Buah Hati Untuk Sahabatku

Buah Hati Untuk Sahabatku
Flash Back 1


Setelah kepergian Andini, cukup lama Andika terdiam. Bahkan, kini dia hanya duduk seraya menatap pintu kamar yang masih terbuka.


Dia bahkan masih terlihat memakai handuk yang melilit di pinggangnya, Andika seperti tidak ada niatan untuk melakukan apa pun.


Dia hanya terdiam seraya menatap kosong ke arah ambang pintu, entah apa yang dia pikirkan tidak ada yang tahu.


Andika terlarut dalam lamunannya, begitu banyak hal yang kini berkecamuk di dalam benaknya. Hingga suara tangisan dari Axel seakan menarik dirinya untuk tersadar dari lamunannya.


"Oh ya Tuhan, putraku menangis." Andika berkata dengan raut khawatir di wajahnya.


Setelah mengatakan hal itu Andika terlihat bangun dan segera memakai pakaiannya, lalu dia langsung melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam kamar putranya yang berada tepat di samping kamarnya sendiri.


"Ada apa?" tanya Andika ketika melihat Mila yang kerepotan menenangkan putranya.


Mila terlihat begitu kaget saat mendengar teguran dari Andika, dia takut jika Andika akan marah karena tidak bisa menenangkan Axel.


"Ini, Tuan. Tuan muda terus menangis, dia tidak mau diam," jawab Mila.


Andika benar-benar merasa sedih melihat putranya yang terus saja menangis, dia benar-benar tidak tega melihat putranya yang kini berjauhan dengan ibunya.


"Biar aku yang menggendongnya, kamu pergilah!" ucap Andika seraya mengambil alih Axel dari gendongan Mila.


"Ya, Tuan," jawab Mila.


Setelah mengatakan hal itu Mila nampak keluar dari kamar Axel, sedangkan Andika terlihat merebahkan tubuh Axel, lalu memberikan susu formula kepada putranya.


Putranya itu langsung terdiam ketika dirinya yang memberikan susu formula, dia merasa heran. Kenapa setiap Mila menggendongnya dia tidak pernah mau diam, selalu saja menangis.


"Kamu kenapa, Sayang? Pengen diurusin sama Daddy, hem?" tanya Andika seraya mengusap pipi Axel yang masih berwarna merah itu.


Rasa sedih langsung menyeruak ke dasar hatinya, ketika melihat putranya kini mulai tertidur dengan pulas.


Putranya sangat malang karena tidak mendapatkan kasih sayang dari ibunya, putranya sangat malang karena ditinggalkan oleh ibunya.


Apalagi ketika Andika mengingat Aulia yang sudah pergi meninggalkan dirinya bersama dengan putra pertamanya, dia benar-benar merasa sangat sedih.


Dia benar-benar merasa sedih karena terpisah dari istri keduanya dan juga putra pertamanya, hatinya sangat sakit.


"Maafkan, Daddy. Jika saja Daddy bisa tegas, semua ini tidak akan terjadi," ucap Andika seraya mengusap air mata yang mengalir di kedua pipinya.


Andika menatap wajah putranya yang terlihat begitu tampan, wajahnya begitu sama dengan dirinya. Andika tersenyum, kemudian dia berkata.


"Wajah kamu sangat mirip Daddy, sepertinya karena Daddy terlalu mencintai mommy kamu. Makanya wajah kamu mirip Daddy," kata Andika seraya tersenyum getir.


Andika ikut merebahkan tubuhnya di samping putranya, karena putranya itu sudah terlelap dalam tidurnya.


"Kamu tahu, Sayang. Daddy itu sangat mencintai mommy kamu, dia itu cinta pertama Daddy. Dia itu selalu ada buat Daddy, tapi--"


#Flash Back On#


"Gue udah ngga sabar buat nyatain perasaan gue sama Pimoy, gue udah ngga sabar untuk menikah sama cewek gendut kesayangan gue."


Andika tersenyum senang seraya menatap cincin berlian yang baru saja dia beli, selama satu tahun ini dia ikut membantu di perusahaan Wijaya.


