
Assalamualaikum wr wb dear readers othor tercinta, jangan lupa mampir ke novel terbaru othor yang merupakan bagian tahap MISI KEPENULISAN NOVELTOON judulnya My Husband My Enemy, dijamin ceritanya keren abis. Ide cerita dari Noveltoon, yang ditulis sama othor. Terima kasih 🤗😘
CUPLIKAN BAB:
Hamburg, 08.00 am.
Seorang laki-laki paruh baya, tampak menatap sebuah papan nama bertulis "RAYNER" tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini. Rayner, sebuah nama keluarga sekaligus nama perusahaan yang begitu dia banggakan dulu. Ya dulu, bukan saat ini karena semuanya telah hancur, sama hancurnya seperti yang dia rasakan saat ini, bisnis dan reputasinya telah hancur. Tak ada yang bisa dia banggakan, karena semua sudah habis, tak bersisa. Semua terasa begitu menyakitkan dan menyesakkan dada, hingga bernafas saja pun terasa enggan baginya. Itulah alasannya dia saat ini berdiri di atap sebuah gedung miliknya, Rayner Tower.
Laki-laki itu menatap ke arah bawah dari atap gedung yang dipijaknya. Tepat di saat itulah sebuah teriakkan tiba-tiba mengagetkannya.
"Alfonso!" teriak seorang wanita yang kini berlari mendekat ke arahnya.
"Hilda, jangan mendekat!"
"Tidak Alfonso, kita pasti punya jalan keluar dari masalah ini!"
"Tidak Hilda, semuanya sudah hancur! Reputasi, karir, dan harta milik kita telah habis! Semuanya hancur, Hilda!" teriak Alfonso sambil menjatuhkan tubuhnya dari atas gedung.
Wanita yang bernama Hilda itu, kemudian mendekat ke arah sisi gedung. Lalu menatap tubuh Alfonso, suaminya yang kini telah setengah hancur menghantam beton di pelataran gedung. Dia pun hanya bisa menangis terisak. Perlahan, dia pun ikut menjatuhkan tubuhnya dari atap gedung tersebut.
Bugh!
Bertepatan dengan tubuhnya yang menyentuh beton pelataran kantor tersebut, seorang wanita muda tampak berlari sambil berteriak ke arahnya. Dia menyibak kerumunan orang-orang yang saat ini ramai melihat sepasang suami istri yang sudah tidak bernyawa tersebut. Wanita muda itu adalah Valerie Hughette Rayner, 22 tahun, putri tunggal dari pasangan Alfonso dan Hilda Rayner.
"Mommy, Daddy!" teriaknya histeris sambil menatap dua sosok orang tuanya yang telah tiada.
Dia kemudian mendekat ke arah jenazah itu, lalu kembali berteriak memanggil nama kedua orang tuanya sambil menatap kondisi tubuh kedua orang tuanya yang terlihat begitu tragis, seluruh tubuhnya penuh luka, aliran darah segar bahkan tampak masih mengalir deras dari lubang telinga dan mulutnya. Wajah mereka pun terlihat hancur akibat menghantam beton di gedung tersebut.
"Mommy, Daddy!" teriaknya sambil meraung-raung. Sedangkan orang-orang yang ada di sekelilingnya hanya bisa menatapnya dengan tatapan pilu. Namun, ada salah seorang dari mereka yang terdengar sedang berbisik pada rekannya.
"Anggap saja ini karma dari perbuatan buruk yang pernah mereka lakukan."
"Stttt, jangan keras-keras. Kita bicarakan nanti saja!" sahut salah seorang rekannya.
Seorang petugas keamanan lalu mendekat ke arah perempuan muda itu. "Nona Valerie, ambulansnya sudah datang, kita bawa jenazah Tuan Alfonso dan Nyonya Hilda dulu ke rumah sakit!" ucap petugas keamanan tersebut.
Valerie hanya terdiam sambil menatap sosok kedua orang tuanya. Sakit, dan hancur hanya itu yang dia rasakan. Apalagi saat melihat jenazah kedua orang tuanya dimasukkan ke dalam kantung jenazah.
