
Bianca, sosok wanita yang dulunya begitu lembut dan sangat dicintai oleh Alvaro, kini Alvaro tak mengenalinya lagi. Bahkan wanita itu telah tega ingin membunuh Joana, demi ingin kembali pada Alvaro dan juga demi menguasai harta keluarga Alpha.
Alvaro mengepalkan tangannya, dia tidak akan pernah memaafkan Dimas, Bianca, dan Bu Nadia. Dia pasti akan mengirimkan mereka ke penjara. Dia tidak akan membiarkan siapapun menyakiti Joana, apalagi melukainya. Walaupun dia sadar diri bahwa dia juga telah menyakiti Joana, dia akan berusaha keras untuk membuat Joana memaafkannya.
Alvaro tidak akan pernah menyerah untuk bisa mendapatkan maaf dari Joana dan ingin mempertahankan pernikahan mereka, dia ingin memperbaiki kesalahannya pada Joana, dan berusaha untuk menjadi sosok suami yang baik untuk Joana.
Untuk saat ini yang bisa Alvaro lakukan adalah membuat Joana aman, karena itu dia harus menangkap dulu orang-orang jahat yang ada disekitar Joana. Agar tidak ada lagi bahaya yang mengancam keselamatannya.
Dia harus menangkap Dimas, Bianca, Bu Nadia, terutama Dion. Dia harus menjebloskan mereka ke balik jeruji besi. Mereka harus mendapatkan hukuman yang setimpal atas perbuatan mereka.
Mungkin pria lain menunjukkan rasa cinta kepada pasangannya dengan bersikap romantis ataupun memanjakan wanitanya, tapi Alvaro menunjukannya dengan cara lain, yaitu dengan melindunginya. Membuat Joana aman dari orang-orang berbahaya di sekitarnya.
Hidup Alvaro akan merasa tenang jika dia berhasil membuat mereka berempat masuk ke dalam penjara. Mereka harus mendapatkan hukuman yang telah mereka lakukan.
"Bukan hanya itu, anak buah saya tidak ada yang memiliki pistol. Yang melakukan penembakan terhadapmu bukan dari anggota kami." ucap Baron kembali kepada Alvaro.
Lagi-lagi Alvaro menghela nafas, tidak salah lagi, itu pasti ulahnya Dion. Mungkin Dion sudah terang-terangan untuk menunjukkan taringnya. Dia mulai ingin berperang dengan Alvaro.
"Psikopat gila itu, dia pasti sedang merencanakan sesuatu." gumam Alvaro.
Drrrrtt...
Drrrrtt...
Drrrrtt...
Ponsel Alvaro bergetar, Alvaro bergegas meronggoh ponselnya di saku celananya, ternyata dia mendapatkan pesan dari Danu, Alvaro segera membaca pesan itu.
[Aku sudah menemukan keberadaan Minah, dia sekarang sedang berada di kota T, setelah berhenti menjadi pembantu di rumahnya Dion, Minah bekerja sebagai pegawai toko kelontongan di kota T.]
Danu mengirim pesan kembali pada Alvaro.
[Minah bekerja di rumahnya Dion sudah cukup lama, dari tahun 2010. Tapi dia tiba-tiba berhenti bekerja di rumahnya Dion dengan alasan akan menikah, tapi ternyata sampai sekarangpun dia belum menikah juga, Minah tinggal sendirian di rumahnya.]
Alvaro sudah merasa ada yang tidak beres dengan hal tersebut, pasti Minah mengetahui sebuah rahasia yang membuat dia harus segera berhenti bekerja di rumahnya Dion. Karena itu Alvaro bergegas untuk pergi ke kota T, butuh waktu satu jam untuk sampai kesana.
Alvaro mengirimkan pesan kepada Danu untuk mencarikan nomor ponselnya Minah.
[Aku ingin kamu mencaritahu nomor ponselnya Minah.]
[Oke.]
Tak berselang lama kemudian, ponselnya Alvaro bergetar kembali. Ternyata Danu telah mengirimkan nomor ponselnya Minah.
[O89665xxxxxx]
Alvaro memasukan headset ke telinganya, kemudian dia segera menelepon Minah sambil menyetir mobil.
Tutt...
Tutt...
Tutt...
Sudah tiga kali Alvaro menelpon mantan pembantunya Dion itu, tapi belum diangkat juga.
Alvaro mencoba untuk menelponnya kembali.
Tutt...
Tutt...
Tutt...
Alvaro sangat bernafas lega, akhirnya Minah mengangkat telepon darinya.
"Ha-ha-hallo." ucap wanita tersebut.
"Apa ini dengan Minah? Saya Detektif Al, ada hal penting yang ingin saya tanyakan kepada Anda. Saya harap Anda mau bertemu dengan saya hari ini." ucap Alvaro, Minah pasti tahu dengannya karena pernah bertemu dengannya sekali pada saat Alvaro berkunjung ke kediaman Dion.
"Bo-boleh, aku... aku tunggu di rumah." jawab Minah dengan suara gemetaran.
"Oke, baiklah. Tapi Anda baik-baik saja kan?" Alvaro merasakan dari nada bicaranya Minah, wanita itu seakan sedang ketakutan.
"A-aku baik-baik saja, Detektif Al. Mungkin... mungkin karena aku sedang sakit, jadi... jadi suara aku seperti ini." Minah berkata seperti ini sambil melirik seseorang yang ada di depannya, orang tersebut mengarahkan pisau tajam ke arah lehernya. Sehingga Minah sangat ketakutan sekali. Apalagi pisau tersebut telah membuat lehernya sedikit tergores.