Bangkitnya Pria Hina (Detektif Al)

Bangkitnya Pria Hina (Detektif Al)
Bab 52


Hari ini cukup melelahkan, sehingga Alvaro belum sempat mengecek rekaman CCTV yang ada di kantor pusat perusahaan Alpha. Makanya dia tidak tahu apa saja yang dilakukan oleh Joana hari ini.


Alvaro sekarang telah standby di depan laptop, dia ingin melihatnya Joana sedang apa sore hari ini. Sementara dia telah memeriksa ponselnya Joana yang telah dia sadap, tidak ada pesan ataupun panggilan masuk untuk Joana, mungkin Dion masih membuat strateginya terhadap apa yang dia lakukan kepada Joana, karena itu Alvaro harus siap siaga jika suatu hari nanti Dion berbuat jahat pada Joana.


Alvaro melihat Joana yang sedang mengantuk, sampai Joana menguap berkali-kali. Seumur hidup baru kali ini Alvaro melihat ada orang yang menguap sangat terlihat lucu dan menggemaskan. Sampai Alvaro tanpa sadar tersenyum tipis melihatnya. Ingin rasanya dia mengurung Joana seharian di kamarnya.


Menguap saja terlihat imut, apalagi kalau wanita itu tersenyum manis. Mengapa harus ada wanita semenggemaskan Joana di dunia ini? Bahkan tokoh kartun tweety pun kalah dengannya.


Mungkin karena saking mengantuknya sampai Joana termangut-mangut, sehingga keningnya kejedot meja.


Dugh...


"Aduhh..." Joana mengelus-elus keningnya yang nampak memerah. Joana merasa beruntung tidak ada yang melihatnya mengantuk seperti itu. Sangat memalukan.


Alvaro tersenyum melihatnya, ada saja tingkah Joana yang bisa membuatnya tersenyum. "Mengapa dia harus mengantuk saat lagi bekerja?"


Alvaro berpikir sejenak. "Apa aku sudah membuatnya kelelahan?"


Padahal apa yang Alvaro lakukan terhadap Joana tadi pagi itung-itung dia mengajak Joana berolahraga pagi, agar badan mereka sehat. Buktinya Alvaro sekarang sangat merasa fresh, sehingga dia mampu berpikir dengan lancar dengan pekerjaannya.


Alvaro melihat Joana pergi ke suatu tempat, ternyata dia pergi ke meeting room, disana ada Pak Riki, Dimas, Bianca, dan para staf karyawan tertinggi disana.


Alvaro melihat Joana sedang dalam posisi terpojok, mungkin karena dia belum begitu berpengalaman dengan pekerjaannya. Sementara Bianca dan Dimas sudah memiliki pengalaman-pengalaman bekerja yang cukup lama.


Pak Riki berkata, "Di kota C, Alpha memiliki lahan yang sangat luas. Saya ingin menanyakan pendapat kepada kedua calon penerus saya, lahan itu harus digunakan untuk apa agar kita memiliki bisnis disana, sementara masyarakat di sana menentang keras akan adanya pembangunan. Pembangunan apa kira-kira yang bisa diterima disana dan menguntungkan untuk perusahaan?"


Dimas menjawab, "Tentu saja dengan membangun sebuah pabrik, aku yakin jika kita memperbolehkan masyarakat bekerja di pabrik itu sesuai dengan kriteria, mereka pasti mengijinkannya. Dan kita akan memiliki keuntungan yang besar akan hal itu."


Bianca menyetujui usulan dari Dimas, "Aku juga sangat setuju dengan usulan dari Mas Dimas. Aku dengar banyak pemuda yang pengangguran disana, tidak ada salahnya jika kita harus menggunakan kesempatan ini untuk mengambil hati mereka, dengan memperkerjakan para pemuda bekerja di pabrik milik kita."


Beberapa orang yang hadir disana setuju dengan usulan dari Dimas. "Ya, kami setuju dengan pendapat Pak Dimas."


"Ide dari Pak Dimas sangat brilian."


Berbagai pujian untuk Dimas telah dilontarkan oleh banyak orang di meeting room sana, mereka sepertinya sangat mendukung Dimas yang menggantikan posisi Pak Riki.


Pak Riki melihat Joana yang sedang terdiam, dia ingin mengetahui pendapat dari Joana, sekalian dia ingin menilai antara Joana dan Dimas, siapa yang lebih pantas menjadi pemimpin di perusahaan. "Lalu bagaimana menurutmu, Joana?"


Joana nampak kebingungan, karena dia belum memiliki ide apapun untuk menjawab pertanyaan dari ayahnya, mungkin karena dia baru dua hari bekerja disana, masih menyesuaikan diri dengan pekerjaannya.


Drrrrtt...


Drrrrtt...


Drrrrtt...


Tiba-tiba ponselnya Joana bergetar, Joana mengerutkan keningnya ketika mengetahui siapa yang mengirim pesan padanya. Tumben seorang Alvaro, suaminya yang menyebalkan itu mengirim pesan padanya.


Joana terkejut ketika membaca pesan dari Alvaro, seolah pria itu tahu apa yang sedang dibicarakan oleh mereka yang ada di meeting room tersebut.


Sampai Joana celingukan memperhitungkan ke area lingkungan sekitar meeting room tersebut, mengapa Alvaro bisa tahu apa yang dibicarakan oleh mereka, sampai pria itu memberikan sebuah ide pada Joana.


Apakah selama ini diam-diam Alvaro selalu mengawasinya?


'Mengapa dia bisa tahu apa yang sedang dibahas di meeting room ini? Apakah mungkin selama ini dia sering mengawasiku?' hati Joana bertanya-tanya.


Kalau memang dugaannya benar, lalu keuntungan apa yang didapatkan oleh Alvaro dalam mengawasinya.


'Pria itu mengapa sangat misterius sekali.' keluh hati Joana.


Sementara itu, Alvaro nampak tersenyum setelah memberikan sebuah ide untuk Joana, dia yakin ide darinya tidak akan mengecewakan. Dia masih memantau acara meeting tersebut di balik layar laptopnya.


...****************...


...Merdeka 💪💪🇮🇩🇮🇩...