"Mommy, Daddy!" isaknya. Namun, dia tak bisa berbuat apa-apa, semuanya yang dia miliki telah habis tak bersisa, bahkan kedua orang tua pun tak punya.
Valerie menatap kosong dua kantung jenazah yang ada di depannya, sambil berujar lirih. "Siapapun kau, wahai manusia tak bermoral yang telah merampas kebahagiaan kami begitu saja, mulai hari ini aku berjanji akan menghancurkan hidupmu. Aku akan membuatmu menderita, hingga untuk bernafas saja kau harus meminta belas kasihan dariku. Hai manusia berjiwa kerdil, jangan pernah anggap enteng wanita lemah ini. Mungkin saat ini, aku hanyalah anak kucing liar yang tak berdaya, tapi suatu saat nanti anak kucing ini akan menjadi macan yang bisa memangsamu! Aku akan menyiksa jiwa dan ragamu hingga membuatmu menderita dan enggan hidup di dunia ini. Tapi, mati juga bukan pilihan bagimu! Aku akan membuatmu menderita selama-lamanya, dasar kau manusia terkutuk! Itulah janjiku!"
***
Setelah selesai mengurus kedua jenazah orang tuanya di rumah sakit, Valerie berjalan masuk ke dalam mansion miliknya. Lebih tepatnya, untuk saat ini mansion ini menjadi miliknya, tapi tidak untuk beberapa hari ke depan karena mansion itu juga akan disita untuk membayar hutang-hutang orang tuanya. Baru saja dia melangkahkan kakinya masuk ke dalam mansion, seorang wanita tua tampak terkapar di atas lantai.
"Die Oma!" teriaknya sambil mendekat ke arah wanita tua itu. Beberapa kali Valerie memanggilnya, namun wanita itu hanya terdiam. Mansion itu memang sepi karena semua maid yang ada di dalam rumah itu telah dipecat oleh kedua orang tuanya. Dengan sisa tenaga, Valerie lalu mencoba menyeret tubuh wanita tua itu keluar dari mansion, kemudian menaiki sebuah taksi yang telah dipesannya, untuk membawa neneknya ke rumah sakit.
Tak berapa lama, Valerie sudah sampai di sebuah rumah sakit. Saat ini, dia duduk di depan sebuah ruangan emergency sambil menatap beberapa lembar uang euro yang ada di dalam dompetnya, setelah hampir seluruh isi dompetnya habis terkuras untuk membayar biaya perawatan neneknya.
"Astaga, hanya tersisa 10 euro. Bagaimana mungkin aku bisa bertahan hidup dengan sisa uang ini?" ucap Valerie sambil menghapus air matanya.
"Kenapa tiba-tiba ada undangan wawancara kerja? Sepertinya aku belum pernah mengirimkan lamaran kerja. Ah, jangan terlalu banyak berfikir Val. Bukankah ini kesempatan yang bagus dan aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini? Ya, lebih baik aku pergi ke kantor itu sekarang."
Valerie kemudian keluar dari rumah sakit tersebut, menuju ke sebuah gedung perkantoran dengan logo Herald Corp.
Sementara itu, di salah satu ruangan yang ada di dalam gedung kantor Herald Corp, seorang laki-laki tampak sedang tersenyum memandang email balasan dari Valerie. Dia adalah pemilik dari Herald Corp, Fynn Nicholas Herald, 24 tahun.
"Valerie Hughette Rayner, sebuah nama yang begitu indah. Sama seperti yang akan kulakukan pada hidupmu, akan kutorehkan kenangan yang indah padamu agar kau jatuh ke dalam pelukanku. Agar kau jatuh cinta padaku, jatuh cinta pada orang yang salah. Karena di balik cinta yang indah itu, akan ada penderitaan yang tak ada habisnya untukmu, hahahahahaha.... "
Valerie yang sudah sampai di gedung yang dia tuju, berjalan ke arah resepsionis untuk menanyakan ruangan tempat dia akan melakukan wawancara. Resepsionis tersebut, lalu mengarahkan Valerie pada sebuah ruangan di lantai 20 gedung kantor tersebut. Namun, saat Valerie berdiri di depan sebuah pintu yang dimaksud oleh resepsionis itu, dia pun begitu terkejut saat melihat sebuah papan di depan pintu masuk ruangan itu bertuliskan CEO.
