
Terdengar suara burung berkicau, telah menandakan bahwa hari telah lagi. Sinar mata hari memancarkan cahaya di sela-sela sudut jendela kamar. Sebuah kamar yang telah menjadi tempat pertempuran panas antara Alvaro dan Joana.
Joana terbangun, dia merasakan tubuhnya remuk dan selang-kangannya sakit. Pria itu telah menerkam tubuhnya tanpa ampun dan menghajarnya terus menerus.
"Arrrgghh... badanku benar-benar terasa remuk." Joana mengeluh. Dia sedikit meringis merasakan perih di daerah intinya.
Joana melihat ada noda merah di seprai, sebuah pertanda bahwa dia kini sudah bukan seorang gadis lagi. Dan pertanda bahwa Alvaro ternyata memang seorang pria normal, pria tersebut begitu perkasa diatas ranjang.
Joana jadi menelan saliva mengingat pemainan panasnya bersama Alvaro, tak dipungkiri awalnya terasa sakit, dan rasa sakit itu telah berganti menjadi sebuah kenikmatan.
Namun, dia baru menyadari bahwa Alvaro tak ada di kamarnya.
"Tapi kemana perginya pria itu?" Joana celingukan mencari keberadaan Alvaro, pria itu sama sekali tak terlihat di pagi hari ini. Entah kemana perginya Alvaro.
Joana memaksakan dirinya untuk berjalan walaupun sedikit meringis, dia segera membersihkan tubuhnya di kamar mandi. Karena dia harus pergi ke kantor, ayahnya meminta Joana untuk bekerja disana.
Setelah mandi, Joana terkejut melihat ada empat orang bodyguard sedang menunggunya di depan rumah.
"Kami ditugaskan oleh Tuan Alvaro untuk melindungi Nona." ucap mereka hampir bersamaan.
Rupanya Alvaro telah menyewa empat orang bodyguard untuk menjaga Joana, untuk melindungi Joana, mendampinginya pergi ke kantor Alpha.
Sebenarnya Joana merasa tak membutuhkan seorang bodyguard, tapi dia pasrah saja, siapa tahu dia pingsan di jalan gara-gara Alvaro membuat tubuhnya kelelahan.
...****************...
Saat berada di dalam lift, Joana mengumpat karena Alvaro seakan tak menghargainya, pria itu tiba-tiba pergi begitu saja, tanpa berpamitan padanya. Seolah semalam tidak terjadi apa-apa diantara mereka.
"Setelah menikmati tubuhku, terus dia malah pergi begitu saja. Rasakan nanti, aku gak akan ngasih jatah lagi." gerutunya, dia sangat kesal sekali dengan ulah Alvaro.
Joana menarik nafas dalam-dalam, "Tenangkan hatimu, Joana. Saat ini kamu berada di kantor. Kamu harus terlihat berwibawa." Joana menasehati dirinya sendiri.
Setiap kali berpapasan dengan karyawan disana, mereka pasti akan membungkukan badan penuh rasa hormat kepada Joana, dan mereka menyapa Joana dengan sangat ramah. "Selamat pagi, Nona Joana."
Joana pun membalas sapaan mereka. "Selamat pagi juga."
Namun, ada satu hal yang Joana tak paham, mengapa mereka seakan menahan tawa ketika menyapa Joana. Apakah ada yang lucu dengannya?
"Ada apa dengan mereka?" Joana tak paham dengan reaksi para karyawan disana seakan sedang menahan tawa ketika berpapasan dengannya.
Joana berpapasan dengan Bianca, Bianca pura-pura tersenyum kepada Joana. "Kamu datang juga, Jo?"
"Tentu saja, karena aku yang harus meneruskan perusahaan papa." jawab Joana dengan nada angkuh. Dia akan bersikap dingin kepada orang yang tidak dia suka.
Bianca tersenyum sinis. "Hm, kamu lupa ya, kakakmu telah lama bekerja disini. Dalam masalah penerus perusahaan, bukanlah harus selalu ada hubungan darah, tapi siapa yang layak."
"Sebagai kakak ipar, aku hanya ingin mengingatkan kamu, agar kamu tidak berharap lebih. Jatuhnya akan menyakitkan, apalagi papamu sepertinya sangat mendukung Mas Dimas yang menjadi penerus perusahaan."
"Lehermu..." Pandangan Bianca teralihkan pada lehernya Joana, banyak sekali tanda kepemilikan disana, sampai matanya membulat, dia pasti sangat tahu siapa yang memberikan tanda itu pada lehernya Joana. Siapa lagi kalau bukan suaminya.
