
"Terima kasih, Sayang. Terima kasih karena kamu sudah mau menuruti keinginan, Mom," kata Alika seraya tersenyum getir.
Setelah mengatakan hal itu Alika mengajak Andika untuk pergi ke Rumah Sakit, dia ingin menemui sahabat dari suaminya yang kini sedang tergolek lemas di Rumah Sakit.
Saat perjalanan menuju Rumah Sakit, Andika sempat mengirimkan pesan kepada Aulia. Dia memberitahukan kepada Aulia jika dirinya tidak bisa datang.
📲💓"Sorry, Pimoy. Gue ngga bisa dateng, nyokep gue malah minta gue buat nikahin anak temen almarhum daddy. Perusahaan terancam bangkrut, gue harus gimana ini?"
Cukup lama Andika merenung setelah mengirimkan satu pesannya kepada Aulia, hingga lamunannya buyar ketika ponselnya berdenting menandakan ada pesan balasan dari Aulia.
📲💓"Ya udah nikah aja, demi perusahaan."
Hanya itu balasan pesan dari Aulia, hal itu membuat Andika kesal karena Aulia terkesan tidak ada perasaan sama sekali kepada dirinya.
📲💓"Tapi gue ngga mau nikah sama perempuan yang ngga gue kenal, gue kawin lari aja sama elu, ya?"
📲💓"Ngga bisa kayak gitu, ini saatnya buat elu berbakti sama orang tua elu. Lagian gue siapa sih? Kalau elu kawin lari sama gue, elu bakal hidup susah."
Andika benar-benar kesal membaca pesan balasan dari Aulia, dia hanya bisa berdecak kesal. Lalu, dia menyimpan ponselnya ke dalam saku celana
Alika sempat memperhatikan wajah putranya, sebenarnya dia juga merasa tidak tega karena harus menumbalkan putranya.
Namun, dia tidak tahu harus bagaimana lagi. Karena perusahaan miliknya kini membutuhkan banyak sokongan dana.
Saat tiba di Rumah Sakit, Alika langsung mengajak putranya untuk masuk ke dalam ruang perawatan teman dari almarhum suaminya tersebut.
"Oh Alika, akhirnya kamu datang juga. Bagaimana, apakah putra kamu mau menikahi putriku?" tanya Anjas.
Alika dan juga Andika yang baru saja datang langsung mendapatkan pertanyaan dan dari Anjas, hal itu membuat Alika benar-benar merasa tidak enak hati kepada putranya.
Berbeda dengan Andika yang nampak acuh, karena memang dia sudah tidak peduli lagi dengan apa yang akan terjadi ke depannya setelah ini.
Alika tersenyum canggung, kemudian dia mengajak Andika untuk menghampiri Anjas dia kemudian berkata.
"Mau, dia mau menikahi putri kamu," jawab Alika.
Setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Alika, tatapan mata Anjas beralih kepada Andika. Kemudian dia pun bersuara.
"Apakah benar kamu mau menerima putriku untuk menjadi istrimu?" tanya Anjas dengan penuh harap.
Usianya tinggal sebentar lagi, dia tidak mau meninggalkan putrinya dalam kesendirian. Dia takut jika putrinya akan tersiksa dan tidak akan mendapatkan kasih sayang lagi jika dia sudah meninggalkan putrinya tersebut.
Apalagi jika Andini harus menikah dengan Aiden, rasanya Anjas tidak rela. Maka dari itu dia lebih memilih untuk menitipkan putrinya kepada Alika dan Andika.
Tentu saja dengan menjadikan putrinya sebagai menantu di keluarga Wijaya, karena dengan seperti itu dia merasa lebih tenang.
Maka dari itu Anjas memutuskan untuk membantu perusahaan milik Alika yang sedang diambang kebangkrutan, tentu saja dengan syarat Andika harus menikahi Andini karena dengan seperti itu Andini ada yang melindungi.
Dia akan merasa tenang saat meninggalkan dunia, karena putrinya sudah ada yang menjaga. Putrinya ada yang mencintai dan juga menyayangi.
"Iya, Om," jawab Andika seraya menganggukan kepalanya.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Andika, Anjas terlihat begitu senang. Bahkan, dia terlihat mengayunkan tangannya meminta agar Andika lebih mendekat ke arahnya.
