
"William." kataku sambil menahan tangis, perasaanku terasa campur aduk antara bahagia, sedih, dan hancur. Akhirnya aku hanya membiarkan ponselku terus berbunyi tanpa ada jawaban dariku.
"Kanayaaa..." sebuah suara akhirnya membuyarkan lamunanku.
"Tania, kamu sudah sadar?"
"Kanaya, hentikan semua ini, pikirkan kehidupanmu Kanaya."
"Apa maksudmu Tania? kamu adalah kehidupanku!"
"Benar-benar gadis bodoh." jawab Tania.
"Kanaya, aku ingin pulang."
"Tania, kondisimu masih begitu lemah, kamu masih harus mendapat perawatan di rumah sakit ini Tania."
"Kita sudah tidak punya uang Kanaya."
"Tidak usah dipikirkan, aku sudah mengatasinya." kata Kanaya sambil tersenyum.
"Kamu tidak kembali pada pekerjaan itu lagi kan Kanaya?"
"Tidak akan Tania, aku tidak akan kembali lagi pada pekerjaan itu."
"Bagus kalau begitu." kata Tania sambil tersenyum.
"Kanaya, aku masih ngantuk, aku ingin tidur Kanaya."
"Tidurlah Tania, aku akan selalu disini untuk menjagamu."
Tania lalu mengangguk dan matanya pun terpejam. Melihat Tania yang tidur begitu lelap, aku akhirnya memutuskan untuk pulang membersihkan apartemen dan mengambil beberapa barang milikku dan Tania.
Setelah selesai membersihkan apartemen dan mengambil perlengkapan yang kubutuhkan, aku lalu menuju ke rumah sakit kembali. Namun saat aku baru saja membuka pintu, kulihat seseorang sudah berdiri di depan apartemenku. Rasanya aku ingin masuk kembali dan kututup pintu rapat-rapat, namun tiba-tiba dia sudah memelukku.
"Kanayaaaa, maafkan aku."
Untuk beberapa saat aku hanya terdiam dan mematung. Sebenarnya aku pun ingin memeluknya, namun aku harus sadar posisiku saat ini yang sudah terikat dengan Nyonya Lidya, aku tak mau memberi harapan lebih padanya, dan bukankah selama ini dia juga menggantungkan hubunganku dengannya.
"Lepaskan aku Willi."
"Kanaya..."
"Sudah cukup aku menunggumu tanpa kepastian."
"Kanaya dengarkan penjelasan dariku dulu Kanaya."
"Apa yang mau dijelaskan Willi, semua sudah jelas!"
"Kanaya beri aku kesempatan."
"Maaf William, saat ini aku sedang sibuk, seseorang sudah menungguku."
"Seseorang?"
"Ya, aku telah memiliki janji dengan seorang pelangganku."
"Jangan berbohong Kanaya, aku tahu jika kamu sudah lama tidak kembali pada pekerjaan lamamu, aku tahu kamu menepati janji yang telah kita buat karena kau begitu mencintaiku Kanaya!"
"Kamu tahu Willi, kamu tahu kan aku sudah menepati janjimu, dan bahkan sudah begitu lama menantimu, tapi apa yang kudapat? hanya harapan palsu!"
"Tapi kini aku sudah kembali Kanaya, maafkan aku, suatu hal buruk terjadi padaku saat aku pulang menuju ke rumahku setelah pulang dari Bandara."
"Tidak usah banyak alasan Willi! maaf aku harus pergi!"
"Kamu mau kemana Kanaya?"
"Bukankah sudah kubilang padamu jika seseorang telah menungguku."
"Apa maksudmu? siapa yang menunggumu?"
"Itu semua bukan urusanmu. Lagipula semua juga sudah terlambat."
"Terlambat?"
"Ya, beberapa hari lagi aku akan menikah William, jadi tolong lupakan aku! Anggap saja kita tak pernah bertemu sebelumnya." kataku sambil berjalan menjauh darinya.
William masih tampak begitu terpukul mendengar kata-kataku, dia lalu berlari dan memelukku. "Kanaya, begitu mudahkah kamu melupakan aku? Apa semua yang kita lakukan tak pernah berarti bagimu?"
Aku hanya bisa menangis mendengar kata-katanya, sebenarnya hatiku sangatlah perih, namun semua harus kulakukan agar dia tak terlalu berharap padaku. "Kanaya tolong tatap mataku dan katakan kau tidak mencintaiku!"
William memegang wajahku dan menatap mataku."Sekarang katakan padaku jika kau tak mencintaiku!"
"Aku tak mencintaimu William." kataku sambil memandang ke arah samping.
"Bohong Kanaya, bahkan matamu pun tak berani menatap mataku!"
