Bangkitnya Pria Hina (Detektif Al)

Bangkitnya Pria Hina (Detektif Al)
Bab 55


Malam ini Alvaro sedang berada di sebuah restoran mewah, dia sengaja tiba terlebih dahulu di restoran tersebut, karena itu dia menyuruh bodyguard untuk mengawal Joana untuk sampai kesana.


"Mengapa dia belum datang juga?" Alvaro sangat tidak sabar menunggu kedatangan Joana, ketika Alvaro melihat jam di arlojinya, ternyata baru jam setengah tujuh malam, pantas saja dia merasa sangat lama menunggu kedatangan Joana, karena dia datang ke restoran terlalu kecepatan. Sementara dia janjian dengan Joana jam 7 malam.


Setelah sekian lama menunggu kedatangan Joana, akhirnya matanya menangkap pada satu titik, seorang wanita cantik memakai gaun indah berwarna jingga pemberian darinya.


Hampir saja Alvaro dibuat ngiler ketika melihat penampilan cantik sang istri, membuat dia tak sadar bahwa dia belum berkedip sadari tadi. Alvaro segera mengalihkan pandangannya ke arah lain, jangan sampai Joana tahu bahwa dia terpesona dengan penampilan Joana malam ini.


Joana malam ini sangat terlihat anggun, yang pasti dia telah berdandan dengan sangat cantik, membuat Alvaro semakin terpana dengan kecantikannya.


"Maaf, aku sepertinya telat satu menit." ucap Joana, sembari memperlihatkan senyuman manisnya, dia pun duduk bersebrangan dengan Alvaro.


Alvaro menganggukkan kepalanya, "Tidak apa-apa, aku juga baru datang." jawab Alvaro dengan nada datarnya, padahal dia telah datang satu jam yang lalu di restoran itu. Dan dia tidak ingin Joana tahu akan hal tersebut.


"Yang penting kamu tidak melupakan janjimu untuk mentraktir aku." sambung Alvaro, dia langsung menagih imbalan pada Joana.


Joana menghela nafas ketika Alvaro mengingatkannya bahwa malam ini bukanlah makan malam romantis, tapi makan malam untuk atas rasa terimakasih karena Alvaro telah membantunya.


Joana seharusnya paham akan hal itu, tapi tetap saja dia merasa makan malam ini terasa sedikit spesial, mungkin karena dia senang karena ayahnya lebih memilih ide darinya dari pada ide dari Dimas, walaupun sebenarnya ide tersebut dari Alvaro.


Setelah menu makanan telah tersedia diatas meja, mereka pun mulai mencicipi makanan disana. Joana menjadi teringat tentang Alvaro yang seperti sering mengawasinya, tapi percuma saja bertanya kepada Alvaro, pria itu tak akan menjawab pertanyaan darinya, karena itu dia memutuskan untuk mencaritahu sendiri.


Setelah selesai makan malam, Alvaro memutuskan untuk langsung pulang, tapi Joana enggan langsung pulang, dia masih ingin menikmati suasana di luar sana.


"Al, setelah ini kita mau pergi kemana lagi?" tanya Joana kepada Alvaro yang sedang menyetir mobil menuju perjalanan pulang.


"Pulang." Jawab Alvaro dengan singkat.


"Al, kenapa harus cepat-cepat pulang? Bagaimana kalau kita nonton film dulu?" Joana berusaha untuk membujuk Alvaro, karena ada film yang ingin dia tonton sekarang ini.


Alvaro menolak bujukan dari Joana, "Gak, aku gak suka nonton film." ucapnya sambil fokus menyetir mobil. Sementara empat orang bodyguard yang menjaga Joana telah Alvaro suruh untuk pulang lebih awal.


"Astaga, kamu benar-benar gak asik, Al." Joana memanyunkan bibirnya, karena kesal dengan Alvaro, padahal dia ingin sekali menonton film yang sedang booming itu.


Alvaro menghela nafas ketika melihat Joana cemberut seperti itu, membuat dia tak tega melihatnya. "Hhhh... oke, oke, mari kita nonton."


Joana tersenyum manis, "Nah, gitu dong. Jadilah suami yang baik malam ini aja, Al." Joana malah menggoda Alvaro.


