Bangkitnya Pria Hina (Detektif Al)

Bangkitnya Pria Hina (Detektif Al)
Bab 71


Walaupun Alvaro sedang memiliki masalah tapi dia harus konsentrasi dengan pekerjaannya, mayat tanpa kepala yang ada di koper itu ternyata adalah Olivia, seorang selebritis yang tengah naik daun. Sehingga polisi sedang mencari dimana kepalanya Olivia di buang ataupun disembunyikan.


Alvaro menyuruh Gleen untuk menjadi tukang galon lagi ke kediaman Dion, karena Bu Risa sudah mengenal wajah Alvaro dan Danu. Waktu itu saat Bu Risa datang ke kantor menyuruh Alvaro untuk mencaritahu siapa selingkuhan suaminya, saat itu Gleen sedang tidak ada di kantor, bahkan saat Gleen menyamar menjadi tukang galon, dia hanya bertemu dengan pembantu saja, tapi sekarang pembantu itu telah mengundurkan diri entah alasan apa.


Kebetulan hari ini memang Bu Risa memesan galon untuk diantarkan ke rumahnya, beruntung Dion tidak ada disana, sehingga Gleen bisa bergerak dengan bebas untuk memasang alat penyadap di rumah Dion, saat Bu Risa sibuk mengusir seekor anjing yang tiba-tiba masuk ke halaman rumahnya, padahal itu adalah ulahnya Danu.


"Saya karyawan baru dari toko galon AHA, Tante. Katanya Tante pesen tiga galon ya?" tanya Gleen kepada Bu Risa, ketika dia memarkirkan mobil pick up yang berisikan banyak galon di depan gerbang.


Pantas saja Bu Risa merasa asing dengan wajahnya Gleen, dia pikir Gleen beneran karyawan baru di toko AHA. "Oh iya, mas boleh masuk, saya pesan tiga galon, langsung pasang ya di dapur, ruang tengah, dan juga di ruang belakang." ucap Bu Risa. Dia sama sekali tidak curiga pada Gleen.


Sebenarnya Dion melarang Bu Risa untuk memasukkan orang lain ke rumah, tapi yang namanya air minuman, itu adalah kebutuhan yang tak bisa di tunda. Apalagi mana mau Dion membeli galon sendirian. Jatuh sudah harga diri sang psikopat.


Ternyata Bu Risa terus mengikuti Gleen, membuat Gleen susah bergerak. Gleen memasang Galon di ruang tengah, dia mencoba untuk mengajak bicara Bu Risa, karena merasa heran, setahu dia ada seorang pembantu di rumah ini. Tapi mengapa dia tak melihatnya.


"Padahal rumahnya besar, tapi kok sepi ya, Tante?" tanya Gleen.


"Kebetulan putra saya sedang kerja, sementara pembantu di rumah ini sudah keluar dari pekerjaannya." jawab Bu Risa.


Mereka mendengar suara seekor anjing menggonggong di halaman depan rumah.


"Lho kok ada anjing di halaman rumah?" Bu Risa tak paham melalui jalan mana anjing itu masuk ke halaman rumahnya, dia segera meraih sapu lidi untuk mengusir anjing tersebut.


Dan Gleen pun mulai beraksi, dia menyimpan alat penyadap di beberapa tempat penting disana.


Dion sengaja tidak memasang CCTV di rumahnya, agar tidak ada yang mengabadikan tentang hobby ekstrimnya itu.


...****************...


Setelah selesai memasang alat penyadap di rumahnya Dion, Gleen pun langsung kembali ke kantor, begitu juga Danu.


"Aku sudah memasang alat penyadap di beberapa sudut di rumahnya Dion." lapor Gleen pada Alvaro.


"Dan aku sudah memasukkan seekor anjing untuk mengelabui Bu Risa, untuk melancarkan aksi kang galon palsu." lapor Danu kepada Alvaro.


Alvaro harus profesional dengan pekerjaannya, dia tidak boleh melibatkan urusan pribadinya dengan pekerjaannya. Apalagi ini semua dia lakukan untuk melindungi Joana dan menangkap Dion, agar tidak ada korban Dion lagi. "Oke, bagus. Kalian telah bekerja dengan baik."


"Sebenarnya tadi aku melihat ada sebuah tangga yang menuju ke lantai bawah, ternyata disana ada ruangan bawah tanah. Aku hampir mau memeriksanya, tapi Bu Risa keburu kembali." lapor Gleen lagi.


"Lalu dimana posisi pembantu di rumah itu?" tanya Alvaro kepada Gleen.


Tadi Gleen mencoba untuk basa basi kepada Bu Risa, bertanya mengapa di rumahnya yang semegah ini begitu sepi, kemudian Bu Risa menjawab bahwa dia hanya tinggal berdua bersama putranya, sementara pembantunya telah keluar dari pekerjaannya.


