
Tanpa di duga Dion telah berhasil meraih pistolnya yang letaknya tak jauh darinya, dia tertawa mengarahkan pistol tersebut ke arah kepala Alvaro.
"Selamat tinggal Detektif Al!"
Zdor...
Terdengar suara tembakan begitu keras.
Seorang polisi dengan sigap menembakkan sebuah peluru, hingga melesat dengan cepat, bersarang tepat di kepala Dion. Sehingga Dion belum sempat menekan pelatuk pistol yang ada ditangannya.
Pistol itu pun terjatuh dari genggaman Dion, menimpa bebatuan kecil disana.
Tembakan itu menyebabkan kepala Dion berlubang, tubuhnya terhuyung lalu tumbang ke bebatuan yang ada di pinggir sungai sana, matanya shock melotot dengan kondisi terlentang.
Tubuh Dion nampak sedikit mengejang, dia memuntahkan darah, darah segar bercucuran keluar dari kepalanya, terlihat pria itu meneteskan air matanya. Di dalam perjalanan hidupnya selama 25 tahun ini, dia pernah bahagia, dia pernah menjalani kehidupan seperti manusia pada umumnya, dan pernah jatuh cinta. Walaupun hanya sesaat. Ketika dia bersama seorang wanita bernama Joana, hidupnya merasa damai dan tenang ketika dia masih berada di Amerika bersama wanita itu.
Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, Dion berharap dikehidupan selanjutnya dia terlahir menjadi manusia yang normal, karena dulu dia pernah menjalani kehidupan normal seperti biasanya walaupun hanya sebentar. Dan kenangan bersama Joana adalah kenangan terindah yang akan dia bawa sampai mati. Sayangnya dia tidak diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk bisa melihat Joana untuk terakhir kalinya.
Tubuh Dion kini sudah tak bernyawa lagi, dengan kondisi mata yang masih melotot. Alvaro berjalan mendekati tubuh Dion yang nampak sangat pucat, dia mengusap mata Dion sehingga mata Dion kini telah terpenjam. Mungkin inilah akhir dari kisah pertualangan dari seorang pembunuh berantai, Dion Sanjaya.
Dan inilah hukuman untuknya, harus mati secara mengenaskan seperti itu tanpa ada satu orangpun menangisinya. Sebenarnya dia bisa berubah jika dia memiliki keinginan yang kuat, tapi dia lebih memilih mengikuti nalurinya untuk menjadi seorang pembunuh.
...****************...
Suara sirine ambulan terdengar bersahutan, para petugas medis membawa mayat Dion ke dalam ambulan tersebut.
"Detektif Al, Anda juga harus menjalani perawatan, tubuh Anda pasti terluka." ucap salah tahu polisi yang ada disana kepada Alvaro, mengingat Alvaro tadi berkelahi dengan Dion, apalagi tadi dia terjun dari tebing ke sungai. Tidak mungkin jika Alvaro tidak terluka.
Alvaro menggelengkan kepalanya, "Aku tidak apa-apa." Walaupun ada sedikit luka memar di punggung, kaki, dan juga wajahnya, tapi tak dia rasakan, mungkin karena dia sering terluka seperti itu.
Saat ini yang dia inginkan bukanlah sebuah perawatan, tapi menuntaskan masalahnya dengan Joana. Dia tidak akan tenang selama Joana masih marah padanya. Apalagi dia harus menjebloskan orang-orang yang telah merencanakan penyerangan terhadap Joana, siapa lagi kalau bukan Dimas, Bianca, dan Bu Nadia. Mungkin seandainya dulu dia tidak menyelamatkan Joana, entah bagaimana nasib Joana saat itu, karena Baron CS di suruh untuk membunuh Joana saat itu.
"Ya sudah kalau begitu kami pergi dulu. Terimakasih atas kerjasamanya, Detektif Al. Jaga diri Anda baik-baik." pamit polisi tersebut.
Alvaro menganggukkan kepalanya. Akhirnya para petugas kepolisian pun telah pergi bersama dengan ambulan yang mengangkut jenazahnya Dion.
Misi penyelidikan terhadap pembunuh berantai Dion, telah berakhir hari ini.
Alvaro melihat ada sebuah mobil berhenti tepat di depannya, dia tahu siapa pemilik mobil tersebut, sampai dia memicingkan matanya. Dia tak mengira mengapa Joana bisa tiba disana, apakah Joana mengkhawatirkannya atau mungkin dia juga telah memaafkannya?
"Joana!" Mata Alvaro berbinar-binar begitu melihat wanita yang dicintainya itu turun dari mobilnya.
Wanita itu turun sambil menangis, mungkin karena tadi dia kaget saat berpapasan dengan ambulan yang mengangkut jenazahnya Dion, dia takut di dalam ambulan itu ada Alvaro yang sedang terluka.
"Al!" Joana berlari, dia menubruk dada Alvaro, memeluk tubuh pria itu. "Syukurlah kalau kamu baik-baik saja." Hati wanita tersebut sangat lega, dia tidak tahu bagaimana jadinya jika seandainya dia kehilangan Alvaro, pria itu sekarang ini adalah dunianya, tapi sayangnya Alvaro belum tahu isi hatinya.
Perlahan-lahan Alvaro membalas pelukan Joana, tanpa terasa dia tersenyum, seketika rasa sakit ditubuhnya tidak dia rasakan lagi, wanita itu seakan menjadi obat untuknya, membuat Alvaro semakin mempererat pelukannya, menghirup dalam-dalam aroma wangi wanita tersebut, dia merasa lega karena masih diberikan kesempatan untuk hidup, lolos dari ancaman maut. Alvaro tak ingin mati penasaran, karena masih banyak hal yang ingin dia lakukan bersama wanita itu.