Aku hanya bisa menangis, lalu William memelukku dengan begitu erat. "Tolong jangan pernah tinggalkan aku, bukankah kita sudah berjanji untuk membangun keluarga kecil yang bahagia sayang."
"William, tapi maaf aku tidak bisa, aku sudah terikat janji dengan seseorang."
"Janji apa Kanaya?"
"Bukan urusanmu Willi, bukankah kau sudah begitu saja meninggalkan aku, bahkan kau tak pernah ada saat aku benar-benar membutuhkanmu!"
Tiba-tiba ponselku berbunyi.
[Hallo ini dengan Nona Kanaya?]
[Iya benar.]
[Nona, saat ini teman anda sedang mengalami masa kritis, diharap anda segera datang ke rumah sakit.]
Aku menerima telepon dengan terus menangis. "Tania." kataku sambil terisak.
"Kanaya, apa yang telah terjadi dengan Tania?"
"Aku harus secepatnya ke rumah sakit Willi."
"Ayo kuantar ke rumah sakit!"
William mencengkeram tanganku begitu erat, mau tidak mau aku menuruti kata-katanya untuk diantar olehnya menuju ke rumah sakit. Setibanya di rumah sakit, kami berlari menuju ruang ICU karena di perjalanan pihak runah sakit sudah menelepon kami kembali untuk mengabarkan kondisi Tania yang semakin menurun.
Aku melihat kondisi Tania melalui dinding kaca di ruang ICU. Tubuh Tania yang kini penuh dengan selang dan berbagai alat-alat medis tampak begitu lemah dan tak berdaya. Aku hanya bisa memandangnya dengan berurai air mata.
"Dia sakit apa Kanaya?" tanya William.
"Kanker serviks." jawabku lemah.
"Maaf, aku tidak pernah bisa mendampingimu Kanaya."
"Sudah cukup Willi, aku tidak mau mendengar kata-katamu lagi."
***
"Tania, lihat kue yang sedang dimakan anak itu tampaknya kue itu begitu lezat Tania."
"Kamu menginginkannya Kanaya?"
"Tentu."
"Tunggu sebentar Kanaya."
Beberapa saat kemudian Tania lalu berlari menjauhiku, aku hanya bisa menunggunya karena perutku kini sudah begitu lapar. Cukup lama aku menunggu, tiba-tiba Tania datang sambil membawa kue yang aku inginkan.
"Darimana kamu dapatkan kue itu Tania?"
"Dari anak kecil yang kau lihat tadi."
"Apakah kamu mencurinya?"
"Tentu saja tidak, aku hanya mengatakan padanya jika aku melihat kue yang dia makan sudah dihinggapi lalat sebelum dia membelinya, mendengar kata-kataku spontan dia memberika kue ini untukku." kata Tania sambil tertawa.
Melihat Tania tertawa aku pun ikut tertawa bersamanya.
***
"Tania, aku rindu kamu Tania, ayo kita tertawa bersama." kataku.
"Nona Kanaya?" seorang dokter tiba-tiba membuyarkan lamunanku.
"Ya dok."
"Nona Tania ingin bertemu dengan anda. Silahkan masuk melalui pintu di sebelah sana Nona."
"Baik dok."
Aku lalu masuk ke dalam ruang ICU lengkap menggunakan pakaian protective gown. Tania yang melihat kedatanganku tersenyum padaku.
"Kanaya."
"Jangan banyak berbicara Tania, lihat kondisimu sudah begitu lemah."
"Kanaya berjanjilah padaku."
"Janji apa Tania?"
"Jauhi kehidupan gelap itu dan raihlah kebahagiaanmu dengan William."
"Tania sudahlah."
"Kanaya aku sudah lelah, doakan aku Kanaya, agar taubatku diterima."
"Tentu aku akan selalu mendoakanmu Tania."
"Kanaya..."
Belum sempat Tania menyelesaikan kata-katanya, aku melihat alat Elektrokardiogram di sampinya sudah menunjukkan garis lurus dan mengeluarkan bunyi yang begitu melengking.
Aku yang begitu panik melihatnya lalu memanggil dokter. Aku dan William menunggu Tania dengan begitu cemas. Kami melihat dokter tampak begitu sibuk menangani Tania. Beberapa saat kemudian, dokter tersebut keluar dari ruang ICU.
"Maaf saya harus menyampaikan kabar ini, saya sudah berusaha menyelamatkan Nona Tania tapi Tuhan berkehendak lain, semoga kalian semua diberikan kesabaran."
Tubuhku terasa begitu lemas, aku pun menangis dan berteriak begitu kencang.
"Taniaaaaaaa."