeruak dasar hatinya saat melihat wajah mertuanya.
"Ini pasti cucuku, kan? Ini pasti Alex, Iya, kan?" tanya Alika dengan tidak sabar.
Aulia terlihat menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan, lalu dia mengelus lembut lengan Alika yang menatapnya putranya dengan penuh kerinduan.
"Yes, Mom. Dia Alex," jawab Aulia.
Alika memandang bayi yang Aulia gendong dengan penuh kasih, kemudian Alika menatap Aulia dan kembali bertanya.
"Bolehkah aku menggendongnya?" tanya Alika dengan penuh harap.
"Boleh, Mom. Tentu saja boleh," kata Aulia seraya menyerahkan Alex pada ibu mertuanya tersebut.
Dengan senang hati Alika langsung menerima Alex dan memangkunya dengan penuh kasih, lalu dia menunduk dan mengecup kening cucunya.
"Kamu pergilah ke dalam kamar Axel, biar Mom yang urus Alex," kata Alika.
Wajah Aulia terlihat berbinar ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Alika, mertuanya tersebut seolah paham jika dirinya begitu merindukan putra keduanya.
Dia begitu ingin menemui Axel dan juga menyusuinya secara langsung, dia ingin memeluknya dan juga mengecup bayi keduanya itu.
"Terima kasih, Mom."
Aulia yang begitu bahagia langsung meminta Andika untuk mengantarkan dirinya menuju kamar Axel, dia sudah begitu merindukan putra keduanya tersebut.
Melihat kepergian kakaknya, Adisha terlihat menolehkan wajahnya ke arah Alika. Kemudian dia pun berkata.
"Ehm, maaf, Mom. Aku harus ngapain sekarang?" tanya Adisha yang kebingungan.