Bangkitnya Pria Hina (Detektif Al)

Bangkitnya Pria Hina (Detektif Al)
Bab 90


Di rumah sakit, Alvaro masih duduk di kursi depan ruang dimana jasad Bianca berada, wanita itu kini telah pergi untuk selamanya. Bagaimana pun juga Bianca pernah menjadi wanita yang spesial di hati Alvaro, tentu saja hati Alvaro sangat sedih dengan kepergian Bianca yang harus mati dengan cara yang mengenaskan seperti itu.


Alvaro menghirup nafas dalam-dalam. Kepalanya tersandar ke dinding kelabu di samping, sementara tubuhnya duduk di kursi tunggu di depan ruang otopsi jenazah.


Alvaro masih memakai kemeja putihnya yang masih terdapat noda darahnya Bianca, saat ini pikirannya bercabang, terdapat banyak masalah yang harus dia pecahkan.


Pertama, dia harus segera memenjarakan Dimas dan Bu Nadia atas perencanaan pembunuhan terhadap Joana, dengan semua bukti yang dia punya telah kuat.


Kedua, kejahatan Dimas dan Bu Nadia bertambah lagi, yaitu percobaan pembunuhan berencana terhadap Pak Riki. Saat ini Alvaro sedang menugaskan Gleen untuk memeriksa gelas minuman yang terakhir di pakai oleh Pak Riki di mansion.


Ketiga, Alvaro merasa bahwa Dimas telah bekerjasama dengannya pembunuh bayaran untuk melenyapkan Bianca. Dia harus mencaritahu siapa pembunuh bayaran itu, sehingga menugaskan Danu untuk memeriksa seluruh CCTV yang ada di sekitar TKP.


Alvaro harus tau pembunuh bayaran itu, karena dia yakin pasti tujuan utama Dimas menyewa pembunuh bayaran tersebut untuk membunuh Joana, dan Alvaro tidak akan pernah membiarkan itu terjadi.


Kehilangan Bianca yang padahal statusnya telah menjadi mantan istrinya membuat Alvaro sedih, padahal Alvaro sudah tak memiliki perasaan apapun padanya. Apalagi kalau dia harus kehilangan Joana, satu-satunya wanita yang kini bertahta di hati Alvaro, dia pasti akan gila. Karena itu dia harus membereskan masalah ini sampai tuntas.


Drrrrtt...


Drrrrtt...


Drrrrtt...


Ponsel Alvaro bergetar, dia mendapatkan pesan dari Gleen.


[Aku sudah menemukan gelas terakhir yang di pakai oleh mertuamu, di ruang kerjanya. Tapi Al, aku dengar ayah mertuamu sedang dilarikan ke rumah sakit.]


Alvaro terkejut ketika membaca pesan dari Gleen yang memberitahukan tentang keadaan ayah mertuanya. Entah menyamar menjadi apa Gleen malam ini sehingga dia bisa masuk ke ruangan kerjanya sang ayah mertua. Yang pasti hal tersebut bisa dijadikan bukti jika seandainya di gelas tersebut airnya dicampur dengan racun polonium.


Pesan tersebut beriringan dengan pesan yang di kirim oleh Joana kepadanya sekarang ini.


[Al, papa sedang berada di rumah sakit. Kondisi papa sedang kritis.]


Tanpa berpikir panjang Alvaro segera berlari menuju ruangan ICU, dia melihat Joana yang sedang menangis di depan ruangan tersebut, sebagai seorang anak dia pasti sangat mengkhawatirkan kondisi ayahnya.


Disana juga terdapat Asisten Arman yang sedang terlihat gelisah, sebagai seorang kaki tangannya Pak Riki, dia pasti sangat berharap keadaan Pak Riki baik-baik saja.


Dan Alvaro juga melihat ada Dimas dan Bu Nadia yang terlihat pura-pura menangis, sebuah air mata palsu, padahal mereka berharap Pak Riki segera mati.


Joana segera menghapus air matanya ketika melihat Alvaro, dia terkejut ketika melihat kemeja putihnya Alvaro telah berlumuran darah. "Al, kamu kenapa? Apa kamu terluka?"


Joana berlari menghampiri Alvaro, dia sangat mengkhawatirkan kondisi suaminya itu.


Alvaro menggelengkan kepalanya, mata pria itu berkaca-kaca. "Ini bukan darah aku, tapi darah Bianca."


