Bangkitnya Pria Hina (Detektif Al)

Bangkitnya Pria Hina (Detektif Al)
Bab 82


Alvaro mencium dengan begitu naf-su bibir Joana, sementara tangannya dengan penuh rasa gemas merem-as-re-mas buah dada Joana yang masih tertutupi gaun.


Walaupun saat ini Alvaro tubuhnya sedikit cidera, tapi dia tak peduli dengan rasa sakit ditubuhnya, dia sangat menginginkan Joana malam ini, melepaskan rasa kerinduan setelah akhirnya Joana tak mendiamkan dirinya lagi.


Tanpa ba bi bu Alvaro segera melepaskan pakaian yang dipakai oleh istrinya, mungkin karena efek dari mereka sudah saling mengungkapkan perasaan, sehingga perasaan mereka semakin menggebu, dan hasratpun semakin berpacu.


Joana pasrah saja, toh rumah sakit tempat Alvaro di rawat adalah rumah sakit miliknya, tepatnya di bawah kekuasaan Alpha Group, jadi tidak akan ada yang berani datang jika sang nona muda sedang berada di dalam. Apalagi Alvaro sudah melarang dokter untuk masuk ke ruangannya.


Saat ini mereka berada di ruangan khusus keluarga Alpha, sehingga suasana di dalam ruangan sana sangat nyaman, seperti sedang berada di kamar hotel, dengan fasilitas yang mewah, melebihi dari fasilitas VVIP.


Selalu saja begitu, Joana selalu dibuat tak berdaya di dalam kekuasaan Alvaro, pria itu bukan hanya gagah dalam menghadapi musuh, tapi Alvaro sangat gagah juga di atas tubuh Joana. Menggempur Joana tak ada habisnya, sangat perkasa.


Titik puncak di buah dada Joana sudah mulai menegang, warnanya masih sama, berwarna merah jambu, sangat menggoda. Alvaro memasukannya ke dalam mulutnya, hal tersebut membuat Joana nampak menganga merasakan lembutnya bibir Alvaro mengu-lum area puncaknya, diiringi dengan hisapan lembut seakan menginginkan ada air susu keluar dari sana.


"Ohh... Alvaro!"


Alvaro menghisapnya dengan kencang, membuat tubuh Joana meliuk-liuk sangat indah, wanita itu menggelinjang dan terus mendes-ah.


Alvaro segera turun dari brankar, dia membuka kulkas yang ada diruangan tersebut, memasukkan es batu kecil ke dalam mulutnya. Seorang pria memang paling senang membuat lawan mainnya mendes-ah dan terus mendes-ah keenakan, dan ingin lawan mainnya puas.


"Untuk apa es batu itu, Al?" Tanya Joana dengan polosnya. Joana tidak paham untuk apa Alvaro memakan es batu, mungkin karena wanita itu masih polos, sementara Alvaro sudah pro, Alvaro ingin melihat bagaimana gilanya Joana ketika es batu mengenai tubuhnya.


Alvaro naik kembali ke dalam brankar, dia mengigit sedikit es batu, kemudian mengusapkan es batu yang dia gigit ke buah dada Joana yang besar itu, membuat Joana bergerak gelisah merasakan sensasi dinginnya es batu di mulut Alvaro, dia hampir dibuat menjerit ketika merasakan mulut Alvaro yang dingin itu mengu-lum are puncaknya kembali.


Joana semakin menggila, tangannya meraih pinggiran besi di pinggir brankar agar memiliki kekuatan karena Alvaro telah menyiksanya dengan kenikmatan ini.


Alvaro masih mengigit es batu yang sudah mulai mengecil, dia usapkan es batu tersebut ke perut Joana yang rata dan begitu menggoda, kemudian es batu tersebut telah sampai ke sesuatu yang dinamakan surga dunianya Alvaro.


Seketika tubuh Joana menegang ketika merasakan dinginnya mulut Alvaro mencumbu miliknya, pria itu membuat Joana semakin menggila, apalagi ketika es batu yang sudah semakin mengecil itu Alvaro gesekan dengan lembut di area intinya.


"Eughhh... Ahhh... Al!" Joana semakin melebarkan pahanya, membuat kepala Alvaro semakin tenggelam di bawah perutnya, mulut Alvaro semakin gencar bermain di bawah sana.


Es batu yang tinggal sedikit itu Alvaro masukan ke dalam, hal yes sukses membuat tubuh Joana semakin terangsang, punggungnya terus naik ke atas, suara des-ahan maskin terdengar dengan jelas dan kencang.


"Ahhhh.... ahhh... ahhh..."


Joana menggeram hebat merasakan lum-atan dan hisapan yang dilakukan oleh Alvaro dibawah sana, sehingga kini tangannya mulai menekan kepala Alvaro, membuat Alvaro semakin memperdalam lum-atannya.


"Ahhh... ahhh... Alvaro!" Joana meracau, dia merasakan sepertinya akan segera tiba sesuatu yang akan tumpah di bawah sana, sehingga tubuhnya tak bisa diam, dia membusungkan dadanya, dan kakinya mulai menegang.


Joana menjerit penuh kenikmatan ketika merasakan ada yang tumpah dibawah perutnya, begitu banyak. Dia semakin gila karena Alvaro belum berhenti juga, pria itu malah semakin menggodanya dengan lidahnya, mengocok di dalam sana.


Tak lama kemudian, Joana merasakan pelepasan keduanya, malam ini sungguh gila, berbeda dengan yang kemarin-kemarin. Alvaro sungguh luar biasa, pria itu sangat ahli dalam memuaskan lawan mainnya, membuat Joana dimabuk kepayang. Sampai wanita tersebut banjir begitu banyak.