Bangkitnya Pria Hina (Detektif Al)

Bangkitnya Pria Hina (Detektif Al)
Bab 56


Alvaro melu-mat bibir Joana dengan lembut, membuat Joana memejamkan matanya, pria itu kemudian mencecap bibirnya membuat Joana merasakan hatinya bergetar.


Ciuman yang Alvaro berikan tak begitu lama, mungkin karena dia sadar bianglala yang mereka tumpangi akan segera berhenti


Alvaro melepaskan ciuman mereka, "Hm rasanya sangat masam, tetap saja aku tidak suka jus jeruk."


Joana segera membuka matanya, dia menatap kesal kepada Alvaro, ternyata pria itu mencium bibirnya hanya untuk mencoba rasa jus jeruk yang dia minum.


Setelah bianglala berhenti, Alvaro pun membuka pintu bianglala. "Ayo cepat kita turun, kita harus pulang."


Joana mangut saja, dia sudah dibuat kesal oleh Alvaro.


Setelah mereka berada di rumah, mereka sibuk di kamarnya masing-masing dengan pikirannya masing-masing.


Ciuman yang dilakukan Alvaro di dalam bianglala tadi telah membuat Joana tidak bisa tidur malam ini. Padahal dia dan Alvaro telah melakukan lebih dari sekedar ciuman, tapi entah mengapa dia merasakan hatinya bergetar ketika Alvaro mencium bibirnya.


Ciuman Alvaro begitu masih sangat terasa, seakan bibir Alvaro masih menempel di bibirnya Joana, luma-tan dan cecapan bibir masih terasa seakan nyata, ciuman pria itu sangat memabukkan.


Walaupun sebenarnya Joana sangat merasa kesal kepada Alvaro, karena setelah Alvaro mencium bibirnya, pria tersebut terlihat biasa saja, seolah-olah dia mencium Joana karena memang untuk merasakan bagaimana rasanya jus jeruk yang diminum oleh Joana.


"Bisa-bisanya dia bersikap tenang seperti itu setelah menciumku." gerutu Joana. Entah apa yang Joana harapkan setelah mereka berciuman.


Joana merasakan perutnya berbunyi, padahal tiga jam yang lalu dia sudah makan malam bersama Alvaro, tapi rasa lapar menerjang kembali perutnya, meronta-ronta untuk segera diisi.


"Padahal tadi sudah makan malam, tapi aku malah lapar lagi." keluh Joana sambil mengusap-usap perutnya.


Joana sama sekali tidak tahu, bahwa Alvaro juga sebenarnya tidak bisa tidur malam ini, dia seperti orang gila tersenyum-senyum sendirian ketika memikirkan bagaimana pertemuan pertamanya dengan Joana, ketika dia sama sekali belum tahu bahwa Joana adalah adik iparnya Bianca.


Terkadang memang ada tingkah Joana yang bisa membuat Alvaro tersenyum, wanita itu memang sangat manis, bisa bertingkah lucu, dan membuatnya gemas. Setelah Joana hadir di dalam hidupnya, Alvaro seakan seperti orang gila, dia sering tersenyum sendirian.


Alvaro menjadi penasaran, apa yang sedang dilakukan Joana malam ini, dia segera beranjak dari tempat tidur, lalu duduk di kursi sofa yang ada di kamarnya, kemudian dia mengecek laptopnya, dia hanya ingin tahu apakah Joana sudah tidur atau belum malam ini.


"Apa yang dilakukan oleh wanita itu?" gumam Alvaro sambil memperhatikan gerak-gerik Joana di balik layar laptopnya.


Alvaro melihat Joana yang sedang memasak mie goreng, wanita tersebut sedang sibuk mengiris-iris sosis untuk dimasukkan ke dalam mie yang ada di dalam wajan, tapi mungkin karena Joana terlalu cepat ketika mengiris sosis tersebut, membuat pisau yang dia pegang tanpa sengaja mengenai jari telunjuknya.


"Aw!" Joana sedikit meringis, jari telunjuknya berdarah.


Alvaro terkejut melihatnya, dia segera berlari keluar dari kamar, untuk menolong Joana, sampai dia harus melewati anak tangga untuk turun dari lantai atas.


Joana membalikkan badan ketika mendengar suara langkah seseorang menuju dapur, "Al, kenapa kamu kesini?"


Alvaro tak menjawab pertanyaan dari Joana, pria itu meraih tangan Joana yang terluka, "Kenapa kamu ceroboh sekali?" omelnya.


Joana tak menjawab, dia malah tak paham mengapa Alvaro bisa tahu dia terluka, apakah Alvaro juga sering memperhatikan dirinya ketika ada di rumah.


Joana menatap Alvaro yang sedang mengobati luka di jari telunjuknya, pria itu terlihat sangat mengkhawatirkan Joana.


"Biar aku aja yang memasak, kamu tunggu di meja makan." ucap Alvaro dengan lembut.


"Tapi Al ini cuma luka kecil kok."


Alvaro malah menggendong Joana, membuat Joana terkejut, "Al!"


Joana tak paham, tidak seperti biasanya Alvaro bersikap selembut ini padanya, apakah mungkin seperti inilah kepribadian sebenernya dari seorang Alvaro? Joana tak mampu membaca apapun yang ada di diri Alvaro.


Alvaro menurunkan Joana di ruang makan, membantu Joana untuk duduk disana. Alvaro segera kembali ke dapur untuk melanjutkan memasak mie gorengnya untuk Joana.


'Sebenarnya apa yang dia mau dariku? Siapa sebetulnya dirimu, Al?' Joana sangat penasaran kepada seorang pria yang berstatus sebagai suaminya itu. Joana hanya takut dia akan terluka pada akhirnya.