"Ruang CEO? Kenapa aku bertemu dengan CEO? Bukan seharusnya dengan pihak HRD, aneh sekali? Ah, mungkin saja pihak HRD sedang sibuk. Aku tidak mau banyak berfikir, aku sedang membutuhkan pekerjaan ini, lebih baik aku masuk saja," ujar Valerie.
Tok Tok Tok
"Masuk!" jawab sebuah suara dari dalam ruangan. Valerie lalu membuka pintu, dan masuk ke dalam ruangan itu. Saat memasuki ruangan tersebut, tampak sebuah senyum hangat dari seorang pria tampan menyambut kedatangannya.
"Selamat siang, Tuan."
"Selamat siang, Nona Valerie. Perkenalkan, saya Fynn, Fynn Nicholas Herald, saya yang memegang Herald Corp ini, Nona. Silahkan duduk!"
Valerie kemudian duduk di depan seorang pria tampan yang memperkenalkan dirinya dengan nama Fynn. Dia sebenarnya begitu gugup, apalagi dia langsung bertemu dengan pemilik perusahaan tersebut. Pikiran Valerie pun menerawang, hingga lamunannya buyar saat Fynn menyapanya kembali.
"Nona Valerie!"
"O-oh, ya."
"Senang bertemu dengan anda. Begini Nona Valerie, saya sudah mempelajari CV anda dan saya sangat tertarik dengan prestasi anda, saya ingin mengajak anda bekerja di perusahaan ini. Anda mau kan bergabung bersama kami?"
"Be-Benarkan kata anda Tuan? Sa-saya diterima bekerja di perusahaan ini?"
"Iya Nona Valerie, silahkan pelajari jobdesk pekerjaan anda di kantor ini. Berikut kontrak kerja yang harus anda tangani jika berminat."
Valerie lalu membaca satu bendel kertas yang ada di depannya. Spontan, mata Valerie pun terbelak saat melihat nominal gaji yang akan diterimanya.
"Tuan, apa anda tidak salah mencantumkan nominal gaji ini?"
"Tentu saja, tidak. Itulah gaji yang akan anda terima jika bekerja di perusahaan ini. Bagaimana, anda bersedia bekerja di perusahaan ini kan?"
Tanpa pikir panjang, Valerie lalu menganggukkan kepalanya, dia kemudian menandatangani kontrak kerja tersebut, yang dia pikirkan saat ini adalah dia merasa beruntung mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang tinggi. Apalagi, saat ini dia juga mengenal orang terpandang seperti Fynn.
'Aku yakin suatu saat nanti, Tuan Fynn pasti bisa membantuku menyingkap tabir yang menyebabkan perusahaan Daddy hancur begitu saja,' batin Valerie.
Tapi, tanpa Valerie tahu, saat dia menandatangani kontrak kerja itu, pria yang ada di depannya sedang tersenyum menyeringai sambil bergumam dalam hati.
"Selamat datang, Valerie. Selamat datang pada penderitaan, selamat datang pada jurang maut yang telah kubuat untukmu, hahahaha."
Setelah menyelesaikan urusannya di kantor tersebut, Valerie lalu berjalan keluar dari gedung kantor dengan langkah yang begitu ringan. Hatinya begitu bahagia, dan merasa beruntung mendapatkan pekerjaan di waktu yang tepat.
"Kepada Sang Pemilik skenario kehidupan, aku tahu Engkau tidak akan membiarkanku berjalan sendiri, karena semesta akan senantiasa menuntunku, sejatinya bukan semesta yang jahat, tapi semesta sedang membimbingku untuk menjadi kuat," ucap Valerie sambil menatap langit. Langit cerah kota Hamburg, awal musim semi di bulan April, sama seperti cerahnya hati Valerie saat ini.
Die Oma: Nenek.