Bangkitnya Pria Hina (Detektif Al)

Bangkitnya Pria Hina (Detektif Al)
Bab 58


Alvaro kembali disibukkan dengan mencaritahu siapa pelaku pembunuhan wanita tak berkepala di dalam koper yang telah membuat geger di ibu kota, sehingga dia tak bisa selalu memperhatikan Joana, yang penting para bodyguard sudah selalu standby disana.


"Sidik jari pembunuh tidak ditemukan, ini persis seperti yang Dion lakukan pada para korbannya, tapi kenapa dia ingin terang-terangan sekarang?" tanya Gleen, dengan penuh tanda tanya.


Saat ini Alvaro dan kedua temannya sedang mengadakan meeting, membahas tentang penemuan mayat wanita tanpa kepala itu.


Kini giliran Danu yang bicara, "Sepertinya dia ingin mulai terang-terangan untuk menantang kita. Tapi mengapa kepalanya harus disembunyikan?"


Alvaro terdiam sejenak, hari kemarin dia mendapatkan job dari keluarganya seorang selebritis bernama Olivia, bahwa artis tersebut telah beberapa hari menghilang. Apakah mungkin mayat yang ada di dalam koper itu adalah seorang wanita yang terkenal? Makanya kepalanya disembunyikan.


Sekarang ini masih menunggu hasil otopsi.


"Aku rasa menghilangnya Olivia dan pembunuhan wanita tak berkepala itu ada kaitannya." ucap Alvaro.


...****************...


Sementara Joana, dia seakan dibuat hatinya berbunga-bunga oleh Alvaro, gara-gara dia mendapatkan pesan dari manis dari Alvaro.


[Jangan telat makan, Joana.]


Kata-katanya memang biasa saja, tapi bagi Joana kata-kata tersebut sangat manis untuknya. Selama menikah dengan Alvaro, baru kali ini Alvaro mengingatkannya jangan telat makan, sebuah pertanda bahwa pria itu memiliki rasa peduli kepadanya.


Sampai Joana tak bosan membaca pesan itu berkali-kali, sehingga senyuman terus melekat di bibir manisnya. Apakah dia sedang jatuh cinta pada Alvaro? Joana pun tidak tahu, yang pasti akhir-akhir ini dia sering memikirkan pria itu.


Karena Alvaro masih sibuk dengan pekerjaannya, Joana sore hari ini harus pulang dengan dikawal oleh empat orang bodyguard, sebenarnya Joana merasa risih mengapa Alvaro harus menugaskan para bodyguard untuk mengawalnya, tapi Alvaro tak akan mendengarkan protes darinya.


Joana pasrah saja, mungkin hal tersebut adalah bentuk kepedulian Alvaro terhadapnya.


Namun, ada sebuah insiden tak terduga, ketika mobil yang ditumpangi oleh Joana melewati jalanan yang sepi, tiba-tiba ada tiga buah mobil menghadang dari depan.


Beruntung mobil yang ditumpangi oleh Joana segera berhenti, sehingga tidak terjadi tabrakan pada mobil mereka.


"Siapa mereka?" Joana sangat ketakutan sekali.


"Kami tidak tahu, Nona. Nona tunggu dulu disini." ucap salah satu bodyguard yang menjaga Joana, kemudian dia dan ketiga orang bodyguard lainnya segera keluar dari mobil tersebut.


Joana merasakan gelisah dan ketakutan ketika melihat 4 orang bodyguard yang selalu menjaganya diserang oleh 20 orang gangster, yang pasti membuat para bodyguard kewalahan.


Joana segera merogoh ponselnya di dalam tas, dia harus menghubungi polisi, tapi dia dikejutkan dengan tindakan para gangster yang menyerang mobilnya, mereka menghancurkan kaca mobil yang ditumpangi oleh Joana dengan pipa besi.


"Arrrgghh!" Joana menjerit ketakutan, sehingga ponselnya terjatuh ke bawah. Joana menundukkan kepalanya sambil menutup telinga, badannya gemetaran, sungguh dia sangat ketakutan sekali.


'Al, tolong aku!' jerit hati Joana. Joana berharap Alvaro mendengar jeritan hatinya.


Salah satu dari gangster tersebut menyeret Joana untuk keluar dari mobil, "Ayo kesini nona manis, sayang sekali wanita secantik dirimu harus kami bunuh." ucapnya sembari terkekeh.


"Arrghh!" Joana meringis karena mereka begitu kasar menyeret tangan Joana, sampai pergelangan tangan Joana nampak memerah.


"Lepaskan aku, aku akan melaporkan kalian pada polisi!" Joana mencoba untuk berontak.


Tiga orang gangster yang menahannya malah tertawa, seakan perkataan Joana sangat lucu, menggelitiki perutnya


"Bagaimana kalau kita bawa dia ke markas dulu? Sebelum kita bunuh, mending kita pake dulu sampai puas." ucap seorang gangster berambut keriting, dia menatap dengan tatapan mes-um kepada Joana.


Hal tersebut membuat Joana sangat marah, sayangnya dia tak bisa memiliki kekuatan untuk melawan mereka. Dia hanya bisa mengepalkan tangannya.


Mereka dikejutkan dengan sebuah mobil berhenti di depan mereka, lalu ada tiga pria tampan keluar dari mobil tersebut, siapa lagi kalau bukan Alvaro, Gleen, dan Danu.


"Al!" Mata Joana berkaca-kaca menatap Alvaro yang datang untuk menyelamatkannya.


Kemudian Gleen bersiul dengan keras, sehingga datang sepuluh orang gangster The Jhon, anak buahnya Alvaro.


"Seraaang!" ucap ketua gangster The Jhon, membuat anak buahnya berlarian untuk menyerang dua puluh orang gangster penjahat.


Sehingga di jalan raya sana seakan terjadi peperangan. Alvaro, Gleen, dan Danu pun ikut terjun berkelahi dengan para musuh.


Alvaro menyerang tiga orang gangster yang sedang menahan Joana, dia tidak akan membiarkan istrinya terluka, jika mereka berani membuat Joana terluka sedikit saja, Alvaro tak akan pernah memaafkan mereka, jangan harap mereka bisa selamat.


"Cepat lepaskan Joana! Atau kalian ingin mati di tanganku?" ancam Alvaro kepada ketiga preman yang sedang menahan Joana.


Dua puluh orang gangster tersebut entah siapa yang memerintahkan mereka, yang pasti mereka ditugaskan untuk membunuh Joana hari ini juga.