Joana tak paham, mengapa Bianca menatap ke arah lehernya. Dia nampak menganga begitu menyadari bahwa semalam Alvaro telah memberikan banyak stempel merah disana.
Pantas saja orang-orang menahan tawa saat berpapasan dengan Joana, mungkin karena tanda merah di leher Joana itu.
Joana segera pergi ke kamar mandi. "Astaga, mengapa aku sama sekali tak sadar dengan tanda merah ini. Ini semua gara-gara pria tak berperasaan itu." Joana menutupi tanda merah itu dengan make up.
"Aku pikir niat dia menikahi aku untuk menyembunyikan bahwa dia sebenarnya pria ho-mo. Tapi ternyata aku salah, dia sangat normal. Lantas apa tujuan dia menikah aku?" Joana tak bisa menebak perasaan Alvaro, pria itu begitu misterius untuknya.
Sementara itu, di ruangannya Bianca. Bianca sangat tidak terima melihat ada tanda kiss-mark di leher Joana. Sampai dia membanting buku-buku yang ada diatas meja.
"Arrrgghh!"
Bianca tak sanggup membayangkan mungkin semalam Alvaro dan Joana telah bercinta, dia benar-benar tidak rela, sangat tidak rela Alvaro menyentuh Joana.
"Gak, aku sampai kapanpun gak akan pernah merelakan kamu menjadi milik orang lain, Al. Aku pasti akan merebut kamu dari Joana, entah bagaimanapun caranya. Pada akhirnya kita harus bersama, seperti dulu, ketika kita menjadi pasangan saling mencintai."
...****************...
Ternyata sekarang ini Alvaro sedang berada di sebuah gedung yang terdapat di dekat pasar swalayan, ketika melihat kabar berita tadi pagi.
'Seorang model papan atas Gina Oktavia telah meninggal secara tragis, mayatnya sengaja di gantung di tempat keramaian, membuat orang-orang yang melihat mayat tersebut sangat histeris. Banyak sekali luka tusukan di badannya.'
Danu memang memantau Gina, lewat ponselnya Gina, ponselnya Gina setiap kali di cek terlihat sedang berada di sebuah hotel yang ada di Singapura, tapi ternyata ketika dia berada di Singapura, Gina di culik oleh anak buahnya Dion ke Indonesia, sengaja membiarkan ponselnya Gina berada di hotel yang ada di Singapura tersebut untuk mengelabui Danu. Barulah Dion mengeksekusi Gina di Indonesia.
Kali ini Dion tidak memakaikan gelang pita berwarna merah di tangannya korban, mungkin karena polisi akan mencurigainya jika seandainya dia melakukan ciri khas yang sama, apalagi semua orang tahu bahwa si pembunuh berantai gelang pita itu adalah Alex, ayahnya.
Alvaro datang ke lokasi ke kejadian, tersangka sengaja menggantung mayat Gina di sebuah gedung yang dekat sekali dengan pasar, seolah dia ingin menantang seseorang sehingga mayat tersebut sengaja dia pamerkan.
Mayat Gina memang sudah tidak ada disana, sekarang ini sedang menjalani proses otopsi, dan Alvaro sebagai detektif swasta tidak diberikan izin untuk menangani kasus tersebut.
Hanya saja pembunuhan begitu bersih, tidak meninggalkan satu sidik jaripun di tubuhnya Gina, bahkan dia telah merusak CCTV di sekitar area gedung tersebut. Sungguh pembunuhan yang telah dirancang dengan sempurna.
Alvaro sudah menduga bahwa ini semua ini adalah ulahnya Dion, Dion pasti pelakunya. Dia sudah yakin bahwa Dion akan mengincar Gina. Sayang sekali dia tak bisa menemukan satu bukti apapun tentang kejahatannya. Pria itu begitu cerdik, bahkan setara polisi pun tak dapat mencurigainya.
Mungkin pembunuhan itu terjadi pada malam hari, dan mayatnya Gina sengaja digantung pada tengah malam, karena suasana sangat sepi disana. Mata Alvaro beredar, memperhatikan ke lingkungan sekitar di area gedung tersebut. Siapa tahu dia bisa mendapatkan bukti.
Alvaro melihat ke arah dinding rooftop di gedung tersebut, disana terdapat sebuah tulisan dengan cat berwarna merah, seolah tulisan itu ditujukan kepadanya.
'Tunggulah, aku akan membuatmu kehilangannya.'