Buah Hati Untuk Sahabatku

Buah Hati Untuk Sahabatku
Tidak Akan


Pagi ini suasana di kediaman Wijaya terasa sangat ramai sekali, saat Aulia, Alika dan juga Andika tengah melaksanakan sarapan, Alex dan juga Axel kompak menangis dengan sangat kencang.


Tentu saja hal itu terjadi karena mereka ingin mendapatkan sumber makanannya, Alika dan juga Andika terlihat sangat panik.


Karena mereka takut Aulia kesusahan untuk menyusui kedua putranya secara bersamaan, melihat kepanikan di mata suami dan juga mertuanya Aulia terkekeh, kemudian dia berkata.


"Biar aku yang menyusui Axel, kamu menyusui Alex ya, Andika, Sayang?" ucap Aulia.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Aulia, Andika terlihat membulatkan matanya dengan sempurna.


Dia adalah seorang laki-laki, dia tidak mempunyai ASI. Lalu, bagaimana cara dia menyusui putranya tersebut, pikirnya.


Andika benar-benar bingung dan juga heran dengan perkataan Aulia, dia terlihat menatap istrinya dengan raut wajah kebingungan.


Aulia ingin sekali tertawa saat melihat raut wajah suaminya, tapi sekuat tenaga dia mencoba untuk menahan agar tawanya tidak pecah.


"Oh ya ampun, Daddy. Kamu tidak usah menatapku seperti itu, saat kamu mandi dan melaksanakan shalat subuh, aku memompa asiku. Jadi--"


"Aku paham, Sayang. Aku kira tadi kamu menyuruh aku untuk menyusui putra kita, aku tidak punya--"


Andika terlihat menghentikan ucapannya, lalu dia tersenyum ke arah istrinya dan mengulurkan tangannya untuk menyentuh dada istrinya tersebut.


Alika yang melihat hal itu terlihat menggelengkan kepalanya kemudian dengan cepat dia menepis tangan putranya tersebut.


"Jangan suka aneh-aneh, istri kamu baru saja melahirkan. Kalau pengen kamu yang rugi sendiri," ucap Alika.


Andika tersenyum kecut mendengar apa yang dikatakan oleh ibunya, karena pada kenyataannya pasti dia yang akan rugi sendiri jika hasratnya sudah terpancing.


Namun, dia tidak bisa melakukannya karena istrinya masih dalam masa nifasnya.


"Iya, Mom." Andika terlihat menggaruk pelipisnya yang tiba-tiba saja terasa gatal.


Setelah mengatakan hal itu, Andika terlihat bangun dan segera menggendong Alex yang masih menangis.


"Ini asi yang tadi pagi sudah dipompa sama Nyonya, Tuan."


Seorang asisten rumah tangga memberikan botol susu yang sudah terisi asi, Andika tersenyum lalu menerima asi tersebut.


"Terima kasih," ucap Andika.


Setelah terjadi drama di pagi hari, akhirnya Alex dan Axel kini menyusu dengan tenang. Hanya saja, Axel menyusu dari sumbernya. Berbeda dengan Alex yang menyusu dari botol susu.


"Kasihan sekali kamu, Sayang. Nasib kamu sama kaya Daddy, ngga dapet nyusu dari sumbernya," celetuk Andika. "Eh? Tapi kamu masih mending, nanti bisa gantian enen sama Adek kamu."


Pletak!


"Aduh, sakit Mom!" keluh Andika ketika dirinya mendapatkan sentilan dari Alika.


Andika langsung menatap wajah ibunya dengan tatapan kesal, karena ibunya itu dengan sengaja menyentil jidatnya sampai terasa begitu sakit.


"Lagian kamu tuh ngomongnya ngga bener, dia itu masih bayi. Tapi kamu sudah mengajarinya hal yang tidak-tidak," tegur Alika.


Andika langsung mencebikkan bibirnya ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Alika, karena sungguh Andika tidak berniat untuk mengajarkan hal yang aneh-aneh terhadap putranya tersebut.


Dia hanya ingin mencurahkan isi hatinya kepada putranya, jika memang Andika tidak boleh menyentuh dada Aulia selama 2 tahun.


"Sorry, Mom. Tapi itu kenyataan," kata Andika seraya mengusap keningnya yang sakit.


Alika terlihat menggelengkan kepalanya dengan apa yang dikatakan oleh Andika, karena putranya itu tetap saja menjawab ketika dirinya menegurnya.


Melihat perdebatan di antara suaminya dan juga mertuanya, Aulia hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Berbeda dengan Alika, melihat tingkah dari Andika yang seperti itu dia teringat akan apa yang dulua selalu dilakukan oleh siaminya.