Alvaro dan Joana pun akhirnya menonton sebuah film di salah satu bioskop yang ada di ibu kota.


Alvaro memang tak menyukai film bergenre romantis, tapi dia memilih untuk mengikuti keinginan Joana, mungkin ada kalanya seorang wanita juga membutuhkan sebuah hiburan, sehingga dia terpaksa menemani Joana menonton film yang bergenre romance komedi tersebut.


Joana dibuat beberapa kali tertawa oleh film yang tengah dia tonton, dia nampak sangat menikmati film tersebut, sehingga Alvaro tanpa sadar dia ikut tersenyum memperhatikan Joana, Alvaro lebih tertarik untuk memandangi Joana dari pada filmnya.


Membuat semua orang yang menonton film tersebut menatap ke arah Alvaro dengan tatapan penuh keheranan.


"Itu kan scene sedih, Al. peran utama prianya meninggal, kenapa kamu ketawa?" bisik Joana kepada Alvaro.


Alvaro terkejut mendengarnya, rupanya dia telah ketahuan tidak fokus menonton filmnya. Mau fokus bagaimana, ada yang lebih menarik untuk dia tonton di sampingnya.


...****************...


Setelah menonton film, Joana mengajak Alvaro untuk naik bianglala yang terdapat di tempat hiburan, letaknya tak jauh dari bioskop tempat mereka menonton film tadi.


"Untuk apa naik bianglala? Kayak anak kecil aja." protes Alvaro.


"Ayolah, sekali-kali kamu harus menikmati hidup, Al." Joana mengatakannya dengan nada memaksa.


Hingga pria itu tak dapat menolak permintaan Joana, Joana menarik tangan Alvaro untuk naik ke dalam bianglala yang ada di wahana.


Alvaro terpaksa duduk berhadapan dengan Joana di bianglala tersebut, malam ini entah mengapa dia menjadi suami yang penurut untuk Joana.


Bianglala mulai berputar secara perlahan, Joana sangat menikmati indahnya suasana malam hari ibu kota diatas bianglala sana, seakan dirinya sedang terbang tinggi.


Sementara Alvaro, pria itu lagi-lagi tak bisa mengalihkan pandangannya, dia menatap lekat wanita dihadapannya itu.


Joana pikir Alvaro menatapnya karena menginginkan jus jeruk yang sedang dia minum.


"Apa kamu mau jusnya, Al?" tanya Joana, sambil menyodorkan jus yang sedang dia pegang pada Alvaro.


"Aku tidak suka jeruk." jawab Alvaro dengan nada datar. Dia memang tidak suka buah-buahan yang masam ataupun makanan yang pedas.


"Padahal jeruk itu bagus lho untuk kesehatan, mengandung vitamin C, selain itu jeruk juga bisa menurunkan kolesterol, melancarkan pencernaan, dan mengontrol tekanan darah." Joana seakan sebagai seorang ibu yang sedang menasehati putranya.


"Ayolah kamu harus coba sedikit, aku jamin pasti kamu akan suka jeruk setelah ini." Joana menyodorkan kembali jus jeruk miliknya pada Alvaro, wanita itu tersenyum begitu manis pada Alvaro.


Alvaro lama sekali memperhatikan Joana. Justru Alvaro lebih tertarik pada bibir orang yang sedang meminum jus jeruk dihadapannya itu, dari pada jus jeruk yang ditawarkan oleh Joana kepadanya.


"Baiklah, aku akan mencoba rasanya." ucap Alvaro, pelan.


Pria itu mencondongkan badannya, Joana pikir Alvaro akan mengambil jus jeruk dari tangannya, tapi pria itu malah menekan tengkuk Joana, mencium bibir Joana, membuat Joana terkejut.


Rupanya pria tersebut ingin mencoba rasa jeruk lewat bibir Joana. Tapi bukan rasa jeruk yang Alvaro rasakan, bibir Joana sangat terasa manis, membuatnya candu.


Mungkin saking kagetnya sampai kemasan jus jeruk tersebut jatuh ke lantai bianglala, Joana tak bisa menolak ciuman itu, dia juga tak tahu, mengapa dia tidak bisa menolak setiap kali Alvaro menyentuhnya.