
Di ruangannya, Joana nampak sedang mengetuk-ngetukan jari telunjuknya diatas meja, sambil berpikir. Apakah selama ini Alvaro sering mengawasinya sampai dia tahu apa yang terjadi di meeting room?
Joana tahu bahwa Alvaro adalah seorang detektif, tapi dia tidak pernah berpikir sedikitpun bahwa pria itu akan mengawasinya, tapi untuk apa Alvaro mengawasinya? Padahal dia tidak melakukan tindakan kejahatan atau tindakan kriminal apapun.
Apakah mungkin Alvaro sebenarnya diam-diam naksir padanya, tapi dia tipe pria yang sulit bilang cinta, sehingga lebih memilih memperhatikannya di balik layar rekaman CCTV?
Joana menggelengkan kepalanya, tapi rasanya tidak mungkin, dia tidak ingin terlalu percaya diri menganggap pria itu memiliki perasaan padanya.
Yang pasti saat ini Joana merasa gugup, seolah merasa bahwa kamera CCTV yang ada di ruangannya itu adalah mata Alvaro, seakan pria itu sedang menatapnya.
'Selain misterius, Al ternyata sangat berbahaya dan tukang ngintip. Seberapa banyak yang dia ketahui tentang aku?' keluh hati Joana.
Tapi walaupun begitu, dia bukan orang yang tidak tahu rasa terimakasih, karena ayahnya telah memilih ide dari Alvaro, Alvaro telah sangat membantunya. Sehingga Joana segera menelepon Alvaro untuk mengucap rasa terimakasih untuknya.
"Mau telepon siapa dia?" tanya Alvaro kepada dirinya sendiri ketika Joana terlihat sedang melakukan panggilan telepon pada seseorang.
Drrrrtt...
Drrrrtt...
Drrrrtt...
Ponsel Alvaro bergetar. Alvaro nampak tersenyum, ternyata Joana menelepon dirinya. Alvaro segera mengangkat telepon dari Joana sambil menatap wanita itu di layar laptopnya. "Hallo."
"Emm... Al!" Belum juga mengucapkan terimakasih, Alvaro sudah gugup.
"Kenapa?"
"Terimakasih atas idemu yang telah kamu kirimkan kepadaku, akhirnya papa menyetujui ide darimu itu, Al." Joana benar-benar sangat berterimakasih kepada Alvaro.
"Hm, oke. Tapi..."
Joana yakin Alvaro pasti tidak akan memberikan idenya itu secara gratis. Sampai wanita tersebut menghela nafas.
"Tapi tetap saja itu tidak gratis, Jo. Di dunia ini tidak ada yang namanya gratis." Sesuai tebakan Joana, Alvaro pasti meminta imbalan padanya.
"Aku sudah menyuruh seseorang untuk mengantarkan pakaian untukmu, nanti malam kamu harus memakainya." ucap Alvaro lagi.
Joana sudah menebak pasti Alvaro mengirim lingerie yang seksi, dia tak paham mengapa pria itu begitu doyan terhadap dirinya. "Kenapa aku harus memakainya pada akhirnya akan ditelan-jangi juga?" Joana mengatakannya dengan nada kesal. Pria itu selalu saja bersikap mes-um padanya.
Alvaro tidak paham dengan perkataan Joana. "Aku hanya meminta imbalan untuk ditraktir makan olehmu nanti malam, tidak mungkin aku menela-njangi kamu di restoran." Yang ada Alvaro akan merasa rugi jika tubuh Joana dilihat orang lain.
Seketika wajah Joana nampak memerah, dia sangat malu, mengapa harus berpikir bahwa Alvaro meminta imbalan dengan cara memberikan jatah lagi untuknya.
"Dasar me-sum." Alvaro mengatakannya sambil menahan tawa, walaupun sebenarnya dia lebih senang jika Joana memberikan imbalan itu padanya. Tapi Alvaro sadar bahwa dia dan Joana belum pernah makan malam bersama di luar, untuk merayakan karena dia telah berhasil mengalahkan Dimas dan Bianca.
Joana ingin memprotes karena tidak terima disebut mes-um oleh Alvaro, sayangnya Alvaro keburu mematikan panggilan teleponnya, membuat Joana sangat kesal.
Klik!
"Aish... seharusnya pamit dulu kek sebelum mematikan panggilan telepon." gerutu Joana. Alvaro selalu saja membuatnya kesal, pria itu juga sangat menyebalkan.
Joana menghela nafas dengan pelan, "Aku dibilang mes-um? Padahal dia yang selalu berbuat mes-um padaku, dia tiba-tiba berada di kamarku dan menggempurku tanpa ampun!" gerutu Joana dengan pelan.
Tak lama kemudian, kiriman dari Alvaro datang.
"Nona, ada kiriman dari Tuan Alvaro untuk Anda." ucap Asisten Arman sambil memberikan sebuah paper bag pada Joana.
Joana segera mengambil paper bag tersebut, "Iya, terimakasih, Asisten Arman."
"Sama-sama, Nona." Asisten Arman pun pergi dari sana.
Joana segera membuka paper bag tersebut, ternyata pakaian yang dimaksud Alvaro adalah sebuah gaun yg sangat indah berwarna jingga. Membuat Joana sangat merasa malu, dia pikir Alvaro akan mengirimkan lingerie padanya.
Jika dilihat dari brandednya, harga gaun itu sangat mahal. Membuat Joana merasa aneh kepada Alvaro.
"Aneh sekali, dia yang meminta imbalan untuk ditraktir, tapi dia malah mengirim gaun mahal untukku." gumam Joana, dia benar-benar tidak paham dengan seorang Alvaro. Membuat dia semakin penasaran pada pria tersebut. Tapi mungkin dia harus mencaritahu sendiri apa alasan Alvaro menikahinya.
Jika Alvaro tak ingin memberitahunya, biar dia saja yang mencaritahu sendiri. Siap dan tidak siap, dia harus tahu, karena wajar saja jika seorang istri ingin tahu alasan suaminya menikahinya.