Bangkitnya Pria Hina (Detektif Al)

Bangkitnya Pria Hina (Detektif Al)
Bab 33


Setelah selesai makan malam, Alvaro memutuskan untuk tidur lebih cepat dari biasanya, dia sudah membaringkan badan diatas kasur, seluruh tubuhnya ditutupi oleh selimut.


Alvaro sangat berharap Joana tidak berulah malam ini, dia takut tidak bisa mengendalikan hasratnya yang sekarang ini sedikit menggebu kepada gadis cantik itu.


Tapi sayangnya harapan Alvaro tak terkabul, Joana malah masuk ke dalam selimut Alvaro, "Al, kapan kita melakukan malam pertama?"


Joana memang paling senang menggoda Alvaro yang masih dia kira sebagai pria ho-mo tersebut.


Lagi-lagi Joana menanyakan soal malam pertama padanya. Alvaro segera memejamkan mata, "Aku ngantuk, aku harus tidur lebih awal, karena pekerjaan aku sangat banyak besok."


Joana malah memeluk Alvaro, membuat Alvaro nampak kelimpungan, apalagi dia melihat penampilan Joana yang memakai piyama sangat seksi, sangat terlihat jelas bagaimana belahan dadanya. "Hm, sayang sekali, apakah itu artinya kamu akan menjadikan aku perawan abadi?"


Alvaro meneguk saliva ketika mendengar kata perawan, ternyata tebakannya memang benar bahwa Joana masih perawan. "Emm... bu-bukan begitu..."


Joana telah habis kesabaran, dia melempar selimut yang menutupi tubuh mereka ke lantai, dia menghela nafas. "Hm, sekarang aku sudah memiliki cukup bukti." katanya sambil terkekeh.


Alvaro mengerutkan keningnya, "Bukti apa?" dia tak paham dengan apa yang Joana ucapkan.


Joana malah balik tanya, "Aku jadi penasaran, diantara mereka berdua siapa pacar kamu?" Joana merasa mungkin pacarnya Alvaro adalah Gleen atau Danu.


Alvaro semakin tidak paham dengan perkataan Joana, dia segera terduduk diatas kasur itu, begitupun Joana. "Aku tidak paham dengan apa yang kamu bicarakan. Siapa yang kamu maksud?"


"Maksud aku diantara Danu dan Gleen, siapa pacar kamu? Atau kamu mengencani keduanya? Atau mungkin pacar kamu bukan diantara mereka? Jadi pria mana yang kamu kencani, Al?" Joana begitu berani bertanya seperti itu kepada Alvaro.


Alvaro terbelalak mendengar pertanyaan dari Joana, bisa-bisanya mengira bahwa Alvaro mengencani seorang pria, sehingga mengira Gleen dan Danu adalah teman kencannya. Sampai dia nampak menganga memandangi Joana, walaupun sebenarnya dia dibuat kesal oleh gadis itu.


"Sebenarnya aku sudah tahu kamu itu adalah pria ho-mo, makanya mengapa aku berani menggoda kamu, Al. Karena aku tahu jonimu tidak akan bisa berdiri." Joana mengatakannya sambil terkekeh, seakan merasa bahwa apa yang dia lakukan itu lucu, sampai meledek Alvaro.


Kemudian Joana tertawa karena nasibnya begitu mengenaskan harus menikah dengan seorang pria ho-mo.


Setelah puas tertawa, kemudian gadis itu pun berdiri, karena dia telah merasa puas mengerjai Alvaro dan mentertawakannya. "Karena aku sudah puas mengerjai kamu, aku akan kembali ke kamarku yang semula. Bye pria cabul, eh salah, bye pria ho-mo." Joana menjulurkan lidahnya pada Alvaro sambil melambaikan tangan. Joana malah mengejek Alvaro.


Alvaro sangat merasa kesal kepada gadis itu, dulu Joana memanggilnya pria cabul, dan sekarang panggilannya semakin parah, yaitu pria ho-mo.


Alvaro menarik Joana ke dalam pangkuannya, membuat gadis itu terkejut. "Al!"


Bukannya melepaskan Joana, pria itu membuat posisi mereka begitu intens, Alvaro membuat tubuh Joana berada di bawah kungkungannya. Dia menjentikkan jarinya pada keningnya Joana. "Kamu memanggil apa padaku tadi?"


Alvaro tidak terima di kira ho-mo oleh Joana, masa pria segagah dia dikira ho-mo.


"Pria ho-mo, sudahlah jangan berpura-pura normal di depan aku. Aku tahu kamu sebenarnya tidak berhasrat sama sekali pada wanita. Mungkin itu alasan kamu menikahi aku, untuk menyembunyikan ketidaknormalan kamu itu, iya kan? Astaga, seperti dunia novel saja!"


Joana berkata kembali. "Tapi kamu tenang aja, aku akan jaga rahasia. Jadi tolong lepaskan aku!"


Joana ingin melepaskan diri dari Alvaro, tapi Alvaro menahannya kedua tangannya dengan kuat, menatap kedua bola mata Joana. "Aku akan membuktikan bahwa tuduhanmu itu salah. Kamu akan bertekuk lutut dibawah perkasaanku. Agar kamu menyesal sudah mengganggap aku pria ho-mo."


Joana bergidik ngeri mendengarnya, apakah mungkin Alvaro itu sebenarnya normal? Tapi kenapa pria itu begitu datar, seakan tak memiliki gairah kepada wanita?


Joana terbelalak ketika Alvaro meraup bibirnya, mencum-bunya begitu rakus dan sangat bernaf-su sekali, Alvaro tidak paham mengapa dia bisa bergairah kepada gadis ini, kejantanannya yang dia pikir telah lama mati, kini hidup kembali, seakan tak sabar ingin segera berbuka puasa, dan ingin segera masuk ke dalam diri Joana, yang dari tadi membuat tubuhnya kepanasan.


Tangan Alvaro menuntun tangan Joana, membawanya masuk ke dalam celana Alvaro, menyentuhkan tangan Joana pada batang Alvaro yang kekar itu. Hal tersebut membuat Joana membulatkan matanya.


"Apakah senjataku sekekar itu pantas dibilang ho-mo?" Alvaro merasa Joana menyinggung soal harga dirinya.


...****************...


...Siapakan es batu yang banyak!!!...