
"Kamu mau kemana?" tanya Dimas ketika melihat Bianca yang sedang berdandan di depan cermin.
Tumben sekali malam ini Dimas tidak bermain dengan para wanitanya. Mungkin karena dia sedang sibuk mengurus keuangan di Alpha, ayah tirinya begitu mempercayai Dimas.
"Ada berkas penting yang ketinggalan di kantor, aku harus membawanya." Bianca terpaksa harus berbohong pada Dimas. Dia tidak mungkin akan menjawab pertanyaan dengan jujur dari Dimas bahwa dia akan pergi kemana malam ini.
Karena itulah Bianca sudah berpakaian kantor, agar Dimas tidak curiga kepadanya.
Dimas duduk di pinggiran ranjang, dia memperhatikan Bianca yang sedang menyisir rambutnya. "Apa kamu masih mencintai mantan suamimu itu?"
Dimas bertanya seperti itu karena dia tidak sengaja melihat Bianca yang terus saja memperhatikan Alvaro ketika Alvaro menjemput Joana tadi sore di kantor pusat Alpha. Bianca terlihat kesal memperhatikan mereka.
Bianca terkejut ketika Dimas bertanya seperti itu padanya, sampai dia menghentikan sejenak aktivitasnya.
Padahal sekarang ini dia sangat patah hati ketika melihat ada tanda merah di leher Joana, sungguh dia tidak rela jika Alvaro dan Joana melakukan hubungan suami istri. Bianca seakan ingin menjerit sejadi-jadinya.
Tentu saja Bianca tidak mungkin mengakuinya, bisa-bisa dia kehilangan segalanya jika ketahuan masih mencintai Alvaro.
"Kalau aku masih mencintainya, untuk apa aku memilihmu." jawab Bianca dengan tenang, dia menyisir rambutnya kembali.
"Oke, baguslah. Itu artinya kamu tidak keberatan jika seandainya mungkin saja pria itu harus terlibat ke dalam rencana kita." Dimas rasa Alvaro akan menghalangi rencananya untuk menguasai perusahaan ayah tirinya itu.
Dimas sama sekali tidak merasa cemburu jika Bianca masih mencintai Alvaro, hanya saja yang Dimas takutkan adalah Bianca menjadi penghalang jika dia berbuat sesuatu kepada Alvaro.
Bianca terkejut mendengarnya. "Maksudmu?"
"Apa kamu lupa bahwa aku, kamu dan mama sudah merencanakan untuk melenyapkan Joana? Tapi sepertinya Alvaro ingin sekali menjaga Joana, sampai memperkerjakan bodyguard untuk menjaga Joana. Aku rasa Alvaro juga memang harus dilenyapkan." Dimas telah menjawab pertanyaan dari Bianca dengan panjang lebar.
"Eemm... a-aku pergi dulu." pamit Bianca. Dia memilih pergi dari pada menjawab pertanyaan dari Dimas. Karena sebenarnya dia tidak menyetujui rencana Dimas jika harus melibatkan Alvaro ke dalam rencana jahat mereka.
Sebenarnya Bianca bukanlah pergi ke kantor, tapi dia pergi ke sebuah hotel. Kali ini Bianca memilih untuk merendahkan harga dirinya, mungkin menurut dia ini adalah salah satu jalan supaya bisa bersama lagi dengan Alvaro.
Karena dia tahu apa itu kelemahan seorang pria, yaitu hawa naf-su. Dulu juga dia rela memberikan tubuhnya untuk Dimas sehingga Dimas semakin tergila-gila padanya, dan sering mengajaknya bercinta setiap hari, padahal dulu status Bianca masih menjadi istrinya Alvaro.
Bianca menggantikan pakaiannya dengan sebuah lingerie yang sangat terlihat seksi, sehingga bisa terlihat jelas bagaimana lekuk tubuhnya, bahkan transparan, sehingga terlihat kulit tubuh Bianca, termasuk bagian dadanya yang menonjol.
kemudian Bianca memotret dirinya sendiri, dia mengirimkan foto tersebut pada Alvaro, Alvaro pria normal, tidak mungkin jika tidak tergoda, itulah menurut pemikiran dari Bianca. Apalagi Alvaro pernah tergila-gila padanya, tidak mungkin jika tidak ada rasa yang tersisa untuknya.
[Al, malam ini aku sedang berada di hotel. Aku ingin sekali bertemu denganmu, aku sangat merindukanmu, aku ingin malam ini menjadi milik kita berdua. Aku mohon sekali saja kita melupakan masalah yang terjadi pada kita.]
Saat itu Alvaro hampir saja tertidur di kursi sofa, tapi bunyi getaran ponselnya diatas meja membuat rasa ngantuk itu hilang seketika.
"Siapa yang mengirim pesan malam-malam begini?" gerutu Alvaro, dia sangat terganggu sekali, padahal hampir saja mau tidur di kursi sofa sana.
Alvaro meraih ponselnya yang tergeletak diatas meja, dia terkejut ketika melihat foto yang dikirim oleh Bianca, termasuk pesan yang dikirim oleh mantan istrinya itu.
[Al, malam ini aku sedang berada di hotel. Aku ingin sekali bertemu denganmu, aku sangat merindukanmu, aku ingin malam ini menjadi milik kita berdua. Aku mohon sekali saja kita melupakan masalah yang terjadi pada kita.]
Foto yang dikirim oleh Bianca begitu sangat seksi dan transparan, sehingga terlihat dengan jelas lekuk tubuhnya Bianca, apalagi bagian dadanya. Wanita ini benar-benar ingin membuat Alvaro terangsang dan tergoda olehnya. Mungkin karena terlalu sangat merindukan Alvaro, sehingga ingin mengulang moment panas diantara mereka ketika mereka masih menjadi sepasang suami istri yang saling mencintai kala itu, sebelum Dimas hadir ke dalam kehidupan mereka.
Bianca mengirim pesan kembali kepada Alvaro.
[Aku ada di kamar hotel xxxxx No 39, aku menunggumu disana.]