Aku... Sugar Baby

Aku... Sugar Baby
Pelemah Jantung


"Tenang Kak Rena, sebentar lagi aku akan merebut semua yang menjadi hak milik kita." kata Santi. Dia lalu berjalan ke arah depan rumah dan menyunggingkan senyumnya saat melihat kepergian Reni, diikuti oleh Devin di belakangnya.


'Sebentar lagi saat itu akan tiba. ternyata kalian semua bagitu bodoh, kalian dengan mudahnya terkecoh olehku.' gumam Santi sambil tersenyum menyeringai.


"Bi Anti."


"Iya Nyonya." jawab Santi.


"Saya mau pergi dengan Kanaya, Bi Anti jaga rumah dulu ya. Ada bapak sedang tidur di kamar."


"Iya Bu." jawab Santi. Dia lalu bergegas berjalan ke arah dapur kemudian mengambil beberapa botol obat miliknya yang dia simpan secara rahasia karena hari ini Santi akan membuang semua barang bukti miliknya.


"Kamu sedang apa Anti?" tanya sebuah suara.


"Oh ini Tuan, sedang membereskan botol-botol ini."


"Botol apa itu?"


"Ini hanya botol obat magh milik saya tuan, permisi." kata Santi sambil berlalu pergi meninggalkan Fadil, namun tanpa Santi sadari dia menjatuhkan sebuah tablet berwarna kuning.


"Apa ini." kata Fadil. Dia lalu mengambil obat itu dan membuangnya ke tempat sampah.


***


Saat makam malam, Fadil begitu kesal karena sekarang Kanaya sedikit mengabaikannya, apalagi malam ini dia lebih memilih tidur menemani Lidya yang kesehatannya sedikit menurun. 'S*al' gumam Fadil. Dia lalu berfikir untuk mencari cara agar kejan*anannya dapat berfungsi kembali dengan normal agar bisa merebut hati Kanaya. Fadil kemudian membuka laptopnya lalu mulai mencari situs-situs pencarian di internet tentang obat-obatan.


Namun secara tidak sengaja, dia menemukan sebuah obat yang bentuknya sama seperti obat yang dia temukan tadi siang di dapur. "Apa, obat pelemah jantung?" kata Fadil dengan suara sedikit bergetar.


'Aku harus mencari obat itu dan membawanya ke laboratorium untuk mengeceknya, jika obat ini benar untuk melemahkan jantung pasti ada yang ingin berniat jahat pada Lidya.' gumam Fadil. Dia lalu mengendap-endap menuju dapur, namun ternyata tiba-tiba William sudah berdiri di belakangnya.


"Papa, Papa lagi ngapain?"


"Eh Willi."


"Emh Papa mau ambil minum ke belakang."


"Oh, tapi kenapa harus mengendap-endap seperti maling?"


"Emh Papa cuma takut membangunkan Mama, Mama hari ini agak kurang sehat jadi Papa ga mau tiba-tiba terbangun dari tidurnya."


"Oh ya sudah Willi ke kamar dulu."


"Iya Nak."


Fadil lalu mengacak-acak tempat sampah dan akhirnya dia menemukan obat itu. 'Ketemu.' gumam Fadil sambil tersenyum.


***


Keadaan rumah Lidya begitu sepi. Kanaya ijin untuk pergi menemui Mami Cindy, William dan Fadil berangkat ke kantor, sedangkan Devin masih sibuk memata-matai Reni. Santi lalu masuk ke dalam kamar Lidya. Lidya begitu terkejut melihat pembantunya masuk dengan tatapan yang tak biasa.


"Ada apa tiba-tiba kamu masuk ke dalam kamarku?" kata Lidya. Namun Santi yang masuk ke dalam kamar tersebut hanya tersenyum sinis dan berjalan semakin mendekat ke arahnya.


"Inilah saatnya Lidya."


"Apa maksudmu Anti?"


"Tidak usah banyak bicara." kata Santi sambil mendekat pada Lidya kemudian membiusnya.


***


Kanaya bergegas keluar dari kamar Lidya sambil membawa sebuah foto kemudian menghampiri Devin dan William yang sedang duduk di sofa.


"Itu Bi Anti, Bi Anti sewaktu masih muda."


"Tidak.. Tidak."


