
"Tante Lidya. Tante dimana?" kata Kanaya, namun tak ada jawaban. Dia lalu masuk ke dalam kamar Lidya. 'Kosong.' gumam Kanaya. Dia lalu pergi ke dapur, namun dapur juga begitu sepi. Kanaya lalu mengambil ponselnya untuk menelpon Lidya, namun ponselnya tidak aktif.
'Dimana orang-orang yang ada di rumah ini?' gumam Kanaya. Dia lalu berjalan ke depan rumah dan menghampiri pos satpam. Tampak Seno sedang tertidur di dalam pos. "Pak Seno... Pak Seno." kata Kanaya, namun satpam itu masih juga tertidur. Lalu dia melihat teh yang ada di atas meja. '****.' gumam Kanaya yang sekarang tampak begitu panik.
"Stupid, gue udah kecolongan." kata Kanaya sambil masuk ke dalam rumah. Dia lalu menelpon William, namun tak ada jawaban, lalu dia menelepon Devin untuk segera pulang. Kanaya hanya bisa mondar-mandir di dalam rumah, hatinya begitu cemas, berbagai pikiran berkecamuk di benaknya. Tiba-tiba dia mendengar sebuah klakson mobil, dia lalu menghambur ke depan rumah.
"William." jerit Kanaya.
"Ada apa sayang? Kenapa kau tampak begitu panik?"
"Tante Lidya Willi, dia tidak ada di rumah."
"Mungkin dia sedang pergi bersama teman-temannya?"
"Tidak, dia selalu memberitahuku jika akan pergi, lagipula beberapa hari ini dia sedang tidak begitu sehat."
"Apa kau sudah menghubungi ponselnya?"
"Sudah, tapi tidak aktif."
"William apa yang harus kita lakukan? Lihat rumah ini juga begitu sepi, Om Fadil dan Mba Anti juga tidak ada di rumah, lalu Pak Seno, dia sepertinya diberikan obat tidur, saat aku pulang dia sudah tidur begitu lelap dan saat kubangunkan dia juga masih tertidur."
"Kalau begitu Mama dalam keadaan bahaya Kanaya!"
"Iya Willi."
"Apa kau sudah menghubungi Devin, bukankah dia yang mengikuti gerak-gerik Reni selama ini?"
"Iya Willi, tunggu saja sebentar lagi mungkin dia akan sampai di rumah."
Kanaya dan William menunggu kedatangan Devin dengan begitu cemas, sampai beberapa saat kemudian terdengar sebuah suara mobil berhenti. "Itu pasti Devin."
kata William.
Devin lalu masuk ke dalam rumah dengan setengah berlari. "Kanaya, apa yang sebenarnya telah terjadi?"
"Devin, Tante Lidya Hilang!"
"Bagaimana ini bisa terjadi?"
"Siang ini aku pergi sebentar ke rumah Mami Cindy untuk menyelesaikan urusanku dengannya. Saat aku pulang Tante Lidya sudah tidak ada di rumah, dan rumah ini kosong. Kita benar-benar sudah kecolongan! Dia mengelabuhi kita agar keluar dari rumah ini dan membiarkan Tante Lidya di rumah sendirian."
"William dimana Papamu?"
"Yang kutahu tadi Papa pulang saat jam makan siang karena dia mengeluh jika tubuhnya sedang tidak enak badan."
"Tapi Om Fadil juga tidak ada di rumah ini." kata Kanaya.
"B*engsek, pasti dia yang melakukan semua itu pada Mami!"
"Jaga bicaramu Devin, Papa tidak mungkin melakukan semua itu pada Mama!"
"Tidak mungkin bagaimana, bahkan dia juga tega menyakiti Mami dengan berselingkuh dengan Tante Lia!"
"Diam semua!!! Kita harus bersikap tenang, dan kau Willi, kau harus siap menerima kenyataan terburuk jika memang Om Fadil pelakunya!! Sekarang kita semua harus tenang dan berfikir dengan kepala dingin."
"Devin coba ceritakan apa yang kau dapat dari penyelidikanmu pada Mba Reni?"
"Bukan Kanaya, bukan dia pelakunya. Mba Reni juga sudah dijebak agar kita menyangka dia pelakunya, sehingga kita berkonsentrasi pada gerak-gerik Reni dan mengira keadaan rumah sudah aman sehingga dia bisa leluasa menyakiti Mami!"
"Lalu apa yang terjadi pada Mba Reni Devin?"