Andika menurut, dia mendekati Anjas. Kemudian, dia duduk tepat di samping pria tua yang terlihat begitu lemah itu.
Andika menangis mendengar apa yang dikatakan oleh Anjas, bukan karena terenyuh dengan ucapan lelaki tua itu.
Justru dia menangis karena kini pupus sudah harapannya untuk menyatukan cintanya dengan Aulia, sahabat sekaligus cinta pertamanya.
Andika terlihat menolehkan wajahnya ke arah ibunya, Alika tersenyum kemudian melakukan kepalanya.
Andika terlihat membalas senyuman dari ibunya, kemudian dia menolehkan wajahnya ke arah Anjas lalu menganggukan kepalanya.
"Ya, aku bersedia," kata Andika dengan berat hati.
Sungguh kini batin Andika menjerit, karena dia sebentar lagi akan menikah dengan wanita yang tidak dia kenal sama sekali.
Andika bahkan sempat berpikir bagaimana bisa dia menikah dengan wanita yang tidak dia cintai, bahkan tidak dia kenal. Akan seperti apa rumah tangganya nanti, pikirnya.
Senyum di bibir tua Anjas terlihat mengembang, dia terlihat menolehkan wajahnya ke arah Alika. ll
Lalu, dia tersenyum penuh haru. Senyum penuh dengan kata terima kasih, karena akhirnya dia akan pergi dengan tenang.
"Kalau begitu, kapan kamu akan menikahi putriku? Aku merasa jika hidupku di dunia ini tidak akan lama lagi," ucap Najas dengan sendu.
Jangankan untuk menentukan hari pernikahan dengan putri dari pria tua yang kini berada di hadapannya itu, dia bahkan tidak bisa memikirkan apa pun lagi.
"Terserah anda saja, aku akan mengikutinya. Kapan pun aku mau," kata Andika.
Mendengar jawaban dari Andika, Anjas begitu bahagia karena itu artinya, putrinya akan segera menikah dengan lelaki yang dirasa adalah lelaki yang terbaik untuk putrinya.
"Kamu memang pemuda yang sangat baik, kalau begitu aku ingin besok kalian menikah. Karena hari sudah malam, tidak mungkin harus mempersiapkan acara pernikahan di saat malam seperti ini," kata Anjas.
"Iya, aku setuju," jawab Andika datar tanpa ekspresi.
Setelah mengatakan hal itu, Alika langsung mengambil berkas yang dibutuhkan untuk mengurus pernikahan Andika dan juga Andini.
Andika yang memang belum pernah bertemu dengan Andini, akhirnya diberikan foto Andini oleh Anjas. Hal itu Anjas lakukan agar Andika bisa mengenali wajah calon istrinya sebelum mereka menikah.
Andika hanya menatap wajah calon istrinya dengan tatapan datar tanpa ekspresi, dia benar-benar tidak menyangka jika dirinya akan menikah dengan wanita yang tidak dia kenal sama sekali.
Keesokan harinya.
Andika ingin sekali menemui Aulia, setidaknya jika dirinya tidak bisa menikah dengan Aulia, dia ingin menyampaikan perasaannya kepada wanitanya itu.
Dia ingin berkata kepada Aulia jika dirinya begitu mencintai wanita itu, walaupun mereka tidak bisa bersama, setidaknya dia akan lega karena perasaannya sudah tersampaikan.
"Aku harus menyampaikan perasaan aku saat ini juga," kata Andika lirih.
Dengan perasaan berkecamuk Andika melajukan mobilnya menuju kediaman Aulia, hal itu dia lakukan karena dia benar-benar sudah tidak sabar untuk mengatakan perasaannya.
Pada saat Andika datang ke rumah Aulia, ternyata wanitanya itu sudah berangkat untuk bekerja. Akhirnya dia memutuskan untuk merenungkan nasibnya di sebuah Danau yang tidak jauh dari pusat Kota.
Pada saat dia tiba di sana, tanpa sengaja netranya melihat Andini yang sedang berduaan dengan Aiden.
"Bukankah itu wanita yang akan aku nikahi?" tanya Andika.