"Kenapa Kanaya?"


"Masa muda Bi Anti sangat mirip dengan Mama."


"Mama? Siapa itu Mama Kanaya? Orang tuamu?" tanya William.


"Entahlah Willi, sejak kecil aku diasuh oleh seorang wanita yang kupanggil dengan sebutan Mama, dan dia begitu mirip dengan Bi Anti sewaktu masih muda."


"Kanaya, sepertinya aku mulai tahu benang merah dari semua masalah ini." kata William.


"Devin, bukankah Casandra itu diculik seorang tuna wisma saat kalian ada di taman?"


"Ya, benar."


"Dan bukankah Bi Anti juga dulu adalah seorang tuna wisma?"


"Benar Willi, lalu apa hubungannya?" kata Devin dengan sedikit kesal.


"Kanaya coba kau ingat ada berapa orang yang membawamu ketika kau berpisah dengan keluargamu."


"Entahlah Willi, saat itu aku masih begitu kecil."


"Coba ingat-ingat Kanaya, usia anak empat tahun masih bisa merekam memorinya dengan jelas. Ayo coba ingat kembali masa-masa itu." kata William.


"Sepertinya memang dua orang, saat Mama menggendongku, dia sedikit bertengkar dengan seseorang, namun saat aku dan Mama naik ke sebuah mobil, seseorang yang bersama Mama tertinggal di taman. Dia tidak ikut naik ke dalam mobil karena sudah tertangkap beberapa orang yang kemungkinan adalah satpol PP. Lalu sepanjang perjalanan Mama menangis karena terpisah dengan wanita tersebut."


"Jadi kemungkinan wanita yang yang tertinggal itu adalah Bi Anti." kata Devin.


"Dia pasti mendekati Mama agar Mama tidak bisa menemukan Casandra. Karena jika Mama berhasil menemukan Casandra, kemungkinan dia dan kakak perempuannya akan ditangkap." kata William.


"Lalu jika hanya itu motifnya, kenapa Bi Anti sampai harus menyekap Mami?" kata Devin.


"Kita harus mencari tahu jawabannya Devin." jawab William.


Tiba-tiba sebuah suara mobil berhenti di depan rumah. "Papa." kata William dan Devin bersamaan. Beberapa saat kemudian, tampak Fadil masuk ke dalam rumah dengan begitu tergesa-gesa.


"Mama... Mama dalam bahaya." kata Fadil.


"Pa, duduklah tanangkan diri Papa. Lalu ceritakan apa yang telah terjadi, bukankah tadi Papa bilang pada Willi jika kepala Papa sakit dan ingin pulang ke rumah."


"Maaf Willi, Papa sudah berbohong." kata Fadil diikuti nafas yang begitu tersengal-senggal.


"Maksud Papa?"


"Begini, beberapa hari yang lalu, Papa menemukan sebuah obat di dapur yang tidak sengaja dijatuhkan oleh Bi Anti. Papa lalu membawa obat itu ke laboratorium untuk mengeceknya, dan tadi siang Papa ke laboratorium untuk mengambil hasil dari obat tersebut, dan obat tersebut ternyata adalah obat pelemah jantung. Papa begitu panik, apalagi saat itu Mama sedang di rumah sendirian. Papa lalu bergegas pulang ke rumah, namun ternyata semua sudah terlambat. Mama sudah tidak ada di rumah sedangkan Pak Seno juga telah diberi obat bius sehingga tidak dapat mencegah Bi Anti yang membawa pergi Mama." kata Fadil dengan raut wajah yang begitu sedih.


"Lalu seharian ini Papa kemana? Kenapa ponsel Papa juga tidak aktif?"


"Papa mencari Mama Willi, saat Papa pulang ke rumah ini, Papa mendengar jika pintu belakang baru saja tertutup lalu Papa mengejar Bi Anti, si*lnya Papa kehilangan jejak. Lalu Papa juga berusaha mencari Mama dengan menggunakan mobil, tapi sudah seharian papa mencari, Mama juga tak kunjung papa temukan."


"Si*l kita telah benar-benar kehilangan jejak." kata Devin sambil memukulkan tangannya ke atas meja.


"Masih ada satu cara untuk menemukan mereka." kata Kanaya yang membuat Fadil, Devin, dan William menatapnya.