Bangkitnya Pria Hina (Detektif Al)

Bangkitnya Pria Hina (Detektif Al)
Bab 84


"Ahhh... ahhh... ahhh... terus Jo!" Alvaro mendes-ah nikmat ketika Joana berpacu kuda diatas pinggulnya, dia dibuat merem melek karena ulah sang istri, sampai dengkulnya bergetar. Sekarang Joana sudah pintar memuaskan suami.


Setelah mengalami insiden menegangkan bersama Dion, sehingga dia memiliki luka cidera di tubuhnya, akhirnya dia bisa mendapatkan obat mujarab dari itu semua, tentu saja obatnya adalah bercinta dengan seorang wanita yang sangat dia cintai.


Alvaro merasakan dirinya akan segera keluar dibawah perutnya, sampai dia menggeram penuh rasa nikmat, sehingga tangannya membantu Joana untuk mempercepat gerakannya.


Akan tetapi mereka di buat kaget oleh suara seseorang yang sepertinya sedang berusaha untuk membuka pintu di ruangan tersebut.


"Lho kok susah dibuka?" terdengar suara Gleen.


"Mungkin di kunci di dalam." terdengar suara Danu.


Alvaro dan Joana kaget, padahal sebentar lagi Alvaro akan mencapai kli-maks.


"Al, ada kedua temanmu." Joana ingin segera mencabut senjata Alvaro dari miliknya.


Tapi Alvaro menahannya, "Sebentar lagi, nanggung." Kepalanya akan pusing jika tidak sampai tuntas.


"Tapi Al..."


Terdengar lagi suara Gleen dan Danu di luar sana.


"Mending kita cabut, mungkin Al sudah tidur." Mungkin Danu merasa curiga bahwa di dalam sana ada adegan brankar bergoyang.


Tapi Gleen tidak paham situasi, mungkin karena dia menjadi seorang playboy demi pekerjaan, bukan demi kepuasan, dan masih perjaka yang pastinya. "Ini sangat penting, Dan. Karena besok Alvaro memiliki kejutan buat kakak iparnya itu. Jadi malam ini juga hasil kerja kita harus sampai ke tangan Alvaro."


Gleen paling ahli dalam membobol kunci, Alvaro dan Danu juga belajar darinya. Sehingga dia menyeringai pada Danu sambil menunjukan sebuah kawat. "Kita bobol aja. Lagian ini rumah sakit punya bininya si Al. Kita tidak akan dipinta ganti rugi."


Alvaro dan Joana segera mencari pakaian mereka yang berserakan di lantai, mungkin karena sangat terburu-buru, Joana hanya memakai pakaian luar saja. Sementara Alvaro sudah memakai semua pakaiannya, karena pakaian pria tidak seribet pakaian wanita.


Tuing...


Tuing...


Alvaro menendang pakaian da-lam dan bra milik Joana ke kolong meja televisi, karena takut keburu Gleen membobol kunci pintu.


Alvaro segera membuka pintu, dia mendapati Gleen yang hampir saja mau membobol kunci pintu di tempat dia dirawat.


"Danu, Gleen." sapa Alvaro dengan nafas tersengal-sengal.


"Nah kan kata aku juga apa, si Al belum tidur." ucap Gleen pada Danu, tanpa merasa berdosa pada Alvaro.


Mereka tidak tahu bahwa saat ini Alvaro sedang merasakan pening pada kepala atas dan bawahnya, serasa sedang makan, ada yang nyangkut di tenggorokan, tapi tidak ada air minum, sangat nanggung dan menyiksa.


Joana merasakan tidak nyaman, dia hanya memakai gaun saja, tanpa memakai pakaian da-lam. Dia lebih baik bersembunyi di kamar mandi karena gaun yang dia pakai pasti akan memperlihatkan tonjolan di dadanya.


"Kita bahas pekerjaan kita di balkon saja." Alvaro mengajak Gleen dan Danu untuk membahas pekerjaan mereka di balkon rumah sakit.


Alvaro tidak ingin Joana kedinginan. Apalagi dia memberikan kode kepada Joana yang sedang mengintip di balik pintu kamar mandi dengan liriknya ke arah kolong meja televisi, seakan memberitahu Joana bahwa pakaian da-lam sang istri telah Alvaro sembunyikan disana.


Setelah memastikan aman, Joana akhirnya keluar dari kamar mandi, dia bisa memakai pakaiannya yang lengkap kembali. Alvaro memang sangat pengertian.


"Padahal tubuhnya belum fit, tapi dia benar-benar gila kerja. Sampai harus membahas pekerjaan di rumah sakit." gumam Joana, entah dia harus memuji atau mengeluh terhadap suaminya yang gila kerja tersebut.