Joana terkejut mendengarnya, berbeda dengan Dimas, pria itu menyeringai karena Liam telah berhasil menembak mati Bianca.


Namun, Dimas harus pura-pura terkejut mendengar perkataan Alvaro, bagaimanapun juga saat ini statusnya Dimas masih menjadi suaminya Bianca.


"Apa? Bianca terluka? Terus dimana dia sekarang? Kenapa dia bisa bersama kamu, Al? Apa kalian bertemu secara diam-diam?" Dimas sengaja mengatakan itu agar Alvaro terkesan buruk di mata Joana dan Asisten Arman.


Alvaro sangat geram kepada pria itu, dia menatap tajam ke arah Dimas, tangannya terkepal dengan kuat. Alvaro berjalan ke arah Dimas tanpa basa basi dia menonjok bibirnya Dimas.


Bugh...


"Arrrgghh!" Dimas meringis kesakitan, memegang mulutnya berdarah.


Dimas berusaha untuk berontak, dia merasakan lehernya hampir tercekik dengan kerah bajunya yang ditarik oleh Alvaro, sementara Bu Nadia berusaha untuk menolong Dimas, memukul-mukul lengan Alvaro.


"Hei, lepasan anakku! Kamu mau apakan anakku, dasar menantu sialan!" Bu Nadia mengumpat sambil memukul-mukul lengan Alvaro yang sedang menyeret Dimas, sampai wanita tua itu berteriak memanggil security.


"Security, tolong! Anakku mau dibunuh!" teriak Bu Nadia.


Alvaro mendorong tubuh Dimas ke lantai lorong rumah sakit sana, membuat tubuh Dimas terjungkal, kemudian dia menarik kerah kemeja Dimas kembali, memberikan banyak pukulan ke wajahnya Dimas.


Bugh...


Bugh...


Bugh...


Dimas tak bisa melawan, dia merasakan kepalanya pening karena Alvaro memberikan pukulan pada wajahnya secara terus menerus.


Joana mencoba untuk menenangkan Alvaro, dia memeluk tubuh Alvaro dari belakang, "Al, ada ini? Sebenarnya ada apa dengan kak Bianca?"


Alvaro berhenti memukuli Dimas ketika menyadari bahwa Dimas hampir saja dibuat pingsan olehnya, Alvaro terengah-engah, memegang tangan Joana yang sedang memeluknya dari belakang.


"Bianca meninggal." lirih Alvaro.


Joana terkejut mendengarnya.


Alvaro menunjuk Dimas, "Si keparat ini adalah orang yang telah menyewa pembunuh bayaran untuk membunuh Bianca, dia juga yang telah merencanakan pembunuhan terhadapmu, Jo. Dan dia juga yang meracuni papamu sehingga papamu sering sakit-sakitan."


Joana tercengang mendengarnya, sampai air matanya menetes, wanita itu menghampiri Dimas yang sedang dibantu berdiri oleh ibunya.


Bu Nadia dan Dimas terlihat panik karena kejahatannya telah ketahuan.


Joana memberikan tamparan keras pada wajahnya Dimas.


Plakk...


Sehingga tubuh Dimas terjungkal kembali ke lantai.


"Eh apa-apaan kamu, Joana?" Bu Nadia tidak terima anaknya ditampar seperti itu oleh Joana. Dia balik ingin menampar Joana.


Akan tetapi tangan wanita tua itu ditahan oleh Alvaro, Alvaro mencengkeram tangan Bu Nadia, dia tidak akan pernah membiarkan siapapun menyakiti wanitanya.


Joana merasa terharu, Alvaro selalu siap siaga untuk melindunginya.


"Mulai sekarang jangan pernah injakan kaki kalian di mansion kami, dan aku akan membalas perbuatan kalian!" Joana terlihat sangat marah sekali, dia sama sekali tidak mengira bahwa mereka akan tega merencanakan pembunuhan terhadap ayahnya sampai meracuninya hampir setiap hari.


Tak lama kemudian polisi datang, karena Alvaro sudah melaporkan mereka berdua ke pihak kepolisian ketika dari pihak polisi sedang mengintrogasi Alvaro menjadi saksi atas tertembaknya Bianca di taman kota.


...****************...


Semoga bisa launching, waktu belum ditentukan 🙏