
Tapi Alvaro tak ingin mendengarkan protes dari Joana, dia memposisikan dirinya berada di antara kedua paha Joana. Dia membuka lebar-lebar paha Joana, menggesekkan miliknya yang sudah berdiri tegak dan menantang kepada milik Joana.
Baru bersentuhan saja, sang jantan sudah terasa berdenyut, membuat gairahnya semakin menggila.
"Ahhh..." Joana meremang ketika milik mereka saling bergesekan, rasanya ingin segera dimasukkan, walaupun sedikit merasa takut, kata orang melepaskan keperawanan itu sangat sakit.
Lama sekali Alvaro menggesekkan batangnya pada milik Joana yang sudah basah dan lembab itu.
Alvaro menghirup nafas dalam-dalam, sudah saatnya dia berbuka puasa, merasakan kembali bagaimana nikmatnya surga dunia. Dia mengarahkan batangnya yang berukuran besar tersebut ke milik Joana.
Alvaro melihat Joana, wajahnya merah merona, gadis itu nampak deg-degan karena mungkin dia takut akan kesakitan.
Alvaro segera memasukkan sang jantan. Dengan sekali hentakan kuat, Alvaro berhasil memasukkan penuh miliknya semakin dalam, rasanya sungguh nikmat, milik Joana sangat sempit, Alvaro merasakan miliknya dijepit dan diurut-urut lembut oleh Joana. Sampai dia menggeram penuh rasa nikmat.
"Ahhh Al, sakit!"
Jeritan Joana begitu sangat nyaring, kewanitaannya serasa dirobek keras, darah keperawanannya telah mengalir membasahi seprai. Dan Alvaro sangat merasa beruntung karena dia adalah orang yang pertama untuk Joana.
Alvaro mencium bibir Joana, Alvaro mulai menggerakkan pusat tubuhnya, menghujam semakin dalam, lebih dalam lagi.
Suara jeritan Joana kini berganti menjadi suara des-ahan, mungkin karena Joana mulai merasakan nikmat ketika milik Alvaro keluar masuk di bawah sana, rasa sakit sudah tidak dia rasakan. Joana tanpa sadar dia membalas ciuman Alvaro, memeluk erat punggung Alvaro yang sedang mengguncang tubuhnya.
Mungkin karena sudah lama berpuasa, Alvaro begitu brutal diatas ranjang, pria itu begitu gagah dan perkasa, membuat Joana sangat menyesal telah menganggapnya sebagai pria ho-mo, sehingga dia harus dihukum oleh Alvaro untuk membuktikan bahwa Alvaro adalah pria normal.
"Al, aku lelah sekali." protes Joana, dia sudah mulai mengantuk.
"Kamu tidur saja, sudah aku bilang padamu bahwa aku akan menunjukkan keperkasaanku padamu. Agar kamu menyesal telah menganggap aku pria ho-mo." pria itu masih saja bersikap dingin, padahal dia sangat menikmati tubuh Joana.
Tubuh gadis itu mengapa harus secandu ini, membuat Alvaro menggila, padahal dia yakin tidak memiliki perasaan apapun pada Joana. Jadi jangan salahkan Alvaro jika seandainya dia harus meniduri Joana, karena Joana yang telah menggodanya, gadis itu yang telah memancing gairahnya.
Begitulah, seorang pria bisa meniduri wanita walaupun tanpa cinta, dan Alvaro yakin, dia tak memiliki perasaan apapun pada Joana. Mungkin setelah ini, dia menjadi tak penasaran lagi kepada tubuh Joana, karena telah merasakan tubuhnya.
Alvaro merasakan ada yang ingin keluar dari pusat intinya, dia mempercepat gerakannya, mulutnya melahap buah melon milik Joana, badannya bagaikan tersengat listrik ketika merasakan dirinya telah melakukan pelepasan, sehingga ca-iran kental dia semburkan pada milik Joana.
"Arrrgghh... Joana."
Kalau Joana, jangan ditanya lagi, mantan gadis itu telah dibuat basah oleh Alvaro berkali-kali.
Alvaro terengah-engah, masih menindih tubuh Joana. Kemudian dia melihat Joana yang sudah terlelap, karena mungkin telah kelelahan.
Alvaro mencabut miliknya, dia segera membersihkan badannya di kamar mandi, setelah itu dia baru menyadari bahwa seharusnya dia tak melakukannya pada Joana. Padahal dia adalah seseorang yang selalu memegang ucapannya sendiri. Dia tidak ingin jatuh cinta lagi kepada wanita manapun.
"Kamu bodoh Al. Seharusnya aku tak melakukannya." Alvaro mengutuk dirinya sendiri, sambil menyandarkan kepalanya ke dingin kamar mandi, seolah menyesali apa yang telah dia lakukan.