Tentu saja hal itu dia lakukan karena dia begitu menyayangi ibunya, Alika. Setelah lulus kuliah dia memilih untuk membantu ibunya dalam memajukan usahanya.


Beruntung dia merupakan lulusan terbaik dari sebuah universitas negeri dengan nilai yang terbaik, hal itu mempermudah dirinya dalam mendapatkan pekerjaan.


Andika sangat bangga dengan sahabat dan juga cinta pertamanya itu, dia bahkan sudah berencana untuk untuk melamar Aulia malam ini.


"Gue harap elu mau menerima lamaran dari gue, karena elu adalah sahabat dan cinta sejati gue."


Andika berkata dengan penuh harap, karena dia benar-benar ingin menjadikan Aulia sebagai istrinya.


Malam harinya.


Andika terlihat sudah tampan, dia ingin menemui Aulia. Sahabat sekaligus cinta pertamanya itu, sayangnya saat dia akan berpamitan kepada Alika, Alika terlihat sedang menangis.


"Mom, ada apa?" tanya Andika seraya duduk tepat di samping Alika dan mengelus lembut punggung ibunya tersebut.


Alika terlihat menyusut air matanya dengan kedua telapak tangannya, kemudian dia menolehkan wajahnya ke arah Andika dan menatap putranya itu dengan serius.


"Perusahaan kita mau bangkrut, Sayang. Kita butuh sokongan dana yang banyak," jawab Alika.


Andika benar-benar merasa kaget dengan apa yang dikatakan oleh ibunya tersebut, tapi dia berusaha untuk bersikap tenang agar tidak membuat ibunya panik.


"Lalu?"


Mendengar pertanyaan dari putranya, Alika terlihat tersenyum kecut. Dia mengelus lembut puncak kepala putranya lalu berkata.


"Ada temen almarhum ayah kamu yang mau ngasih sokongan dana, tapi dia mau kamu menikah dengan putrinya." Alika menatap Andika dengan tidak enak hati.


Kali ini Andika benar-benar tidak bisa bersikap tenang lagi ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Alika, jika dirinya harus menikah dengan teman dari almarhum ayahnya, lalu bagaimana kisah cintanya dengan Aulia, pikirnya.


Padahal, dia sudah berencana akan melamar Aulia malam ini juga. Andika tidak mau berjauhan dengan wanitanya, Andika ingin memiliki Aulia seutuhnya.


"Tapi, Mom--"


Andika ingin membantahnya, dia tapi kata-kata bantahan itu seakan tercekat di tenggorokannya.


"Demi perusahaan kita, Sayang. Mom juga bingung harus bagaimana, kalau kamu bersedia menikah dengan anak temen almarhum daddy, kita akan datang ke Rumah Sakit."


Andika terdiam, dia dilema. dia ingin melamar Aulia sahabat sekaligus cinta pertamanya. Namun, Tuhan seakan tidak mengizinkan.


Karena kini Alika malah meminta dirinya untuk menikahi anak dari almarhum daddynya, demi sokongan dana.


Andika hanya bisa melamun seraya menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa, dia benar-benar merasa frustasi saat mengetahui kenyataan yang ada.


Melihat akan putranya yang hanya diam saja, Alika merasa tidak enak hati. Sedih dan juga takut jika putranya itu tidak mau menuruti keinginannya, itulah yang dia rasakan saat ini.


"Bagaimana, Sayang? Apakah kamu mau membantu perusahaan kita?" tanya Alika dengan tidak enak hati.


Andika tidak menjawab pertanyaan dari ibunya dengan suaranya, tapi dia hanya menganggukkan kepalanya dengan lemah.


Andika bisa saja menolak jika dirinya tidak mau menikah dengan putra dari teman daddynya tersebut, tapi dia harus memikirkan perusahaannya yang sedang diambang kebangkrutan.


"Terima kasih, Sayang. Terima kasih karena kamu sudah mau menuruti keinginan, Mom," kata Alika seraya tersenyum getir.


Setelah mengatakan hal itu Alika mengajak Andika untuk pergi ke Rumah Sakit, dia ingin menemui sahabat dari suaminya yang kini sedang tergolek lemas di Rumah Sakit.