"Bu Risa bilang bahwa pembantu di rumah itu telah keluar dari pekerjaannya." lapor Gleen kembali kepada Alvaro.


"Padahal waktu terakhir aku kesana, dia masih ada." gumam Alvaro, mengapa pembantu di rumah Dion keluar secara tiba-tiba? Alvaro merasa ada yang tidak beres dengan hal itu.


Karena dulu Gleen sempat menggoda pembantu tersebut demi melancarkan rencananya untuk mencuri file milik ayahnya Dion, sehingga dia bisa sedikit membantu pekerjaan Danu, "Namanya Minah, usianya 30 tahun."


Hanya bermodalkan nama dan umur saja tentu saja tidak cukup membantu, tapi Danu menyanggupi perintah dari Alvaro, dia segera pergi ke ruangannya untuk mencari data tentang Minah.


Sementara Alvaro kini fokus ke pekerjaannya yang satu lagi, dia ingin menangkap orang yang telah merencanakan penyerangan terhadap Joana.


Walaupun mungkin dia tak bisa berkata manis, tapi ini adalah salah satu bentuk perhatian dan bukti cinta Alvaro kepada Joana, bahwa dia sedang berusaha untuk memberikan pelajaran kepada siapapun yang berani menyakiti Joana.


Alvaro telah mendapatkan rekaman CCTV dari Danu bahwa Dimas terlihat mengunjungi sebuah markas, markas itu adalah milik gangster yang menyerang Joana, dua minggu yang lalu. Tapi rekaman itu tidak akan menjadi bukti yang cukup untuk memenjarakan Dimas.


Alvaro segera menemui ketua gangster yang telah ditahan di lapas, untuk memprovokasinya.


"Untuk apa kamu datang kesini?" bentak ketua gangster bernama Baron itu kepada Alvaro.


"Hanya ingin menemui orang yang sudah berani menyerang istriku. Aku tidak akan segan-segan mematahkan tangan dan kakimu jika berani menyerang istriku lagi." Ancam Alvaro kepada Baron.


Baron hanya menatap tajam kepada Alvaro.


Alvaro mulai memprovokasi Baron, "Sebenarnya aku sudah tahu siapa orang yang menyuruh kamu dan anak buahmu untuk menyerang istriku."


Baron menyangkalnya, karena Dimas telah membayarnya cukup tinggi. "Kami menyerang istrimu untuk merampok, kami tidak disuruh oleh siapapun."


Alvaro tersenyum kecut, "Menurut pasal 365 KUHP, perampokan seperti ini bisa ditindak pidana dengan ancaman maksimal 9 tahun. Bayangkan saja, kamu dan anak buahmu harus dipenjara bertahun-tahun, menelantarkan istri dan anak kalian. Sementara nasib orang yang menyuruhmu itu, dia sama sekali tidak memikirkan nasib kalian dan hidup dengan enak. Apakah hal itu merasa adil buat kalian?"


Perkataan Alvaro ada benarnya, Baron dan anak buahnya harus dipenjara, menelantarkan anak dan istri mereka. Sementara Dimas, Bianca, dan Bu Nadia hidup enak.


"Hm, hanya itu yang ingin aku sampaikan padamu, kalau begitu aku harus pergi." pamit Alvaro.


Tapi Baron mencegah Alvaro pergi. "Tunggu dulu, aku... aku akan mengatakan yang sebenarnya padamu, Detektif Al."


Alvaro segera duduk kembali, dia menatap serius kepada Baron, menunggu Baron berbicara sejujurnya pada Alvaro.


"Sebenarnya orang yang menyuruhku untuk menyerang istrimu adalah Pak Dimas, Bu Bianca, dan Bu Nadia. Kami berempat pernah bertemu secara rahasia sambil menjelaskan langkah apa saja yang aku dan anak buahku lakukan terhadap istrimu, Detektif Al." Baron mengatakannya dengan pelan.


"Bianca?" Alvaro terkejut begitu mendengar nama Bianca terlibat dalam rencana penyerangan terhadap Joana.


"Iya, Detektif Al. Malahan Bu Bianca yang pertama mengatakan bahwa istrimu harus dibunuh, sehingga Pak Dimas dan Bu Nadia menyetujui rencana dari Bu Bianca."


Alvaro tercengang, dia sama sekali tak mengira mengapa seorang wanita yang pernah dia cintai itu bisa memiliki pikiran jahat seperti itu. Harta telah membuat Bianca berubah, bahkan dia tega ingin melenyapkan Joana. Seorang wanita yang kini sangat berharga di dalam hidup Alvaro.


Alvaro menjadi menyalahkan dirinya sendiri, seharusnya dulu dia membiarkan Bianca belajar bertanggungjawab terhadap kesalahan yang telah dia lakukan, mungkin saja Bianca tidak akan berbuat jahat pada Joana, karena kemungkinan dia tidak akan diterima di keluarga Alpha jika telah menjadi mantan narapidana.