"Di suatu siang, ada sebuah surat kaleng yang masuk ke dalam kamarnya yang berisi ancaman agar Mba Reni mengikuti perintah dalam surat itu, jika Mba Reni tidak melakukannya maka dia akan membunuh anak-anak Mba Reni."
"Lalu apa isi dari surat itu Devin?"
"Dia menyuruh Mba Reni untuk mengambil botol yang ada di dapur kemudian menyuruhnya untuk menaruh di dalam lemari kamarnya saat dia selesai merapikan makan siangku, jadi dia memang sengaja menjebakku agar mengikuti gerak-gerik Reni saat mengambil botol itu, sehingga aku mengira Mba Reni lah pelakunya!"
"B*engsek, kita semua sudah ditipu mentah-mentah olehnya." kata William.
"Tenang, kita pikirkan lagi ini semua dengan kepala dingin, kita harus menyusuri semua jejaknya di rumah ini."
"Benar, bagaimana kalau kita memulainya dari kamar Mami!" kata Devin sambil berjalan ke arah kamar Lidya. Kanaya dan William lalu mengikuti di belakang Devin.
"Aku sudah memeriksa kamar ini, tapi kamar ini masih begitu rapi." kata Kanaya.
"Tunggu, lihat itu, ada beberapa buah foto yang berserakan di atas meja rias Mama, Mama sangat memperhatikan kebersihan, tidak mungkin Mama meninggalkan foto-foto ini begitu saja."
Mereka lalu menghampiri meja rias itu, tampak beberapa buah foto berserakan di atas meja rias. "Tapi tak ada petunjuk apapun di sini William."
"Kemungkinan mereka menculik Mama saat Mama sedang melihat foto-foto ini Devin."
"Huhhhh hanya foto lama yang tak berguna." kata Devin sambil membuang foto-foto itu.
Kanaya lalu mengambil beberapa buah foto yang kini berserakan di atas lantai. Jantungnya berdegup begitu kencang, hatinya terasa begitu sesak, dan tubuhnya bergetar seperti ada sebuah sengatan listrik. Tubuh Kanaya pun ambruk disertai air mata yang mengalir di wajahnya.
"WILLIAM, DEVINNNNN KATAKAN SIAPA ANAK KECIL DALAM FOTO INI!!!!!!"
"WILLIAM, DEVINNN CEPAT KATAKAN PADAKU SIAPA GADIS KECIL INI!!!"
Devin dan William begitu kaget melihat tingkah Kanaya. "Sayang apa yang sebenarnya telah terjadi?"
"Katakan padaku siapa gadis ini? Aku hanya butuh jawaban kalian secepatnya!!!"
"Tenangkan dirimu Kanaya!" kata William sambil memeluk Kanaya.
"Dia Casandra, kakak perempuanku." jawab Devin.
"TIDAK, TIDAK MUNGKIN!!!"
"Kanaya, apa yang sebenarnya telah terjadi?"
Namun Kanaya tidak menjawab pertanyaan William, dia hanya bisa menangis sesenggukan, kepalanya begitu pusing bahkan lidahnya pun tak sanggup lagi untuk berkata-kata. Devin dan William hanya bisa menunggu dengan begitu cemas. Setelah Kanaya sedikit tenang, William lalu memberinya segelas air.
"Minumlah Kanaya, dan tenangkan dirimu."
"Kanaya apa yang sebenarnya telah terjadi? Kenapa kau menjadi seperti ini saat melihat foto Casandra? Foto-foto itu memang diambil di taman saat kami bermain, beberapa jam sebelum Casandra menghilang."
"Devin, gadis kecil dalam foto itu adalah aku, jadi mungkinkah aku adalah Casandra?" kata Kanaya dengan begitu lirih.
"APAAAAAAA???" kata Devin dan William bersamaan.
"Bagaimana mungkin? Tidak, ini tidak boleh terjadi, aku belum ingin bertemu dengan kakakku."
"Devin kau tidak boleh berbicara seperti itu! Bagaimana jika benar Kanaya adalah kakakmu!"
"Aku ingin kau membuktikan kata-katamu Kanaya!"
"Aku bahkan masih menyimpan baju dalam foto ini, yang aku ingat saat aku sedang memakan es krim, seseorang menggendongku lalu kami masuk ke sebuah mobil."
Perasaan Devin semakin berkecamuk, karena ternyata orang yang paling tidak ingin ditemuinya kini berdiri di hadapannya. 'Memang, Mami pernah bercerita jika kau hilang saat kau sedang memakan es krim cokelat Casandra.' gumam Devin.
"Baju saja tidak cukup sebagai bukti Kanaya."
"Kita lakukan tes DNA." kata William.