Mendengar apa yang diucapkan oleh Andika, dia menjadi teringat akan apa yang selalu dikatakan oleh suaminya kepada dirinya. Suaminya memang sangat messum tapi juga perhatian.


Dia juga sudah mengecewakan Alika dan membuat dirinya sering menangis dengan apa yang selalu dia lakukan, yaitu berselingkuh di belakangnya.


Jika mengingat suaminya yang berlaku seperti itu, Alika benar-benar berharap jika Andika tidak akan melakukan hal yang sama.


Untuk apa yang pernah dia lakukan, Alika bisa memahaminya, karena mungkin selain ingin mendapatkan keturunan, dia juga tidak bisa melupakan cinta pertamanya. Dia tidak ingin berpisah kembali dengan cinta pertamanya, hal itu di luar dugaannya.


"Kamu harus ingat ya, Sayang. Kamu sudah mempunyai istri dan juga dua anak, Mom harap kamu tidak akan menghianati Aulia. Mom harap kamu tidak akan membagi hati kamu dengan banyak wanita," ucap Alika penuh harap.


Andika langsung menatap wajah ibunya dengan serius ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Alika, sungguh Andika tidak pernah berniat untuk membagi hatinya.


"Tidak akan, Mom. Tidak akan pernah, kalau saja dulu Mom tidak memaksaku untuk menikahi Andini, aku tidak akan pernah membiarkan Andini untuk masuk di dalam hatiku. Dari dulu aku tetap mencintai Aulia, dari dulu tetap Aulia yang memenuhi relung hatiku."


Andika terlihat berkata dengan jujur, karena pada kenyataannya Andika tidak pernah berniat untuk membagi hatinya.


Dia hanya ingin menjadikan Aulia sebagai istrinya satu-satunya di dalam kehidupannya, sayangnya saat itu keberuntungan seolah tidak berpihak kepada dirinya


Dia malah dipaksa untuk menikah dengan wanita yang tidak dia kenal hanya untuk menyelamatkan perusahaan Wijaya, sialnya sebagai seorang anak yang berbakti dia tidak bisa menolaknya.


Walaupun pada awalnya dia memang ingin berniat untuk kabur dan menikah dengan Aulia, sayangnya dia tidak bisa melakukan hal itu, karena Aulia sudah pergi terlebih dahulu dari kehidupannya.


Alika tersenyum getir mendengar apa yang dikatakan oleh putranya, karena memang dirinya-lah yang memaksa Andika untuk menikah dengan Andini.


"Maaf, Maafkan Mom," ucap Alika dengan raut wajah sedih.


"Sudahlah, Mom. Yang lalu biarlah berlalu, jangan membahas apa pun lagi."


Andika terlihat berbicara dengan begitu bijak, hal itu membuat Alika yakin jika putranya kini sudah semakin dewasa.


"Ya, Mom paham," jawab Alika.


Di lain tempat.


Selepas melaksanakan ritual sarapannya, Andini terlihat bersiap untuk pergi ke kantor. Ya, kini Andini mempunyai kegiatan baru. Yaitu bekerja di kantor miliknya sendiri, kantor yang Andika buatkan khusus untuk Andini.


Tentunya sebagai bentuk terima kasihnya karena dulu berkat Andini perusahaan Wijaya berkembang dengan pesat, perusahaan Wijaya kembali pulih berkat sokongan dana dari perusahaan milik ayah Andini.


Andika mengembalikan semua saham yang diberikan oleh ayah Andini, dia juga memberikan semua keuntungan yang didapat dari saham milik ayah Andini.


Andika juga memberikan tiga puluh persen saham miliknya sendiri, perusahaan yang dia rintis dari nol. Hal itu dia lakukan sebagai bentuk rasa terima kasih Andika kepada Andini.


"Mandi udah, sarapan sudah, cantik juga sudah. Sekarang saatnya berangkat bekerja," kata Andini seraya terkekeh.


Setelah mengatakan hal itu, Andini terlihat mengedarkan pandangannya. Kemudian dia tersenyum kecut, lalu keluar dari dalam kamarnya.


"Semuanya hanya masa lalu, Andini. Kamu tidak boleh diingat-ingat Andika lagi, sekarang aku harus menjalani kehidupanku yang baru. Semangat Andini!"


Setelah mengatakan hal itu, Andini terlihat keluar dari dalam rumahnya. Karena dia harus segera berangkat untuk bekerja.


Namun, Andini terlihat begitu kaget ketika melihat Aiden yang sudah berada di halaman rumahnya. Aiden terlihat tersenyum manis seraya menatap wajah Andini dengan tatapan yang begitu sulit untuk diartikan.


"Kamu ngapain pagi-pagi di sini?" tanya Andini.